H.U.R.T

H.U.R.T
Lexi...?



Harry mengunjungi sungai untuk yang terakhir kalinya. Ia membawa bunga peony. Bunga peony dikaitkan dengan kekayaan, kemakmuran, dan keberuntungan. Selain itu, bunga ini juga mewakili romansa dan cinta serta dianggap sebagai pertanda baik untuk pernikahan yang bahagia.


Harry memandangi bunga di genggamannya dengan penuh makna. Ia tidak tahu apa bunga kesukaan Lexi, ia memilih bunga ini karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia menginginkan pernikahan yang bahagia bersama Lexi dan tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut, bukankah semua orang juga menginginkan hal serupa.


Harry menarik napas panjang, ia menatap ke bawah, ke sungai yang menjadi saksi kecelakaan itu terjadi. Sungai yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Lexi. Kemudian ia kembali menatap bunga di tangannya.


"Semoga kau tenang, di mana pun berada, Lexi. Maafkan aku yang menyerah begitu saja." Perlahan ia melepaskan bunga peony tersebut. Memandanginya di bawa arus air. Setelah tidak terlihat, Harry pun pergi meninggalkan tempat tersebut, tidak menoleh ke belakang lagi.


Satu jam kemudian, mobilnya berhenti di sebuah bar. "Ini untuk yang terkahir kalinya." Janjinya kepada diri sendiri.


Sepertinya Harry benar-benar serius dengan ucapannya. Kali ini, Harry membuat dirinya mabuk ampun-ampunan. Hampir tengah malam ia sampai di hotel. Sebelah tangannya masih menggenggam botol wine yang belum dibuka. Ia akan menghabiskan malam dengan membakar tenggorokannya hingga tidak bisa bersuara esok hari.


"Pintu sialan! Terbukalah!" Ia menekan asal angka-angka yang di sana. Mencoba berulang kali dan akhirnya ia berhasil menekan angka yang benar.


Ruangan tersebut gelap gulita, hanya cahaya bulan dan bintang yang menjadi penerang. Harry melepaskan pakaiannya satu persatu, berjalan sempoyongan menuju kamar.


Pandangannya mulai tidak beres. Semua terlihat samar. Meski begitu, ia sampai di kamar dengan selamat tanpa membentur apa pun.


"Peri?"


🍡


"Aku lebih suka saat kau mengenakan kaca mata seperti ini." Zenia tidak henti-hentinya memandangi wajah Steve yang mengenakan kaca mata dengan pinggiran lensa yang sudah retak. Pria itu terlihat memeriksa laporan di laptopnya.


"Terlihat lebih manusiawi?"


Zenia mengangguk, "Terlihat lebih mudah digapai. Ponsel siapa ini?"


"Ponselku."


"Boleh aku membukanya?"


"Silakan."


Setelah mendapat izin, Zenia mengambil benda pipih yang sudah ketinggalan zaman itu. Mengotak-atik benda tersebut.


"Hanya ada nomor Lexi." Gadis itu bergumam. Steve hanya melirik sekilas dan kembali fokus paca layar di hadapannya.


"Pesan yang terkirim berupa kata-kata penyemangat untuk Lexi. Apa dia mengalami trauma?"


"Hmm, dan sepertinya sudah mulai sembuh."


"Jangan membiarkan rasa takut mengusik kebebasanmu. Cintai hidupmu. Kau selalu dikelilingi keluarga yang di dalamnya terdapat banyak cahaya. Jangan pernah takut, karena kau selalu memiliki lilin di sekitarmu saat kegelapan menghampirimu," Zenia membaca kata-kata yang tertulis di sana. Steve mengangkat kepala, ia tersenyum saat Zenia mendelik ke arahnya.


"Ketika terasa sakit atas suatu musibah. Pahamilah. Ini cara semesta untuk mengajarimu sesuatu hal." Zenia kembali membaca pesan selanjutnya. Untuk sesaat ia bergeming. Membaca kalimat itu secara perlahan di dalam hatinya.


"Cukup. Ini sudah larut, saatnya tidur." Steve menutup laptop, ia beranjak dari kursi, mengambil ponsel dari tangan Zenia dan meletakkannya di atas meja.


Pun keduanya naik ke atas ranjang, terlelap dalam sekejap.


Mimpi itu kembali menyerang. Steve melenguh, peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Kedua tangannya terangkat ke udara, menggapai angin.


Byuurr!!!


Steve ikut terjun ke sungai. Seketika ia merasakan tulangnya hancur lebur akibat dinginnya air sungai. Luka di tubuhnya juga semakin memperparah kondisinya, ia merasakan tubuhnya seolah membeku seketika. Kantuk yang menyerang sejak di rumah Olivia semakin tidak bisa diajak kompromi.


