Married by Accident

Married by Accident
Sebuah ide jenius



"Wah ... pria itu tampan sekali ya?" ucap seorang pegawai wanita yang saat ini berbisik di dekat rekannya saat menatap serius pada pria yang berdiri di bagian paling depan untuk menjelaskan tentang projek baru yang ditawarkan.


Sementara itu, rekan wanita yang satunya langsung menunjukkan ibu jarinya di samping meja karena tidak ingin didengar oleh yang lain.


Di sisi lain, sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Hugo Madison yang dari tadi sibuk mengamati penampilan pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempat duduknya, langsung mengingat sang putri yang masih belum terlihat dekat dengan siapa pun.


Ia sebenarnya merasa kecewa karena melihat putrinya bertambah akrab dengan Harry dan sang kekasih. Padahal ia ingin Floe dekat dengan Harry lebih dari teman.


'Pria ini bahkan jauh lebih gagah dari cecunguk itu. Bahkan namanya saja terkesan unik dan bagus, cocok dengan karakternya yang seperti pria gentleman,' gumam Hugo Madison yang tersadar dari lamunannya begitu mendengar sang asisten.


"Bagaimana menurut Anda, Presdir?" tanya sang asisten yang saat ini menatap aneh pada atasannya karena seperti kosong pandangannya, meskipun dari tadi memperhatikan pria dengan postur tubuh tinggi tegap dan proporsional tersebut.


"Aaah ... sangat menarik. Tidak salah aku memilih bekerja sama dengan Ismahayana Grup," seru Hugo Madison yang kini bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah depan.


Tentu saja untuk mendekati sosok pria yang baru saja menjelaskan projek kerja sama dengan perusahaannya. "Semoga projek ini bisa meraup keuntungan yang besar. Aku percaya padamu begitu melihatmu menjelaskan tentang semuanya secara detail hari ini."


Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar dan menyadari jika pria yang berdiri di hadapannya itu menyambut uluran tangannya.


"Terima kasih sudah mempercayai Ismahayana Grup untuk bekerja sama dengan Madison Grup, Presdir." Sosok pria yang mengenakan setelan jas lengkap berwarna hitam dan sepatu pantofel hitam itu tersenyum simpul sambil membungkuk hormat.


Dengan netra hitam pekat, alis tajam dan rahang tegas yang dipadu padankan dengan hidung mancung serta rambut klimis rapi itu kini merasa lega karena kerja kerasnya hari ini membuat puas rekan bisnisnya.


Pria dengan tinggi badan 180 cm dan memiliki bahu lebar yang tersenyum simpul tersebut kini melepaskan tangannya dan memberikan kode pada sang asisten untuk membereskan semuanya karena hari ini ia akan langsung meninjau lokasi tender yang baru saja dimenangkan.


"Aku ingin berbicara dengan Anda di ruangan kerja jika tidak keberatan. Apa Anda punya waktu, Tuan ...." Hugo Madison yang ragu melanjutkan perkataannya karena tidak tahu nama panggilan pria yang dianggapnya sangat menarik itu.


"Panggil saja Dhewa." Ia melirik sekilas jam tangan mahal keluaran terbaru yang baru saja dibelinya di Paris ketika ada acara peluncuran merk itu. "Emm ... kebetulan saya ada waktu longgar hari ini, Presdir."


Saat ia mendapatkan lirikan yang menandakan protes dari sang asisten karena beberapa saat sebelum pergi tadi sudah mengatakan jika begitu selesai meeting akan langsung menuju lokasi karena jika berangkat saat jam makan siang pasti macet.


Apalagi jarak dari lokasi dengan perusahaan itu cukup jauh dan memakan waktu, jadi ingin berangkat segera. Namun, karena tidak enak jika menolak ajakan CEO perusahaan, sehingga terpaksa berbohong. Berpikir jika ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan.


Refleks Hugo Madison berbinar wajahnya karena berpikir tidak akan bersusah payah untuk membujuk. "Kalau begitu, kita ke ruangan sekarang."


Tentu saja kini semua staf yang duduk di kursi langsung bangkit berdiri membungkuk hormat begitu melihat atasan perusahaan melangkah keluar melewati mereka.


Sementara itu, di belakang dua pria tersebut adalah sang asisten yang sama-sama berjalan bersisihan untuk mengikuti atasannya masing-masing.


Hugo Madison yang mengingat perkataan sang istri agar semuanya berjalan natural, kini tengah memutar otak untuk mencari sebuah ide yang tepat untuk mempertemukan Floe dengan pria yang memiliki tinggi lebih darinya itu.


Hingga ia seketika tersenyum begitu masuk ke dalam lift karena mendapatkan sebuah ide untuk putrinya.


'Akhirnya aku menemukan sebuah ide jenius. Istriku pasti sangat setuju dengan apa yang kupikirkan,' gumamnya sambil memencet tombol angka di kiri ruangan kotak besi tersebut ke lantai atas yang merupakan tempatnya menghabiskan waktu seharian.


To be continued...