
Mendadak banyak yang ulang tahun😫. Selamat menua buat yang ulang tahun tanggal 21 Juli, juga tanggal 5 kemarin dan selamat milad juga kepada Jois (Eh, benar bukan sih, namanya?). Milea, CiEe' nenk Ern Thea (Susah benar penulisannya) Mabruk Alfa Mabruk, Genk. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin yang kencang!!!
🌻
Lexi menuruni anak tangga sembari bersenandung riang. Gadis cantik itu akhirnya terlihat lebih ceria, lebih bisa menikmati hidup setelah menjalani terapi juga berhenti mengonsumsi obat terlarang yang berasal dari antah berantah. Lexi juga mulai membuka hati mencoba membuka diri kepada beberapa pria walau endingnya tetap sama, tidak berujung. Entah standarnya yang terlalu tinggi atau alam di bawah sadarnya yang tidak bisa menerima kehadiran pria mana pun. Hanya Tuhan dan Lexi yang tahu.
"Selamat pagi semua!!" Lexi memeluk Ayahnya dari bali kursi, memiringkan tubuh untuk mengecup pipi sang ayah.
Pax yang sedang membaca surat kabar, menyunggingkan senyum bersahaja. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap kepala sang putri tersayang. Namun tatapannya tidak beralih sama sekali dari surat kabar yang ia baca.
"Apakah sahammu anjlok, Dad?" Celetukan Lexi membuat pria setengah baya itu tergelak. Lexi memang sangat tidak suka saat ia bermanja tapi sang ayah justru fokus pada hal lain.
Ayahnya melipat surat kabar, melepaskan kaca mata baca yang bertengger di hidung.
"Kau terlihat sangat mengagumkan. Apakah ada hari spesial?"
Lexi tersenyum centil. Maniknya berbinar cerah. Semburat merah terpancar di kedua pipinya. Pagi ini, Lexi mengenakan long dress hitam. Penampilannya terlihat berbeda dengan penampilannya yang biasa. Ini juga masih terlalu pagi jika ia ingin pergi bekerja.
"Jadi aku sudah terlihat cantik?" Lexi memutar tubuhnya, memamerkan penampilannya di hadapan semua.
"Kau selalu terlihat cantik, Seksii. Selamat pagi. Cup!" Austin tiba-tiba muncul. Pria itu menarik kursi, menuntun kakak kebanggaannya untuk duduk.
"Terima kasih," Lexi segera duduk.
"Apakah ada pesta yang harus kau hadiri pagi ini, Sayang?" Ibunya muncul dari dapur membawa nampan berisi susu juga kopi.
Lexi menggeleng, "Ini hari kematian Steve, Mom."
Atmosfer ruangan itu mendadak berubah. Ibunya bahkan spontan menghentikan langkah. Ayah dan saudaranya menatap dengan iba. Darren sendiri tidak ada di sana. Pria itu sedang ada pekerjaan di luar kota.
"Aku akan mengunjunginya bersama Ibu dan ayah."
Selama 13 tahun, Lexi tidak pernah absen mengunjungi makam cinta pertamanya itu. Dan selama 13 tahun juga, keluarganya selalu lupa akan hal itu. Namun Lexi tidak pernah mempermasalahkannya.
"Oh Mom, kenapa berdiri di sana? Aku baik-baik saja. Sungguh. Setelah dari pemakaman aku bahkan akan berkencan dengan Brian."
Ayahnya menarik kursi untuk ibunya, tepat di sisi kiri kanan ayahnya.
"Darren akan marah padamu." Austin mengambil gelas kopi dan menyesapnya perlahan. Sama seperti Lexi, Austin juga sedikit bingung kenapa Darren sangat melarang Lexi berhubungan dengan Brian. Di matanya, Brian pria yang cukup sepadan dengan Lexi. Tampan, mapan, putra dari Presiden dan calon walikota.
"Darren memiliki banyak mata."
Lexi berdecak. Ini memang benar. Segala pergerakan dan tindak tanduknya memang selalu diawasi. Baik oleh ayahnya atau pun Darren, bahkan Austin juga melakukannya walau tidak seposesif yang dilakukan ayahnya juga Darren. Lexi tidak keberatan atau pun merasa risih sama sekali. Ia juga tidak merasa kebebasannya dibatasi. Ia anggap hal itu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang keluarganya yang luar biasa.
Ping!
Sebuah notif pesan masuk. Lexi mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Pesan dari Darren.
