Married by Accident

Married by Accident
XIX



Gemerlap lampu menyapu seluruh bagian Soehanna Hall, kursi-kursi berjajar rapi menghadap ke panggung megah yang akan menampilkan pertunjukan violin dari Kelana. Kelana menggandeng artis papan atas seperti Emma, Cantika, Miya dan beberapa penyanyi lain yang sering menyanyikan lagu-lagunya serta Devin Kusuma yang merupakan pianis terkenal Indonesia.


Mobil Mercedes Benz yang membawa Renjani perlahan berhenti di depan Soehanna Hall. Renjani melihat keluar jendela, ia memang tidak ikut tampil tapi perasaannya gugup luar biasa apalagi melihat banyak orang penting yang hadir sore itu. Ditambah ratusan penggemar Kelana yang rata-rata berasal dari kalangan anak muda seumurannya. Beberapa kali Renjani menelan saliva sebelum turun dari mobil.


"Silakan." Seorang satpam berpakaian serba hitam membukakan pintu untuk Renjani.


Renjani tersenyum kaku turun dari mobil, apakah ia harus berjalan sendirian ke dalam sana? Ah Renjani ingin kabur saja. Lihatlah semua mata tertuju padanya. Renjani tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, ia hanya seorang gadis penjaga perpustakaan yang setiap hari bergelung dengan buku. Tentu tak ada buku yang memiliki mata sehingga Renjani merasa aman.


Para wartawan mengerubungi Renjani yang tampak menawan dengan dress selutut berwarna biru ditambah aksen mutiara di bagian pinggangnya. Yana pandai memilih pakaian yang membuat Renjani semakin terlihat cantik. Rambut Renjani digulung ke atas menyisakan anak rambut di dekat telinga. Gaya rambut itu membuat leher jenjang Renjani terlihat mempesona.


"Tolong beri komentar Renjani." Seru para wartawan tersebut bersama belasan pertanyaan lain yang tidak bisa didengar jelas oleh Renjani. Kilatan cahaya Blitz menerpa wajah Renjani meski tidak sebanyak saat ia dan Kelana melakukan konferensi pers dulu.


"Kelana dan berbagai pihak sudah bekerja keras demi mewujudkan konser ini, semoga semua orang bisa menikmatinya." Komentar Renjani begitu singkat sebelum ia digiring masuk oleh 4 orang bodyguard.


"Kursi Bu Renjani ada di depan." Ujar salah satu bodyguard tersebut memberi petunjuk pada Renjani agar duduk di kursi paling depan yang telah mereka siapkan atas permintaan Kelana.


"Terimakasih." Renjani melangkah pelan melewati karpet hitam yang membentang di antara dua barisan kursi di sisi kanan dan kiri. Wartawan yang berada di bagian dalam gedung memotret Renjani sebanyak mungkin seolah tak ingin kehilangan sedikitpun momen tersebut. Renjani yakin ia telah melangkah cepat tapi tak kunjung sampai.


Renjani menyapa tamu undangan yang lebih dulu datang, wajah-wajah yang ia kenal adalah Dewi Permata—aktris senior, Wijaya Kusuma—pianis senior yang merupakan ayah dari Devin Kusuma, Wira Radiaksa dan Ratih. Sedangkan yang lainnya adalah penyanyi serta musisi yang Renjani tidak tahu namanya tapi wajah mereka sering seliweran di layar televisi.


"Bagaimana kabarmu Re?" Ratih yang duduk tepat di samping Renjani menyapa dengan senyum yang dibuat-buat.


"Seperti yang Mama lihat, Mama sehat kan?" Renjani balas tersenyum.


"Sangat sehat." Ratih mengedikkan bahu.


Renjani melirik ke arah lain mencari keberadaan Valia, apa adik Kelana itu benar-benar tidak datang?


"Valia ada di belakang, Kakak nya benar-benar tega tidak memberikan tiket VIP untuknya." Ratih seolah mengerti pikiran Renjani.


"Valia kalah cepat dengan penggemar Kelana, katanya tiket VIP habis hanya dalam beberapa menit." Renjani sempat menguping pembicaraan Yana dengan Kelana soal tiket tersebut. Gila! begitu pikir Renjani saat itu. Popularitas Kelana sudah seperti idol luar negeri yang tiketnya terjual habis hanya dalam hitungan menit. Semua orang harus memiliki kecepatan internet untuk mendapatkan tiket tersebut.


"Bukankah seharusnya dia memberikan kursi gratis untuk adiknya?" Ratih kembali menyahut. Alis Renjani terangkat, ia pikir percakapan mereka akan berakhir tapi Ratih belum puas menyalahkan Kelana.


Renjani hendak menyela tapi pembawa acara di atas panggung mulai berbicara, mengucapkan serangkaian kalimat untuk membuka konser tersebut.


Tepuk tangan riuh terdengar ke seluruh Soehanna Hall ketika Kelana keluar dengan violinnya. Dengan hikmat Kelana membungkukkan badan di tengah panggung.


