
"Steve! Kenapa kau tidak mengatakan akan datang kemari?" Oleshia bergelayut manja di lengannya. Menuntunya masuk ke dalam rumah. Oleshia tidak tinggal lagi di rumah kumuh yang dulu. Wanita itu membangun rumah besar untuk keluarganya. Ada perawat khusus sebanyak tiga orang untuk menjaga dan mengawasi Alea. Gadis cilik itu kini sudah dewasa. Terlihat sedang berada di atas kursi roda sambil memainkan ponsel.
"Aku memberi kejutan." Ucapnya tanpa melepaskan tatapannya dari Alea. "Apa yang dilakukan Alea?"
Oleshia tersenyum, "Sedang bermain game. Aku mengajarinya dan ia mempelajarinya dengan cepat. Ale, lihat siapa yang datang. Apa kau masih mengingatnya?"
Alea menoleh, kening gadis itu tampak berkerut, mencoba mengingat-ingat sosok Steve. "Steven?"
"Bagaimana kabarmu? Aku senang kau mengingatku, Alea."
"Shia selalu bercerita tentangmu."
"Apa yang dikatakan kakakmu? Memujaku?"
Oleshia memukul lengannya dengan manja. "Kau memang pria yang layak mendapat pujaan. Sam mengatakan kau mendapat luka di punggung. Apa sudah diobati?"
"Sam selalu besar mulut. Apa kau akan menginap di sini?" Steven memindai ruangan mewah itu. Bukan hanya dirinya yang berubah. Kehidupan Oleshia pun demikian. Mereka berdua bukan lagi menusia miskin yang selalu mendapat hinaan. Tapi apa gunanya kekuasaan ini jika kenangan pahit itu masih tertinggal. Kenangan yang membentuk dirinya menjadi lebih buruk.
Oleshia menggeleng, "Bukankah ajangnya esok hari."
Steve mengangguk. Ya, ia menggunakan Oleshia sebagai model andalannya. Bagaimana tanggapan Lexi saat melihat Oleshia yang begitu mirip dengan Olivia. Tidak ada yang tahu tentang kehidupan Olivia yang memiliki saudari kembar selain dirinya. Memangnya siapa yang peduli dengan kehidupan mereka yang dulu? Taraf hidup yang berada di bawah garis kemiskinan.
"Kau yakin ingin tampil?" Ia harus memastikan jika Oleshia siap. Kemunculan Oleshia besok jelas akan membuat semuanya terkejut dan bereaksi.
"Tentu saja. Aku ingin tampil sempurna."
"Aku tidak melihat ayahmu?" Steve mengganti topik. Jawaban Oleshia sudah jelas. Kekasihnya itu tetap akan tampil besok.
"Dia ada di kamar. Sedang tidak enak badan. Apa kau ingin menyapanya?"
"Biarkan dia istirahat."
"Baiklah, aku akan mengantar Alea ke kamar. Setelah itu kita akan pulang."
____
Ajang fashion dimulai. Diadakan di salah satu hotel terbaik. Ajang yang dilakukan dua tahun sekali. Baik Lexi dan Steve akan mendonasikan hasilnya kepada panti jompo juga anak-anak terlantar. Tidak semua desainer bisa ikut berpartisipasi. Kali ini, Lexi beruntung bisa ikut bergabung. Ini adalah impiannya. Salah satu dari banyaknya mimpi yang ia miliki.
Di tengah kebahagiaan yang ia rasakan, ia juga diserang rasa takut. Persiapan yang sudah ia lakukan selama berbulan-bulan hancur berantakan. Persiapan dadakan hanya dilakukannya selama satu minggu penuh. Ia tidak berharap banyak, hanya saja ia juga tidak ingin salah satu modelnya membuat kesalahan. Walau hal itu sangat tidak mungkin mengingat modelnya besukannya bukan para ahlinya.
Kehebohan di ruang ganti sedikit menguras emosinya. Ia bahkan belum sempat mengisi peerutnya. Lexi terlalu sibuk mempersiapkan semuanya agar sempurna. Mulai dari rambut, make up juga hal kecil lainnya. Semua tidak luput dari perhatian Lexi.
