Married by Accident

Married by Accident
LXXI



Kala mendung mulai menggantung


Engkau adalah pendar dalam hati yang gelap


Kala dingin memeluk tubuh


Kehangatan mu selalu menyelimuti ku


Seluruh penumpang tampak menikmati perjalanan mereka ditemani lagu berjudul Renjani yang baru dirilis. Tidak terkecuali Renjani yang duduk di antara kursi-kursi penumpang lainnya. Matanya bengkak akibat menangis sepanjang malam.


Mendengar lagu itu Renjani semakin sedih, luka dalam hatinya kian perih mengingat momen kebersamannya dengan Kelana. Bayangan Kelana dan Elara berada di panggung yang sama masih melekat di kepala Renjani. Sebenarnya Renjani tidak masalah kalaupun mereka bermain violin bersama tapi sejak awal Kelana tidak mau jujur.


Kelana sudah salah karena meninggalkan Renjani sendiri demi Elara di hari peringatan pernikahan mereka. Kelana menyakiti Renjani demi memenuhi janjinya pada Elara. Renjani tidak bisa memaafkan kesalahan Kelana.


Renjani melihat keluar jendela, matahari tampak mengintip dari bukit yang ditumbuhi pepohonan dan persawahan di bawahnya. Ia sudah pergi sejauh ini. Renjani belum tahu tujuannya, ia hanya mengikuti kata hatinya.


Renjani tidak mungkin pergi ke Sumedang karena Kelana pasti akan mencarinya kesana. Ia juga sengaja menonaktifkan seluruh media sosialnya.


Bapak dan Ibu, dalam beberapa menit kereta akan tiba di Bogor, untuk semua penumpang untuk mengakhiri perjalanan di Bogor. Harap siapkan barang-barang Anda, kami mengingatkan Anda untuk tetap di kursi Anda sampai kereta berhenti. Terima kasih telah menggunakan layanan kami dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.


Renjani menegakkan tubuh, ia memutuskan untuk turun di Bogor. Tempat yang mungkin tak akan Kelana datangi meskipun jaraknya dekat dengan Jakarta. Renjani tidak yakin apakah Kelana akan mencarinya, ia hanya mempersiapkan segala kemungkinannya.


Renjani menyeret kopernya keluar stasiun, perutnya keroncongan karena hanya makan nasi goreng dari kemarin. Ia mengedarkan pandangan mencari penjual makanan.


"Jangan takut Re, kamu udah pernah pergi dari rumah sebelumnya." Renjani menepuk bahunya memberi semangat pada dirinya sendiri. Ia menyeberang jalan menuju minimarket untuk membeli makanan.


Renjani mengambil dua onigiri, mie, sosis dan buah melon mengingat dirinya sedang hamil. Renjani harus mulai memperhatikan asupan makanan setelah ini. Ia akan belajar menjadi ibu yang baik.


Setelah menyeduh mie dan memasukkan sosis, Renjani duduk di kursi yang tersedia di dalam minimarket dan mulai makan.


Sembari makan Renjani juga mencari tempat tinggal selama berada disini. Renjani masih bisa menghandle pekerjannya dari sini, ia akan menghubungi Manda lebih dulu.


"Halo."


"Ini aku Renjani, kamu udah di kantor?"


"Iya, saya baru aja masuk, ada apa Mbak?"


"Tolong jangan bilang siapapun kalau aku telepon kamu terutama Kelana, aku nggak tahu kapan bisa pergi kantor jadi aku akan kasih arahan lewat telepon dan SMS, aku nggak bisa ceritakan detail nya sama kamu tapi tolong kamu dan yang lain kerja sama untuk mengisi kekosongan posisi ku di kantor."


"Baik Mbak."


"Hari ini kamu hubungi percetakan dan minta mereka menyelesaikannya lusa."


"Iya Mbak."


"Aku lihat angka pemesanan sudah lebih dari 100, jadi kita akan cetak sampai 500 buku."


"Baik, saya juga akan kasih tahu yang lain."


