
Jatuh cinta itu mudah, tapi tetap mencintai adalah sesuatu yang berbeda, dan kau bersama pasanganmu berhasil. Happy Anniversary, Elis!! Semoga semakin banyak hal indah yang terjadi pada kalian berdua.🥂
.
.
.
Hari masih terlalu sore untuk menikmati minuman haram memabukkan, tapi Harry sudah menghabiskan dua botol wine hingga membuatnya teler. Harry masih meminta botol ketiga disaat hari sudah menjelang malam. Entah sudah berapa lama dia ada di sana, duduk menyendiri. Austin juga tidak terlihat batang hidungnya. Sebelum mabuk, Harry sempat menghubungi pria itu dan ternyata Austin sedang berada di luar kota.
Harry menghabiskan botol ketiga, pria itu benar-benar ingin membuat dirinya mabuk hingga tidak sadarkan diri. Ponselnya terus saja berdering dan ia memilih untuk mengabaikannya, menjauhkan benda itu dari jangkauannya. Jika bukan ayahnya, pasti Jeff yang sedang menghubunginya.
Perlahan, ia beringsut. Perutnya melilit, diserang rasa mual luar biasa. Pun ia berjalan sempoyongan menuju toilet. Beberapa kali ia menabrak orang yang lewat di hadapannya, beberapa diantaranya ada yang kondisinya waras, setengah waras dan bahkan mabuk parah sepertinya. Saling melempar umpatan juga makian kasar pun tidak terhindar.
Bukannya menemukan toilet, Harry justru sudah berada di parkiran. Pria itu segera memuntahkan isi perutnya.
"Di mana mobilku," ia berkeliling di parkiran, memeriksa satu persatu mobil yang ada. Namanya juga orang mabuk, kepintarannya mendadak hilang. Alih-alih menekan remot mobil untuk mengetahui posisi mobil, Harry justru mengabsen satu persatu mobil yang ada di sana. Mabuk memang.
Beberapa berandalan yang juga sedang mabuk mengawasi pergerakannya. Kondisi Harry yang buruk, membuat para berandalan itu seolah menemukan jackpot.
"Ah, kau di sini rupanya," akhirnya Harry menemukan mobilnya. Ia membuka pintu kemudi dan sebelum berhasil masuk, para berandalan itu sudah berada di sampingnya menahan pintu mobil dan satu diantaranya menekan pisau di rusuknya.
"Serahkan kunci dan barang-barang berhargamu, Dude. Kau tidak akan selamat jika tidak bisa diajak bekerjasama dengan baik."
Harry menunduk melihat pisau yang dijadikan ancaman untuknya. Ia mendengus, tidak menunjukkan rasa takut akan bahaya yang mengintainya.
"Apa aku sedang dirampok?" ia justru bertanya ringan.
"Ya dan nyawamu sedang berada di ujung tanduk. Berikan kuncimu, keluarkan dompet dan lepaskan jam tanganmu."
"Tidak semudah itu, berandalan!" Harry mendesis, mendorong pisau itu menjauh darinya.
"Jika ingin uang, harta dan kekayaan, bekerjalah dengan giat."
"Ciih! Dia malah ceramah," salah satu berandalan menanggapi dengan nada mencemooh. "Sikat, Bor! Habisi dia."
Harry meladeni para berandalan itu. Ia bahkan menantang mereka untuk berduel dengannya. Kesadarannya yang menipis membuat fokusnya tidak jelas. Pukulan yang ia layangkan meleset berulang kali. Jangankan untuk membogem, sekedar berdiri saja sebenarnya dia sudah tidak kuat.
Bugh!
Satu tinju dari salah satu berandal berhasil membuatnya tumbang. Ia mengumpat, melontarkan segala makian yang ia tahu saat rekan si berandal mulai menggerayanginya untuk mengambil dompetnya. Jam tangan mahalnya juga tidak lepas dari sasaran para pencuri itu.
"Kantor polisi. Ya, saya ingin membuat laporan...."
Suara seseorang yang tiba-tiba muncul menghentikan aksi para berandalan itu. Mereka menoleh ke belakang, seorang gadis berpakaian serba hitam berdiri di sana, bersedekap dengan santai. Sebuah ponsel diarahkan kepada mereka, membidik foto mereka berulang kali. Sementara di telinga wanita itu, bahunya menjepit ponsel lainnya di telinga.
"Bar Senorita. Ada tiga pria setengah mabuk yang sepertinya satu komplotan, sedangkan korbannya adalah pria yang cukup rupawan dengan kondisi mabuk yang sangat parah. Ya, aku bisa mengirim wajah-wajahnya kepada kalian. Karena seperti yang kulihat sepertinya pada pemabuk ini akan melarikan diri."
Wanita itu terus saja berbicara, menyampaikan pengaduannya.
"Apa kau cari mati?!" pria yang memegang belati itu berjalan mendekati wanita itu. Wanita itu bergeming, tidak mundur sama sekali.
"Salah satu diantara mereka memegang pisau. Pisau dapur yang biasa digunakan para ibu untuk memotong sayuran. Tidak terlalu tajam, tapi masih bisa melukai perut. Tidak... Tidak... Jangan khawatirkan aku, Sherif. Aku ahli bela diri. Aku menguasai beberapa ilmu bela diri. Hm, mematahkan tangan lima preman kampung juga bisa kuatasi. Oh, ya, terima kasih jika kau sudah mengirimkan anggotamu."
