
Happy Ending?
Sad Ending?
Perjalanan masih cukup panjang. Sad atau ending, sesungguhnya saya juga masih meragu. Tapi yang pasti, cerita ini tidak akan lari dari judul.
Masih semangat untuk melanjutkan membaca? Percayalah, saya sedang semangat-semangatnya untuk menyelesaikan cerita ini.
HEI NELIS, SELAMAT MENUA UNTUK TEMANMU YANG BERULANG TAHUN HARI INI🥂🍻
.
.
.
Meski Steve sudah tidak terlihat lagi, menghilang ditelan kegelapan, Lexi masih saja termangu, menatap ke kejauhan, berharap Steve berputar balik dan menjelaskan apa maksud dari ucapan pria itu.
Sudah lama terikat.
Jawaban rindu yang menyakitkan.
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya. Terlalu rumit untuk ia artikan, tapi ia juga tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Setelah diingat-ingat, Steve selalu menyisakan teka teki di setiap pertemuan dan juga perpisahan mereka.
Steve begitu misterius, hingga sulit nenebak apakah Steven serius juga jujur dengan ucapannya. Meski Lexi memutuskan untuk tidak percaya kepada Steven, pada kenyataannya hatinya sudah memberi ruang tersendiri kepada pria itu. Pikirannya boleh saja meminta agar Steve menjauh, tapi di detik berikutnya, ia akan menemukan dirinya bergulat dengan hatinya. Bukankah wanita selalu seperti itu? Hati dan pikiran tidak pernah berjalan sinkron. Dan pada akhirnya, wanita selalu membuat keputusan berdasarkan hati. Apakah Lexi akan merubah keputusannya esok?
Tok. Tok.
Ketukan di pintu kamar membuatnya tersadar dari renungannya. Sebelum berbalik untuk membuka pintu, Lexi sekali lagi memastikan apakah Steve benar sudah pergi dan tidak akan memutar balik. Sepertinya Steve bukan tipe pria yang akan membujuk setelah ditolak atau didorong pergi.
Lexi menemukan dirinya kecewa dan itu membuatnya semakin kesal. Beberapa menit lalu, ia sangat yakin dengan untaian kata bijak yang keluar dari mulutnya untuk mendorong Steve.
"Ini bukan diriku! Astaga! Memang ini lah diriku! Lemah dengan pria yang dengan mudah mengabaikanku. Sesaat dia sangat manis, sesaat dia sangat dingin dan sesaat dia terlihat menyedihkan. Dia manusia atau permen nano-nano? Banyak nian rasa yang ia tunjukkan dalam beberapa menit sebelum ia pergi."
"Lexi, kau sudah tidur?"
Panggilan Harry membuatnya melangkahkan kaki meninggalkan balkon.
"Belum. Aku akan membuka pintu."
Lexi menemukan Harry tersenyum hangat. Kedua tangannya membawa nampan berisi teh hijau juga beberapa cemilan rendah kalori.
"Kau melewatkan makan malam. Kupikir kau sedang diet, jadi aku membawa kudapan yang rendah kalori. Perutmu tidak boleh kosong."
Lexi tersenyum lebar, Harry begitu pengertian juga penuh perhatian. Sejak usia 18 tahun, pria itu selalu bersikap manis padanya. Tidak lelah mengutarakan perasaan kepadanya juga bahkan melamarnya secara terang-terangan di hadapan keluarga mereka. Jika di New York ada peraturan bahwa wanita berusia 30 tahun harus sudah menikah, mungkin Lexi akan menerima lamaran pria itu. Harry pria terhormat yang sangat hangat.
"Boleh aku masuk?"
Lihatlah! Sikap yang sangat berbanding terbalik dengan si Ivarez!
Tanpa sadar Lexi membandingkan keduanya. Harry yang mengetuk pintu dan meminta izin untuk melangkah masuk ke dalam kamar, berbeda dengan Steven yang justru menyusup melalui balkon. Sangat tidak sopan!
"Tentu saja. Aku penasaran apa yang kau bicarakan dengan Isabel."
"Ck! Menyedihkan sekali. Tidakkah sebaiknya kau mencarikannya jodoh? Aku yakin dia akan menemukan pria yang lebih hebat dibandingkan dengan saudaraku yang brengsek itu."
