
"Boleh aku berbicara?"
Zenia bertanya setelah mereka sampai di teras rumah. Steve menoleh, memamerkan senyumnya yang langsung menular kepada Zenia.
Ck! Aku yang terlalu lemah atau pesonanya yang terlalu luar biasa. Zenia membatin.
"Tidak perlu meminta izinku. Katakan apa yang ingin kau utarakan."
"Salah bicara kau justru akan mengancamku," Zenia menggerutu pelan.
"Duduklah. Akan kubuatkan juice juga beberapa cemilan. Kau sudah meminum obatmu tadi pagi?"
"Obat demam? Aku sudah tidak demam." Zenia memegang dahinya. Steve mengulurkan tangan untuk memastikan.
"Bagus. Tapi yang kumaksud bukan obat demam. Obat yang lain, hmm, vitamin?"
"Ah, aku melupakannya. Aku akan ke rumah untuk mengambilnya." Zenia berdiri, tapi Steve kembali mendudukkannya.
"Tetap di tempatmu. Aku sudah menebus obatnya tadi. Tunggu sebentar, hmm, mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan sementara aku sibuk di dapur."
Steve menatap beberapa plastik besar hasil belanjaannya dari desa. Mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah ia beli.
"Ah, aku membeli beberapa novel romantis. Kau bisa membacanya selama aku di dapur." Steve membongkar plastiknya, mencari novel bertema love story yang sengaja ia beli tadi.
"Aku juga membeli majalah wanita terkini. Ada beberapa model desain yang sedang trend. Mungkin kau menyukainya. Tapi kusarankan kau membaca novel saja." Steve memberikan satu novel dari empat novel yang ia beli.
Zenia menerimanya, melihat sekilas sampul depannya lalu membalik buku tersebut, membaca blurb yang ada di sana.
"Baiklah," ucap Zenia. Entah kenapa, semua ucapan Steve seperti perintah baginya. Hatinya meyakini jika apa yang dikatakan pria itu adalah yang terbaik untuknya.
"Ceritakan kepadaku apa inti dari buku yang kau baca. Aku hanya sebentar ke dapur." Steve menyusun bantal sofa agar Zenia merasa nyaman selama ia tinggal.
Zenia memperhatikan semua yang dikakukan Steve, gadis itu tersentuh dan tersipu. Semua perhatian itu terasa pas.
"Apa kau membutuhkan sesuatu selain juice dan cemilan?" Steve bertanya sebelum meninggalkan Zenia.
Gadis itu menggelengkan kepala, "Cepatlah kembali."
Steve yang hendak melangkah, mengurungkan niat. Dia bergeming, terlihat berpikir.
"Hm, sebaiknya kau ikut aku ke dapur. Kau bisa membaca di sana dan aku bisa dengan tenang menyiapkan apa yang kau butuhkan," Steve menarik tangan Zenia agar berdiri dari tempatnya, membawa gadis itu ke dapur.
Sampai di dapur, Steve kembali mengatur tempat duduk untuk Zenia agar gadis itu merasa nyaman.
"Duduklah," ia mendudukkan Zenia. "Aku akan ambilkan obatmu."
Zenia menganggukkan kepala seperti anak kecil yang sangat patuh. Steve tersenyum, ia mengusap kepala Zenia hingga tanpa sengaja ia melihat pitak di kepala Zenia. Steve mengusapnya lembut dan penuh hati-hati. Pun ia menunduk, mendaratkan kecupan dalam di sana. Zenia mendongak, mata teduhnya bertemu dengan manik sayu pria itu.
Steve kembali menarik kedua sudut bibirnya yang dibalas Zenia dengan senyuman yang tidak kalah manis.
"Kau seperti seorang pria yang memperlakukan kekasihnya."
"Kau memang wanitaku, sampai kapanpun."
"Kau menyukaiku?"
"Hmm."
"Jadi?"
"Jadi?"
"Apakah kau sedang memintaku jadi kekasihmu?"
"Haruskah aku melakukannya?"
"Aku takut salah paham dan salah mengartikan sikapmu, Steve."
"Tidak ada yang salah dengan apa yang kau pikirkan. Nikmati bacaanmu." Steve mengusap kepala Zenia untuk yang kesekian kalinya, lalu ia menjauh dari gadis itu.
"Mr. Nolan baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat dan mendapat perawatan khusus."