Irama dari gesekan violin Kelana mengalun lembut, tangannya yang lain menahan senar violin yang bertengger di bahunya. Kelana dan violin seperti sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan. Orang-orang tak akan mengenal Kelana jika tidak bersanding dengan violin.


Setelan jas hitam putih yang pas di tubuh Kelana membuatnya terlihat gagah. Jika tidak sedang memainkan violin, orang-orang akan mengira Kelana seorang model.


Lagu Dancing in the Rain dimainkan pertama kali pada konser tersebut. Menceritakan seorang wanita yang mencari ketenangan melalui hujan. Jika orang-orang berteduh atau berlindung menggunakan payung dan jas hujan, tidak dengan wanita itu, ia justru berlari menerjang hujan. Ia akan menari bersama guyuran hujan yang memeluk tubuhnya.


Penonton dibuat terkesima dengan permainan tinggal Kelana, bulu kuduk mereka dibuat berdiri—merinding—lagu itu seolah memberikan energi tersendiri bagi pendengarnya. Berbeda dengan lagu Kelana lainnya yang hanya identik dengan kesedihan, Dancing in the Rain berbeda, alunannya lembut tapi ceria pada saat yang bersamaan. Seolah melalui lagu itu Kelana ingin menghibur semua orang yang memiliki kesedihan untuk bangkit—keluar dari kegelapan.


Semua orang berdiri memberi tepuk tangan paling meriah untuk Kelana yang telah membawakan lagu Dancing in the Rain dengan indah.


Renjani membersit hidungnya, tak terasa ia menangis bukan karena sedih, ia justru terpukau melihat betapa indahnya permainan violin Kelana. Ini kali kedua Renjani melihat penampilan Kelana secara langsung. Namun kali ini energi yang Kelana berikan jauh lebih besar sehingga membuat Renjani mewek.


Lagu-lagu Kelana lainnya satu per satu ditampilkan. Tidak sendiri, Kelana ditemani Devin sang pianis muda yang hanya satu tahun lebih tua darinya serta penyanyi bersuara merdu lainnya.


Tidak ada Senja Bertemu Cinta, lagu itu memang sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh Kelana. Para penonton juga sepertinya sudah lupa pada lagu yang dulu sempat populer tersebut. Setidaknya itu yang Kelana harapkan, ia mau memainkan lagu apapun yang mereka minta tapi tidak dengan Senja Bertemu Cinta. Kelana tak mau mengingat soal Elara. Tidak lagi. Tidak sekarang.


"Terimakasih kepada semua orang yang telah hadir malam ini dan semua pihak yang telah mewujudkan mimpi saya mengadakan konser ini, kalian sungguh luar biasa, konser ini untuk kalian, konser ini milik kalian, saya bukan apa-apa tanpa kalian."


Lagu Syncopation milik Fritz Kreisler menjadi penutup konser tersebut. Lima jam yang terasa begitu singkat bagi mereka penikmat musik dan penggemar Kelana. Mereka terasa dihipnotis sepanjang konser berlangsung. Melalui lagu-lagunya Kelana mampu memberikan energi dan semangat baru.


******


Kilatan cahaya Blitz kembali memburu Kelana yang baru keluar dari backstage beberapa menit setelah menyelesaikan lagu terakhirnya di atas panggung. Para penonton telah keluar dari gedung dengan tertib. Sementara wartawan harus berada disana menunggu sang bintang untuk melakukan wawancara.


Mereka memberondongi Kelana dengan pertanyaan terutama tentang lagu barunya. Kelana menjawab setiap pertanyaan itu dengan sabar. Pandangan Kelana terlempar jauh ke arah lain mencari keberadaan Renjani, dimana dia?


"Seperti Kelana sedang mencari seseorang." Tukas salah satu wartawan. Tentu pemandangan itu tidak luput dari perhatian mereka.


"Itu dia." Kelana melihat Renjani berada di antara kerumunan penonton yang sepertinya mengajak Renjani berkenalan.


Ketika pandangan keduanya bertemu, Renjani mohon undur diri dan melangkah menghampiri Kelana dengan senyum merekah. Sungguh bibir Renjani terasa pegal karena terus tersenyum menghadapi wartawan, tamu undangan sekaligus penggemar Kelana yang menanyakan berbagai macam hal tentang Kelana Radiaksa. Pertanyaan yang bahkan tak bisa Renjani jawab seperti berapa gelas kopi yang Kelana habiskan dalam sehari, berapa lama Kelana mandi, lotion apa yang Kelana gunakan untuk menjaga kelembapan tangannya hingga apakah Kelana mendengkur saat tidur. Renjani ingin meneriaki mereka apakah tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting. Namun tentu saja Renjani hanya berani melempar senyum dan menjawab pertanyaan dengan asal. Mana Renjani tahu berapa lama Kelana mandi, apa ia harus menunggu di depan pintu kamar mandi dengan memegang stopwatch. Gila.