"Tersenyumlah sedikit. Jangan tegang begini. Alih-alih sebagai model pakaian, kau justru terlihat seperti beruang kutub yang terdampar." Lexi menarik kedua sudut bibir saudaranya, Darren, agar membentuk sebuah senyuman.
Akibat pembatalan kerja sama yang dilakukan Justin secara sepihak, Lexi terpaksa menyewa jasa para saudara, sahabat dan rekan bisnisnya untuk dijadikan sebagai model dadakan. Darren salah satunya.
"Kenapa aku harus tersenyum disaat tidak ada yang lucu." Jika bukan karena Lexi adalah saudari yang ia cintai, sumpah demi apa pun, Darren menolak untuk bergaya di atas panggung di hadapan orang banyak. Prinsip Darren, wajah dan tubuhnya bukan untuk dipamerkan, dipasarkan atau istilah lainnya yang serupa. Tubuh dan wajahnya hanya untuk dinikmati. Dinikmati orang tertentu dan terpilih.
"Terserahmu kalau begitu. Tanpa tersenyum, wajahmu juga sudah menarik." Lexi menepuk pipi saudaranya sebelum beralih ke arah Austin yang sedang tebar-tebar pesona pada model wanita.
Dibandingkan Darren, Austin melakukannya dengan suka rela. Bukan karena ia mencintai dunia fashion atau pun modeling. Tapi dengan ikut berpartisipasi, selain meringankan gundah sang kakak, baginya ajang ini sama halnya dengan liburan. Matanya segar melihat para model yang bening-bening. Dan si setiap ajang yang Lexi ikuti, selalu saja ada wanita yang berhasil Austin taklukkan dengan pesonanya.
"Austin! Berhenti merayu para wanita itu. Mereka lebih tua darimu. Astaga!" Lexi menarik tangan adiknya agar menjauh dari kerumunan model yang tertawa cekikikan. Entah guyonan apa yang disampaikan adiknya kali ini. Mulut Austin manis bagaikan madu tapi juga berbisa bagaikan racun.
"Ck! Kau ini posesif sekali." Austin membubarkan diri dari kerumunan, berjalan menghampiri sang kakak dan merangkul leher Lexi.
"Kau mencekikku, sialan!" Lexi mencubit lengan adiknya agar melonggarkan pelukannya. Di usia Austin yang 23 tahun, tinggi pria itu setara dengan Darren. 190 cm. Lexi hanya sebatas ketiak mereka. "Rapikan pakaianmu. Aku tidak mau tahu, kau harus membuat busana yang kau kenakan menjadi trendsetter."
"Aman," sahutnya dengan enteng. "Hei, Dude, kenapa wajahmu tegang sekali. Kau butuh tips dariku," Austin mengerling jenaka. Memar di wajahnya tidak menyurutkan semangatnya. Tukang rias andalan Lexi berhasil menutupi memar di wajah Austin.
Melihat Darren tertekan adalah sesuatu yang menyenangkan karena hal seperti itu jarang terjadi. Darren tipikal orang yang mampu mengatasi kesulitannya dengan mudah. Atau mungkin sesungguhnya pria itu tidak pernah mengalami kesulitan.
"Ck! Yang membuatku penasaran kapan ini akan berakhir." Darren mendengus kesal.
"Ini bahkan belum dimulai." Austin tergelak pun dengan Lexi. "Sepertinya dia gugup sekali."
"Aku akan menarik sahamku dari perusahaanmu, Lexi."
Seruan Darren sontak saja menghilangkan tawa di wajah Lexi. Pun gadis itu memukul lengan adiknya. "Ini salahmu!"
"Diancam begitu saja kau sudah takut. Kau tinggal merengek kepada Mommy agar bersedia membujuk Daddy untuk menanam saham di sana."
"Kudengar kau kalah taruhan di arena balap, Aus, dan mobilmu dalam masalah."
"Hais, sebenarnya dia memiliki berapa pasang mata. Tidak ada yang luput dari perhatiannya." Austin meninggalkan Lexi untuk mendekati saudaranya. Dirangkulnya pundak Darren dengan akrab. Diberikannya pijatan di sana. "Kutahu kau tidak akan membiarkanku dalam masalah, Kakakku tersayang. Tolong tebus mobil kesayanganku itu." Lamborghini Veneno adalah mobil yang ia taruhkan di ajang balap liar yang ia ikuti. Naas, ia kalah tadi malam. Seorang pemain baru berhasil menyingkirkannya.
