H.U.R.T

H.U.R.T
Bye



"Kenapa aku tidak boleh menatap langsung ke matanya?"


Lexi kini berada di dalam dekapan Steve. Keduanya berpelukan dengan begitu sangat erat, seakan ini adalah pelukan terakhir mereka. Dan sepertinya ini memang akan menjadi yang terakhir.


Steve meletakkan hidungnya di pucuk kepala Lexi. Menghirup aroma gadis itu sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya, serakus-rakusnya dan pada akhirnya Steve sadar bahwa ia tidak akan pernah terpuaskan.


"Steven..."


"Hmmm?"


"Aku sedang bertanya."


"Oh. Aku lupa apa pertanyaannya. Bisa kau ulangi?"


Lexi hendak mengurai pelukan mereka tapi Steve enggan melonggarkan pelukannya.


"Jangan. Jangan dilepas dulu."


Lexi kembali melingkarkan tangan di pinggang pria itu dan membenamkan wajah di dadaa Steve.


"Aku baru tahu jika dadaamu sangat bidang. Kau pasti berusaha keras untuk mendapatkan tubuh menarik seperti ini." Tanpa sadar Lexi memainkan jemarinya di sana. Mengusap perlahan dan penuh hati-hati.


"Aku tidak menyangkal hal itu. Kau suka?"


Lexi tersenyum simpul, "Pertanyaannya agak nyeleneh mengingat aku akan menikah dengan Harry. Aku menolak untuk menjawab."


"Aku tidak akan memaksa kalau begitu. Tapi aku bisa menebak jika kau sangat menyukainya."


Lexi tertawa, disusul dengan tawa rendah pria itu.


"Apa yang sedang kita lakukan, Steve?"


"Berpelukan."


"Ya, kau benar."


Kembali keduanya tertawa. Tawa yang justru terdengar sangat menyedihkan daripada sebuah raungan. Kedua insan itu terlihat sangat bodoh dan menyedihkan. Sama-sama berusaha menutupi apa yang mereka rasakan.


"Steven?"


"Lexi."


"Kau belum menjawab pertanyaanku?"


"Bisa kau ulangi pertanyaannya?"


"Kenapa tidak boleh melihat matanya?"


"Dia bisa mengambil alih pikiranmu dan yang akan terjadi adalah petaka."


"Benarkah?"


"Ya, tolong ingat itu."


"Aku akan mengingatnya. Steve, boleh aku meminta sesuatu?"


"Tentu. Aku belum pernah memberikan apa-apa padamu, aku akan mengabulkannya."


"Bahagialah. Kejar kebahagiaanmu."


Dering ponsel kembali memberi alarm bahwa acara pelukan ini juga sudah harus berakhir. Steve maupun Lexi sama-sama melepaskan tangan mereka. Melangkah mundur, menjauh satu sama lain.


"Pasti kukejar. Terima kasih, Lexi. Terima kasih untuk semuanya. Untuk pelukan yang begitu hangat, untuk cintamu yang luar biasa walau sekarang sudah tidak bersisa lagi," kelakarnya seraya menipiskan bibir.


"Kau tetap pemeran utama dalam hidupku yang akan tersimpan rapat di dalam sanubariku."


Steve tersenyum, "Ucapanmu seperti obat bagiku. Baiklah, sudah saatnya berpisah. Maafkan aku."


"Maaf untuk apa?"


"Maaf untuk semuanya. Untuk penolakan yang pernah kulakukan yang pastinya menorehkan luka di hatimu dan perjuanganku yang tidak maksimal yang pada akhirnya membuat luka yang kutorehkan kembali menganga. Aku akan menebusnya kelak."


"Kau pasti menjadi pengantin terindah yang pernah kulihat."


Lexi tersipu, "Semoga aku tidak mengecewakanmu di hari itu."


"Harry beruntung dan kau juga beruntung mendapatkan pria terhormat sepertinya."


"Ya. Aku menyukainya."


"Dia mencintaimu."


"Hmm, aku merasakannya. Bye, Steven."


"Bye, Lexi."


Dan kali ini Lexi benar-benar pergi, tidak menoleh ke belakang lagi dan Steve juga tidak menghalangi langkahnya lagi karena ia sudah tidak memiliki alasan untuk itu. Bahkan setelah Lexi masuk ke dalam mobil dan mobilnya meninggalkan rumah orang tua Steve dan tidak terlihat lagi, Steve masih bergeming di sana.