Sakit. Steve tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Tapi sakit fisik itu seolah tidak ada apa-apanya dengan ketakutannya saat melihat mobil Lexi terjun bebas ke dasar sungai.


"Tuhan, kumohon.... Kumohon... Kumohon..." Hanya rintihan itu yang bisa ia ucapkan di hatinya di sisa-sisa kesadarannya.


Namun, begitu melihat mobil Lexi, ia kembali menemukan kekuatannya. Steve berenang, mendekat ke arah mobil, terluka saat berusaha membuka pintu. Darah segar mengucur deras. Posisi Lexi sangat tidak menguntungkan. Gadis itu terjepit, sudah tidak sadarkan diri.


Tidak ada cara selain memecahkan kaca mobil. Sangat penuh perjuangan mengingat Steve juga hampir kehilangan tenaga. Kegigihannya menuai hasil. Kembali ia mendapat luka sayatan di lengan saat berusaha mengeluarkan Lexi dari mobil.


Begitu berhasil, pegangannya di tubuh gadis itu tidak terlalu kuat. Lexi terlepas, terbawa arus.


"Lexi... Lexi... Tidak!! Kumohon, bertahanlah! Tetaplah hidup. Kumohon..."


"Steve!!"


"LEXI!"


Steve terduduk dengan napas memburu. Wajahnya sudah banjir oleh keringat. Ia menoleh cepat ke samping, tidak menemukan Zenia di sana.


Steve semakin panik, baru saja ia hendak turun dari ranjang, kepala Zenia tiba-tiba muncul membuatnya tersentak kaget. Rupanya gadis itu terjatuh.


"Astaga, apa yang kau lakukan di sana?" Steve mengulurkan tangan membantu Zenia untuk bangkit. Ia mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya, memeluknya dengan erat.


"Apa aku melukaimu?" Steve bertanya dengan suara lembut mendayu yang membuat Zenia meleleh seketika bagaikan cokelat panas. Kekesalannya menguap begitu saja karena dorongan pria itu lah yang membuatnya terjatuh dari tempat tidur.


Steve mengecup telinga Zenia, membisikkan kata-kata maaf berulang kali.


"Tidak apa-apa, tenanglah. Bokongku hanya sakit sedikit. Doronganmu terlalu kuat. Kau mengalami mimpi buruk lagi?"


Steve menganggukkan kepala sembari merebahkan kepala di bahu Zenia.


"Hari itu mengerikan," bisiknya dengan lirih.


Zenia hanya diam, tidak berkata apa-apa sama sekali. Ia membiarkan Steve menenangkan diri. Hatinya berdenyut nyeri, maniknya panas menahan tangisan. Apakah ia sedang cemburu? Zenia menggeleng, sadar bahwa bukan kecemburuanlah penyebab reaksi tubuhnya.


Sebelumnya, Zenia juga sering memimpikan hal mengerikan. Suara teriakan dan darah yang memuncrat dimana-mana. Anehnya, selama tidur bersama Steve, ia tidak mengalami mimpi itu.


"Aku di sini. Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja."


Steve menghela napas lega. Kata-kata Zenia sama persis dengan kata-katanya saat menenangkan Lexi. Ia seperti sedang mengalami dejavu. Ia menarik kedua tangan Zenia, meletakkannya di wajahnya.


Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini bertemu satu sama lain. Ciuman lembut, dalam dan luar biasa. Tidak ada peningkatan menuju keintiman karena Steve sudah berpikir tentang bercinta dengan mulut gadis itu sejak pertama kali ia melihatnya.


Zenia mulai membalas ciuman Steve dengan kebaikan, penuh hasrat, jemarinya berpindah-pindah antara meremass bahu Steve dan dan menarik segenggam rambut pria itu.


Steve membaringkan tubuh Zenia ke ranjang, tempat ciuman berubah menjadi lebih mendamba. Saat bibir mereka berpesta satu sama lain, Steve memindahkan tubuhnya, membuat selimut tersingkap, tidak ada hal lain diantara bukti hasratnya dan celana piyama Zenia yang lembut. Kontak tersebut membangkitkan geraman pelan yang bergetar di dalam tenggorokan Steve.


Zenia bergeser mendekat dengan menggoda, setiap gerakannya begitu feminin, manis, kecil, tapi membuat sulit bernapas.


Steve tidak selembut itu, ia menjelajah dengan egois dan tidak sabaran, rakus untuk merasakan kulit Zenia.


Sepertinya bukan Steve saja yang tidak sabaran. Zenia bahkan membantu Steve menanggalkan piyama yang dikenakan Steve. Dalam sekejap, benda itu teronggok di lantai. Tidak puas hanya dengan bagian atas tubuh Steve yang polos, Zenia dengan liar mendesakkan tangannya ke karet celana piyama Steve dan berniat meloloskannya.


