H.U.R.T

H.U.R.T
Kucing



Tidak ada tirai, penghalang atau apa pun sebutan lainnya yang menjadi pembatas untuk melihat langsung keindahan mata milik Isabell. Kini semuanya terpampang dengan jelas. Semua keindahan yang ada pada diri Isabell terkuak dengan nyata.


Tanpa riasan, Isabell sudah sangat cantik di mata Darren atau mungkin beberapa pria lain di luar sana. Dan dengan riasan tipis seperti saat sekarang, semakin mempertegas kecantikannya.


Warna nude, lipstik yang biasa digunakan Isabell kini diganti menjadi warna yang cukup cerah. Darren bertanya-tanya, apa lipstik semerah stroberi itu akan sama rasanya seperti buahnya. Untuk mengetahui hal itu, bukankah aku harus menyapukan bibirku di sana? Darren membatin.


Menyadari kemesuman otaknya, Darren memaki dirinya sendiri. Pria tidak bermoral dengan pemikiran yang sangat menggelikan. Ya, aku memang terlihat seperti itu. Pikir Darren.


Tatapan Darren beralih pada rambut, satu-satunya hal yang ada pada Isabell yang tidak mendapat perubahan. Rambut itu masih dicepol dengan asal... Eh, tunggu dulu. Rambutnya juga berubah. Lagi, Darren bergumam dalam hati.


Ya, kemarin dan sebelumnya tidak ada helaian rambut yang akan terlepas dari jepitannya. Meski dicepol asal, tapi semua rambut diikat dalam satu jepitan. Malam ini, Isabell membiarkan beberapa helai rambutnya menjuntai di sekitar wajahnya, memberikan kesan seksiih dan menggoda jemari Darren untuk memainkan helaian rambut coklat itu dengan jemarinya.


Sial! Darren menggeram hingga giginya bergemeletuk. Penampilan Isabell yang kemarin sudah cukup membuat kewarasannya kacau dan sekarang ia menemukan dirinya berfantasi liar tentang Isabell. Dan bukan hanya pemikirannya yang liar yang membuatnya kesal, tapi juga siulan jenaka dari Steve dan tatapan terpana dari saudaranya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Darren memiliki keinginan untuk menghajar adiknya, Austin. Dan semua itu gara-gara Isabell, si gadis culun dengan gigi berpagar.


Tidak, dia sudah tidak memiliki benda sialan yang sangat kusukai itu lagi. Kebiasaan Darren dalam beberapa menit terakhir adalah bermonolog dalam benaknya.


Untuk siapa dia berdandan? Pertanyaan itu mengusik, sangat mengusik Darren. Perubahan yang mendadak ini jelas menjadi tanda tanya besar.


Hampir saja Darren melengkungkan sudut bibirnya dengan sinis saat menyadari Isabell dan Austin saling menatap. Untuk siapa lagi Isabell berdandan kalau bukan untuk Austin.


Gadis ini sedang melayangkan serangan pada Austin dengan cara yang begitu manis dan berbahaya. Darren meneguk ludahnya dengan susah payah. Dan sepertinya caranya berhasil, Darren kembali berbisik dalam kalbunya.


Dengan penampilan baru yang sangat mencengangkan ini akan membuat para pria normal, hidung belang dan pria brengsek lainnya akan menoleh berulang kali pada Isabell. Isabell mendapatkan perhatian para pria dan Darren tidak menyukai hal itu. Tidak menyukai perhatian yang akan didapatkan Isabell.


"Tanyakan kepadanya dimana pagar gigi juga kaca mata tebalnya?" pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Ia ingin kedua benda itu tetap melekat pada Isabell.


Semua mata menoleh kepadanya. Dan harusnya Darren tidak menatap iparnya. Manik Steven berkilat-kilat geli. Darren benar-benar dibuat kesal dengan cara Steve memandangnya, seolah dirinya adalah sebongkah lelucon yang memang layak ditertawakan.


Darren mendengus, mengalihkan tatapannya dan bersirobok dengan manik yang membuat malam-malamnya tidak pernah nyenyak selama beberapa bulan terakhir ini.


"Aku menanggalkannya," sahut Isabell dengan tenang.


"Dan kau melakukan sesuatu yang benar," puji Austin terus terang. "Kau terlihat berbeda dan aku menemukan diriku terpesona."


Isabell mengembalikan tatapannya pada Austin. Gadis itu tersipu malu. "Aku bisa melihat manikmu berkilat-kilat nakal. Seperti kucing yang hendak menerkam daging segar."


