
Selamat bertambah umur HartaLea🐼🐾hs. Selamat hari pernikahan juga. Semua langgeng sampai maut memisahkan.
Semoga suka dengan Bab ini. Gagal ENd gegara kamu😌
Oke, mari kita lanjutkan cerita ini hingga ratusan bab!!!
.
.
.
"Kudengar akan ada lamaran di kediaman Willson."
Steve tidak menoleh pada seseorang yang duduk di sampingnya. Kepalanya menunduk memperhatikan wine yang ada di dalam gelas kristal. Jemarinya menekuri bibir gelas sedangkan tangan kirinya memegang sebatang rokok. Di hadapannya, asbak sudah penuh dengan puntung rokok. Entah sudah berapa ratus batang rokok yang ia nikmati dalam dua jam terakhir ini.
"Kacau?!"
"Enyahlah sebelum aku benar-benar mencekikmu hingga tidak bisa bernapas lagi, Olivia."
"Leherku masih sakit agar kau tahu, Steve. Sulit bagiku untuk menelan."
Ada memar di lehernya, Steve benar-benar tidak berbelas kasih padanya saat Olivia membongkar jati dirinya di hadapan Lexi. Andai Ibunya tidak menghentikan kegilaan Steve, mungkin Olivia akan benar-benar mati.
"Aku akan lebih bersungguh-sungguh lain kali," ucap pria itu acuh tidak acuh.
"Astaga, kau ternyata sangat kejam!"
"Tidak lebih kejam darimu."
"Hentikan perdebatan ini untuk sesaat. Kita perlu merayakan kehancuranmu. Kau butuh teman," ucap wanita itu dengan tidak tahu malunya.
Steve mengembuskan napas jengah, perlahan ia menoleh, mengangkat gelas miliknya. "Untuk awal kehancuranmu."
Olivia tertawa, "Untuk kehancuranmu, Sayang." Olive mendentingkan gelas mereka.
"Aku tidak akan hancur sendiri, Olivia. Kau akan menemukan kehancuranmu. Cepat atau lambat. Omong-omong, tes kehamilan siapa yang kau bawa ke hadapanku?"
"Tentu saja tes kehamilanku."
Steve menyesap minumannya, memperhatikan Olivia dari atas gelas tersebut.
"Pria mana yang berhasil menabur benih di rahimmu?" Sarkas pria itu dengan tatapan mengejek.
Olivia berdecak, "Kau berkata seolah-olah aku tidur dengan banyak pria."
"Kau memang tidur tidak hanya denganku saja. Karena kita sedang membahas ini, apa yang menarik dari seorang Arthur Cony."
Olivia sudah tidak terkejut lagi jika Steve tahu tentang affair yang ia lakukan bersama Arthur. Tidak ada gunanya juga mengelak dan menyembunyikan hal tersebut.
"Dia ada di saat terpurukku."
"Wah, ternyata hatimu tidak sepenuhnya diselimuti dendam. Kau masih bisa menerima empati seseorang. Jadi itu anaknya?" Steve menurunkan tatapannya ke perut Olivia. Ia tidak bisa membayangkan jika ia benar-benar membuat hamil Olivia atau pun wanita lain.
"Itu tespack dari hasil perbuatan bejat para pemerkosa itu. Aku mengalami keguguran."
"Aku turut berduka," sahut Steve yang terdengar seperti angin lalu. Ia tidak yakin jika Olivia benar-benar ingin mempertahankan janinnya.
Steve meneguk habis minumannya, lalu ia segera beranjak.
"Aku butuh istirahat, Olivia. Berhentilah mengusik atau pun mengacaukan hidup Lexi. Tindakanmu hanya akan membuatmu semakin terlihat buruk. Kau hanya akan membuktikan bahwa kau memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Lexi. Bukankah kau hanya tidak rela aku bersamanya. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Sebentar lagi dia akan bersanding dengan orang lain. Jadi, hentikanlah. Lexi tidak ada hubungannya dengan dendam yang berkabut di hatimu."
"Ciih! Tidak ada katamu?!"
Olivia meraung marah. Diraupnya kerah Steve hingga keduanya saling berhadapan. Steve mendengus, ia menepis tangan Olivia dengan gerakan malas, ia juga enggan menatap mata Olivia berlama-lama. Bisa-bisa, wanita itu berbuat curang.
