H.U.R.T

H.U.R.T
Steve Sang Provokator



Seperti yang diinginkan Darren, ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit keluarganya. Seminggu di sana, pun ia meminta dipulangkan ke rumah orang tuanya. Tidak ada bantahan seperti yang terjadi di rumah sakit saat mereka di Brooklyn. Ya, iyalah, rumah sakit milik mereka. Akan ada dokter yang datang memeriksanya setiap hari.


Lebih dari satu minggu, kasus penembakan itu belum menemukan titik terang sama sekali. Apakah para aparat yang terlalu lalai atau Bartoli yang memang terlalu cerdik.


"Darren, akhirnya kau pulang ke rumah. Selamat datang." Lexi menghambur ke dalam pelukannya, menghadiahi saudaranya tersebut dengan banyak kecupan. Darren membalas kecupan bertubi-tubi itu dengan satu kecupan hangat di pelipis Lexi.


"Aku senang melihatmu masih di sini."


"Ya, kami akan menginap di sini sampai aku melahirkan keponakanmu."


"Kuingat, suamimu sudah mengatakan menginap selama delapan bulan artinya pindah."


"Apapun namanya, aku dan Steven akan di sini dalam waktu yang tidak ditentukan. Kami akan menempati kamarku dan kau tenang saja, kamarku sudah kedap suara. Steven mengubahnya dengan segera," Lexi terkikik geli mengigat alasan Steve tiba-tiba membuat kamarnya menjadi kedap suara. Lexi memang tidak bisa menahan suaranya yang menjerit-jerit meneriakkan nama Steve saat suaminya itu mulai menyentuhnya. Ya ampun, Steve memang selihai itu. Ia selalu merasa dimanjakan.


Darren berdehem, tidak tahu harus menanggapi pernyataan Lexi seperti apa. Yang ia lakukan akhirnya melayangkan tatapan menghunus kepada iparnya.


"Apa yang salah," Steve langsung bisa mengartikan tatapan yang memang seolah sedang mengatakan: pengaruh buruk apa yang kau berikan kepada adikku!


"Lexi sayang, kemarilah, jauhi saudaramu." Steve menarik tangan istrinya dengan lembut. "Jika tidak begitu bagaimana bisa aku memberikan cucu kepada mertuaku yang sudah sangat menginginkannya. Bukan begitu Pax Willson-, Ouhh..." Steve meringis begitu mendapat cubitan di perutnya dari sang istri. "Aku merasa dekat jika menyebut nama ayah mertua, Sayang."


"Tetap saja ayahku bukan koncomu yang bisa kau ajak nongkrong bersama." Austin melayangkan tinju ke bahunya.


"Maaf, aku juga tidak pernah bermimpi untuk nongkrong bersamanya. Pasti akan sangat kaku sekali."


"Abaikan saja, Aus. Biarkan dia senang. Dia sudah cukup menderita selama ini."


Celetukan ayah mertuanya membuat senyuman nakal di bibirnya memudar. Pax selalu mengungkit penderitaannya saat pria tua itu tidak memiliki bahan untuk menyerangnya. Dasar picik!


"Ouh, Ayah mertua, kau pengertian sekali."


"Aku akan mengantarmu ke kamar." Steve berdiri di belakang kursi roda, mendorong kursi roda tersebut.


"Kau dalam masalah. Tidak ada lift di sini. Kursi rodanya tidak bisa melewati tangga..."


Darren tiba-tiba berdiri dari kursi tersebut, "Tapi kakiku bisa." Darren berjalan dengan santai. "Yang terluka adalah tulang belikatku. Bukan kakiku. Kamarku tepat di sebelah kamar Lexi, kuharap kita saling menjaga privasi masing-masing. Saling menghargai adalah kunci kedamaian."


"Segeralah menikah."


Darren mendengus, "Apa hubungannya?"


"Agar kau tahu bahwa sikap menghargai dan saling menjaga privasi akan hilang begitu kau bersenang-senang dengan istrimu. Omong-omong, aku tidak pernah melihatmu berkencan. Kau normal?"


Darren praktis menghentikan langkah, berbalik menatap Steve. Maniknya berkilat geli. Pertanyaan konyol macam apa ini?


Darren menuruni satu anak tangga lalu mencondongkan dirinya ke arah iparnya. Steve otomatis memundurkan tubuh hingga ke pembatas tangga.


