H.U.R.T

H.U.R.T
King Axe



Dengan penuh amarah, Steve memasuki kamar. Kepalanya berdenyut nyeri. Perpaduan pusing karena hasrat juga emosi. Benar-benar rasa yang luar biasa. Apakah ia sedang marah? Tidak! Ia sedang murka. Ia butuh pelampiasan.


Steve memendarkan pandangan ke seluruh kamar. Mencari objek untuk meluapkan amarahnya. Tidak ada, selain properti.


Steve menarik napas panjang. Mencoba menenangkan pikirannya. Ia pejamkan matanya. Cara yang selama ini ampuh untuk memulihkan kewarasnnya. Cara yang sama ia lakukan untuk mampu membuatnya bertahan hingga sekarang. Semacam meditasi yang ia ciptakan sendiri.


Perlahan, ia membuka mata. Sudah lebih tenang dari sebelumnya. Steve mengeluarkan ponsel, apakah alat yang ia masukkan ke dalam tubuh Lexi berfungsi sempurna? Sebelum ia sempat memeriksa hal tersebut. Ponselnya berdering. Beth lah yang menghubunginya.


"Ada apa?"


"King Axe."


Beth menyebutkan sebuah nama klub.


"Tingkat kemenarikan?" Steve tidak ingin membuang-buang waktu jika tidak ada yang menarik di sana.


Beth tergelak di seberang telepon. Pria itu cukup mengenal Steve. Ia tahu jika Steve sedang dalam mood yang buruk.


"Di bawah 50 persen, mungkin."


"aku tidak berminat."


"Johan menyebarkan gosip murahan. Tapi sepertinya gosip yang ia sampaikan bukan isapan jempol semata. Nona muda itu membuatmu marah?"


"Sepertinya aku harus mencari pengganti Johan," ucap Steve dengan nada malas. Ya, meski ia cukup disegani, tidak lantas membuat orang-orangnya berhenti bergosip tentang dirinya.


"Lily Oswald, Neal William..."


"Aku tidak tertarik," Steven menyela dengan cepat.


"Bagaimana jika aku mengatakan dia juga ada di sini. Aku hanya melihatnya sekilas. Tapi kurasa mataku tidak cukup rabun."


"Aku akan kesana."


___


Steve melajukan mobil seperti orang gila. Jika informasi yang disampaikan Beth benar. Ia harus sudah sampai di sana tepat waktu. Andai, ia berhasil, semuanya mungkin akan lebih mudah. Mungkin? Sesungguhnya ia pun tidak yakin.


Dua puluh menit kemudian, ia sampai di King Axe. Aroma menyengat menyapa hidungnya. Steve mengibaskan tangan, mengusir aroma tersebut. Parfum para wanita murahan. Ia juga menolak dengan tatapan dingin yang tajam kepada setiap wanita yang mulai mendekatinya. Untung saja para wanita itu cepat tanggap meski Steve tidak mengeluarkan suara.


Turun ke lantai dansa, Steve berbaur di sana. Tidak perlu usaha keras untuk menarik perhatian para wanita.


"Ops," Lily mengerang manja saat punggungnya membentur sebuah dadaa yang yang sangat kokoh. Wanita itu berbalik, Steve bisa mencium aroma alkohol yang sangat pekat. "Sorry." Ucap wanita itu dengan nada sensual juga tatapan nakal yang menggoda.


Steve hanya menganggukkan kepala. Wanita mabuk memang sering tidak terkontrol.


"Sendiri?" Lily mulai menggerakkan pinggulnya mengikuti alunan musik.


"Tidak. Lantai ini cukup penuh sesak untuk kau sebut sendiri."


"Di mana pasanganmu?" Sepertinya Lily Oswald sudah sangat mabuk sekali hingga tidak mengenali Stev yang ia temui di ruang ganti saat berbincang dengan Lexi.


"Mungkin sedang tidur." Jawaban asal meluncur dari mulut Steve. Ekor matanya menangkap jika Neal baru saja turun dari bangku bar. Berjalan menuju ke lantai dansa.


Steve merapatkan tubuh mereka, kepalanya menunduk, membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Awalnya Lily tertawa mendengar apa yang dikatakan Steve. Namun, kemudian manik mata wanita itu membeliak kaget. Lily mundur beberapa langkah, menutup mulut dengan kedua tangan.


"Ahh," Lily memekik saat tangannya ditarik paksa. Neal lah pelakunya.


"Kita harus pergi!"


"Aku tidak ingin pulang denganmu. Pergilah." Lily mendorong Neal menjauh darinya.


"Jangan memancing amarahku, pelacuur!" Neal mengusap hidungnya dengan kasar. Manik pria itu merah menyala. Selain di bawah pengaruh alkohol, Neal juga baru mengonsumsi narkoba dalam jumlah berlebihan.


Ekor mata Steve menangkap sosok seseorang. Pun ia segera beranjak, meninggalkan Lily dan Neal.


___


Steve menikmati secangkir kopi sambil menonton berita yang sedang disiarkan. King Axe menjadi sorotan. Aksi pembunuhan terjadi. King Axe yang semalam penuh dengan sesak dengan manusia-manusia yang penuh dengan masalah, kini terlihat damai, kosong, sepi, dan diberi pemanis berupa police line.


Aksi pembunuhan itu begitu brutal. Lily menjadi tersangka. Dan gadis itu memang mengakuinya.


"Aku memecahkan botol, menancapkannya ke dalam mulutnya. Dia menyebutku pelacuur." aku wanita itu dengan deraian air mata, tapi pandangannya terlihat kosong. Tubuhnya gemetar ketakutan. Penampilannya tampak berantakan. Riasan make up yang mulai luntur mengotori wajah wanita itu. Benar-benar sangat berantakan. Cipratan darah memenuhi tubuhnya. "Dia hampir melecehkanku, aku tidak tahu kenapa ada gunting di sana. Aku memotong kelaminnya. Melepaskan benda itu dari tubuh Neal." Suara Lily bergetar, ketakutan itu diperjelas dengan jemarinya yang juga ikut gemetar. "Dia menjerit histeris. Aku panik. Itulah kenapa aku memecahkan botol dan menancapkannya ke dalam mulutnya."


Steve tidak menunjukkan reaksi apa pun saat Lily memaparkan aksinya yang brutal. Wajah pria itu tenang, menghayati apa yang disampaikan Llily, juga mengamati wajah wanita itu dengan seksama.


Berita pengakuannya tersebut beralih ke tempat lain. Kini, Lily sudah berganti pakaian. Kedua tangannya diborgol. Wanita itu dalam pangawasan untuk diamankan ke kantor polisi. Makian terdengar, orang tua Neal menyerbu kerumanan, menghajar Lily juga melontarkan kalimat-kalimat hinaan yang tidak pantas. Polisi membiarkan aksi tersebut hingga beberapa menit. Tepatnya setelah Lily pingsan tidak sadarkan diri. Steve menyoret nama Neal dari notesnya. Pun ia mematikan siaran televisi. Ia perlu istirahat.