"Terimakasih ya." Renjani menutup telepon, ia bersyukur karena Manda tidak banyak bertanya. Ia menghubungi orang yang tepat.


Renjani melanjutkan perjalanan menggunakan taksi setelah mengisi perut hingga penuh agar ia bisa menjalani hari ini dengan kuat—secara fisik dan mental.


Sebelum mencari tempat tinggal, Renjani memutuskan untuk pergi ke klinik untuk memeriksakan kehamilannya. Renjani hanya ingin memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Renjani tidak tahu apa yang dialami wanita lain saat mereka hamil karena ia tidak merasakan apapun. Tak ada bedanya saat dirinya belum hamil dan sekarang. Mungkin saja test pack itu salah.


"Sudah reservasi via online?"


"Belum."


"Kalau begitu silakan ambil nomor antreannya."


Renjani mengambil nomor antrean dan duduk di kursi yang berjajar di depan ruang praktek dokter kandungan. Ada beberapa pasien yang lebih dulu datang. Mereka semua ditemani oleh suami, Renjani satu-satunya pasien yang datang sendiri.


Renjani terkekeh pelan menghibur dirinya sendiri, ia tidak datang sendiri. Ada bayi di dalam perutnya. Anak ini juga bukannya tidak punya papa. Lagi pula Renjani bisa menjadi mama dan papa sekaligus walaupun ia tahu tidak mudah.


Ucapan Kelana benar bahwa menjadi orangtua itu tidak mudah tapi bukan berarti mereka harus menyingkirkan bayi itu. Renjani akan menganggap bayi ini sebagai hadiah anniversary nya.


Renjani merasa gugup sekaligus takut ketika gilirannya tiba. Awalnya tidak masalah jika ia datang sendiri tapi sekarang ia merasa gugup.


"Silakan Ibu." Seorang dokter wanita berusia 40 tahunan mempersilakan Renjani masuk. "Baru pertama kali ya?"


"Iya Dok."


"Kalau begitu kita tensi dan timbang berat badan dulu ya."


Dokter memeriksa tensi darah dan berat badan Renjani.


"Tekanan darahnya rendah sekali Bu, nanti saya kasih vitamin tambah darah."


Renjani hanya mengangguk, Kelana juga sempat memeriksa tekanan darahnya waktu itu. Renjani pikir sekarang tekanan darahnya sudah lebih stabil.


"Kalau boleh tahu kapan terakhir datang bulan?"


"Saya lupa Dok."


Dokter tersebut tersenyum lebar, maklum bagi calon ibu seperti Renjani yang tidak mengingat tanggal datang bulan.


"Sebelumnya pakai KB apa?"


"Saya tidak pernah pakai KB, biasanya suami menggunakan pengaman atau making out."


Dokter mempersilakan Renjani berbaring di ranjang setelah menanyakan banyak hal.


"Lain kali pakai rok atau dress Bu, biar lebih gampang." Dokter meminta suster membantu Renjani mengganti pakaian karena ia akan memeriksa kondisi leher rahim Renjani.


"Maaf Dok." Renjani pikir hanya perutnya yang akan diperiksa, ia agak terkejut saat dokter memintanya ganti baju.


"Saya akan melakukan pemeriksaan transvaginal." Ucap dokter seraya menyelimuti tubuh Renjani sebatas pinggang. "Mungkin akan sedikit tidak nyaman."


Renjani meringis, bukan sedikit tapi banyak. Rasanya sangat aneh.


"Usianya sudah memasuki 5 Minggu Bu."


Renjani melihat ke monitor di hadapannya, ia tidak bisa melihat keberadaan janin pada layar tersebut.


"Titik ini adalah janin Ibu."


Tanpa sadar Renjani meraba perutnya, ia benar-benar memiliki janin di dalam sana. Pandangan Renjani berkabut, saat ini perasannya campur aduk antara terkejut, terharu dan sedikit bahagia. Mungkin seiring berjalannya waktu jika janinnya semakin besar, kebahagiaan Renjani juga akan bertambah.


