
"Steven..."
"Hmmm?"
"Steven..."
"Ya, Lexiii sayang."
"Ponselmu berdering."
"Abaikan."
"Suaranya mengurangi konsentrasiku, kenikmatannya berkurang. Suaramu yang serak nan seksih tidak bisa kudengar. Bisakah kau mematikan ponselmu sebelum kita masuk ke acara inti."
Steve yang sedang berpesta di ceruk leher istrinya mau tidak mau harus menghentikan kegiatan menyenangkan itu. Apa gunanya bercinta jika tidak bisa dinikmati istrinya yang super dalam segala hal. Lexi ingin kegiatan bercinta mereka diisi dengan kesunyian yang syahdu. Lexi ingin hanya ada suara mereka yang saling bersahutan. Tidak ingin ada musik atau suara-suara lainnya. Bagaimana dengan suara jangkrik? Itu perkara lain ya, Genk!
"Sebentar, aku akan menyingkirkan pengacau itu. Tetap di tempatmu dan pada posisi seperti ini," Steve menyapu seluruh tubuh istrinya dengan liar. Saat ia mengembalikan tatapannya ke wajah sang istri, ia akan menemukan rona merah jambu di pipi Lexi.
"Ya ampun, kau selalu membuatku gila."
"Aku senang saat kau tergila-gila padaku. Cepat matikan ponselmu dan kembali manjakan aku!"
"Siap, boss lady," Steve mengerling jenaka. Sebelum ia beranjak dari tempat tidur, ia sempatkan untuk mengecup bibir istrinya. Steve juga tidak repot-repot membungkus tubuhnya yang terekspos. Dasar tidak tahu malu!
Ia melenggang santai melintasi ruangan, mempertontonkan punggungnya yang menyisakan luka, bukti penderitaannya.
"Saat kau berpenampilan sempurna, aku jatuh cinta padamu."
Langkah Steve berhenti, ia berbalik menatap wajah istrinya. Tindakan manis yang selalu dilakukan Steve. Selalu menatap wajah istrinya saat wanita kesayangannya itu berbicara.
"Sekarang aku berpenampilan sempurna?"
"Kau menunjukkan dirimu sepenuhnya. Tidak ada yang ditutup-tupi," manik Lexi memancarkan cinta yang begitu luar biasa, membuat Steve semakin merasa percaya diri. "Aku menemukan diriku semakin mencintaimu saat melihat jejak luka di tubuhmu. Aku semakin cinta mati saat melihat ketidaksempurnaanmu, Percy!"
Steve tersenyum, senyum yang menambah kadar ketampanannya. Ia kembali bergerak maju untuk memberi hadiah pada mulut manis istrinya yang membuat debaran jantungnya mengentak-entak tidak karuan.
Namun, baru satu langkah, ponselnya kembali berdering nyaring. Jika Steve tidak salah menghitung, ini sudah panggilan yang kelima.
Bawahannya tidak akan pernah mengulangi panggilan untuk kedua kalinya jika panggilan pertama tidak dijawab olehnya yang artinya dia memang tidak ingin diganggu. Lantas, ada hal mendesak apa hingga ponselnya berdering sebanyak lima kali secara berturut-turut.
"Tunggu sebentar," Steve kembali melangkah mengambil ponselnya yang terletak di sofa.
"Beth," alisnya menukik. Beth bukan orang yang akan menghubunginya jika tidak ada hal yang mendesak.
"Maaf, Sayang, aku harus berbicara dengan Beth. Kau bisa menunggu sedikit lebih lama?"
"Tiga menit."
"Oke, tiga menit. Aku akan kembali ke ranjang sebelum tiga menit."
Gedoran di pintu memberi alarm kepada mereka bahwa sepertinya acara mereka memang harus ditunda. Bukan tiga menit lagi.
"Steve..." Terdengar suara Austin. Steve semakin yakin bahwa memang ada yang tidak beres.
Pria itu meletakkan ponselnya kembali. Ia berjalan menuju lemari, mengambil pakaian yang layak untuk istrinya.
"Sepertinya kita akan sering mengalami hal semacam ini jika tinggal bersama keluargamu," ucap Steve sambil membantu Lexi mengenakan pakaiannya..
"Kita bisa mengabaikannya," Lexi menyahut enteng. "Kita bisa berpura-pura tuli."
"Ayah mertua dan kedua iparku akan bergotong royong menghajarku. Aku tidak akan bisa bertarung dengan mereka karena milik mereka yang berharga sudah kucuri dan kujadikan tawanan seumur hidup. Rapikan rambutmu. Aku akan membuka pintu." Steve menyambar asal celana dan mengenakannya.
"Ada apa?" Steve langsung bertanya begitu pintu dibuka dan menemukan wajah Austin. Iparnya itu melirik ke lehernya dan ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar decakan atau pun kalimat umpatan yang ditujukan padanya.
