H.U.R.T

H.U.R.T
Kau Menyedihkan



"A-apa itu?"


Pax dan Darren serempak menoleh. Keduanya pun segera berdiri, melangkah cepat mendekati Lexi yang terkulai lemas. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi, maniknya mengabur karena linangan air mata yang menggenang di sana. Ia melihat apa yang terjadi di televisi. Ayah dan saudaranya terlalu fokus menyaksikan hingga tidak menyadari jika Lexi masuk.


"Lexi," Darren mengulurkan tangan hendak membantu Lexi berdiri.


Lexi menatapnya dengan tatapan terluka, "Kau melecehkan Oleshia?"


Darren menggeleng, "Tidak seperti itu."


"Itukah alasan Daddy mengirim Steven ke penjara demi menyelamatkan Darren?" Kini tatapannya beralih pada Pax, maniknya menyiratkan kekecewaan luar biasa.


"Dad, kau sungguh melakukannya demi melindungi putramu?"


"Tidak, Sayang, tidak. Tidak seperti itu?"


"Ini mengerikan, Dad. Apa yang terjadi dengan mereka. Dean, wa-wajahnya melepuh. Vincent, bagaimana bisa dia juga terlibat? Dia seorang polisi, bukan? Bagaimana bisa mereka melakukan pemerkosaan dan menuduh Steven yang melakukannya? Ba-bagaimana bisa di usia remaja sudah bertindak brutal seperti itu. Olivia yang malang. Apa yang kau lakukan, Darren? Kau tahu Olivia dan Oleshia mengalami hal ini dan kau hanya diam? Atau kau juga ikut melecehkan mereka? Darren, kumohon, katakan tidak. Katakan jika kau tidak terlibat? Inikah arti tangisanmu di atas makam Olivia,- Maksudku, makam Oleshia?"


"Tidak. Aku tidak terlibat." Darren berucap dengan tegas.


Lexi mencari kebohongan di mata saudaranya tersebut dan ia tidak menemukan apa-apa selain kejujuran. Ya, Lexi bisa merasakan hal itu.


"Percaya padaku," Darren duduk di hadapan Lexi seraya mengulurkan tangan, pun Lexi mengangguk dengan cepat. Gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Darren.


"Aku tahu kau tidak akan melukai wanita. Iya, 'kan?"


"Aku tidak melukai wanita."


Darren mengusap punggung adiknya, mengembalikan ketenangan Lexi. Ia tahu perasaan adiknya sedang tertekan dan sangat sensitif, penting bagi Darren untuk membuat Lexi tetap percaya kepadanya. Di dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama, Lexi sangat menaruh harapan besar padanya. Gadis itu tidak akan sanggup menerima fakta lain jika saudaranya terlibat dalam aksi memalukan. Bisa-bisa Lexi menganggap jika dirinya layak mendapat pelecehan karena harus menanggung karma perbuatan saudaranya.


"Lalu, vidio apa yang mereka maksud. Aku juga menemukan beberapa fotomu bersama Oleshia di dalam kamarmu."


"Kau menyusup?"


"Aku hanya penasaran. Jadi, kau menyukai Olivia atau saudarinya?"


"Oleshia. Aku dan dia berteman. Kami sering bertemu."


"Berteman?"


"Hmm."


"Bukan kekasih."


"Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku mengutarakan perasaanku berulang kali. Dia menolak, tepatnya mengulur waktu."


"Kenapa dia mengulur waktu?"


"Entahlah. Dia merasa tidak pantas. Itulah yang dia katakan. Hingga acara prom night, dia datang menggantikan Olivia. Aku tentu saja mengenalinya."


Darren tidak memberitahu fakta bahwa di sore hari sebelum acara prom night, Olivia mendapat pelecehan dan Steven dihajar hingga babak belur. Hari itu, ia memang tidak tahu apa yang terjadi. Saat ia mengantar Oliv dan Steve ke rumah sakit, keduanya kompak menyuruhnya pergi sembari melayangkan tatapan sengit penuh permusuhan. Darren mengabaikan pengusiran yang dilakukan dua sejoli itu, bukan karena ia penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi ia melihat beberapa perawat mengabaikan mereka. Darren sempat bersitegang dengan seorang dokter agar segera memeriksa Olivia.


Samar-samar ia mendengar bahwa Olivia mendapat pelecehan. Ia langsung bisa menebak bahwa Brian dan konco-konconya adalah pelakunya segera mendatangi rumah Brian, menanyakan prihal tersebut. Tentu saja Brian menyangkal tudingan tersebut. Keduanya berakhir duel.


"Lalu?"


Darren tersadar dari renungannya. Ia menunduk, menemukan wajah Lexi yang menunggu ceritanya dengan penuh antusias.


