
Dua minggu telah berlalu semenjak kejadian yang menimpa Erland karena tidak bisa membawa kembalikan kekasih ke tanah air dan malah berakhir di kuasai oleh keluarga Pieterson. Ia dulu memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah kejadian itu karena memang pada kenyataannya tidak bisa bertemu dengan Marcella secara langsung.
Jadi, tidak mungkin ia hanya berdiam diri di London, sedangkan pekerjaan menantinya dan juga iba pada sang ayah yang sudah menghandel semuanya saat pergi.
Ia aku tidak bisa melakukan video call setiap hari karena peraturan di keluarga Pieterson sangat ketat dan tidak seperti yang dikatakan oleh polisi yang memberikan kartu nama.
Jadi, ada jadwal menelpon hanya setiap hari Senin dan Kamis saja. Jadi, ia hanya bisa berbicara dengan Marcella satu minggu dua kali untuk memastikan apakah wanita yang dikhawatirkan hamil itu baik-baik saja.
Meskipun saat di telepon selalu diawasi oleh pengawal dan membuatnya tidak bisa berbicara leluasa dengan sang kekasih. Ia selalu melihat sang kekasih menangis karena khawatir dengan hasil dari rumah sakit. Bukan karena disiksa oleh keluarga Pieterson.
Erland hanya bisa menghibur dari jauh karena memang saat ini tidak bisa melakukan apa-apa selain itu. Kini, ia terlihat duduk di depan komputer dan mengingat jika hari ini merupakan sebuah momen yang mungkin tidak akan terlupakan karena hasil tes akan keluar hari ini.
Ia bahkan menunggu telpon dari polisi yang menangani kasus karena memang sudah diberitahu. Terlihat Erland saat ini tengah melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa belum juga menelpon? Kira-kira apa hasilnya? Apakah Marcella positif hamil?" Erland yang saat ini merasa bimbang sekaligus berharap jika Marcella tidak hamil karena berpikir jika sang kekasih akan semakin lama di London karena harus menunggu sampai melahirkan.
Bahkan sudah ada ultimatum dari pihak keluarga Pieterson jika lahir akan langsung diambil agar Marcella bisa melanjutkan hidup tanpa anak yang tidak diinginkan. Dengan mengatakan jika itu adalah anak emas dari keluarga berdarah biru dan tidak akan sembarangan membiarkan tumbuh di lingkungan biasa.
Apalagi sudah disindir jika Marcella akan menikah dengannya dan tidak menginginkan anak itu. Padahal saat melihat Floe yang hamil, ada ikatan batin antara seorang ibu dan anak yang tidak mungkin bisa dipungkiri.
Jadi, ia tidak yakin jika sosok wanita yang sudah mengandung selama 9 bulan lebih akan dengan mudah memberikan anaknya tanpa merasa bersedih meskipun berawal dari sesuatu yang tidak diinginkan.
Erland saat ini terdiam ketika mengingat Floe dulu yang hamil dan juga kejadian di depan ruangan rumah sakit di London ketika wanita yang kini sudah diproses untuk bercerai dengannya tersebut menelpon dan mengumpatnya.
"Kamu tidak salah, Floe. Aku sama sekali tidak marah padamu saat mengumpatku habis-habisan. Bahkan kamu juga mengutukku agar membusuk dalam penyesalan. Ya, semua kutukanmu menjadi kenyataan karena sekarang aku terlihat seperti seorang pecundang." Ia bahkan selama berhari-hari dan hingga sekarang terngiang-ngiang umpatan dari seorang wanita polos yang sudah berubah kejam.
Merasa pusing memikirkan kutukan dari Floe, ia paket berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke arah kaca jendela raksasa di sebelah kiri ruangan. Dengan mengambil satu batang rokok dan menyalakan korek api, kini ia sudah perlahan menyesap dan menghembuskan asapnya ke udara hingga mengepul memenuhi ruangan.
Semenjak ia mengalami banyak masalah akhir-akhir ini, lebih sering melampiaskannya dengan cara menghisap nikotin yang merusak kesehatan dan tidak disarankan oleh pemerintah itu.
Karena baginya tidak ada hiburan lain setelah memutuskan untuk tidak pergi ke klab malam dengan minum minuman beralkohol.
Hingga ia pun saat ini sudah sibuk menyesat dan mengumpulkan asap dari benda bernikotin itu. Pernikahan akan dilakukan empat hari lagi karena memang menunggu hasil keluar, jadi terpaksa mengundur agar bisa dilakukan bersamaan.
Apalagi keluarganya dan keluarga pihak ipar ingin semuanya dilakukan secara besar-besaran karena sama-sama baru mengadakan acara pernikahan satu kali ini. Iparnya memang sepantaran dengannya, jadi merupakan anak tertua.
Jadi, menginginkan semuanya terlihat sempurna dan acara perhelatan akbar tersebut harus benar-benar megah dan mewah. "Kenapa lama sekali? Ini makan sudah lebih dari setengah jam dari apa yang dikatakannya. Apa hasilnya belum keluar? Atau ditunda?"
Saat Erland terdiam memikirkan untuk menyiapkan hatinya jika sampai kemungkinan terburuk terjadi, ia harus bersabar selama lebih kurang 9 bulan sampai Marcella melahirkan.
"Aku pasrah pada garis takdirmu, ya Allah." Erland yang baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian sang asisten sudah masuk ke dalam.
"Presdir, hasilnya sudah keluar." Leo yang tadinya fokus bekerja di depan komputer, mendapatkan kabar dari Kyara yang baru saja ditelepon oleh kepolisian karena saat Erland tidak ada, dia lah yang lebih utama menjadi wali karena ada di negara yang sama.
Erland yang tidak ingin membahas jika dirinya belum ditelepon, kini hanya menatap asistennya yang berjalan semakin mendekat sambil membawa ponsel dan diberikan padanya.
"Saya belum membukanya karena Anda lah yang berhak mengetahuinya pertama kali. Kyara juga tadi tidak mengatakan secara langsung hasilnya karena ini Anda melihat sendiri." Ia sebenarnya merasa penasaran juga hasilnya.
Apalagi merasa iba dan tidak tega pada atasannya yang selalu murung semenjak kejadian itu. Bahkan sudah jarang sekali marah-marah padanya karena masalah pekerjaan. Seperti orang yang tidak bersemangat lagi menjalani kehidupan.
'Semoga semuanya adalah jalan terbaik dan jika itu tidak sesuai dengan harapan, Semoga Tuan Erland bisa menerimanya dengan lapang dada dan tetap melanjutkan hidup dengan baik,' gumamnya yang kini sudah melihat pergerakan dari atasannya yang membuka hasil dari rumah sakit.
"Bagaimana, Presdir? Negatif atau ...." Ia tidak tega mengatakan hal selanjutnya dan akhirnya memilih untuk menunggu hingga pria yang sangat dihormatinya tersebut menyembuhkan rasa penasarannya yang sangat besar.
Sementara itu, Erland yang tadinya merasa sangat gugup sekaligus berdebar kencang ketika membayangkan jika hasilnya positif, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya.
Sambil merapal doa sebelum membukanya agar tidak merasa sok ataupun terkejut. Begitu membuka hasilnya, ia hanya terdiam dan masih belum mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang merupakan milik sang asisten. Hingga tersadar begitu mendengar suara Leo.
Akhirnya ia menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya sambil melanjutkan menghisap rokok yang masih terselip di jari.
"Hasilnya ...."
To be continued...