
Floe saat ini menatap intens punggung lebar pria yang baru saja pergi menjauh darinya dengan membawa ponsel yang barusan berdering dan membuatnya merasa curiga jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Erland.
Kini ia menatap ke arah sang ibu mertua yang juga melakukan hal sama sepertinya. "Kenapa mengangkat telepon saja harus buru-buru pergi menjauh dari kita, Ma?"
Ia sengaja memancing ibu mertuanya untuk mencari tahu jawaban apa yang akan didengar olehnya karena saat ini satu-satunya hal yang terbersit di otaknya adalah itu berhubungan dengan kekasih Erland.
"Oh ... mungkin Erland tidak ingin konsentrasinya terpecah dengan melihat kita saat berbicara dengan klien atau rekan bisnis yang membicarakan tentang masalah pekerjaan," sahut wanita paruh baya yang saat ini sebenarnya merasa tidak enak pada menantunya tersebut.
Ia berbicara seperti itu untuk menenangkan menantu perempuannya agar tidak berpikir negatif tentang siapa yang menghubungi Erland. 'Tingkahnya sangat mencurigakan dan jelas-jelas terlihat oleh siapapun, termasuk Floe. Aku yakin jika itu tidak berhubungan dengan pekerjaan.'
Saat berkutat dengan pemikirannya sendiri dan sibuk mencemaskan sesuatu hal mengenai perasaan menantunya tersebut yang sedang hamil muda, ia pun mengalihkan perhatian dengan memberikan perintah pada salah satu pegawainya saat melintas di hadapannya.
"Tolong bantu menantuku untuk berganti pakaian," ujarnya yang langsung beralih pada Floe. "Erland sudah melihat gaun yang kamu kenakan dan sepertinya tidak ada protes. Jadi, sekarang lebih baik ganti baju saja. Mama mau menemui Erland dulu."
Ia mengusap lembut bunda menantunya tersebut sebelum berlalu pergi dan begitu melihat anggukan kepala tanda setuju, lalu melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah depan untuk mencari putranya.
Sementara itu, Floe yang merasa sangat kecewa sekaligus curiga atas sikap ibu dan anak tersebut, terpaksa berjalan masuk kembali ke ruang ganti bersama dengan pegawai butik yang membantunya.
'Aku sangat yakin jika ini berhubungan dengan Marcella. Apakah aku harus kembali melarangnya untuk berhubungan dengan wanita itu? Bukankah sikapku ini sangat berlebihan? Aku tidak boleh menjadi seorang wanita lemah seperti ini dengan cara melarangnya setiap hari untuk menghubungi Marcella,' gumam Floe yang saat ini sudah dibantu oleh pegawai butik ketika melepaskan gaun pengantinnya.
'Aku memang bukan wanita yang diinginkan Erland. Bukan tugasku untuk menjaga hatinya karena semua yang terjadi adalah pilihannya dan ini adalah takdir yang harus kuterima. Jika Erland masih terus berhubungan dengan Marcella, aku bisa apa?' Floe mengembuskan napas kasar dengan perasaan membuncah dan bergejolak ketika pikirannya tak selaras dengan isi hatinya.
Namun, ia dipaksa untuk lebih mengedepankan logika ketimbang hatinya yang dipenuhi kebimbangan. 'Aku bahkan sebenarnya tidak berhak sama sekali mengekangnya karena pernikahan kami hanyalah sebuah perjanjian semata.'
"Sadar, Floe!" sarkasnya sambil menepuk jidatnya untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak bodoh karena cinta yang tidak seharusnya dimiliki pada pria yang salah.
Refleks pegawai butik terkejut atas apa yang dilihatnya. "Nona, Anda kenapa?"
Floe seketika merutuki kebodohannya sendiri dan menoleh ke arah pegawai butik yang melihat tingkah konyolnya barusan. Ia tidak ingin semakin bertambah malu dan berpura-pura tertawa.
"Aaah ... maaf karena aku barusan sedang memikirkan kelanjutan dari film yang ku tonton semalam. Aku benar-benar sangat menyukai tokoh utamanya karena tampan." Floe tidak sempat mencari alasan yang lebih masuk akal dan hanya itu yang terlintas di pikirannya saat ini.
Sementara itu, pegawai butik tersebut merasa lega karena tidak seperti yang ditakutkannya. Tadinya ia berpikir bahwa menantu dari bosnya tersebut tengah mengalami kebimbangan besar karena acara resepsi pernikahan sebentar lagi tiba.
"Syukurlah jika itu hanya tentang film yang Anda tonton, Nona. Silakan Anda kembali berpakaian. Saya akan membawa gaunnya." Berjalan menuju ke arah sebelah kanan dan membereskan gaun pengantin di tangannya.
To be continued