Married by Accident

Married by Accident
XLIV



Mobil Kelana penuh oleh barang pemberian para penggemarnya. Mereka memberikan topi, dasi, jam tangan dan banyak aksesoris lainnya. Kelana selalu menerima apapun pemberian fans dan menyimpannya di ruangan khusus di apartemennya. Saat merasa putus asa Kelana akan pergi ke ruangan itu untuk mengingat betapa banyak orang yang telah mengeluarkan uang demi dirinya.


Renjani harus duduk berdesakan dengan buket bunga dan kardus. Ternyata menjadi penggemar Kelana harus memiliki banyak uang, semua itu adalah barang mahal. Tadi Renjani iseng bertanya pada salah satu staf harga album Love Season. Itu menyentuh harga satu juta. Renjani nyaris tersedak mendengar harganya.


"Belum dibuka?" Kelana melirik album di pangkuan Renjani bersama boneka domba pemberian salah satu penggemar.


"Nanti aja di apartemen." Renjani tidak mau terburu-buru membuka benda mahal tersebut. "Di album ini lagu apa yang paling kamu suka?"


"Azalea."


"Kenapa Azalea?" Renjani belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya.


"Itu bunga kesukaan Mama, saat membuat lagu Azalea aku membayangkan Mama sedang bersamaku."


"Mama Karalyn pasti suka sama lagu itu." Renjani jadi tidak sabar mendengarkan lagu-lagu di album tersebut setelah sampai apartemen nanti.


Dayat membantu Kelana dan Yana memindahkan semua benda dari mobil. Di samping bekas kamar Renjani terdapat ruangan yang cukup luas tempat Kelana menyimpan barang pemberian fans nya. Namun benda-benda seperti dasi, ikat pinggang dan jam tangan akan Kelana pakai setidaknya satu kali agar orang yang memberikannya merasa senang.


Renjani pergi ke kamar untuk membuka album dengan cover berwarna hitam tersebut. Ia membukanya perlahan takut membuatnya lecet.


"Wah!" Renjani membelalak melihat isinya, ia pikir album itu hanya berisi audio CD tapi ternyata ada booklet dan tiga foto Kelana dengan tandatangan di belakangnya. Selain itu terdapat gantungan kunci dan pop socket hp bergambar violin yang amat cantik. "Pantas harganya mahal." Renjani membolak-balik foto Kelana, untuk apa ia memiliki foto tersebut jika bisa melihat Kelana secara langsung setiap saat.


Renjani melompat dari ranjang untuk memutar CD tersebut. Alunan violin mengalun lembut membuat Renjani terbuai. Renjani memeriksa judul lagu yang tertulis pada booklet. Lagu berirama mendayu itu berjudul Cloudy Night, Renjani langsung menyukainya.


Renjani menari berputar-putar kesana kemari mengikuti alunan lagu. Setelah cukup pusing Renjani menghempaskan tubuhnya ke ranjang menatap langit-langit kamar seolah itu adalah langit yang penuh awan.


"Re." Kelana membuka pintu, ia sudah selesai menata barang-barangnya di ruangan sebelah. Kelana melangkah mendekat karena tidak mendengar jawaban Renjani.


Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam tapi Renjani sudah terlelap. Kelana membereskan album yang berserakan di atas tempat tidur. Lagu Cloudy Night masih mengalun, sepertinya Renjani mengantuk setelah mendengar lagu tersebut.


Kelana memperbaiki posisi Renjani dan menyelimutinya. Kelana mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur di atas nakas.


Kelana membuka laci nakas mengeluarkan album foto dan ponsel miliknya yang sudah lama tidak dipakai.


"Yana, tolong buatkan kopi dan antar ke ruang kerja." Pinta Kelana pada Yana.


"Baik Mas." Yana beranjak menuju dapur untuk membuat kopi.


Sementara itu Kelana membawa dua album foto ke ruang kerjanya. Kelana membuka album foto lama yang menyimpan kenangannya bersama Elara sejak mereka resmi berpacaran. Kelana suka memotret Elara diam-diam, itu sebabnya ia mempunyai banyak foto di album tersebut.


Kerinduan selalu menelusup ke celah hati Kelana setiap kali ia melihat foto-foto Elara. Namun sekarang perasannya telah berubah, ia berada di tahap tidak merasakan apapun ketika melihat foto-foto tersebut. Kapankah perasaannya berubah? Kelana tidak tahu pasti. Kelana bisa menuliskan notasi musik saat hendak membuat lagu tapi ia tidak bisa memastikan kapan perasannya mulai berubah.


Kelana menutup album tersebut dan menyisihkan nya lalu membuka album yang masih kosong.


Mesin printer di atas meja kerja berbunyi pelan mengeluarkan kertas berukuran A4, Kelana menunggu dengan sabar mesin tersebut selesai mencetak foto. Selama ini Kelana juga memotret Renjani tanpa sepengetahuan wanita itu.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Kelana.


