H.U.R.T

H.U.R.T
Senja



Lelah membaca buku, akhirnya keduanya tertidur di sofa dalam keadaan berpelukan. Tidur yang benar-benar, nyaman, nyenyak, tidak ada beban, tidak ada gangguan dan ombak di pantai menjadi suara nyanyian paling indah yang menentramkan.


Entah sudah berapa lama mereka tidur, saat Zenia membuka mata, yang ia temukan adalah wajah Steve yang masih terlelap. Terdengar dengkuran halus yang membuat Zenia menarik kedua sudut bibirnya.


Zenia enggan bergerak, khawatir jika pergerakannya akan membangunkan Steve. Ia ingin masih berlama-lama memandangi wajah pria itu. Kapan lagi ia bisa memandangi wajah rupawan itu secara terang-terangan.


Mulai dari dahi, rambut, dagu, rahang, hidung hingga ke alis serta bulu matanya. Zenia menikmati semua pemandangan itu. Kemudian ia terkejut sendiri saat menemukan matanya menatap pada bibir Steve. Refleks Zenia menggigit bibir bawahnya. Bayangan nakal itu kembali muncul, membuatnya tergoda ingin merasakannya lagi.


Zenia menggeleng, mengenyahkan pikiran mesum yang akhir-akhir ini sering menggerayanginya.


Kembali ia memusatkan perhatian pada keseluruhan wajah Steve.


"Mulus tidak ada pori. Dia memang oke. Pria paling oke yang pernah kulihat. Betapa nyeyaknya dia. Tidak akan ada yang percaya bahwa dia memiliki gangguan tidur."


Zenia beralih pada jakun Stev. Jakun terseksih sejauh dalam ingatannya. Ia tidak pernah tahu jika sebuah jakun bisa membuat darah berdesir hebat.


"Ini pasti jakun ajaib." kali ini ia memainkan jari telunjuknya di sana. Menoelnya secuil tapi berulang kali.


Matanya menyipit ketika tanpa sengaja melihat pahatan huruf yang terlihat samar di bagian dadaa kiri Steve. Seperti tattoo yang memang sengaja dilukis dengan tinta yang menyerupai kulit.


"Lexi.SW."


Zenia bergeming cukup lama memperhatikan kumpulan kata yang membentuk sebuah nama tersebut. Nama yang sama dengan yang diteriakkan Steve saat mengalami mimpi buruk.


"Apa yang terjadi dengan Lexi?" Zenia bergumam. Ia diserang rasa penasaran yang begitu kuat. Tapi untuk bertanya kepada Steve, ia tidak memiliki cukup keberanian.


Tanpa sadar, Zenia mengusap tattoo tersebut secara perlahan dan penuh hati-hati.


Sentuhan jemarinya itu ternyata membuat Steve terusik. Pria itu membuka mata, menemukan Zenia yang sedang memandangi dadaanya. Steve langsung menarik tangan Zenia dari sana.


Layaknya pencuri yang tertangkap basah, Zenia sontak saja terkejut. Dia hampir melompat, tapi gerakan Steve lebih cepat darinya. Pria itu semakin memeluknya dengan erat, menahannya tetap berada di posisinya.


"Kau mengintip?" suara Steve serak-serak becek, suara yang seakan ingin mengajak menikah.


Zenia merasa pendengarannya sedang dimanjakan. Ternyata bukan hanya jakun Steve yang membuat masalah dalam dirinya. Suara baru bangun Steve ternyata lebih bahaya. Perutnya melilit dan menggelitik dalam saat bersamaan.


"Ba-bajumu yang kurang sopan." Zenia membela diri. Pembelaan yang sia-sia karena wajahnya sudah terlanjur merah karena malu.


"Apapun kondisi pakaianku, sudah seharusnya kau menjaga pandanganmu, Nona. Mengintip orang yang sedang tertidur bukan perbuatan yang sopan?"


Zenia terpancing amarah, matanya melotot kesal, hidungnya kembang kempis.


