
"Kenapa bisa seperti ini?!" Darren menatap berang orang-orang yang bertugas menjaga keamanan rumahnya. Semua anak buah mereka dikurung dalam gudang. Penyusup yang berhasil diamankan ternyata merupakan pekerjaan anak buah Sreve. Entah ini suatu drama konyol atau motif tersembunyi, yang pasti Darren tidak percaya jika ini kebetulan atau Steve sedang bermurah hati.
"Kenapa kalian diam! Apakah aku harus menarik lidah kalian satu persatu agar bisa berbicara?! Hah?! Dua puluh lima orang! Hei, jangan membuatku tertawa!" Prang! Sebuah meja menjadi amukan amarahnya. Siapa yang tidak marah diserang di kandang sendiri dan ia tidak bisa berkutik sama sekali. Ayah, ibu, dan adik-adiknya dijadikan sandra. Senjata ditodongkan ke kepala ayah dan ibunya. Darren benar-benar tidak bisa menerima hal itu. Ini penghinaan!
"Keahlian kalian sudah diuji sebelum menjadi anggota. Lalu kenapa ini bisa terjadi?! Jawab aku, Sialan!" Darren mencengkram leher salah seorang dari mereka. "Kenapa hal ini bisa terjadi, Tom?!"
"Aku tidak tahu." Jawaban yang sama terdengar untuk kesekian kalinya dari orang kepercayaannya tersebut. Jawaban bodoh yang sangat tidak masuk akal. Tidak tahu? Jawaban yang justru membuat darah Darren mendidih.
Bugh!
Kepalanya ia benturkan ke wajah Tom. Darah segar langsung bercucuran dari hidung pria kekar tersebut. Tidak ada perlawanan berarti yang diberikan yang diberikan Tom kepadanya. Sadar akan memang kesalahan mereka yang cukup fatal. Dan hal ini baru terjadi kali ini. Di rumah utama.
"Hentikan." Sebuah teguran keluar dari mulut sang ayah. Satu-satunya orang yang bisa membuat amarahnya mereda karena rasa hormat yang begitu besar terhadap sang ayah.
Darren menarik napas panjang sebelum berbalik menatap sang ayah. Sesungguhnya ia juga kesal kepada pria yang begitu dicintainya itu. Bagaimana bisa ayahnya diam saat sebuah senjata ditodongkan kepadanya. Darren yakin meski ayahnya sudah tua, keahlian bertarung ayahnya tidak akan pudar sama sekali. Ya, walau ia akui anak buat Steve cukup gesit dan lihai. Seorang Austin saja bisa mereka lumpuhkan dengan begitu mudah. Tiga orang, biasanya dengan mudah diatasi Austin. Tapi kali ini, adiknya itu gagal. Ya, jangankan Austin, Darren pun tidak berkutik. Memangnya siapa yang bisa berkutik saat keluarga sendiri dijadikan sandra. Semuanya akan lemah, tidak terkecuali Darren dan Austin.
"Dan apa yang kau lakukan, Dad? Melarang Uncle Ansel dan yang lain untuk datang membantu?"
"Tidak ada gunanya melibatkan keluarga yang lain di dalam masalah ini yang justru akan membuat kelemahan kita semakin banyak."
"Satu-satunya masalah yang terekam otakku adalah kau membiarkan penyusup itu menarik perhatian putrimu!"
"Kau sedang marah kepadaku, Dude?"
"Jika aku katakan ya, apakah kau akan marah kepadaku?" Darren merendahkan nada suaranya. Kedua pria menawan itu saling menatap satu sama lain. Keduanya kemudian kompak menarik napas lelah.
"Daddy akan merasa sangat sedih."
"Ck!" Darren memalingkan wajah. Tidak berdaya jika ayahnya sudah mengatakan hal demikian. Matanya menangkap sosok Austin yang sedang mengobati luka di wajah tampannya. Terlihat seperti spesies asing yang sama sekali tidak terlalu peduli dengan kekacauan yang terjadi. Benar-benar pria dewasa yang tidak pernah matang.
"Asuransikan wajahmu jika kau takut kulitmu tergores." Celetukan sarkas itu terlontar dari mulut Darren.
Austin menoleh sekilas, hanya sepersekian detik. "Ide bagus. Investasi jika sewaktu-waktu aku didepak dari keluarga ini."
"Menurutmu, bagaimana bisa orang kita terkurung di dalam suatu gudang, Aus." Darren berjalan menghampiri adiknya. Duduk di seberang pria itu.
