
"Usir iblis itu dari sini! Kenapa kau tidak lapor polisi untuk menangkapnya? Cepat hubungi polisi!" seru Marcella yang saat ini merasa sangat murka atau apa yang baru saja diketahuinya dan disaat bersamaan mendengar pintu yang diketuk dari luar.
Ia berpikir jika yang sebentar lagi akan masuk adalah pria yang telah membuatnya terpuruk hingga memilih untuk mati, tapi tidak demikian karena yang masuk adalah sosok wanita yang merupakan sahabatnya.
"Marcella?" lirih Kyara yang beberapa saat lalu buru-buru datang ke rumah sakit dan memilih untuk libur kerja setelah dihubungi oleh perawat jika sahabat baiknya sudah sadar.
Sebenarnya sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit tadi membuatnya khawatir sekaligus takut jika sahabat baiknya tersebut murka padanya karena menjadi penyebab kemalangan hingga berakhir bunuh diri.
Namun, berusaha untuk menenangkan diri dan fokus memohon ampunan. Meskipun ia tahu jika tidak mudah untuk melupakan semua ataupun memaafkannya. Bahkan sampai sekarang hubungannya dengan sang kekasih belum membaik setelah pertengkaran semalam.
Ia bahkan mengatakan ingin break dulu agar bisa introspeksi diri dan juga menenangkan pikiran karena ingin fokus pada sahabatnya yang kini hanya diam saja ketika menatapnya.
Bahkan sebelum masuk tadi melihat perdebatan dari Erland dan Zack, tapi tidak benar untuk menghentikannya karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah Marcella mendengar teriakan sang kekasih dan memilih untuk buru-buru masuk ke dalam ruangan demi bisa menenangkan.
Kyara berjalan menuju ke arah ranjang pemberian sang sahabat dengan perasaan berkecamuk dan juga suara tercepat di tenggorokan karena diliputi rasa bersalah.
Saat ia mengumpulkan keberanian dan berniat untuk membuka mulut agar bisa meminta maaf, dipotong oleh sahabatnya yang kini berbicara dengan suara cukup lantang.
"Lapor polisi sekarang! Aku ingin iblis itu membusuk di penjara! Kenapa polisi tidak menangkap bajingan itu?" Marcella yang saat ini menatap sahabatnya, bisa melihat jika raut wajah penyesalan serta kekhawatiran nampak jelas.
Ia bahkan saat ini berpikir jika sahabat baiknya tersebut diliputi oleh rasa bersalah padanya. Ya, jujur saja ia ini marah karena secara tidak langsung Kyara membuatnya mau pergi ke klab malam, padahal sudah menolak.
Namun, ia tahu jika penyesalan di akhir cerita tidak akan pernah mengubah segalanya karena tidak akan ada habisnya jika menyalahkan meskipun itu dibilang manusiawi seperti yang dikatakan oleh sang kekasih jika ia hanyalah manusia biasa yang mempunyai ego serta kelemahan.
Kyara yang saat ini tidak bisa berkata-kata, langsung menganggukkan kepala dan menuruti perintah dari sahabatnya dengan mengambil ponsel dari dalam tas. Ia langsung menelpon kepolisian agar segera datang ke rumah sakit.
Apalagi sahabatnya kini sudah sadar dan bisa menjadi saksi untuk membuat pria yang sangat dibencinya tersebut mendekam di penjara.
"Polisi akan segera tiba." Ia yang masih memegang ponselnya sambil menatap sahabatnya, hingga beberapa kali menelan saliva dengan kasar hanya untuk menormalkan perasaan yang diliputi kegugupan karena rasa bersalah.
"Marcella, maafkan aku!" Ia berniat untuk berbicara panjang lebar demi mengungkapkan penyesalan, tapi tidak bisa melakukannya karena sosok sahabatnya tersebut memotong pembicaraannya dan membuatnya tidak bisa berkutik.