"Berbicara tentang kesopanan, apakah kau merasa sudah cukup sopan, Mr. Percy?!"


Steve melengkungkan alis melihat kemarahan gadis itu. Alih-alih terkejut, Steve justru sangat antusias menikmati kemarahan Zenia..


"Di mana dari tindakanku yang tidak sopan?" Steve sengaja memancing.


"Semua yang ada pada dirimu tidak mencerminkan kesopanan!" Zenia membebaskan diri dari pelukan Steve. Semua wanita memang seperti itu. Jika sedang kesal, menolak untuk disentuh.


Dengan berat hati, Steve membiarkan Zenia menjauh darinya. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangan di dadaa.


"Lihatlah pakaian yang kau kenakan? Kau sengaja berpakaian seperti ini untuk menarik perhatian para gadis-gadis agar menoleh ke arahmu dengan penuh minat, memaksa fantasi mereka berhalu berlebihan. Itu 'kan yang kau inginkan dengan sengaja memamerkan bisepmu yang seolah berteriak menyerukan godaan 'ayo gigit aku'. Kau juga dengan sengaja mengenakan topik terbalik, membuat para gadis yang melihatnya tergoda ingin menyingkirkan topi tersebut untuk melihat rambut yang tersembunyi di sana."


"Apa yang akan dilakukan para gadis itu setelah melihat rambutku?" Steve segera duduk demi menikmati wajah Zenia lebih dekat dan seksama.


"Seperti yang kukatakan tadi. Berkhayal memainkan jemari di helaian rambutmu yang halus."


"Itukah yang kau inginkan? Menggigit bisepku dan memainkan jemarmu di rambutku?"


Zenia tersedak, matanya mendelik tajam.


"Aku mengatakan para gadis!"


"Dan kau termasuk dalam golongan para gadis. Kenapa kau tidak melakukannya? Kau punya kesempatan itu."


"Dan Lexi akan mengutukku di mana pun dia berada."


Sejenak Steve terperanjat. Tapi Zenia tidak menyadari hal itu.


"Sikap tidak sopanmu yang selanjutnya adalah merayuku. Merayu gadis disaat kau sudah memiliki wanita." Zenia memalingkan wajah setelah mengatakan hal itu. Ia tidak ingin Steve melihat kecemburuan di wajahnya walau kata-katanya sudah menyiratkan kecemburuannya dengan sangat jelas.


Zenia mendengus, "Apa aku terlihat sedang cemburu?"


"Ya,"


"Jika begitu kau terlalu menganggap hebat dirimu. Aku tidak cemburu."


"Kaulah yang menganggapku hebat dan aku besar kepala karena anggapanmu itu. Kaulah yang memuji bisepku, mengagumi jakunku, semua yang kau lakukan itu semakin membuatku besar kepala."


"Astaga..."


"Sudahi kecemburuanmu yang tidak berarti itu. Katakan, apa yang ingin kau lakukan? Menghabiskan waktu berdua sambil melakukan hal manis hingga tertidur sudah kita lakukan. Bertengkar dan berbaikan juga ada di dalam daftar fantasiku dan tanpa sengaja kita juga sudah melakukannya. Apakah aku harus minta maaf atau kau lebih suka mengalah dan meminta maaf?"


"Pertanyaan apa pula ini? Di mana-mana wanita ingin dibujuk!"


Steve menguulum senyumnya. "Biasanya kau selalu mengalah. Baiklah, aku salah, aku meminta maaf. Ucapanku keterlaluan hingga membuatmu marah. Apa maafku diterima?"


"Maaf akan diterima jika kau juga meminta maaf kepada teman-teman Zetta. Meminta maaflah dengan benar jika kau ingin aku tidak marah lagi padamu!" Zenia menekan kalimatnya dengan tegas saat Steve hendak membuka mulut yang diyakini Zenia untuk melayangkan protes dan penolakan.


"Gugupmu juga mendadak hilang."