"Kau sangat mengenalku. Pria sepertimu jelas seleraku. Datanglah ke kamarku jika adikku sudah tidur," Darren dengan sengaja menghembuskan napasnya ke telinga Darren.


Steve tersedak, terbatuk-batuk. Dengan kasar ia mendorong tubuh Darren menjauh darinya.


Prang!!


Darren dan Steve kompak berjengit dan menoleh ke sumber suara. Di sana ada Isabell yang menatap keduanya dengan tatapan mual seperti sedang menahan sesuatu.


"Isabell..." Darren yang menyadari apa yang dipikirkan gadis itu berusaha untuk menjelaskan. Apa yang merasukinya hingga bertindak konyol seperti tadi. Ini semua gara-gara Steve! Pria ini memang pembawa petaka. Setelah meracuni Lexi, kini dirinya yang tercemar dengan kemesuman pria itu. Astaga! Sejak kapan ia meladeni hal konyol menjijikkan seperti tadi.


Tangan Isabell gemetar memunguti beling kaca tersebut.


"Tanganmu gemetar, Isabell. Minta pelayan membersihkannya.''


Isabell tidak mendengarkan peringatan yang dilayangkan Steve. Kata-kata Darren masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Isabell, tanganmu..."


"Arghh..." Dan jari itu kembali terluka.


"Brengsek!!"


Isabell langsung mendongak. Menatap ngeri ke arah Darren. Mengira umpatan kasar itu ditujukan kepadanya.


"Tanganmu terluka. Kau tidak mendengarkanku, Isabell." Steve menuruni tangga, berniat untuk mendekati gadis itu. Steve langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Austin melintasi ruangan.


"Apa yang terjadi?" Austin langsung menarik Isabell agar berdiri. "Ya, Tuhan, kenapa kau suka sekali melukai jarimu," Austin mengisap darah di jari Isabell lalu meniupnya. "Aku akan mengambil plester. Berhati-hatilah, Isabell." Austin meninggalkan mereka untuk mengambil plester dan Isabell dengan bodohnya kembali berjongkok untuk membersihkan beling tersebut.


"PELAYAN!"


Isabell refleks berteriak dan terduduk mendengar suara Darren yang tiba-tiba menggelegar.


"Astaga, gendang telingaku hampir pecah," Steve mengorek telinganya, menyorot kesal ke arah iparnya yang memasang wajah masam. Kekesalan di wajah Steve sirna, berubah menjadi kernyitan lalu di detik selanjutnya sebuah senyuman mengejek tersungging di bibirnya.


"Ada apa? Apakah ada yang kebakaran?" Sifat jahilnya mulai kumat. "Selamatkan dirimu, Dude." Steve menepuk pundak Darren yang ditepis pria itu dengan kasar.


"Astaga, ada apa ini? Apa lukamu baik-baik saja?" Ibunya muncul dari dapur masih mengenakan apron dan tangan kanannya menggenggam spatula.


Bukan hanya ibunya yang mendadak muncul, tiba-tiba semuanya sudah ada di sana.


"Apa yang terjadi dengan Isabell, kenapa dia menangis?" Lexi duduk disebelah gadis itu, merangkul pundaknya. "Oh, ya ampun, jarinya terluka."


"Mom, jari Isabell terluka. Isabell sampai menangis. Sepertinya beling kaca menancap di jarinya. Rasanya pasti sangat perih sekali."


"Tidak ada beling kaca, aku sudah memeriksanya. Kenapa kau berjongkok lagi? Kau memunguti belingnya lagi?" Austin kembali membantu Isabell berdiri dan kemudian membantu Lexi.


"Aku tidak ingin ada yang terluka," Cicit Isabell.


"Apa rasanya sakit?"


Isabell menggeleng, "Hanya sedikit perih."


"Lalu kenapa kau menangis?"


"Darren membentaknya."


Semua langsung menatap Darren dengan sorot mata membunuh.


Darren hanya bergeming, menatap semuanya dengan ekspresi tenang, flat dan tidak terbaca. Pria itu kemudian memiringkan kepala, menatap iparnya, Stev, sang provokator.


"Dasar bedebah!" Ucapnya dengan sinis lalu beranjak pergi tanpa menjelaskan apa pun lagi. Ia bersumpah akan menghajar Steve begitu luka di tangannya sembuh.


Apa sebenarnya dendam pria itu padaku? Darren menggerutu, menahan dorongan untuk berbalik melayangkan tinju di wajah Steve.