H.U.R.T

H.U.R.T
Inilah Akhirnya.



Pemadam kebakaran dan para medis sudah ada di sana meski amat sangat terlambat. Para tenaga medis menghampiri Harry dan Lexi untuk memberikan perawatan.


"Ada beberapa orang di dalam, satu diantaranya adalah gadis berkursi roda. Mungkin mereka akan terjebak. Tolong selamatkan mereka," Harry memberitahu.


Tenaga medis tersebut menyampaikan kepada tim penyelamat dengan mengutip ucapan Harry agar segera mengirim bala bantuan ke dalam rumah.


Namun, tidak berapa lama beberapa orang yang mencoba masuk keluar kembali. Mereka mengatakan bahwa tidak mungkin ada yang selamat. Semua sudah penuh dengan dan asap yang menghitam.


Austin yang mendengar hal itu segera mencari celah untuk masuk ke sana dengan membawa beberapa alat pernapasan. Ia juga tidak ingin Lexi melihat kehadirannya yang nantinya akan membuat saudarinya itu histeris. Ia senang Lexi dan Harry selamat.


Lexi dan Harry langsung mendapatkan alat bantu pernapasan. Harry yang mendapatkan lumayan banyak luka segera mendapat perawatan.


Lexi bergeming, menatap kobaran api yang masih membumbung dengan perasaan yang bercamuk. Hatinya melafalkan doa yang ditujukan untuk keselamatan Steve dan Alea.


Entah kapan mimpi buruk ini berakhir, mau sampai kapan mereka harus menjalani skenario hidup yang hampir membuat gila. Lexi menyadari jika bukan hanya dirinya saja yang menderita di sini, tetapi Olivia, Steve, Harry dan bahkan orang-orang di luar sana punya penderitaan masing-masing yang sedang dihadapi. Hanya saja, pertanyaannya sampai kapan?


"Di mana adikku?"


Lexi menoleh, menemukan wajah Olivia yang banjir dengan air mata. Sudut bibir wanita itu berdarah. Lexi menurunkan tatapannya dari atas ke bawah. Penampilan yang sangat kacau. Rambut berantakan, semua tubuh penuh debu. Lalu Lexi melihat seorang pria yang terduduk lesu menatap rumah yang sebagian sudah habis dilalap api. Pria itu babak belur. Terlihat sangat menyedihkan.


"Aku bertanya padamu, di mana adikku?!'


"Maafkan aku."


"Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Di mana adikku?!" Olivia mengguncang kuat tubuh Lexi dengan penuh amarah juga ketakutan yang nyata.


"Kenapa kau bisa keluar dan kenapa kau meninggalkan adikku di dalam sana!"


"Dia tidak mau keluar. Dia menunggumu."


Olivia terdiam, tertampar oleh perkataan Lexi. Ya, Alea tidak mungkin mau keluar saat Olivia sudah memberikan sugesti kepada adiknya yang penurut itu.


"Maafkan aku, Olivia."


Olivia menggeleng, amarah kembali menguasai dirinya. Ia dan ayahnya dicekal saat hendak berlari masuk untuk menyelamatkan Alea. Ia berteriak, memohon agar dia dilepaskan, namun tidak ada yang mau mendengar. Dan saat ia meminta seseorang menyelamatkan adiknya dan menjelaskan kondisi adiknya tidak ada yang peduli.


Percikan api melayang-layang di udara, dari ratusan orang yang ada, mereka hanya menonton tanpa berbuat apa-apa. Bahkan Olivia tidak melihat tatapan iba sama sekali.


"Sepertinya Tuhan sangat menyayangi kami yang tidak membiarkan kami mengotori tangan untuk melakukan balas dendam terhadapmu. Lihatlah, karma yang kau terima. Dibalas dengan sepadan. Adikmu yang cacat terbakar hidup-hidup dan akan menjadi debu."


Ucapan kejam itu merambat ke telinga Olivia menyulut amarahnya. Ia monoleh dengan penuh kebencian pada Mrs. Jacob. Matanya mengunci pergerakan iris mata wanita itu.


Tidak ada gunanya memanusiakan manusia berhati binatang. Olivia tidak bisa memaafkan semuanya. Baginya, dunia terlalu kejam. Dunia tidak bisa memberi keadilan pada mereka maka ia yang akan mengadili semuanya.