Setelah dirasa cukup Kelana mohon undur diri pada teman-teman wartawan sekaligus berterimakasih karena mereka juga bagian penting dari perjalanan karir Kelana.


"Penampilan kamu luar biasa sempurna." Puji Renjani ketika mereka melangkah kembali ke backstage.


"Nggak sia-sia aku menyiapkannya sejak dua bulan yang lalu, terimakasih Re."


"Aku nggak ngapa-ngapain kenapa berterimakasih?" Renjani justru malu karena ia tiba-tiba hadir disitu, pasti semua tim Kelana kaget. Pertemuan mereka begitu singkat lalu tiba-tiba menikah padahal saat itu Kelana sedang sibuk menyiapkan konsernya.


"Justru kamu berperan besar terhadap konser ini karena malam itu kamu mau menemaniku, kalau nggak pasti tadi aku nggak akan tampil maksimal."


"Bukan apa-apa, kamu memang luar biasa Kelana."


"Pasangan kita datang!" Suara teriakan Yana mengejutkan Kelana dan Renjani.


Semua orang yang tadinya sibuk membereskan bagian backstage kini melihat ke arah mereka. Itu adalah semua tim dari Antasena yang telah mewujudkan konser tersebut. Mereka memberi selamat pada Kelana karena telah memberikan penampilan terbaik malam ini.


"Justru aku yang berterimakasih pada kalian semua." Ucap Kelana. "Aku akan traktir kalian besok, pilih saja tempatnya."


Mereka bersorak mendengar Kelana akan memberi traktiran. Itu membuat mereka makin semangat untuk membereskan bagian backstage yang super berantakan.


"Kamu luar biasa Kelana." Devin menghampiri Kelana dan menjabat tangannya.


"Devin, konser ini bukan apa-apa tanpa kamu."


Devin melihat ke arah Renjani, "kamu nggak mau kenalin aku sama dia?"


"Oh, perkenalkan Renjani." Kelana menuntun Renjani untuk menjabat tangan Devin.


"Halo, tidak perlu menyebutkan nama mu, seluruh Indonesia tahu pianis terkenal bernama Devin ini." Renjani menyalami Devin.


"Kamu berlebihan." Devin mengibaskan tangan. "Ternyata kamu lebih cantik dilihat dari dekat."


Renjani membelalak, benarkah?


Wajah Kelana berubah masam, harusnya ia yang memuji Renjani dulu, ia merasa kalah start dari Devin. Tadi Kelana hanya memuji Renjani dalam hati.


"Kelana, aku permisi ke toilet dulu." Bisik Renjani.


"Minta Yana temani."


"Nggak usah." Renjani segera pergi dari sana, ia bukan anak kecil yang harus diantar ke toilet lagi pula Yana sedang sibuk.


Renjani ingin buang air kecil sejak tadi tapi ia tidak enak jika meninggalkan gedung saat konser berlangsung.


"Katanya dia cuma penjaga perpustakaan."


"Lihat aja wajahnya, pura-pura lugu pasti dia cuma ngincer hartanya Kelana."


"Tapi aneh nggak sih, dari dulu kita nggak pernah tahu Kelana punya pacar eh tiba-tiba ada berita soal ciuman mereka di internet terus mereka bilang mau nikah."


"Gue juga ngerasa aneh sama pernikahan mereka."


Renjani mendengar percakapan tersebut di luar bilik toilet. Ada tiga suara berbeda yang tengah asyik membicarakan Renjani.


Renjani tersenyum kecut, ia telah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tak mungkin semua orang bisa menerima pernikahan Kelana dan Renjani begitu saja. Justru aneh jika mereka tidak curiga. Namun Renjani kesal jika mereka menuduhnya mengincar harta Kelana. Rakyat miskin seperti Renjani memang serba salah.


"Nah lu kan satu manajemen sama Kelana, masa nggak tahu kalau dia punya pacar."


"Serius gue nggak tahu."


Renjani membuka pintu, tiga wanita yang tadinya bergosip itu seketika diam melihat Renjani keluar dari salah satu bilik toilet. Wajah mereka berubah pias seperti melihat hantu. Tidak. Ini lebih menyeramkan dari hantu. Ternyata toilet bukan tempat yang aman untuk bergosip.


Emma, Cantika, Miya. Renjani tidak asing dengan wajah mereka apalagi Emma yang dulu hadir di pernikahannya. Renjani menganggukkan kepala pada mereka lalu keluar dari situ tanpa mengucapkan apapun.


"Ayo pulang." Kelana telah mengganti setelan jasnya dengan celana longgar dan hoodie oversize.


Renjani mengangguk mengikuti langkah Kelana keluar. Mobil yang akan membawa mereka ke apartemen telah menunggu. Yana berada di jok depan sementara Kelana dan Renjani di belakang.