Pernyataan ringan Steve membuat Zenia sontak terdiam.


"Jadi, kau ingin aku meminta maaf pada mereka?"


Zenia mengangguk, tidak ingin bersuara lagi. Khawatir jika mulutnya kembali melontarkan kalimat panjang.


"Baiklah, aku akan melakukannya nanti. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Kau suka menonton?"


"Tergantung apa yang ditonton. Bagaimana jika kita memandangi matahari tenggelam dari kamarmu. Kaca-kaca di sini harus dibuka, jangan ditutup. Biarkan udara, sinar matahari masuk kemari. Dan aku tidak menemukan cermin di kamar mandi. Aku sangat suka bercermin. Boleh aku membuatnya di sana? Cermin di dalam toilet?"


Steve terdiam sejenak. Haruskah ia mengabulkan keinginan Zenia yang artinya ia harus melawan traumanya. Inikah saatnya ia memberanikan diri menghadapi semuanya. Ia juga ingin melihat bagaimana bentuk jakunnya yang membuat gadis itu menatap penuh kagum.


"Jika kau keberatan, aku tidak bisa memaksa."


"Lakukan sesuai inginmu. Apa pun itu."


"Benarkah?" Zenia melompat kegirangan sambil bertepuk tangan. "Aku boleh membuka tirai-tirai ini dan memasang cermin di toilet?"


Steve menganggukkan kepala.


"Sungguh?"


"Jika itu bisa membuatmu senang. Lakukanlah."


"Senang, sangat senang. Ayo, kita ke kamarmu. Dari sana, pemandangan pantai terlihat sangat indah. Fantasiku adalah, memandangi langit senja hingga matahari terbenam bersama pria tampan yang memelukku dari belakang."


"Fantasi bolehmu juga," Steve berdiri, mengulurkan tangan yang disambut Zenia dengan segera. Jemari mereka bertaut satu sama lain. "Mari kita wujudkan fantasimu."


"Apa yang kau sukai dari senja?" Steve bertanya saat mereka menaiki anak tangga.


"Senja mengajarkan kita bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian besar hanya bersifat sementara. Matahari yang tenggelam akan mengajarkan pada kita, agar bisa menghargai apa yang diberikan matahari untuk kita."


"Bijak sekali kata-katamu."


"Aku mengutipnya dari beberapa sumber," aku Zenia tanpa merasa malu. Steve tergelak mendengar pengakuan gadis itu.


"Lalu apa pendapatmu tentang senja, Steve?"


"Senja memang begitu indah, namun cahaya mentari tetap tak tergantikan, meski dengan lilin yang bersinar sangat terang sekali pun. Sudah banyak senja yang kulalui, namun belum pernah kulewati senja bersama seseorang yang begitu berarti. Mungkin senja kali ini akan terasa sangat berbeda. Tapi, sifat senja hanya sementara, ini yang membuatku tidak menyukainya. Dia hanya singgah sebentar setelah penantian yang cukup panjang."


Zenia menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Steve yang juga sedang menatapnya. Untuk sejenak keduanya saling mengunci iris masing-masing.


"Senja terlalu buru-buru berlalu, sebelum aku sempat mewarnai langit dengan warna-warna rinduku yang selalu biru," kata-kata yang keluar dari mulut Steve adalah ungkapan hati terdalamnya yang terlalu kecewa dengan jalan hidupnya.


"Senja tidak pernah memintamu untuk menunggunya, tapi senja sangatlah setia. Dia tak perlu berjanji untuk kembali. Dia hanya butuh waktu untuk menepati. Karena dia tahu, meninggalkan bukan berarti mengusaikan segala harapan. Tapi meninggalkan hanya untuk menguji sebuah kesetiaan.”


"Kesetiaan?" Steve tertawa miris. "Senja adalah cara semesta mengajarkan kita bahwa semuanya hanya bersifat sementara. Termasuk saat ini. Sudahi syair-syair tentang senja ini dan mari mewujudkan fantasimu."