🍬
Dua puluh menit kemudian, Steve dan Austin sampai di rumah yang dulu ditempati Steve. Dan sekarang Beth lah yang menempati rumah tersebut.
Beth duduk di sofa dengan wajah kacau, beberapa polisi yang menginterogasi membuatnya semakin membuatnya frustasi.
"Bagaimana bisa kalian menuduhku untuk hal yang tidak kuyakini kulakukan. Aku menolak tuduhan itu!"
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa Santos secara cuma-cuma masuk ke kandang harimau menyerahkan diri untuk dilahap secara cuma-cuma bersama kekasihnya."
"Wanita itu bukan kekasihnya." Beth meluruskan. "Belinda hanya seorang wanita panggilan."
"Kau bisa terjerat pasal berlapis, Kawan. Kau tidak memiliki izin resmi memelihara harimau tersebut. Kau dengan sengaja membuatnya lapar dan menjadikan Santos juga wanita itu sebagai santapan."
"Tuduhan macam apa ini?! Kenapa aku harus membunuh Santos? Aku tidak mempunyai alasan untuk menyingkirkannya. Ya, Tuhan, lelucon macam apa ini?! Dan mengenai harimau sialan itu, itu bukan milikku!"
"Ck! Juliet akan tersinggung jika dia mendengarnya," suara Steve menginterupsi.
"Di mana Juliet? Dia baik-baik saja?"
"Aku dalam masalah, Kawan, dan kau justru mempertanyakan kabar binatang itu. Dia memberiku masalah, Steve!"
Bukan hanya Beth yang kesal, Austin pun tampak kesal dengan respon iparnya itu terhadap situasi ini.
"Steven Percy adalah pemilik sah binatang itu. Jika kalian ingin menuntut perkara binatang yang diabaikan. Tuntut saja dia," Beth mengusap wajahnya dengan kasar.
Tadi malam, ia pergi ke klub ternama, seperti biasa, ia bersenang-senang. Bersenang-senang dalam konotasi negatif. Ia mencoba menghubungi Austin, tapi pria itu menolak untuk datang. Jadilah, Beth bermain sendiri. Tanpa ia duga, ia bertemu dengan teman lamanya. Santos da Costa. Rekannya dulu saat menjadi perwira.
Ya, sebelum bergabung dengan Steve, Beth merupakan perwira yang diberhentikan secara tidak terhormat. Dan ia tidak pernah menyesali hal itu. Santos merupakan rekan terdekatnya. Keduanya selalu diutus menjadi pemimpin, kapten, saat mereka berperang di perbatasan. Ayolah, ia tidak memiliki dendam terhadap Santos.
"Kau pemilik hewan buas itu, Mr. Percy?"
"Ya, namanya Juliet. Kuharap kalian tidak menyentuhnya dengan kasar."
Polisi itu berdehem, ikut merasakan kekesalan Beth dan Austin. Apakah Steve tidak melihat situasi di sekelilingnya. Beberapa polisi sibuk membuat dokumentasi. Rumahnya difoto dari berbagai sisi. Polisi dan para detektif tampak berunding melakukan diskusi.
Saat Steve berusia 17 tahun, penampakan seperti ini membuatnya takut dan marah. Sekarang, kejadian seperti ini tidak berarti apa-apa. Yang perlu ia ketahui, siapa yang sudah dibunuh temannya, Beth.
"Apa yang terjadi?" Austin bertanya menyuarakan apa yang ingin diketahui Steve.
Polisi menjelaskan apa yang terjadi secara singkat tapi Steve dan Austin bisa menangkap inti permasalahannya dengan jelas. Beth dalam masalah. Terjebak.
"Kau membunuh Santos dan kekasihnya?" Steve bertanya kepada Beth
"Wanita itu bukan kekasihnya. Aku tidak membunuhnya." Beth mengeraang frustasi, bosan menjawab pertanyaan yang sama secara berulang kali.
"Jika Beth mengatakan dia tidak membunuh Santos dan wanita itu, artinya dia memang tidak membunuhnya."
"Kami masih melakukan penyelidikan dan kau sudah mengambil kesimpulan. Bukankah ini tindakan yang sangat sopan, Mr. Willson?" Polisi itu menyorot Austin dengan tajam.
"Ini namanya kebebasan bersuara dan berpendapat."
"Berapa kali harus kukatakan bahwa Santos dan wanita sialan itu sudah pergi dari rumahku... Ehmm, maksudku dari rumah ini," Beth segera meralat saat melihat Steve menukik sebelah alisnya. Astaga! Kenapa pria itu perhitungan sekali. "Mereka sudah berpamitan pulang. Itulah hal terakhir yang kuingat."
"Permisi..."
Setelah beberapa menit mendengar suara berat yang saling berdebat, suara seorang wanita membuat atmosfer ruangan itu seketika berubah. Semuanya hening dan kompak menoleh ke sumber suara.
"Jossie?"