Steve tersentak, refleks menghentikan jajahannya di leher gadis itu. Kondisi Zenia juga tidak kalah kacau. Piyama itu sudah tersingkap, kancingnya berserakan entah kemana. Steve tidak sadar kapan ia melakukannya.


"Steve..." Zenia mengerang, terdengar seperti sedang memohon.


Steve menggeleng, "Kita tidak boleh melakukannya." Steve hendak beringsut dari atas tubuh Zenia, tapi gadis itu menahannya tetap di sana.


Zenia menggelengkan kepala, maniknya memancarkan gairah yang sama besarnya dengan yang dimiliki Steve saat ini.


"Kumohon...."


Kali ini Steve merasa bahwa ia memang laki-laki paling brengsek, paling buruk di dunia ini.


Steve menggelengkan kepala, penolakan yang sangat bertolak belakang dengan inginnya.


"Kita tidak bisa melakukannya..."


"Ke-kenapa?" manik itu mulai berkabut. Zenia malu dan sakit hati. "Apa kau sedang mempermainkanku, Steve? Setelah berhasil merayu dan menggodaku, lalu kau ingin pergi?"


"Bukan seperti itu..."


"Apakah kau sadar bahwa apa yang kau lakukan ini sangat egois. Kau meneriakkan nama wanita lain, tapi kau menciumku. Mencium gadis yang enggan kau sebut namanya. Kau perlakukan aku seperti seorang putri, tapi tidak sekalipun kau mau menyebut namaku. Kau membuatku terbang, tapi dalam sekejap kau menghempaskanku dan membuatku malu. Apakah lidahmu akan terbakar jika hanya menyebut nama Zenia. Kenapa harus selalu Lexi..."


Kalimatnya mengambang, Steve membungkam mulut Zenia dengan mulutnya. Pria itu juga meloloskan apa yang tersisa di dalam dirinya, begitu pun dengan gadis yang ada di bawahnya. Kini keduanya polos. Tidak ada yang tersisa.


Steve mengambil dengan rakus, Zenia memberikan dengan suka rela.


"Steve... kumohon...."


Steve mengangguk, ia tahu apa yang diinginkan gadis itu.


"Kau akan menyesal setelah ini. Kau akan membenciku setelah ini. Tapi aku tidak peduli, aku ingin egois dan serakah kali ini. Maafkan aku."


"Steve... Kumohon..." Zenia semakin meracau, gadis itu bahkan tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Steve.


Steve mengatur posisi, bersiap hendak melakukan penyatuan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, akan selalu mencintaimu, tuan putri," bisik pria itu di atas bibir Zenia dengan nada lembut mendayu.


"Steven..."


Steve yang sudah bersiaga dengan senjata yang siap tempur, tersentak begitu mendengar namanya dipanggil. STEVEN, BUKAN, STEVE. Kedua tangannya masih berada di kedua kaki gadis itu.


Wajah Steve pucat seketika, ia membatu. Ketakutan menyerangnya. Gadis yang telentang di bawahnya juga menunjukkan keterkejutan yang sama besarnya dengan dirinya. Bedanya, gadis itu tidak pucat dan tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Lexi kembali. Ingatan gadis itu kembali.


"S-Steven..."


"Le...Lexi..."


"A-apa yang terjadi? A-apa yang kau lakukan? Apa yang kita lakukan?"


"A-aku harus me-menjawab apa?"


Ketika bel pintu berdering, mereka berdua masih berada dalam kabut gairah juga keterkejutan. Pada deringan kedua, Steve dan Lexi sama-sama tersentak kembali, menatap satu sama lain dengan napas memburu.


"Ki-kita kedatangan tamu..." Lexi lah orang pertama yang berhasil mengembalikan kesadarannya.


"A-apa yang harus kulakukan?" Steve bertanya dengan bodohnya.


"Pertama-tama menyingkir dari atas tubuhku," Lexi melipat kedua kakinya. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang terbakar karena rasa malu yang luar biasa.


Perlahan Steve beringsut, ia menyugar rambutnya dengan kasar karena frustasi. Bel pintu terus berdering, Steve semakin emosi hingga melontarkan makian ke dinding.


"Lexi... Aku bisa menjelaskan." Steve menarik selimut untuk menutupi tubuh gadisnya yang sudah berstatus istri pria lain tersebut.


"Kenakan pakaianmu terlebih dahulu."


"Kau benar," ia menyahut dengan bodohnya.


"Lexi..."


"Pantas saja mulutmu tidak berani menyebut nama Zenia," sarkasnya dengan tatapan mata membunuh. Steve menundukkan kepala. Tidak berani menantang gadis itu.