"Istriku yang mengajarimu?" Steve berani bertaruh jika Isabell tidak tahu kapan pria menatapnya dengan lapar dan kapan pria menatapnya dengan penuh memuja.


Rona di wajah Isabell semakin merah. Tebakan Steve tidak meleset sama sekali. Itulah memang yang dikatakan Lexi kepadanya beberapa saat lalu.


"Oh Tuhan, Isabell. Kau terlihat sangat luar biasa. Aku berani bertaruh, saudaraku Austin akan menatapmu seperti kucing yang mendadak lapar setelah melihat daging seger yang menggoda. Siapkan dirimu untuk menikmati wajah bodohnya yang pasti akan terlihat menjijikkan karena penuh dengan liur," persisnya seperti itu kata-kata yang diucapkan Lexi kepadanya dan Isabell mengutipnya, melontarkannya kepada Austin.


"Tidak semua kucing menyukai daging segar, Isabell. Ada beberapa jenis kucing yang lebih menyukai sesuatu yang lebih sederhana yang sudah pasti menjamin kesehatan jantungnya," kejahilan Steve aktif kembali. Pria itu mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya.


"Oh ya?" Isabell menanggapinya dengan mimik serius. Steve dan Austin kembali terkekeh. "Kucing seperti apa itu, Steve?"


"Kucing seperti apa?" Steve mengulang pertanyaan Isabell tapi matanya menoleh pada Darren. "Mendadak aku lupa nama jenis kucing tersebut. Mari kita tanyakan pada Darren. Dia adalah pria yang cukup pintar diantara kami bertiga."


"Jangan melibatkanku dengan lelucon konyolmu, Percy. Dan jangan mencemari kepintaran yang dianugerahkan Tuhan kepadamu dengan cara murahan seperti ini," sarkasme itu dilontarkan Darren dengan nada tenang tanpa menoleh pada Steve. Pandangannya tetap terpaku pada sosok Isabell.


"Astaga, dia tidak memiliki selera humor sama sekali. Aku menyukai penampilan barumu, Isabell. Kau membuat naluri kelakianku yang serakah tumbuh kembali," Steve mengedipkan matanya dengan nakal.


"Lexi akan membunuhmu jika mendengar apa yang kau katakan," cetus Darren.


"Jangan menduga-duga hal yang belum terjadi, Brother. Lexi tidak ada di sini, dia tidak akan tahu jika suaminya baru saja merayu gadis lain, kecuali kau mengadu tentunya." Steve tersenyum lebar, jelas puas menikmati topeng ketenangan di wajah Darren. Steve jelas tahu bahwa Darren berusaha keras agar tetap terlihat santai. Dan Steve juga tahu bahwa rasanya itu sangat menyesakkan. Berlaku acuh tidak acuh di hadapan wanita yang sudah membuat bertekuk lutut. Sialnya, wanita itu tidak tahu dan tidak menyadarinya sama sekali. Steve sudah tamat dalam jebakan situasi seperti itu sementara Darren baru saja merintis. Steve penasaran sampai kapan topeng itu bertahan.


Tidak memberikan kesempatan pada Darren untuk menyerangnya, Steve berkata kepada Austin, "Kau terlihat mirip dengan Laila. Rakus, sangar dan tangguh. Rusa cantik itu tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Kau ingin menjadi pelindung atau pemangsa?"


Austin tertawa mendengar perumpamaan yang dilontarkan Steve. "Mataku tidak bisa berpaling dari sesuatu yang indah," kelakar Austin yang benar-benar dibuat terkejut dengan penampilan baru Isabell.


"Siapa Laila? Di sini ada rusa?" Isabell memang belum pernah bertemu dengan Laila. Ia tidak mengetahui jika nama yang begitu manis itu adalah seekor harimau jantan.


"Di sini tidak ada rusa," Austin segera berdiri dari tempatnya dan mendekati Isabell. Ia sapukan pandangannya dengan satu lirikan cepat. "Astaga, kau benar-benar terlihat berbeda. Cantik dan mengagumkan. Luangkan waktumu besok malam. Berkencanlah denganku." Austin mengulurkan tangannya, menyentuh rambut Isabell yang menjuntai.


"Udara di ruanganku semakin menipis. Keluarlah. Aku ingin istirahat." Darren membaringkan tubuh dan menarik selimut.


Jantungnya hampir meledak menyaksikan jemari Austin melakukan hal apa yang ia ingin ia lakukan pada rambut Isabell.