"Kupikir kau mengerti tentang diriku, Steve. Ini sedikit melukaiku. Kau menjadi saksi, sebanyak apa aku dibully, dipermainkan selama kita sekolah. Fisikku dihajar, mentalku dihantam. Siapa yang melakukannya? Teman-temannya, Steve! Apa yang dia lakukan? Diam dan berlagak manis dan polos bagaikan manusia suci! Itu memuakkan! Aku dihina, dipermalukan sedangkan ia dipuja-puja oleh orang yang sama dengan yang melukaiku."
"Hidupmu bukan tanggungjawabnya. Apa yang kau alami bukan berarti ia bisa menghentikannya. Jangan menyalahkan orang lain atas ketidakadilan hidup yang kau alami hanya karena rasa cemburumu yang berlebihan. Aku tidak akan berbaik hati jika kau menyentuhnya."
"Ouh, aku takut. Sangat takut." Olivia tertawa mengejek. "Permainan bisa dikatakan berakhir jika ada yang kalah. Harus ada pemenang, Steve."
"Jika pun harus ada yang kalah dan menang, kupastikan bahwa bukan kau pemenangnya. Jangan katakan jika aku tidak memberimu peringatan."
Steve segera berlalu setelah mengatakan hal tersebut. Sementara Olivia yang ditinggalkan di sana dalam keadaan naik darah. Tangannya mencengkram kuat gelas dalam genggamannya.
"Jika pun aku bukan pemenang, maka akan kubuat ini berakhir menyedihkan untuk semuanya."
____
Di kediaman Willson, pertemuan antar dua keluarga sedang diadakan. Bukan Pax atau Alena yang melakukannya, tapi Lexi lah yang mengundang keluarga Harry datang ke rumahnya. Lexi ingin pernikahannya dengan Harry cepat digelar.
"Ini kejutan. Kabar yang begitu sangat baik." Philip Geonandes berseru dengan antusias. Pria setengah baya itu sangat menyukai Lexi dan ia tahu betapa putranya sangat mengagumi Lexi dari dulu.
"Ya, kami juga dibuat terkejut," Pax tidak menyangkal hal itu. Niat hati ia akan berbicara lagi dengan Lexi tentang keputusan putrinya, tapi ternyata Lexi bergerak dengan cepat.
"Ini sangat tiba-tiba," Aku Pax dengan jujur, tidak berniat menutupi kecanggungannya dalam menyambut keluarga Harry. Sayangnya keluarga Harry terlalu bahagia untuk menangkap keanehan yang terjadi. Sekarang apa yang harus dilakukan Pax? Ia buntu, benar-benar buntu.
"Jadi, kau dan Lexi sudah memutuskan hari baik untuk kalian?" Philip bertanya pada putranya.
"Sebenarnya ini terlalu terburu-buru, Dad. Tapi Lexi menginginkan secepatnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan, tapi karena Lexi ingin semuanya dilakukan dengan cepat, sepertinya pekerjaan bisa menunggu."
Lexi menganggukkan kepala, setuju dengan apa yang dikatakan Harry.
Philip pun membenarkan, hari baik tidak boleh ditunda-tunda, itulah yang ada di benak raja Madrid itu.
"Ayah Philip, bolehkah acaranya di gelar di sini. Maksudku, kita bisa menggelar dua kali acara. Yang pertama di sini, kemudian di Istana."
"Tidak masalah, Lexi. Kita akan melakukan semuanya sesuai keinginanmu."
"Oh, Ayah. Terima kasih. Aku boleh memilih konsepnya sendiri," kali ini Lexi menatap penuh harap pada Harry, pada calon suaminya.
"Ya, kau yang memutuskan semuanya." Harry menyentil hidung Lexi dengan gemas.
Pax dan Alena saling melempar tatapan. Lexi terlihat begitu sangat antusias, Lexi juga terlihat sangat bahagia. Pertanyaannya, benarkah Lexi seperti yang terlihat?
"Terima kasih, Harry," Lexi menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Harry, pria itu merangkulnya dengan posesif sembari mendaratkan satu kecupan hangat di pucuk kepala Lexi.
.
.
.