"Aku ingin sekali mengunjunginya. Aku seperti anak durhaka. Diam dan duduk manis di rumah menunggu kabar sementara mereka di sana saling menguatkan."
"Semuanya akan baik-baik saja. Kau di sini saja bersamaku."
"Apa kami memiliki rumah di kota, Steve?"
"Hmm. Baca novelmu, Querido."
Zenia tersedak. Apakah Steve baru saja memanggilnya dengan sebutan sayang. Zenia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Jantungnya meledak-ledak tidak karuan. Hanya karena sebuah panggilan, ia merasa tubuhnya melayang, melambung tinggi.
Zenia membuka lembaran novel, tapi ia tidak tahu apa yang tertulis di sana karena terlalu berflower-flower dengan cara Steve memanggilnya.
"Ini obatmu," Steve mengulurkan beberapa butir pil.
Zenia tersentak, ia masih larut dalam kebahagiaan menggelikan yang terasa benar tapi konyol.
"Kau melamun?" Steve menuki alis, memperhatikan mimik gadis itu. Tangannya diulurkan untuk menyentuh wajah Zenia. "Hangat dan merah. Apakah demamnya kumat lagi."
Zenia menggeleng, tahu jika kehangatan di wajahnya disebabkan hal lain. Tapi tidak mungkin dia mengakuinya juga jika penyebab wajahnya bersemu hanya karena kata sayang yang dilontarkan Steve dan sepertinya Steve pun tidak menyadari hal itu lagi.
"Minum ini. Kau harus segera istirahat." Steve membantu Zenia meminum obatnya sampai memegang gelasnya.
"Aku tidak apa-apa. Kau memperlakukan seperti gadis yang memiliki riwayat penyakit yang sangat parah."
Steve menggeleng, "Kau tidak boleh sakit. Kau harus sembuh."
Steve membawa juice dan cemilan. Mereka kembali pindah ke ruang utama.
"Berbaring lah di sini," Steve menepuk pahaanya. "Aku pernah melihat drama romantis dimana sepasang kekasih melakukan hal manis seperti ini. Sangat menyenangkan dan aku selalu berfantasi tentang hal ini."
"Aku berbaring sambil membaca buku?"
"Ya."
"Lalu apa yang kau lakukan?" Dengan ragu, Zenia mendaratkan bokongnya di sofa. Steve kembali menepuk pahaanya. Perlahan, Zenia membaringkan kepalanya.
"Apa yang akan kau lakukan, Steve?" Zenia mengulangi pertanyaannya. Dia bisa mati gaya jika Steve memandanginya selama ia membaca novel.
"Apa yang kulakukan? Mungkin akan sangat menyenangkan jika memandangi wajahmu. Tapi, kau akan merasa tidak nyaman. Kalau begitu, aku juga akan membaca." Steve mengambil satu majalah tentang bisnis dan mulai membaca.
Melihat Steve mulai sibuk dan fokus, Zenia pun mulai merilekskan dirinya. Sapuan tangan Steve di kepalanya memberi ketenangan sendiri. Sesekali Zenia menengadah, mencuri pandang pada pria yang terlihat memang sudah larut dalam bacaannya.
Steve terlihat mengagumkan dilihat dari sisi mana pun. Rahangnya yang tegas, menggelitiki jemari Zenia agar menyentuhnya, memainkan jemari di sana. Tanpa sadar, jari telunjuknya sudah ada di jakun pria itu.
Zenia terkejut dan berniat untuk menarik tangannya, tapi melihat Steve yang hanya menyunggingkan senyum dan tetap fokus pada bacaannya membuat Zenia mengurungkan niatnya. Steve tidak keberatan ia sentuh sama sekali.
Akhirnya yang dilakukan Zenia hanya memandangi wajah Steve sampai pria itu menyudahi acara bacaannya.
"Apa jakunku begitu menarik?"
Zenia mengangguk dengan polosnya membuat Steve gemas sendiri.
"Jangan bertingkah terlalu menggemaskan. Aku bisa hilang kendali dan justru melahapmu."
Zenia mendelik, "Kata-katamu frontal sekali. Kau mengenakan soflens, Steve?"
"Ya."
"Bagaimana rupamu jika mengenakan kaca mata?"
"Tetap keren. Kau ingin melihatnya?"
Zenia mengangguk.
"Lain kali saja. Sekarang minum juice-mu."