"Akhirnya tidak baik. Disaat ia memutuskan menerima perasaanku, ibunya menghubunginya dan mengatakan sesuatu yang membuatku marah."


"Sudahlah, lupakan saja."


"Darren."


"Lexi."


"Ceritakan sepenuhnya!"


"Ibunya sudah memutuskan masa depannya. Ia akan pergi, berkarir sebagai model. Menyuruhnya agar segera pulang. Aku membujuknya agar mengurungkan niatnya tersebut. Ia menolak. Kami bersitegang di beberapa menit kami menjalin hubungan. Dia memutuskan pergi dan aku membiarkan. Tidak mengejar sama sekali. Aku menyesal," lirihnya di akhir kalimat.


"Oh Tuhan, kau juga menderita." Lexi kembali memeluk Darren dengan erat.


"Andai aku menahannya."


"Jangan menyalahkan dirimu. Tidak semua hal bisa seperti yang kita harapkan. Brian dan teman-temannya keterlaluan. Mereka harus dihukum. Kenapa Daddy hanya diam? Bukankah harusnya Daddy bisa melakukannya?"


"Tidak semuanya bisa dicampuri, Lexi. Selain vidio Darren yang mereka jadikan sebagai senjata untuk menyerang kita, Ibunya juga tidak ingin memperpanjang hal ini. Apa yang bisa dilakukan saat keluarga koban tidak ingin memperpanjang kasus kematian putrinya."


"Tapi Steven menjadi korban," gumamnya dengan nada sedih.


Pax dan Darren kompak menarik napas panjang. Pernyataan itu tidak terbantahkan. Tapi, seperti yang dikatakan Lexi tadi, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan meski sudah diatur dan direncanakan dengan matang.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda terlihat Steve dan Beth, juga sedang menyaksikan siaran langsung tersebut. Penjuru kota dibuat heboh seketika.


"Pantas saja aksinya bisa mulus seperti ini. Ternyata ia ahli dalam mengambil alih pikiran. Olivia benar-benar hebat dan mengerikan. Omong-omong, aku mendengar sebuah gosip yang menggelikan."


"Jika yang kau katakan adalah tentang Lexi yang akan menikah, itu bukan menggelikan, Dude. Ini menyedihkan!" Steve mengembuskan napas berat. "Beginilah cinta, deritanya tiada akhir."


Beth tergelak, "Kau tidak terlihat seperti pria yang sedang patah hati. Kau merencanakan sesuatu?"


Steve mendengus, "Apa yang bisa kurencanakan? Memangnya seperti apa pria yang sedang patah hati? Aku harus meraung? Membunuh diriku sendiri?"


"Ini bukan dirimu, Kawan."


Steve meneguk minumannya. Ya, mengingat apa yang sudah ia dan Lexi lalui, akhir seperti ini sangatlah tidak adil. Bukan hal yang sulit membawa Lexi kabur dan menghilang, tapi resikonya juga terlalu besar.


"Kenapa tidak menculiknya?"


Steve mengeluarkan pemantiknya juga mengambil pemantik milik Beth yang terletak di atas meja.


"Anggaplah pemantik ini adalah Lexi," Steve menujuk pemantik miliknya lalu memasukkannya ke dalam gelas kosong. Kemudian Steve mengambil gelas milik Beth yang berisi air. "Lexi dikelilingi teman-teman yang bermulut manis." Ia menuangkan air ke dalam gelas berisi pemantik yang diumpamakan sebagi Lexi. "Kebohongan orang-orang terdekatnya menghancurkannya. Dia dihina, dikatakan murahan berulang kali. Dia hampir dilecehkan. Dia kehilangan kepercayaannya. Apa yang kau lihat, Beth?"


"Pemantiknya tidak tenggelam sama sekali."


Steve mengangguk, "Ya, kau benar. Lexi tetap bertahan, melewati semuanya. Tetap berusaha bangkit. Tapi mari kita lihat apa yang terjadi." Steve menyalakan pemantiknya. "Tidak bisa menyala. Lexi memendam rasa sakitnya. Rasa sakit yang tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya. Yang ia butuhkan saat ini adalah dukungan dari orang yang ia yakini bisa menyelamatkannya." Steve kembali menyalakan pemantik milik Beth membagi apinya ke dalam pemantiknya. Kedunya menyala. "Harry akan mendukungnya, menyembuhkannya."


"Kau yakin?"


"Aku hanya bisa berharap."


"Bagaimana jika ternyata langkah yang ia pilih salah?"


"Aku akan menghajar Harry, membunuhnya."


"Ck! Kau menyedihkan, Kawan."