H.U.R.T

H.U.R.T
Penyusup



"Kau di mana?" Steve bertanya melalui alat kecil yang tersemat di telinganya. Sementara matanya menatap datar pada sekumpulan orang-orang sedang berkumpul di ballroom. Brian, Dean, Vincent, Neal, Lily, terlihat sedang bercengkrama. Tertawa tanpa ada beban sama sekali. Wajah mereka masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah sejauh dalam ingatan Steve. Alisnya menukik tatkala melihat Neal meraih pinggang Lily dengan posesif, kemudian mencumbu bibir wanita itu dengan liar.


Steve mengalihkan tatapannya, mencari kelompok lain yang tidak kalah busuknya dari kelompok Brian. Tatapannya berhenti di lantai dansa. Darren Willson menghampiri Lexi yang sedang berdansa dengan pria yang merupakan seorang pangeran. Harry Geonandes. Darren menarik Lexi dari pelukan pangeran tersebut. Tampak Harry berdecak dan melayangkan protes. Darren tidak memedulikan hal itu, pria iru justru menarik tangan Lexi dan meletakkannya di bahunya. Darren membisikkan sesuatu di telinga Lexi, membuat kedua manik gadis itu membeliak dan di detik berikutnya, gadis itu tertawa seraya memukul dadaa saudaranya. Keduanya kini mengikuti alunan lagu sambil sesekali tertawa. Sama seperti Brian dan kelompoknya, kehidupan keluarga Willson juga terlihat baik-baik saja. Lagi dan lagi Darren membisikkan sesuatu di telinga Lexi, kini raut wajah gadis itu berubah tegang. Untuk sesaat Lexi spontan menghentikan tarian mereka, tapi Darren menuntunya agar tetap menari.


Steve yang memperhatikan interaksi keduanya, sedikit mengerutkan dahi. Apa yang dikatakan Darren sehingga membuat wajah Lexi seketika ketakutan. Hais! Ia sedikit terusik. Apakah rencananya sudah dibaca oleh pria itu? Ck!


"Aku ada di tempat yang tidak akan diketahui oleh siapa pun. Kenapa wajahmu tegang begitu, Kawan."


Steve segera mengalihkan tatapannya dari lantai dansa. Dipejamkannya matanya untuk sesaat, lalu kemudian ia menoleh ke segala arah, hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari di 50 detik kemudian. "Apa kau sudah melihat targetnya?"


"Ya. Dan ini sangat mudah untukku. Jantung atau kepalanya?"


"Lexi Stevani Willson."


"What?!"


"Arahkan senjatamu pada gadis itu."


"Kau gila?!"


"Turuti saja."


"Steve, ini di luar perjan..."


Steve melepaskan alat penghubung tersebut dari telinganya lalu menginjak benda itu. Pun ia berdiri dari kursinya, pesta akan dimulai.


Brugh!


Seseorang menabraknya, membuatnya hampir terjungkal. Steve menoleh ke belakang, mimik wajahnya yang keras berubah seketika.


"Maaf," seru pria yang menabraknya yang tidak lain adalah mantan gurunya. Mr. Arthur Cony. Steve mengabaikan seruan pria itu karena tatapannya berfokus pada dua insan yang baru saja memasuki pintu utama. Ayah dan ibunya. Bagaimana bisa mereka hadir di jamuan ini. Sial! Ia tidak memperkirakan hal ini. Keduanya tangannya mengepal kuat. Kepanikan mulai menyerangnya. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kedua orangnya. Akan ada bencana di sini dalam hitungan menit.


"Maaf, saya tidak memperhatikan langkah saya."


Steve memiringkan kepala. "Tidak masalah, Mr. Cony." Steve mempersilakan Arthur Cony melewatinya. Dari yang ia ingat, mantan gurunya itu kini terlihat lebih berwibawa. Ia penasaran, apakah Brian dan konconya masih bisa mengatur pria setengah baya itu.


Mr. Cony menyapa Pax dan Alena Willson. Mereka duduk dan terlibat pembicaraan. Steve kembali mengedarkan pandangannya ke lantai dansa. Lexi masih di sana. Berdansa dengan Harry Geonandes. Darren sendiri sudah bergabung dengan rekan bisnisnya.


Steve melirik jam mewah di pergelangan tangannya. Lima menit lagi. Ia harus mengeluarkan ayah dan ibunya dari sini. Steve beranjak, namun langkahnya kembali terhenti. Ia tidak melihat ayah dan ibunya lagi. Sial! Ia kehilangan jejak keduanya.


Steve mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang. "Berapa peluru yang kau miliki?"