"Aku tidak ingin membahasnya!" Marcella tidak ingin persahabatannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun kandas hanya karena takdir buruk yang menimpanya.
Jadi, ia memilih untuk berusaha menenangkan hatinya agar tidak terus-menerus dikungkung oleh penyesalan serta menyalahkan semua yang berhubungan dengan kemalangannya.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku dan aku tidak akan membahasnya. Izinkan aku untuk memelukmu," lirih Kyara yang saat ini tengah berusaha untuk menahan bola matanya agar tidak mengeluarkan air mata tanpa seizinnya.
Marcella yang sebenarnya khawatir pada sang kekasih, menatap sahabatnya yang terlihat memelas. Yakin jika Erland bisa mengatasi semuanya dan ia tidak perlu campur tangan. Akhirnya saat ini hanya melakukan kepala pada sahabat baiknya tersebut agar melakukan apa yang diinginkan.
'Aku ingin marah, tapi tidak bisa. Aku ingin mati, tapi Tuhan tidak mengizinkannya. Aku ingin bahagia dan semoga semua ini cepat berlalu,' gumam Marcella yang saat ini sudah dipeluk oleh sahabatnya yang menghambur ke arahnya.
Ia bahkan hanya diam dan membiarkan Kyara memeluknya dengan karena tidak ingin mulutnya mengeluarkan kalimat-kalimat yang mungkin akan disesalinya seumur hidup karena orang yang emosi tidak akan pernah bisa mengontrol diri sendiri dan berakhir penyesalan karena menyakiti perasaan orang lain.
"Marcella, aku bersedia bersedia memberikan hidupku padamu untuk menebus semua kesalahanku. Bila perlu aku tidak keberatan menjadi jongosmu. seumur hidup karena semenjak kejadian yang menimpamu, aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang karena diliputi perasaan berdosa padamu." Dinding pertahanan yang dibangun sangat tinggi dan kuat oleh Kyara, seketika runtuh ketika ulir air mata kini mengalir deras dan membasahi wajahnya.
Ia sudah tidak kuasa menahan diri lebih lama untuk tidak menangis. Antara rasa sedih sekaligus senang karena bisa melihat sahabatnya sadar. Selama Marcella berada dalam masa kritis, ia ibu menyalahkan diri sendiri dan berniat untuk melakukan hal yang sama jika sampai sahabatnya tersebut meninggalkan dunia.
Ia benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang semenjak kejadian mengenaskan itu. Itulah mengapa ia sekarang ingin menebus kesalahannya dengan menawarkan diri. Meskipun apa yang dilakukannya tidak bisa membuat sahabatnya sembuh dari trauma.
Akhirnya ia seketika mengangkat tangan kanannya untuk mengusap punggung wanita yang masih menangis tersedu-sedu sambil memeluknya.
"Aku tidak punya tenaga untuk menghiburmu." Hanya kalimat itu yang lolos dari bibirnya karena jujur saja merasa bingung harus apa di saat diri sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Apalagi setelah tadi mencari tahu tentang sosok wanita yang sempat dinikahi oleh sang kekasih dan tinggal bersama, ia tidak bisa tenang memikirkannya. Meskipun ia merasa ragu dengan keputusannya untuk menerima lamaran dari Erland, tetap saja tidak ingin membuang kebahagiaan yang ditawarkan.
Kyara seketika mengangkat tubuhnya yang tadinya membungkuk memeluk dan menatap sahabatnya yang kini terlihat jauh lebih datar dan dingin. Sangat berbeda jauh dengan yang dulu karena selalu menatapnya penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, Marcella. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak akan membebanimu dengan perasaanku. Aku tidak akan menangis lagi. Kamu tidak perlu repot-repot menghiburku saat keadaanmu saja sedang tidak baik-baik saja." Kyara bakal saat ini mengusap kasar wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan saat bersimbah air mata di hadapan sahabat baiknya tersebut.