"Setelah ini Ibu harus memperhatikan asupan ya supaya tumbuh kembang bayinya juga normal, tekanan darah Ibu juga terlalu rendah, konsumsi kacang-kacangan juga bisa membantu."


"Dokter, saya lihat biasanya orang hamil sering mual dan muntah tapi kenapa saya tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu dokter?"


"Kondisi wanita hamil itu tidak sama Bu, jadi Ibu tidak perlu khawatir jika kondisi Ibu berbeda dari ibu hamil yang lain."


Renjani bertanya banyak hal seperti makanan dan minuman yang harus ia hindari, olahraga hingga urusan skincare. Renjani menanyakan secara detail karena mungkin ia tidak bisa sering datang ke tempat ini.


******



Saat pertama kali menginjakkan kaki di area villa Renjani langsung menyukainya. Villa tersebut dikelilingi oleh pohon kenari, karet dan angsana yang membuat udara sejuk. Halamannya dipenuhi rumput jepang, terdapat batu yang tersusun terbentang dari tempat Renjani berdiri hingga teras. Villa tersebut memiliki dua lantai dan 6 kamar yang tidak berpenghuni. Hampir seluruh bangunannya terbuat dari kayu.


"Mbak Rere ya?" Seorang wanita berusia 50 tahunan menyambut kedatangan Renjani. Mereka sempat berbicara melalui telepon saat Renjani dalam perjalanan menuju kesini.


"Iya, saya Rere." Renjani mengulurkan tangan.


"Panggil saja saya Bi Tumi." Tumi membalas uluran tangan Renjani. "Ini suami saya, Edi." Ia juga memperkenalkan lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Sebenarnya ini villa pribadi Mbak, pemiliknya mempercayakan kepada saya dan suami untuk mengurusnya jadi Mbak hanya boleh menempati lantai satu."


"Tidak masalah." Renjani bisa tinggal di kamar manapun.


"Saya sudah mendapat izin dari pemilik untuk menyewakan salah satu kamar, lumayan bisa meringankan pekerjaan saya, Mbak bisa kan bersih-bersih kamar sendiri?"


"Tentu saja."


"Kadang pemilik villa kemari untuk menginap saat akhir pekan jadi Mbak jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang asing disini."


Renjani mengangguk mengerti, ia mengekori Tumi ke salah satu kamar yang ada di lantai satu. Jendelanya menghadap langsung ke pelataran villa. Edi membantu Renjani membawa koper menuju kamar.


"Kamar mandinya di sebelah sini."


Renjani mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, kamar tersebut tampak nyaman dengan dinding kayu dan lantai granit bermotif kayu.


"Mbak juga bisa pakai dapur kapanpun."


"Baik, terimakasih banyak Bi Tumi karena mengizinkan saya tinggal disini."


"Ya saya juga terimakasih, villa ini terlalu sepi untuk saya dan suami jadi kami senang kalau ada yang mau tinggal disini, tempatnya terpencil jadi tidak banyak peminat."


"Justru saya mencari tempat yang seperti ini."


"Kalau butuh sesuatu boleh telepon saya." Tumi menunjuk telepon di atas nakas.


Setelah Tumi pergi Renjani menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menghela napas panjang memandang langit-langit kayu. Renjani mengangkat tangannya yang tengah memegang foto USG janinnya. Renjani tersenyum, dari pada terlihat seperti bayi bentuknya hanya seperti kacang polong.


Renjani memejamkan mata, ia penasaran apa yang sedang Kelana lakukan sekarang. Mungkin Kelana sedang bersama Elara menceritakan kisah masa lalu yang penuh romansa. Sedangkan Renjani teronggok di kamar yang sepi ini seorang diri. Sudah saatnya kembali ke dunia nyata setelah dibuat melayang selama satu tahun di tempat yang tinggi. Apartemen Kelana memang terlalu tinggi untuk Renjani.


"Kamu bisa melalui ini Re." Bisiknya.