"Pergilah, bakar dirimu ke dalam kobaran api hingga menjadi serpihan debu."


Wanita itu langsung berjalan, melenggang santai menuju kobaran api. Mengabaikan teriakan orang-orang di sekitarnya.


Sial bagi Olivia. Beberapa polisi langsung menahan wanita itu hingga tidak sempat masuk ke dalam rumah.


"Apa yang kau lakukan padanya, Olivia? Kau menghipnotisnya?" Lexi tiba-tiba mengingat apa yang dikatakan Steve tentang untuk tidak melihat mata Olivia. Tapi ia terlalu terkejut menyadari kekuatan mengerikan yang dimiliki gadis itu.


Marah karena rencananya gagal, Olivia menyeringai. Lexi kembali menjadi sasarannya.


"Kau lihat, Lexi? Adikku hanya sebentar berada di dekatmu, tapi ia harus menanggung karma buruk darimu. Bagaimana bisa kau dengan begitu kejam meninggalkan seorang gadis yang cacat di tengah kobaran api? Jika adikku mati, harusnya kau juga mati, bukan? Kau sumber bencana. Pergilah ke neraka, Lexi." Olivia lalu mencondongkan tubuhnya lalu memiringkan kepala hingga bibirnya sejajar dengan telinga Lexi. "Pergilah, mengemudilah seperti orang gila, mobil itu akan mengantarmu ke neraka. Itu adalah penebusan yang pantas kau dapatkan. Kematianmu akan memberi kebahagiaan pada semuanya. Kau akan tenang di neraka dan kami akan tenang di sini. Pergilah sekarang!"


____


Pax dan Darren berhasil mengatasi nuklir-nuklir tersebut hingga tidak menyebabkan kehancuran yang mengerikan. Nuklir hanya berhasil menyerang stasiun dan satelit.


Mereka sampai di rumah Olivia bertepatan dengan Austin yang keluar dari rumah Olivia membawa Alea yang sudah tidak sadarkan diri. Entah gadis itu selamat atau tidak, Austin tidak tahu. Para tenaga medis segera membawa gadis itu sebelum Olivia sempat menyentuh adiknya.


"Kau baik-baik saja?" Darren bertanya kepada Austin yang terbatuk-batuk.


"Aku baik-baik saja, di mana dia?"


"Dia?"


"Steve."


Bruk!


Seorang pria tersungkur di hadapan mereka tepat di bawah kaki Olivia, Arthur Cony. Steve lah yang menyeret pria itu. Pria sekarat itu terbatuk-batuk.


Steve melepas alat pernapasan di hidungnya. Ia bersimpuh, merasa lelah dan letih. Butuh beberapa saat agar ia bisa mengangkat kepala dan menatap Olivia.


Olivia dibuat shock dengan kenyataan itu. Kenyataan bahwa pria yang ia anggap sebagai pria yang mengerti dirinya ternyata bukan hanya memanfaatkannya, tetapi juga dalang dari kematian adiknya.


Steve mengeluarkan sebilah pisau lalu tanpa ampun menusuk kelamin pria itu hingga terdengar jeritan yang memekakkan telinga. Steve melakakukannya berulang kali, hingga darah menciprat ke wajahnya. Pria itu tewas dengan cara mengerikan.


"Aku mempersembahkan mayatnya untukmu," Steve mengusap wajahnya dengan lengan bajunya yang berdebu, pun ia berdiri dengan susah dengan napas tersenggal-senggal. Melemparkan pisau begitu saja. Maniknya memendar, mencari sosok Lexi.


"Di mana Lexi?"


Pertanyaannya menyadarkan Pax, Darren dan Austin.


"Dia ada di sini sebelum aku masuk ke dalam. Mungkin mendapat perawatan bersama Harry."


Mereka berjalan menuju tenda darurat yang didirikan di sana. Ibu Olivia berhasil dikeluarkan dari ruang persembunyian begitu juga dengan Joanna meski keduanya sudah tidak waras. Dean Jacob ditemukan dalam keadaan sekarat. Luka bakarnya mengalami infeksi. Fread Brown, Olivia belum sempat melakukan banyak hal pada pengacara itu selain memotong ke lima jari kanannya. Tapi kondisi psikis pria itu jelas terguncang. Sementara mayat Vincent sudah berbau busuk dan sangat mengenaskan.