"Tom mengatakan tidak tahu. Artinya ia tidak sadar. Mungkin dia dihipnotis," sahutnya acuh. Darren hanya bisa menarik napas untuk kesekian kalinya. Entah kapan adiknya bisa bersikap serius.
___
"Lukanya cukup dalam dan lebar. Siapa yang mengeluarkan pelurunya? Dia mengobok-obok terlalu dalam. Untung saja tidak ada saraf yang terputus."
"Obati saja, tidak usah banyak bicara."
"Sam mengatakan kau marah kepadanya."
"Mereka bertindak sebelum ada perintah. Rencanaku gagal dan berantakan."
"Aturan pertama, dalam setengah jam anggota tidak keluar dari TKP, kita wajib beraksi. Seingatku, kau yang membuat aturan tersebut, Kawan. Kau tidak muncul bahkan setelah satu jam kekacauan itu terjadi."
Ya, bagaimana ia keluar, Steve mengunci diri bersama Lexi di dalam kamar. Melakukan hal konyol menurutnya.
"Anggota, Beth. Anggota." Steve menekan kata anggota di akhir kalimatnya. Pria bernama Beth tersebut tergelak. Ya, Steve bukan anggota, melainkan salah satu ketua.
"Kudengar kau juga habis berkunjung dari ruang bawah tanah."
"Suasana hatiku sedang tidak bagus."
"Hidungmu bisa patah jika kau mengatakan berita tersebut."
Beth tergelak mendengar ancaman rekannya tersebut. Ancaman tersebut tidak lantas membuatnya takut. "Riston bergabung dalam kelompok Darkness."
Riston, nama itu seketika membuat saraf-sarafnya tegang seketika. Selain masa lalunya di sekolah, Riston adalah parasit yang juga harus ia musnahkan dengan tangannya sendiri. Mungkin dengan kematian Riston, Steve baru berani menatap wajah di depan cermin. Selain Riston, tentunya Pax juga memiliki peran dalan hal ini.
"Apakah informasimu akurat?"
Beth mengidikkan bahu. Tidak terlalu yakin dengan berita yang ia sampaikan. Ia hanya mendengar sekilas kabar burung yang beredar di dunia gelap. Kelompok Darkness sendiri begitu senter terdengar, namun tidak ada yang tahu apakah benar ada kelompok tersebut. Nyatanya, hingga detik ini keberadaan kelompok tersebut tidak pernah terlihat.
"Aku harus pergi." Steve berdiri dari kursinya.
"Lukamu belum kering."
"Aku harus menjemput Oleshia."
Beth mengangkat kedua tangannya. Jika nama Oleshia sudah disebut, maka tidak ada alasan untuk melarang Steve.
"Satu hari tidak bertemu dengannya tidak akan membuatmu mati, Kawan."
"Ya, tapi membiarkannya berkeliaran akan membuat beberapa pria mati serempak," sahutnya lempeng.
"Ya, ya, tidak ada yang bisa menolak pesonanya."
"Sampaikan pada Roxi, aku menantikan kelahiran bayinya."
"Dia tidak bisa dihubungi. Dia sedang jatuh cinta, Kawan."
"Persetan dengan cinta."
Beth tertawa sarkas, "Katakan itu pada dirimu. Kau bahkan lebih gila darinya, Steve. Kau bahkan tidak tertolong sama sekali."
Steve mengabaikan ucapan Beth. Ia masuk ke dalam toilet, ia butuh air dingin untuk mendinginkan otaknya. Luka yang belum kering ia abaikan. Rasa perih dari percikan air dingin tersebut tidak ia hiraukan. Luka yang lebih perih dari yang ia rasakan saat ini sudah ia tanggung berpuluh tahun lamanya. Luka tembak tidak akan ada apa-apanya.
"Steve, ponselmu berdering."
Ketukan dan seruan dari luar kamar mandi ia abaikan.
"Oleshia."
Steve tetap bergeming. Tidak menyahut sama sekali meski ia mendengar.
"Pesan masuk dari kekasihmu. Apa perlu kubacakan?"
Steve menggosok badannya dengan cairan sabun. Lagi dan lagi ia tidak menghiraukan ocehan Beth dari luar kamar mandi.
"Lexi Stevani Willson."
Brak!
Steve membuka pintu, merampas ponsel dari tangan Beth.
Seringaian nakal tergelincir dari sudut bibirnya. "Umpan ditangkap dengan sempurna."