
Beberapa saat lalu, Dhewa yang baru saja tiba di apartemen, terdiam duduk di depan ruangan santai yang dilengkapi home theater yang menghiasi tempatnya berada saat ini. Tadi sepanjang perjalanan menuju ke apartemen, ia benar-benar dipusingkan dengan keinginan sang ibu yang ingin bertemu dengan Floe.
Ia juga merasa pusing karena Floe tidak mau membantunya seperti permintaan tolong pertamanya dan membuatnya terpaksa melakukannya sendiri tanpa meminta izin terlebih dahulu saat ada Camelia tadi.
Saat ini otaknya benar-benar buntu dan tiba-tiba mengingat akan seseorang yang ia pikir akan bisa membantunya. "Tuan Hugo Madison kan saat itu meminta bantuanku untuk mengajari putrinya agar bisa menjadi seorang wanita hebat jika suatu saat nanti memimpin perusahaan."
"Tidak ada salahnya jika aku juga meminta bantuannya sebagai balas budi, kan? Bukankah ini bisa dibilang adil karena kami sama-sama membutuhkan bantuan?" Dhewa saat ini tengah terdiam saat sesuatu yang menari-nari otaknya membuatnya mengambil ponsel yang ada di saku jas yang masih dikenakan.
"Aku terpaksa memakai cara ini untuk membuat Floe tidak menolak permohonanku." Dhewa kini melepaskan jas yang dikenakan dan juga membuka dua kancing kemeja teratas untuk membuatnya merasa lega dan tidak serasa sesak karena masalah yang saat ini dihadapi.
Masalah yang sebenarnya sangat sepele, tapi membuatnya pusing karena tidak bisa membujuk Floe untuk membantunya. Kini ia memencet tombol panggil pada kontak pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis dan baru saja menjalin hubungan kerja sama dengannya.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Dhewa kini mendengar suara bariton dari seberang telepon dan membuatnya menelan saliva sebelum menceritakan apa yang diinginkannya.
"Halo, Presdir Dhewa. Kebetulan saya juga barusan ingin menelponmu. Ternyata Anda menelpon." Hugo Madison yang saat ini lembur kerja karena ada banyak pekerjaan di kantor, di sela-sela waktu istirahat, memang berniat untuk menelpon pria yang akan ia jodohkan dengan putrinya.
Jadi, begitu mendapatkan telepon, merasa sangat senang dan juga ingin bertanya mengenai hari pertama bekerja putrinya yang menyamar menjadi keponakannya. Apalagi barusan sang istri mengirimkan pesan dan ia bilang akan pulang terlambat.
"Tuan Hugo Madison, sebenarnya saya ingin meminta bantuan Anda dan tidak ingin bertele-tele. Anda hendak menelpon saya karena ingin menanyakan tentang Flow saat hari pertama bekerja, kan? Putri Anda benar-benar mewarisi gen dari Anda yang merupakan pebisnis sukses di Jakarta. Ternyata benar pepatah 'Darah lebih kental daripada air'."
"Putri Anda sangat cerdas karena bisa bekerja dengan baik di hari pertama meskipun saya belum menjelaskan apapun. Padahal saya hanya mengetesnya sejauh mana kemampuannya dan berakhir salut akan kemampuannya." Sengaja ia mengulur waktu sebelum menceritakan masalahnya karena merasa tidak enak jika langsung to the point.
Hugo Madison seketika berbinar wajahnya dan juga tertawa senang karena merasa bangga pada putri satu-satunya yang tidak mengecewakannya di depan pria hebat seperti Dhewa Adji Ismahayana tersebut.
"Syukurlah jika putriku bisa bekerja dengan baik di hari pertamanya dan tidak menyusahkan Anda, Tuan Dhewa. Saya benar-benar sangat bangga padanya karena meskipun seorang wanita, kemampuannya tidak kalah dengan laki-laki. Itulah yang harus dimilikinya agar perusahaan kelak bisa semakin maju saat dipimpin olehnya."
