
"Astaga! Bisa tidak, jangan berkali-kali menghembuskan napas kasar seperti orang yang tengah menjalani beban berat? Anda ini seperti orang yang paling menderita di dunia saja. Aku ingin makan dengan tenang saja sampai tidak bisa gara-gara mendengar hembusan nafas kasar Anda," keluh Floe yang baru saja menelan makanan di mulutnya.
Nasib baik nasi yang berada dalam kotak makan tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya, sehingga membuatnya merasa lega karena tidak membuat nafsu makannya berkurang dan tidak menghabiskan makanannya hanya gara-gara embusan napas kasar pria dengan netra pekat itu.
Kini Floe meneguk air mineral yang membuatnya merasa aneh karena tidak penuh dan berpikir jika diminum oleh Harry. Namun, tidak mempermasalahkannya karena sahabatnya sudah tidak ada dan tidak bisa bertanya apa penyebabnya.
Berbeda dengan Harry yang saat ini tengah menatap ke arah Floe ketika minum dan entah mengapa bibirnya kini terbuka dan langsung mengungkapkan sesuatu di kepalanya. "Ya, aku adalah pria tidak beruntung di dunia karena tidak bisa membuatmu membantuku keluar dari masalah yang kuhadapi."
Floe yang baru saja menghabiskan air minumnya, seketika mengerutkan kening karena merasa ada sesuatu hal yang tidak beres dan akan menyusahkannya. Ia masih bersikap sangat santai dan bergerak membuang sampah makanan ke dalam tempat yang disediakan, tak jauh dari tempat duduknya.
'Sebenarnya apa lagi yang dia inginkan dariku? Apa berhubungan dengan perjodohan tadi yang melibatkanku dengan mengarang cerita?' gumam Floe yang kini sudah merasa sangat kenyang dan memberikan kode pada pria yang seolah enggan bangkit berdiri dari kursi tunggu yang ada di depan IGD tersebut.
"Kita kembali ke lokasi sekarang.Bahkan sebentar lagi sudah masuk jam pulang," ucap Floe yang saat ini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah sebelah kanan menuju ke parkiran.
Namun, ia menghentikan langkahnya begitu pergelangan tangan kirinya dipegang oleh pria yang kini berada di belakangnya dan membuatnya menoleh ke belakang.
"Tunggu!" seru Dhewa yang saat ini merasa ragu untuk mengatakan keinginannya meminta tolong pada wanita yang seolah tidak peduli padanya.
Namun, ia berpikir tidak ada pilihan lain, sehingga saat ini membuatnya harus berbicara pada Floe untuk meminta tolong.
"Ada apa?" tanya Floe yang seperti punya firasat buruk melihat raut wajah penuh permohonan yang belum berbicara apapun padanya, tapi seolah bisa ditebak ke mana arah yang akan dibawa pria itu.
'Kenapa aku punya firasat yang buruk. Aku benar-benar sangat malas jika mendapatkan masalah gara-gara dia tadi mengarang cerita pada wanita itu,' gumam Floe yang saat ini menunggu hingga pria di hadapannya tersebut berbicara.
Dhewa saat ini kembali menghembuskan napas kasar dan menelan saliva sebelum membuka suara. Tentu saja ia saat ini tengah mengatur kalimat yang pas dan bisa menyentuh perasaan wanita di hadapannya agar mau menolongnya sekali lagi untuk berakting menjadi kekasihnya di depan sang ibu.
"Ehm ... sebenarnya aku benar-benar ingin meminta tolong padamu sekali lagi karena tidak tahu harus bagaimana. Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena tanpa persetujuanmu tadi telah mengarang kebohongan pada Camelia jika kamu adalah wanitaku."
"Sepertinya dia menceritakan itu pada mamaku yang akhirnya nanti malam akan datang ke sini dan menyuruhku untuk membawamu menemuinya." Dhewa yang baru saja menutup mulut, kini melihat raut wajah memerah serta mata yang membulat sempurna dan membuatnya bisa mengerti jika Floe saat ini marah besar padanya.
Ia benar-benar sangat kesal sekaligus marah karena baru bekerja sehari saja sudah mendapatkan masalah yang membuat kepalanya seperti mau meledak saat itu juga karena masalahnya sendiri saja sudah membuatnya pusing.
Namun, sekarang malah bertambah hanya gara-gara pria yang melakukan sesuatu tanpa seizinnya. "Inilah yang membuatku tidak ingin terlibat tadi dan menolak untuk membantumu. Sekarang semuanya jadi ribet begini, kan? Aku bahkan hanya ingin fokus bekerja, tapi kau malah membuatku terjebak dalam sebuah masalah seperti ini."
"Maaf," lirih Dhewa yang saat ini merasa bersalah, tapi tetap harus meminta bantuan Floe karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi sang ibu yang selalu berbuat sesuka hati dengan memaksanya.
Bahkan selalu menganggapnya seperti seorang anak kecil, meskipun saat ini usianya sudah tidak lagi muda. Selalu disetir oleh sang ibu dari dulu membuatnya merasa sangat risi. Meskipun pada awalnya ia berpikir jika sang ibu sangat menyayanginya, tapi lama kelamaan sadar jika semua ada batasannya setelah ia dewasa dan bukan remaja lagi yang tidak bisa mengambil keputusan besar dalam hidup.
"Maaf tidak bisa menyelesaikan masalah ini, bukan?" ketus Floe yang memijat pelipisnya karena jujur saja ia ingin sekali meninggalkan pria itu dan tidak memperdulikan masalahnya.
Namun, ia tidak mungkin melakukan itu karena setiap hari akan bertemu di tempat kerja, sehingga saat ini menghembuskan napas kasar seperti pria tersebut beberapa saat lalu.
"Ya, memang kata maafku tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang kubuat. Tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu sekali lagi. Aku janji setelah ini tidak akan merepotkanmu atau membuatmu susah karena harus berakting menjadi kekasihku." Dhewa mengangkat dua jarinya membentuk simbol janji agar Floe percaya.
Namun, ia yang dari tadi menatap penuh permohonan pada Floe, seketika berubah penuh kekecewaan dengan tanggapan dari wanita di hadapannya yang menggelengkan kepala karena langsung tidak mau berpikir untuk mempertimbangkan permohonannya.
"Maaf, aku tidak bisa karena jika sekali lagi membantumu, sangat yakin jika masalahnya akan bertambah lebar dan membuatku terperosok jauh dengan kebohonganmu itu. Lebih baik kamu jujur pada mamamu mengenai apa yang yang terjadi tadi."
"Katakan juga bahwa kamu sama sekali tidak mau menikah dengan Camelia karena tidak mencintainya." Floe kini langsung berjalan meninggalkan pria dengan ekspresi wajah muram yang membuatnya malah semakin bertambah kesal.
Ia sebenarnya sedikit iba melihat raut wajah Dhewa yang memelas, tapi berpikir jika semakin jauh masuk dalam kebohongan pria itu, akan membuatnya terjebak dalam masalah yang nanti mungkin akan membuat nama baik keluarga Madison tercemar.
Jadi, saat ini tidak mau membantu pria itu untuk menyelesaikan sandiwara di depan sang ibu yang akan datang ke Jakarta malam ini.
'Aku saja sudah pusing dengan masalahku sendiri. Ini malah dia mau menambahnya. Bisa pecah kepalaku nanti karena memikirkan banyak masalah yang tidak kunjung selesai,' gumam Floe yang saat ini terus melangkah menuju ke arah parkiran tanpa menoleh ke arah belakang untuk melihat apakah Dhewa mengekornya.
To be continued...