Harry menganggukkan kepala, entah untuk pencarian jodoh bagi Isabel atau setuju bahwa Austin memang brengsek. Tapi sepertinya anggukan Harry melingkup semuanya.
"Sulit untuk mencarikan jodoh untuknya jika hatinya sudah terpaut untuk seseorang." Harry memberikan kudapan yang langsung diterima Lexi dengan segera.
"Ya, perasaan tersulit adalah saat hati terpaut pada seseorang tapi kita sadar bahwa tidak bisa memilikinya, namun tidak punya kekuatan dan keberanian untuk menjauh. Itu menyesakkan," Lexi mengutip kalimat yang dilontarkan Steve kepadanya beberapa saat lalu.
"Seperti yang kurasakan padamu," Harry mengacak rambutnya dengan gemas. "Tapi aku akan menunggu. Takdir bisa mengubah yang tidak cinta menjadi cinta. Aku akan bertaruh dengan takdir." Tangannya yang tadi mengacak rambut panjang Lexi berubah menjadi usapan lembut.
"Kau benar," Lexi membenarkan ucapan Harry. "Tapi, Harry, cinta tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir." Ucapnya sembari tersenyum getir. Ia tidak bermaksud mematahkan hati Harry, kalimat itu ia tujukan kepada dirinya sendiri agar hatinya lebih berlapang dadaa untuk menerima kenyataan bahwa Steven Percy bukan takdirnya. Sudah saatnya dia merelakan, mengikhlaskan.
Harry terkekeh, "Itulah kenapa doa itu begitu perlu. Karena ketika jatuh cinta pada yang bukan takdir, ikhlas akan datang menyertai di akhir."
Lexi menganggukkan kepala dengan semangat, apa yang dikatakan Harry benar. Ikhlas adalah jawaban semuanya agar hati tidak terbebani.
"Ceritakan padaku, bagaimana kau mengenal Mr. Ivarez? Selain menyukai Austin, Isabel juga menyukai pria itu."
Tanpa sadar, Lexi menarik napas panjang. Ia sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari si tuan arrogant yang menyebalkan itu, Harry justru mengungkitnya.
"Aku tidak terlalu mengenalnya," Lexi menjawab jujur. Tidak ada yang ia ketahui tentang pria itu selain nama juga alamat rumahnya. "Kami dipertemukan hanya karena ajang fashion yang sama-sama kami ikuti."
Ah! Berbicara ajang fashion, Lexi jadi ingat saat busana yang ia desain sama dengan busana milik Stev. Lalu, Steve dengan sukarela memberikan klarifikasi. Saat itu, yang mengenakan busana desain Steve adalah Oleshia. Apakah ini kebetulan atau unsur kesengajaan? Lexi bergigik ngeri dengan pemikirannya tersebut.
"Isabel akan tahan berbicara selama berjam-jam lamanya dengan Mr. Ivarez. Ayahku juga sangat menyukainya. Dia pria yang mampu mengalahkan ayahku bermain catur. Pantas saja dia tidak pernah terlihat, ternyata dia memutuskan untuk kembali ke negara kelahirannya."
"Negara kelahiran?"
"Ya. Dia lahir dan tumbuh besar di sini. Itulah yang kudengar saat ia sedang bermain catur dengan ayahku. Sesekali aku ikut bergabung dengan mereka. Dia pemuda yang cerdas. Kupikir kau sudah lama mengenalnya, bukankah kau bersekolah di Yale High School? Dia juga pernah bersekolah di sana sebelum memutuskan pindah ke Madrid."
Deg!
Jantung Lexi berdegup kencang begitu mendengar Yale High School. Awal mimpi buruknya. Dadaanya mulai terasa sesak seperti ada benda besar yang menghimpit.
"Ha-Harry, aku butuh udar segar. Bagaimana jika kita berjalan-jalan di tepi pantai."
"Baiklah. Aku akan mengambil mantel untukmu. Udaranya pasti dingin."
"Kau perhatian sekali."
"Aku akan lebih perhatian jika kau menerima lamaranku." Harry mengerling jenaka. "Will you marry me?"
___
Di tempat yang berbeda, terlihat Olivia sedang mengobati luka di wajah Austin.
"Mantan kekasihmu itu membuatku marah," adu pria itu.
Olivia tersenyum, "Dia pria yang sulit ditebak. Apa masalahmu dengannya?"
"Aku tidak memiliki masalah dengannya, tapi dia lah yang mencari masalah denganku."