Hingga ia mendengar suara sahabatnya yang seolah tidak ingin menanggapinya karena malah beralih berbicara dengan pria yang berdiri tak jauh darinya.
"Keluar dan lihat apa yang terjadi pada atasanmu." Marcella benar-benar tidak bisa fokus pada perkataan dari Kyara karena hanya memikirkan sang kekasih yang tengah berinteraksi dengan Zack.
Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan berharap Erland segera masuk ke dalam. Hingga ia pun saat ini mengibaskan tangan agar pria yang seketika menganggukkan kepala tersebut segera berlalu pergi melaksanakan perintahnya.
"Tolong jaga nona Marcella," sahut Leo yang tanpa pikir panjang langsung melangkahkan kaki panjangnya menuju pintu keluar setelah berbicara dengan Kyara.
Sebenarnya saat pertama kali melihat wanita itu tadi, mengingat kejadian semalam dan membuatnya ingin tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Namun, tidak mungkin bertanya saat situasi sedang memanas dan kini ia sudah berada di luar ruangan.
Ia saat ini mengedarkan pandangannya dan tidak melihat dua orang yang dicari, sehingga mengerutkan kening. Ke mana tuan Erland dan pria yang dipanggil iblis oleh nona Marcella?" Kemudian berjalan menuju ke ruangan informasi untuk bertanya karena berpikir tidak perdebatan diantara dua pria tersebut menimbulkan keributan luar biasa hingga orang-orang medis di rumah sakit turun tangan.
"Di mana dua pria yang berada di depan ruangan?" Ia bertanya pada sosok perawat yang duduk di balik layar komputer.
Sang perawat yang tadinya fokus pada pekerjaannya, beralih pada pria yang baru saja datang. Ia menuju ke salah satu ruangan yang berjarak 100 m dari tempatnya duduk.
"Security membawa dua pria yang hobi membuat keributan itu ke sana untuk dilakukan mediasi agar bisa berbicara dengan baik-baik tanpa perkelahian karena tadi mereka hampir saja baku hantam." Sang perawat yang kini bangkit berdiri dari tempat duduknya, memberikan sebuah formulir.
"Oh ya, tolong sekalian bawa ini dan berikan pada salah satu orang yang ada di dalam." Ia yang baru saja selesai membuat surat pernyataan untuk dua pria itu menandatanganinya, menggabungkan niat untuk memberikannya secara langsung setelah melihat pria di hadapannya tersebut.
Leo yang saat ini menerima kertas berisi tulisan yang tentu saja dengan bahasa asing dan membuatnya mengerti. "Baiklah, saya akan ke sana sekarang."
Kemudian benalu pergi meninggalkan perawat dengan rambut keemasan dan bola mata kebiruan yang menjadi ciri khas orang asing di sana. "Kali ini tuan Erland mungkin akan benar-benar tidak boleh menginjakkan kaki di rumah sakit setelah menandatangani ini."
"Emosi tuan Erland tidak mungkin bisa dibendung saat melihat pria yang menjadi penyebab kehancuran wanita yang dicintainya. Bahkan aku baru saja melihat berita viral dari seorang suami yang membunuh pria yang telah memperkosa istrinya dan banyak mendapatkan pujian dari netizen karena mempertahankan harga diri seorang lelaki."
Leo kini melihat sebuah ruangan yang tadi ditunjukkan oleh perawat dan langsung mengetuk pintu serta menunggu sampai dibukakan. Beberapa saat kemudian ia melihat seorang pria berseragam biru membuka pintu untuknya.
Namun, di saat bersamaan mendengar suara atasannya dari dalam yang kembali berteriak saat mengungkapkan kemurkaannya.
"Aku akan membunuhmu!"
Bahkan ia seketika bersitatap dengan pria yang baru saja membuka pintu dan langsung bergerak masuk untuk menghentikan aksi baku hantam dari dua pria yang sama-sama diliputi oleh amarah itu.
"Hentikan!"
To be continued...