Merelakan dan mengikhlaskan tidak semudah yang terucap. Ini berat, sangat berat. Rasanya sakit, lebih sakit dari hujaman peluru yang menembus kulitnya.


"Harusnya kau menculiknya. Kau punya kesempatan yang begitu besar," suara Roxi membuatnya sadar bahwa Lexi sudah tidak terlihat lagi. Sudah menghilang dari pandangannya.


"Kau sungguh ingin membuatku menjadi pria brengsek dengan cara menculiknya, Roxi?"


"Kau memang sudah brengsek, Kawan."


Steve berdecak, ia bergerak, masuk kembali ke dalam rumah. Roxi menyusulnya, menyesuaikan langkah mereka.


"Menjadi pria brengsek lebih baik dibanding dengan berakhir menjadi pria menyedihkan."


Ucapan Roxi benar-benar membuat Steve ingin mengadu ototnya dengan pria itu. Ingin rasanya ia merontokkan gigi Roxi karena apa yang dikatakan lelaki sialan itu mulai mempengaruhinya. Ide itu sudah sejak lama bersemayam di otak liciknya. Tapi haruskah ia melakukan itu?


"Aku penasaran apakah Pax Willson tahu jika kau mempunyai niat buruk terhadap putrinya?"


"Bukan aku, tapi kau." Roxi tertawa santai, dirangkulnya pundak Steve seraya memberikan pijatan lembut di bahu pemuda depresi itu. "Aku hanya memberi saran."


"Dan saranmu tidak bermutu." Steve melayangkan sikunya di perut Roxi sampai-sampai pria itu meringis kesakitan. "Pergilah. Jangan membuat suasana hatiku semakin buruk."


____


"Jadi Brian dibawa oleh Darren Willson?" Suaranya menyiratkan kekesalan.


Brian sudah ia targetkan sebagai makanan penutup dalam aksi balas dendamnya. Pria yang mengusung agar ia diperkosa secara bergilir. Olivia tidak akan pernah melupakan tawa keji di wajah pria itu saat Olivia memohon ampun, memohon pertolongan atas aksi bejat mereka baik kepada dirinya.


Sore itu, Olivia merangkak berusaha menggapai kaki Brian agar pria itu mengeluarkan perintah agar teman-temannya berhenti menggagahi Olivia. Sebelumnya, Brian sudah terlebih dahulu melakukannya, merampas kesuciannya. Olivia benar-benar merendahkan harga dirinya pada hari itu dengan tetap memohon kepada pria yang sudah memperkosanya.


Laungannya diabaikan pria itu. Brian justru tertawa, sangat terhibur dengan aksi di hadapannya.


Dan sekarang, mangsa yang menjadi targetnya diambil oleh Darren. Saat ini, ia benar-benar sangat marah.


"Aku akan berusaha menemukannya," Arthur berdiri di belakang Olivia, memijat lembut bahu wanita itu. "Untuk saat ini bermain-mainlah dengan Fread. Omong-omong, apa kau tahu jika Darren dan Lexi adalah anak dari mafia Gerald Devile. Pria yang terobsesi menguasai dunia di genggamannya."


"Kau sudah pernah mengatakannya. Mereka memang sangat serakah. Apakah sebelum membawa Brian bersamanya, Darren membunuh Presiden?"


"Aku tidak tahu dan akan segera mencari tahu. Sebaiknya kau istirahat. Biar aku dan Riston yang akan mengurus semuanya."


Arthur maju ke hadapannya, pria itu kemudian merungkuk untuk menyelipkan tangannya ke bawah pahaa gadis itu untuk menggendongnya ke kamar.


"Apa kau mendapat undangan?"


"Undangan?"


"Pernikahan Lexi dengan si pangeran."


"Belum, aku belum mendapatkannya."


"Lalu bagaimana kita akan masuk ke sana?"


"Aku sudah memikirkannya. Itu masalah yang sangat mudah. Sekarang sebaiknya kau tidur. Kita akan membahasnya begitu kau bangun."


Olivia mengangguk saat Arthur merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memang sangat lelah. Tidur untuk beberapa jam sepertinya memang sangat ia butuhkan.