H.U.R.T

H.U.R.T
Wanita Mengerikan



Seorang dokter keluar dari kamar. Wajah dokter tersebut sudah cukup menggambarkan bagaimana kondisi Lexi. Meski demikian, untuk memastikan kondisi gadis itu, Alena bertanya.


"Bagaimana keadaan putriku?"


"Sepertinya dia mengalami trauma. Psikisnya yang mudah terguncang semakin memperburuk keadaannya," papar dokter tersebut dengan wajah prihatin.


Semuanya serempak mengerang penuh sesal. Ini bukan hanya pukulan bagi Willson, tetapi juga pasangan suami istri Percy. Di sana, ada Harry yang juga terlihat murung. Pria itu marah karena tidak bisa melindungi gadis yang ia sukai. Saat Austin datang dalam keadaan kacau, mereka berpapasan. Pria itu mengabaikan sapaannya dan langsung menuju kamar Lexi. Harusnya ia sudah menaruh curiga di sana. Tapi, yang ia lakukan justru memilih keluar untuk menikmati angin malam.


"Apakah aku bisa menemuinya?" Alena bertanya penuh harap.


Sudah dua hari sejak kejadian tersebut, Lexi tidak mau bertemu dengan siapa pun, termasuk Steve sekalipun dan sekarang, pria itu tidak ada di sana. Kemana dia? Setelah membawa Lexi ke rumah orang tuanya, Steve memilih untuk menginap di sana. Tapi hari ini, batang hidungnya tidak terlihat sama sekali.


"Maaf, Mrs. Willson, Lexi masih belum siap untuk menemui siapa pun."


Alena mengangguk lesu. Mimik sedihnya tidak bisa ia sembunyikan. Lexi menolak di bawa ke mansion keluarga mereka dan memilih untuk tinggal di rumah Daphne dan suaminya. Alena tahu ini demi kebaikan Lexi, tapi hatinya tetap saja merasa tercubit. Sama seperti suaminya, ia merasa gagal sebagai orang tua. Disaat gadisnya itu terpuruk, ia dan suaminya justru tidak bisa menenangkannya. Apalagi yang lebih menyedihkan dari ini?


"Apakah dia sudah menyentuh makanannya?" Ia bertanya kembali.


Daphne mengatakan jika Lexi tidak sedikit pun menyentuh makanannya hari ini. Kemarin, Steve mengancam akan mendobrak pintu jika Lexi tidak makan. Ancaman itu sedikit berhasil. Lexi mengisi perutnya walau hanya dengan sepotong roti dan sedikit susu. Sisanya, ia abaikan begitu saja. Makan siang dan malam ia lewatkan begitu saja.


"Dia meminum susunya," sahut dokter tersebut. "Jangan terlalu mencemaskannya. Dia gadis yang hebat. Penting untukmu menjaga kesehatan juga, Mrs. Willson."


"Yang dikatakan Mrs. Lawrence benar," Pax menghampiri istrinya, merangkul pundaknya dengan hangat. Pax mengerti kecemasan yang dirasakan Alena. Selama dua hari ini, Alena juga tidak bisa tidur. Selalu menangisi nasib kedua anak mereka. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?


"Kau harus memikirkan kesehatanmu juga. Jika kau sakit, Lexi justru akan semakin sedih dan menyalahkan dirinya sendiri." Pax mendaratkan satu kecupan hangat di pucuk kepala Alena.


Alena memejamkan mata seraya merebahkan kepala di dadda suaminya.


"Aku ingin memeluknya, meminta maaf kepadanya."


"Ya, kita akan melakukannya. Bersabarlah."


"Apa dia akan baik-baik saja?"


"Tentu. Lexi adalah putrimu, kau mendidiknya dengan sangat baik. Dia akan baik-baik saja." Ucapan semangat itu tidak hanya ditujukan kepada istrinya tapi juga kepada dirinya.


Tidak ada yang tahu betapa terpukulnya Pax atas insiden ini. Lexi adalah putri yang ia rawat sepenuh hati sejak gadis itu baru lahir ke dunia yang fana ini. Lexi semangatnya disaat ia sedang terpuruk. Sekarang, disaat gadis itu terpuruk, ia justru tidak bisa berada di sisi gadis itu. Lexi takut kepada mereka. Kepada Willson. Dan ketakutan gadis itulah yang membuat Pax tidak berani membayangkan apa pun. Tapi di hadapan keluarganya, ia harus terlihat kuat, meski belahan jiwanya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ya, seberhaga itulah Lexi di matanya.