"Apa aku datang terlambat?"
Suara seseorang menarik perhatian mereka. Brian melambaikan tangan, menyapa Darren yang memasang wajah ketus.
"Oh, kau sudah datang? Tidak, kau tidak terlambat." Lexi tersenyum lebar menyambut kedatangan Brian.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" Darren menarik Lexi agar berdiri di sisinya.
"Aku diundang adikmu, Dude. Sama sepertimu, aku akan memasarkan busananya. Ck! Ayolah, Darren, berhenti bersikap seolah aku adalah musuh yang harus kau waspadai."
"Berhenti mendekati Lexi jika kau tidak ingin kuwaspadai."
Brian tergelak tidak tersinggung sama sekali.
"Apakah kau sudah tidak bisa mendengarkanku lagi, Lexi. Berhenti berhubungan dengan Brian." Darren menatap adiknya dengan penuh intimidasi.
"Astaga, aku dan Brian hanya berteman, Darren."
"Kau tidak butuh teman seorang keparat, Lexi." Darren memilih undur diri sebelum amarahnya mulai terpancing.
Steve mengawasi setiap pergerakan Lexi dari kejauhan. Saat ini, gadis itu sedang memasang dasi di leher Brian, si calon wali kota. Mimiknya datar tidak terbaca. Lalu kemudian ia menyunggingkan senyum penuh arti. Entah apa yang sedang ia rencanakan di dalam benaknya. Hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Melangkahkan kaki dengan santai, ia mendekati wanita itu.
"Kau cukup ahli dalam mengumpulkan beberapa model pria dalam waktu cukup singkat. Apa itu keahlian tersembunyi yang kau miliki, Ms.Willson?"
Lexi menoleh ke sumber suara, alisnya terangkat begitu melihat sosok Steven, sejurus kemudian ia mendengus memalingkan wajah. "Apakah kau sangat senggang sehingga menyambangiku kemari daripada mengurusi model-modelmu?"
"Aku memiliki asisten dan pegawai handal untuk mengurusi hal sepele seperti itu. Tugasku hanya menunggu hasil akhirnya," ucap pria itu sengaja berlagak angkuh.
"Siapa kau?" Brian yang dari tadi diam menyimak pembicaraan antara Lexi dan Steven mulai jengah dengan sikap pria itu. "Kau pria yang menyelamatkan Lexi tempo hari?"
"Aku memiliki beberapa pegawai yang sedang menganggur di ruangan sebelah. Jika kau butuh bantuan, aku bisa meminta mereka datang untuk membantumu." Alih-alih menanggapi ucapan Brian, Steven justru kembali mengajak Lexi berbicara.
"Terima kasih tawaranmu, Mr. Dixton Ivarez." Lexi menyunggingkan senyum samar yang terkesan dibuat-buat. Ia enggan menyebut nama pria itu. Nama Steven hanya cocok untuk nama prianya. Lexi menarik napas panjang. Setiap mengingat pria itu. Rasanya masih sama. Sakit dan rindu.
"Untukmu kuberikan gratis dan cuma-cuma."
Lexi mengabaikan pernyataan pria itu dan justru menyibukkan diri dengan simpul dasi Brian yang sudah entah berapa kali ia buka.
"Kau pikir dia butuh bantuanmu?" Brian berdecis sinis.
"Lexi-,"
"Aku sedang berbicara denganmu, Keparat!" Brian mendorong tubuh Steve hingga membentur dinding.
"Di telingaku kau terdengar seperti sedang menggonggong." Steve menghempaskan tangan Brian dengan satu kali hentakan. "Aku tidak merespon binatang, kecuali peliharaanku."
Wajah Brian merah padam. Belum ada yang berani menyamakan dirinya selama ini dengan binatangg.
"Kau sedang mencari gara-gara denganku?!"
Steve menggeleng santai sembari menggoyangkan jari telunjuknya. Kemudia ia mendekatkan mulutnya ke telinga Brian. "Aku mengawasimu."