Hari ini Brian Milles kembali. Jika kau memiliki janji dengannya, segera batalkan.
Lexi memutar bola matanya, ia tunjukkan isi pesan tersebut kepada keluarganya dan seperti biasa, ayah, ibunya dan juga Austin akan setuju dengan apa yang dilakukan Darren terlihat dari senyuman yang terpatri di wajah mereka.
"Kapan dia berhenti mengurusi kehidupan pribadiku!" Lexi memasang wajah cemberut. Tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
"Sampai kau menemukan pria yang mengalahi ketakutannya jika kau terluka." Ayahnya menjawab dengan mimik serius tapi masih memancarkan kehangatan di sana.
"Apakah ada?" Lexi bertanya sambil lalu seakan tidak serius dengan pertanyaannya.
"Tentu saja. Dia hanya terjebak dengan wanita cantik lainnya di belahan dunia lain sebelum kau dan dia dipertemukan. Aku selesai." Austin berdiri dari kursinya. "Ingin kuantar?"
"Aku harus menjemput Ibu Daphne juga Ayah Gio." Lexi ikut beranjak dari kursinya, ia berjalan menghampiri sang ibu. "Mom, aku pergi." Lexi menunduk memberikan kecupan.
"Sampaikan salam kami kepada Mr. dan Mrs. Percy." Ibunya berdiri, mengantar kedua anaknya hingga ke pintu utama. Austin mengendarai mobil sendiri sedangkan Lexi pergi bersama sopir yang ahli dalam bela diri.
🌝
"Hei," Lexi mengusap batu nisan bertuliskan nama Steven Percy di sana. "Apa kabar, Steve? Ah, aku senang mendengarnya jika kau baik-baik saja. Bagaimana penampilanku?" Lexi berdiri, memutar tubuhnya dengan gaya centil seperti yang dilakukannya di hadapan keluarganya. Sebelum menjemput Ibu Daphne dan Ayah Giovan, Lexi selalu terlebih menemui Steve. Berbagi cerita juga berkleluh kesah di depan pusara pria yang yang ia anggap memang benar sudah meninggal.
"Dad dan juga Austin mengatakan jika pagi ini aku terlihat sangat memukau. Bagaimana pendapatmu? Oh, aku malu mendengarnya. Kau juga sependapat dengan mereka. Omong-omong, aku masih merindukanmu."
Lexi tersenyum getir, sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak jatuh. Bukan saatnya lagi menangisi semuanya. Tapi apalah daya, segala sesuatu tentang Steve selalu membuatnya rapuh. Lexi mendongak, langit biru cerah menyapanya dengan begitu indah.
"Apakah kau sedang di atas sana, Steve? Apa kau sedang tersenyum melihatku atau merasa iba dengan diriku? Atau mungkin kau sedang mengejekku? Pintu hatiku seolah tertutup setelah pernah terbuka hanya untukmu. Cintaku terlalu besar hingga akal sehat juga hatiku tidak mampu berpikir jernih. Apakah kau sedang berada di surga? Tidak bisakah kau meminta kepada Tuhan untuk menghadirkan sosok yang bisa membuatku merelakanmu, Steve? Percayalah, Steve, meski sosok itu hadir, kau tidak akan tergantikan. Kau tidak akan pernah kulupakan. Aku hanya tidak sanggup melihat kesedihan di wajah keluargaku. Haruskah aku hidup menjadi wanita suci yang tidak terjamah? Sungguh aku tidak akan keberatan. Tapi bagaimana dengan Mommy dan Daddy, ayah juga ibu? Bagaimana jika kau menjemputku, Steve? Atau tunjukkan aku jalan menuju tangga di mana kau berada. Aku akan datang kepadamu." Lexi menunduk, meletakkan dahinya di atas batu nisan. Seperti biasa, ia tidak kuasa menolak tangisannya. "Aku masih saja egois. Padahal kau dan Olive sudah bahagia di sana." Nyeri hatinya tidak tertahankan lagi. Ia sadar, Steve bukan jodohnya. Pria itu tercipta hanya untuk Olive. Kematian mereka sudah menjelaskan bahwa keduanya tidak akan terpisahkan.
"Aku akan menjemput ayah dan ibu untuk mengunjungimu. Sebelum menjemput mereka, aku akan mengunjungi makam Oivia. Meminta maaf dan mengaku dosa bahwa aku masih mencintai kekasihnya."