____


Steve duduk di samping Austin, menyelonjorkan kakinya ke depan. Matanya melirik sekilas kepada Austin yang memegang botol minuman. Penampilan pria itu masih saja kacau.


Saat ini, mereka sedang berada di salah satu rooftop gedung tidak terpakai.


"Bagaimana keadaannya?" Suaranya parau dan serak. Pria itu merogoh sakunya dan melemparkannya kepada Steve yang langsung ditangkap pria itu dengan mulus.


"Tidak cukup baik," Steve memasukkan alat tersebut ke dalam sakunya.


"Kapan kau memasukkan benda tersebut ke dalam pakaianku?"


"Beth yang melakukannya."


Ya, saat Steve menemui Austin di Virginia atas tuduhan penjebakan yang dilayangkan kepadanya. Austin terlalu dibakar amarah hingga tidak menyadari saat Beth bergerak ke belakangnya memasukkan alat perekam suara.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Austin meneguk kasar minumannya lalu menyodorkannya kepada Steve sembari mengusap mulutnya dengan kasar dari tetesan minuman yang tercecer.


"Masih terlalu pagi untuk menikmati alkohol," tolak pria itu dengan melayangkan titipan prihatin kepada Austin.


"Hentikan tatapan itu, jika tidak aku akan menghajarmu!"


Steve tergelak, "Wajahmu masih menyisakan bukti betapa aku menghajarmu tanpa ampun."


Austin tertawa sumbang, "Apa jadinya jika kau tidak datang tepat waktu?"


"Sudah pasti kau berada di alam baka. Entah itu melalui tanganku atau saudaramu bahkan Pax Willson."


"Ck! Aku baru melihat pria kurang ajar sepertimu. Kau menginginkan putrinya tapi kau bersikap tidak sopan kepadanya."


"Pria tua sialan itu mengirimku ke tempat yang sangat buruk dan mengerikan."


"Tidakkah kau pernah berpikir jika Ayahku mungki saja memiliki alasan untuk itu? Tidak ada yang tahu jalan pikirannya."


Steve terdiam, memilih untuk tidak menjawab. Kini ia meraih botol minuman dari tangan Austin dan meneguknya dengan kasar.


"Ini masih terlalu pagi," Austin sengaja meledeknya dengan melempar kembali apa yang dikatakan Steve beberapa saat lalu.


"Kau sudah mendengarnya?"


Austin mendesaah. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Steve. Hasil rekaman suara yang ditempelkan di pakaiannya. Austin tidak menyadari hal itu hingga kemarin sore saat ia hendak mandi. Benda itu terjatuh dan untung saja tidak rusak atau pun terinjak olehnya.


"Isinya mengerikan. Wanita itu mengerikan."


"Maafkan aku," Steve merasa bersalah. "Aku tidak tahu jika dia akan bertindak sejauh ini. Aku memanfaatkan ketertarikanmu terhadapnya."


"Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Inilah pentingnya bagi kita para pria untuk tidak terlalu mengikuti hormon testosteron yang sering kali menyesatkan. Wanita seperti dia akan dengan sangat mudah mengelabui kita."


Austin berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku dan tegang. Dunianya jungkir balik dalam sekejap hanya karena terperdaya oleh kecantikan seorang wanita iblis.


"Aku percaya kau bisa menjaga Lexi."


"Aku akan tersinggung jika kau meragukanku," Steve tersenyum jemawa.


Austin berdecak malas mendengar kepercayaan diri pria itu. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Austin segera melangkahkan kakinya.


"Kau mau kemana?"


Pertanyaan Steve menghentikan langkah Austin. Pria itu menjawab tanpa berbalik.


"Entahlah. Berkelana mungkin."


"Tidak ingin menemui ibumu?"


"Untuk melihat kekecewaan di matanya?"


Steve terdiam. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Austin. Tidak ada pria yang sanggup melihat sorot kecewa dari wanita yang dihormati dan dicintai.