"Oh iya, Anda mau minta bantuan apa?" Hugo Madison yang tadinya duduk di kursi kebesarannya, seketika bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela kaca raksasa yang berada di sudut sebelah kiri.
Sementara itu, Dhewa saat ini berdehem sejenak sebelum membuka suara karena jujur saja merasa tidak enak karena seperti memanfaatkan pria paruh baya tersebut. "Maaf, Tuan Hugo Madison karena sebenarnya apa yang akan saya katakan ini adalah sesuatu hal yang tidak pantas karena berhubungan dengan masalah pribadi."
"Saya akui sekarang tidak profesional karena mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, tapi benar-benar tidak sengaja melakukannya." Dhewa saat ini masih merasa bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan kesalahannya karena melibatkan putri pria paruh baya tersebut.
Di seberang telepon, Hugo Madison saat ini merasa bingung dan juga makin penasaran karena Dhewa dianggap bertele-tele dan tidak langsung ke topik utama. Namun, ia masih bersabar dan menunggu sampai pria yang disukainya tersebut menceritakan semua hal yang dimaksud.
"Baiklah. Saya akan mendengarkan," ucapnya yang saat ini tidak ingin memotong pembicaraan Dhewa karena terdengar serius dan membuatnya ingin segera mengetahuinya.
Tentu saja Dhewa makin merasa tidak enak untuk menceritakan kesalahannya siang tadi, tapi terpaksa menjelaskan apa yang terjadi mulai dari awal hingga akhir. Ia bahkan beberapa kali mengungkapkan permohonan maafnya karena memanfaatkan putri pria itu demi kepentingan pribadinya.
Kemudian mulai menceritakan dari awal hingga akhir tanpa ada yang dikurangi maupun ditambah karena tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka dan berakhir tidak baik pada hubungan kerjasama yang mereka jalin.
"Jadi, seperti itu ceritanya, Tuan Hugo Madison. Saya tidak tahu harus mencari wanita di mana karena tidak punya kenalan di sini dan juga tidak mungkin asal. Apalagi wanita yang dijodohkan dengan saya sudah melihat wajah putri Anda. Jadi, hanya Floe yang bisa saya ajak untuk menemui mama yang datang dari Kalimantan ke Jakarta. Apa Anda bisa membujuk putri Anda untuk membantu saya?"
Dhewa yang saat ini merasa gugup sekaligus khawatir jika pria di seberang telepon kesal padanya dan membatalkan kerjasama mereka, tapi tidak punya pilihan selain pasrah dan membuatnya hanya dia menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh seorang rekan bisnis sekaligus seorang ayah dari putri yang hendak ia memanfaatkan atas masalah pribadinya.
"Sekali lagi maafkan saya karena melibatkan putri Anda pada masalah pribadi." Entah sudah yang ke berapa kali ia meminta maaf, tapi tetap saja tidak merasa bisa membuatnya lega.
Apalagi saat ini hanya keheningan yang tercipta di antara mereka dan membuatnya makin khawatir jika pria paruh baya tersebut marah padanya karena memanfaatkan putrinya.
Di sisi lain, Hugo Madison yang hanya diam saja ketika mendengarkan dengan cermat, lalu senyum-senyum sendiri saat mengetahui duduk permasalahannya. Ia bahkan sangat senang mendengarnya karena rencananya malah berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Meskipun itu berdasarkan sebuah ketidaksengajaan.
'Sepertinya ini sudah digariskan oleh takdir yang menghubungkan putriku dengan Dhewa. Aku sekarang tinggal mengikuti ke mana air mengalir dan membawa mereka menjadi lebih dekat. Meskipun semua bermula dari sebuah kebohongan, tapi aku berharap semuanya menjadi kenyataan. Floe benar-benar akan menikah dengan Dhewa karena aku yakin jika dia adalah seorang pria yang baik dan mampu membahagiakan putriku.'
To be continued...