"Masuk Yan." Seru Kelana dari dalam.


Yana muncul dari balik pintu membawa segelas kopi dan croissant untuk camilan malam Kelana.


"Mbak Rere udah tidur ya?" Yana meletakkan kopi dan croissant tersebut di atas meja. Yana melihat Renjani sudah tertidur saat ia berjalan kesini.


"Iya, makasih Yan."


"Sama-sama Mas, saya permisi dulu."


"Yana, tunggu sebentar."


Langkah Yana terhenti, ia kembali melangkah menghampiri Kelana.


"Tolong buang ini." Kelana menyodorkan album foto lama nya pada Yana.


Yana terkejut, ia tahu itu adalah album yang berisi foto-foto Elara. Dulu Kelana sering melihat album tersebut tapi satu tahun terakhir ia tak pernah melakukannya lagi.


"Mas Lana yakin mau buang ini?"


"Yakin." Kelana mengangguk, ia tak pernah ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu. "Aku takut Renjani melihatnya dan jadi salah paham."


"Baik kalau begitu." Yana segera undur diri dari sana membawa album milik Kelana.


Sebenarnya Yana tidak rela untuk membuang album tersebut karena Kelana menata foto-foto dengan rapi disertai tulisan-tulisan puitis di setiap fotonya hingga enak dilihat. Namun Yana juga tidak berani menentang permintaan Kelana.


Kelana tersenyum puas melihat hasil kerjanya, ia menata foto Renjani di tiga halaman pertama album. Halaman pertama adalah foto Renjani saat hari pernikahan mereka. Lalu halaman berikutnya foto Renjani setelah pulang dari rumah sakit dan terakhir foto yang Kelana ambil tadi ketika Renjani menerima boneka domba.


Kelana meletakkan album tersebut bersama tumpukan kertas berisi notasi musik yang ia catat setiap kali mendapat inspirasi membuat lagu.


Dengan gerakan perlahan, Kelana berbaring di samping Renjani.


"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta Re, tapi kamu membuatnya jadi begitu mudah." Kelana menyelipkan anak rambut Renjani ke belakang telinga agar ia bisa melihat wajah Renjani lebih jelas. "Terimakasih sudah hadir di hidupku." Kelana mengecup kening Renjani sebelum ia memejamkan mata bersiap untuk tidur.


******


Apa yang Kelana biasa makan saat sarapan?


"Roti." Renjani menjawab sendiri pertanyaan yang dari tadi memenuhi pikirannya. Tak disangka Renjani bangun lebih awal dari Kelana. Akhirnya Renjani berinisiatif membuat sarapan.


Renjani memanggang 6 potong roti sekaligus menggunakan toaster setelah mengoleskan margarin di kedua sisi roti. Sementara itu ia memanaskan wajan untuk menumis sosis dan menggoreng telur. Agar nutrisinya seimbang, Renjani juga menumis baby spinach.


"Apa yang kamu masak?"


Renjani terlonjak kaget mendengar suara Kelana tiba-tiba berada di belakangnya. Untung saja jantungnya tidak copot, tentu saja jantung tak akan copot semudah itu.


"Roti, telur sama sosis." Renjani kembali fokus pada telur di atas wajan.


"Aku mencari mu kemana-mana, ternyata kamu disini." Kelana memeluk Renjani dari belakang, ia terkejut karena tidak menemukan Renjani di sampingnya saat bangun tidur.


Tubuh Renjani menegang karena Kelana tiba-tiba memeluknya, mereka sudah seperti suami istri sesungguhnya. Maksudnya sepasang suami istri yang menikah karena saling mencintai.


"Baunya enak sekali." Kelana menempelkan wajahnya pada ceruk leher Renjani.


"Ini cuma telur."


"Maksudku lehermu."


Gerakan Renjani membalik telur mata sapi di atas penggorengan terhenti. Rupanya Kelana sangat menyukai leher Renjani. Bahkan bekas ciuman Kelana beberapa hari yang lalu belum sepenuhnya pudar.


"Atau bibirmu?" Kelana mendekat hendak mendaratkan ciuman di bibir Renjani tapi sebelum itu terjadi Renjani mendorong Kelana agar menjauh darinya, ia bisa gagal membuat sarapan jika Kelana terus menempel padanya.


Yana terkejut melihat adegan di hadapannya, ia berdiri kaku di depan pintu yang menghubungkan dapur dengan meja makan. Dengan gerakan sangat pelan Yana berbalik dan berjingkat meninggalkan dapur sebelum Kelana dan Yana menyadari keberadaannya.