"Cukup banyak."


"Akan ada seseorang yang melemparkan bom di istana sialan ini. Ayah dan ibuku ada di sini. Hentikan tindakan tersebut dalam dua menit dan layangkan pelurumu di detik selanjutnya."


"Semakin kau banyak bicara, semakin waktumu terbuang sia-sia. Halaman utama. Pemuda berperawakan tinggi, satu-satunya tamu yang membawa tas ke jamuan seperti ini. Hentikan dia." Steve memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak ingin membuang-buang waktu mendengar penolakan rekannya itu.


Steve menunggu hingga dua menit dengan terus mengawasi Lexi. Dua menit, satu detik. Ia berlari menuju wanita itu. Hap! Lexi kini berada di dalam pelukannya.


Sluupp!!


Peluru mendarat di punggung Steve. Hiruk pikuk pun terjadi seketika. Sementara Lexi hanya bisa mematung, terdiam di dalam dekapan Steven dengan dagu yang menempel di bahu kiri pria itu.


"Tutup semua gerbang dan jangan biarkan siapa pun keluar. Ada 200 tamu undangan dan enam diantaranya penyusup." Darren memberi perintah, menarik Lexi dengan kasar dari pelukan Steven. Tatapannya menghunus tiada ampun.


"Arggh!" Lexi tersentak, seolah nyawanya baru saja kembali.


"Kau tidak apa-apa?" Darren bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Steve yang juga memandangi Lexi secera terang-terangan.


Bibir gadis itu gemetar. Terlihat jika Lexi sangat ketakutan. Gelengan kepala wanita itu mengantar sensasi asing di ulu hati Steven. Ia tidak menyukainya. Sangat tidak menyukainya.


"Ka-kau mengatakan akan ada penyusup. Tapi kau tidak mengatakan jika a-aku adalah target mereka, Darren. Ke-kenapa aku? Oh Tuhan..." Ia tiba-tiba memekik, menoleh ke arah Steven. Manik keduanya beradu. Lexi melepaskan genggaman Darren dari tangannya. "Apa kau terluka?" Lexi menghampiri pria itu, memeriksa kedua tangan Steve, lalu memutar tubuh pria itu ketika tidak menemukan luka di bagian depan. "Oh...." Lexi kembali memekik kaget tatkala melihat darah bercucuran dari punggung Steve. "Kau terluka. Astaga, ini pasti sangat sakit sekali. Darren, kau harus menemukan pelakukanya dan panggilkan dokter sekarang. Oh Tuhan, kau bisa kehabisan darah. Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan? Mom... Dad..."


"Kau terluka?" Pax dan Alena ikut bergabung dengan mereka. Pun Brian dan kelompoknya. Suasana sudah tenang dan kondusif. Penyusup bahkan sudah ditemukan.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Tapi dia..." Lexi menunjuk Steven. Semua mata tertuju pada pria itu. Brian dan kelompoknya saling melempar pandangan.


"Steven Dixton Ivarez." Steve mengulurkan tangan. Pax menyambutnya dengan segera.


"Aku tidak ingat jika kami mengundangmu."


"Dia penyusup." Darren menyeletuk sengit.


"Gavin Vasquez dan istrinya tidak bisa hadir. Helli mengalami kontraksi palsu." Jawabnya dengan tenang.


"Oh!" Pax mengangguk faham. "Lukamu harus diobati. Terima kasih sebelumnya. Berkatmu, putriku baik-baik saja. Silakan." Pax mempersilakan Steven ikut dengannya untuk mendapatkan perawatan.


"Dad!" Darren melayangkan protes. Tidak menyukai keramahan yang ditunjukkan ayahnya. Meski Steve menyangkal tuduhan penyusup yang dilayangkan dengan membawa nama Gavin, Darren tetap saja tidak percaya dengan pria itu.


"Kita akan berbicara nanti. Sebaiknya kau menangani penyusup lainnya." Pax memberi perintah.


"Penyusup lainnya?" Steve menyeletuk. "Pernyataanmu seakan menegaskan jika aku memang penyusup, Mr. Willson."


"Undangan kami tidak bisa diwakilkan, Mr. Ivarez. Kau tetap penyusup." Pax tersenyum bersahaja. "Tapi sebagai tuan rumah yang baik, kami tidak mungkin membiarkan orang yang sudah menyelamatkan putriku pergi begitu saja. Entah kau memiliki motif atau tidak." Sarkas pria setengah baya itu masih dengan senyum penuh arti di wajahnya.


"Sexii, bawa pemuda ini ke kamar tamu. Daddy Ansel akan segera datang untuk memeriksa lukanya."