"Di mana Lexi?" Steve bertanya kepada Harry yang langsung duduk melihat kedatangan mereka.


"Lexi?" Ia pun terlihat bingung. Ia langsung dibawa kemari dan mengira Lexi juga ikut mendapat perawatan.


Steve kembali keluar dari tenda. Ia menghampiri Olivia yang memandangi mayat Arthur.


"Katakan di mana Lexi. Apa yang kau lakukan padanya, Olivia?!"


"Aku mengirimnya ke neraka dengan mobil yang remnya bermasalah." Ucap wanita itu datar tanpa mengalihkan tatapannya dari Arthur.


Amarah Steve memuncak, tapi ia tidak punya waktu untuk meluapkannya kepada Olivia saat ini. Pun ia segera melarikan kakinya ke arah mobil terdekat. Darren dan Pax melakukan hal serupa begitu juga dengan Harry. Mereka mengejar Lexi.


Austin menghampiri Olivia, pria itu langsung menjambak rambut wanita itu hingga kepala Olivia mendongak.


"Kau terlalu berbahaya, wanita ular." Austin menyiramkan air keras ke mata Olivia. "Bertobatlah! Dan terima hadiah kebutaan dariku!"


Lagi da lagi luangan kesakitan menggema. Austin segera berlalu, meninggalkan kericuhan itu.


Sementara itu Steve memaksa matanya tetap terbuka lebar di tengah ngantuk yang mulai menyerang. Selama ini kantuk tak pernah menyerangnya dan ia tidak mengharapkan kantuk itu datang sekarang. Ia terus melajukan mobil seperti orang gila. Di belakangnya ada dua mobil yang juga sama gilanya dengan dirinya. Harry dan Darren. Di mobil yang dikemudi oleh Darren ada Pax di sana.


Beberapa meter darinya, Steve akhirnya melihat mobil yang melaju dengan kecepatan tidak terkendali.


Steve semakin menaikkan kecepatan. Mengejar mobil itu hingga sejajar. Benar saja, Lexi duduk di belakang setir kemudi dengan pandangan kosong.


"Lexi... Lexi!!"


Lexi tidak mendengar karena suara deruan mobil lebih kencang dibanding teriakan Steve.


"Lexi... Tolong lihat aku! Lexi kau berada di jalur yang salah! Demi Tuhan, Lexi, dengarkan aku!"


Steve merasakan ketakutan luar biasa. Tangannya bahkan gemetar di atas setir kemudi. Berulang kali Lexi hampir mengalami tabrakan.


"Lexi, sadarlah! LEXI!!"


Lexi akhirnya tersentak. Maniknya membeliak saat menyadari posisinya. Ia mencoba menginjak rem yang ternyata tidak berfungsi. Lexi mulai panik saat melihat beberapa mobil datang dari arah berlawanan. Di tengah ketakutannya, ia mencoba berkonsentrasi menghindari mobil-mobil tersebut.


"Lexi...."


Lexi menoleh dan menemukan Steve yang tampak sangat pucat dan ketakutan.


"Steven...."


"Tetap lihat ke depan dan fokus, dengarkan aku, jangan takut. Ada aku."


Lexi mengangguk.


"Bisakah kau membuka pintu kemudinya, tidak usah buru-buru. Tunggu jalan di hadapanmu aman. Aku akan melompat naik ke dalam mobilmu. Kau mengerti?"


Lexi menganggukkan kepala.


Jalanan mulai aman, Lexi membuka pintu kemudi. Naas, sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba muncul dan menabrak pintu tersebut. Kecelakaan tidak terhindar.


Lexi panik dan membanting setir sedangkan Steve, mobilnya berputar 360 derajat di tengah jalan.


Mobil Lexi menabrak pembatas jalan, terjun bebas ke aliran sungai yang deras dan dinginnya mematikan.


Inilah akhirnya. Lexi memejamkan mata, memasrahkan tubuhnya didekap dan diselimuti oleh kegelapan yang begitu dingin. Lexi tidak merasakan ketakutan sama sekali.


Harry menghentikan mobilnya, keluar dan menatap shock dengan apa yang terjadi. Pax dan Darren juga berhenti dan saat mereka keluar dar mobil, Steve tiba-tiba sudah ada di sana dan terjun bebas ke aliran sungai tersebut.