Diam-diam Yana tersenyum melihat pemandangan di dapur barusan. Mulai sekarang ia harus lebih hati-hati. Renjani akan malu jika tahu Yana melihatnya. Atau Yana sudah harus tinggal di unit apartemen sebelah. Kelana pernah menawarkan tempat tinggal sendiri untuk Yana yang berada tepat di sebelah apartemen tersebut. Namun dulu Yana merasa tidak butuh tempat tinggal sendiri, selain itu ia lebih mudah menyiapkan seluruh keperluan Kelana. Sekarang Yana akan memikirkan tawaran Kelana tersebut. Itu akan membuat Kelana dan Renjani lebih leluasa.


"Mending kamu bantuin aku pindahin rotinya ke piring."


"Oke." Kelana menurut, ia menyiapkan tiga piring dan memindahkan semua rotinya.


Sepiring roti dengan telur mata sapi, sosis dan baby spinach tersaji di meja makan. Renjani menata 4 komponen itu dengan rapi belajar dari cara Kelana saat membuat nasi goreng untuknya.


"Tumben Yana belum bangun." Renjani melahap sosis terlebih dahulu.


"Dia pasti sudah bangun." Kelana tahu Yana selalu bangun pagi.


Renjani beranjak dari sana menuju kamar Yana. Ia mengetuk pintu kamar Yana beberapa kali.


"Iya Mbak." Yana muncul dari balik pintu kamarnya.


"Aku udah bikin sarapan, yuk makan sama-sama."


Yana mengekori Renjani menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


"Kamu ke kantor jam berapa?" Kelana bertanya dengan mulut penuh roti tapi Renjani masih bisa mendengarnya.


"Sebentar lagi jam 8, takut keburu macet."


"Gimana perkembangan pre order Meet Sunshine?"


"Baru 15 orang yang pre order padahal kami semua udah promosi habis-habisan di media sosial tapi cuma dapat segitu."


"Itu hal yang wajar karena Asmara Publishing masih baru, penerbit yang lebih dulu ada juga nggak langsung populer seperti sekarang."


Renjani harus berusaha lebih keras lagi, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mencapai kesuksesan tanpa usaha sebelumnya.


Setelah sarapan mereka siap-siap pergi ke kantor. Kelana memiliki banyak jadwal di beberapa tempat hari ini. Sedangkan Renjani harus menghubungi tempat percetakan dan rapat dengan semua tim serta Maia untuk menentukan sampul dan sinopsis yang hendak dibubuhkan pada bagian belakang novel.


Renjani memasukkan laptop dan beberapa barang ke dalam tas kerjanya setelah selesai ganti baju dan sedikit merias wajah.


"Gantungan kunci kamu bagus." Kelana melihat gantungan kunci berbentuk violin di tas Renjani.


"Ini ada di dalam album kamu." Renjani menyentuh gantungan kunci berwarna hitam metalik tersebut.


"Bukan, maksudku yang bening." Kelana melangkah mendekat untuk melihat gantungan tersebut dengan lebih jelas.


Terdapat dua gantungan di tas Renjani, keduanya memiliki bentuk yang sama berwarna hitam dan transparan.


"Ini gantungan dari resin, unik ya?"


Kelana memegang gantungan tersebut, ia sangat familiar dengan gantungan kunci berbentuk violin transparan memperlihatkan bunga Azalea merah muda di dalamnya. Itu tidak seperti gantungan kunci yang biasa dijual di toko.


"Kamu beli dimana?" Tanya Kelana.


"Kayaknya sih dulu ini punya orang yang nolong aku waktu tenggelam." Renjani tidak terlalu yakin karena saat itu ia baru siuman setelah tenggelam. Renjani menemukan gantungan tersebut di atas perutnya.


Kelana tertegun, gantungan tersebut sangat mirip dengan buatan mama nya dulu. Kelana menatap Renjani dan gantungan itu bergantian. Lalu potongan kejadian di masa lalu kembali muncul di kepalanya.


"Maaf aku terlambat mengenali kamu." Kelana menarik Renjani ke dalam pelukannya. Renjani pernah menyinggung kejadian ini tapi Kelana tetap tidak mengingatnya. "Itu aku Re."


"Maksud kamu apa?" Renjani tidak mengerti mengapa Kelana tiba-tiba memeluknya dan mengatakan hal aneh.


"Kamu benar, anak laki-laki yang menolong mu itu aku." Kelana melepas pelukan menatap Renjani lekat. "Mama pernah membuat gantungan kunci berbentuk violin dengan bunga Azalea di dalamnya dan aku menghilangkannya."


Untuk beberapa saat Renjani menahan napas bahkan ia tidak berkedip. Matanya terasa panas, entah kenapa ia harus menangis sekarang. Renjani terlalu terkejut dengan fakta tersebut padahal perasannya sempat mengatakan bahwa laki-laki itu memang Kelana.


"Aku lega karena itu aku." Kelana kembali memeluk Renjani, saat itu ia merasa kesal karena bukan dirinya yang menyelamatkan Renjani saat tenggelam. Namun sekarang Kelana lega.