Si pemabuk yang memegang belati itu sontak menghentikan langkahnya. Pria itu saling melemparkan tatapan satu sama lain. Berkomunikasi melalui telepati.
"Well, foto wajah kalian sudah ada di tangan polisi setempat. Hukuman bagi seorang pencuri juga lumayan. Tapi, kuyakin orang-orang seperti kalian bukan berandalan penakut, benar tidak? So, siapa yang akan berhadapan denganku terlebih dahulu?" wanita itu melemaskan otot lehernya, terlihat seakan-akan melakukan pemanasan sebelum bertarung.
"Hei, Brother, kau baik-baik saja?" wanita itu setengah berteriak saat melihat Harry berdiri dengan susah payah.
Harry tidak menjawab, ia sibuk mengusap wajahnya yang sakit. Sepertinya pria itu benar-benar tidak menyadari situasinya.
Sementara ketiga berandalan itu masih sibuk berdiskusi. Apakah mereka akan melanjutkan aksi atau menyelamatkan diri dari kemungkinan kejaran polisi. Wanita yang di hadapan mereka tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
"Astaga, hei, pemabuk, kenapa kalian justru berdiskusi. Ayo, hadapi aku."
"Hei, tinggalkan barang yang sudah kalian ambil!"
Dengan berat hati para komplotan pemabuk itu meletakkan barang yang mereka ambil, dompet, jam tangan juga kunci mobil. Mereka melayangkan melayangkan umpatan kasar pada wanita itu. Si wanita hanya mengidikkan bahu tidak peduli.
Setelah para berandalan menjauh dan tidak terlihat, wanita penyelamat itu mendekati Harry. Menyodorkan sebuah ponsel yang ternyata milik Harry yang tertinggal di dalam bar.
Harry menerima ponselnya dan tiba-tiba ambruk ke dalam pelukan wanita itu, memuntahkan isi perutnya di tubuh wanita penolongnya itu. Gadis itu menjerit, memaki, dan Harry tidak peduli. Setelah memuntahkan isi perutnya, Harry justru tidak sadarkan diri.
_____
"Tutup tirainya," suara Harry berat dan serak. Sinar matahari mengusik tidurnya. Ia masih belum ingin bangun. Kepalanya pusing luar biasa. Menghentak-hentak tiada ampun dan hal seperti ini sudah biasa ia rasakan selama beberapa bulan terakhir.
"Tutup tirainya, Jeff!" ia menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.
"Berikan aku air,- Sialan! Apa kau gila, Jeff..." Harry segera duduk, menyingkap selimut yang sudah basah karena disiram dengan sengaja.
"Siapa kau?!" Harry menyorot sosok wanita di hadapannya dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan kekesalan, kemarahan dan keterkejutannya.
Ia memendarkan pandangan ke segala sudut ruangan. Ini jelas bukan kamar hotel yang biasa ia tempati dan ruangan ini juga bukan salah satu kamar di hotel berbintang. Saat ia bergerak, tempat tidur yang ia tempati bahkan berderik mengeluarkan bunyi.
"Kenapa kau menyiramku?"
"Kau meminta air."
"Di mana ini?"
"Motel murahan."
"Kenapa kau memakai kemejaku?"
"Bajuku sedang dikeringkan karena kau mengeluarkan isi perutmu yang menjijikkan ke atas pakaianku. Kau ingat aku?"
"Ya. Apa sesuatu terjadi tadi malam, di sini?" Harry tidak berani menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya saat ia melihat celananya teronggok di lantai.
"Sesuatu seperti apa?"
"Ya, sesuatu... Hm, sesuatu... Aku sudah menikah."
Wanita itu menukik alis, "Apa aku bertanya tentang statusmu, Tuan?"
"Aku sengaja memberitahu."
Wanita itu mendengus, ia berbalik, duduk di dekat jendela. Satu-satunya kursi yang ada di sana.
Menyadari hal itu, pikiran Harry jadi melayang kemana-mana. Apakah mereka tidur di atas ranjang yang sama? Untuk bertanya, Harry tidak memiliki keberanian untuk mendengar jawabannya.
Ketukan di pintu memecahkan keheningan. Wanita itu beranjak, menyeberangi ruangan untuk membuka pintu. Tatapan Harry terpaku pada bokong wanita itu. Kemeja miliknya memiliki bahan yang tipis sehingga membuat dalamaan wanita itu terawang. Kemeja itu juga tidak cukup panjang, hanya mampu menutupi setengah pahanya.
Menyadari kenakalan matanya, ia malu sendiri. Buru-buru ia memalingkan wajah.
"Aku akan mengganti pakaianku dan mengembalikan bajumu." Wanita itu masuk ke dalam toilet.
Hanya beberapa menit, wanita itu sudah keluar dari dalam toilet, mengenakan kembali pakaiannya yang serba hitam.
"Kurasa kau sudah cukup sadar. Silakan bayar tagihannya di bawah." Wanita itu meletakan kemeja milik Harry di tepi ranjang. Pun wanita itu segera berlalu, melintasi ruangan menuju pintu keluar.
"Tu-tunggu..."
Wanita itu berhenti, memutar kembali tubuhnya, menatap Harry.
"Terima kasih atas bantuanmu tadi malam. Maafkan aku Ms... Siapa namamu?"
"Odelle, panggil saja Aku Odelle."