
"Lexi sudah tidur?" Pax bertanya pada pengawal yang ia tugaskan menjaga Lexi selama putrinya itu berlibur. Tidak banyak. Hanya dua orang karena ia tahu akan ada yang mengawasi putrinya selain dirinya.
"Ya, Sir."
"Aku melihat mobil Austin, dia datang?" Kali ini Darren lah yang bertanya.
"Ya, sekitar dua puluh menit yang lalu," sahut pengawal tersebut.
Pax dan Darren mengangguk. "Istirahatlah," Pax memberi perintah.
"TIDAAAAKKK!!!"
Laungan Lexi sontak saja membuat seisi rumah terkejut. Pax dan Darren segera berlari cepat menuju kamar yang Lexi tempati.
Di waktu yang sama, Steve baru hendak mematikan mesin mobil saat mendengar teriakan Lexi. Dengan sigap ia langsung melompat keluar dari mobil. Memanjat menuju lantai dua.
"Haiis!!!" Ia menggeram saat kakinya tanpa sengaja menginjak jebakan tikus yang ternyata benar diletakkan gadis itu di balkon dekat jendela.
"A-Austin, hentikan. AUSTIN HENTIKAN!! APA YANG... APA YANG KAU.... AGHHH!!"
Teriakannya menyuarakan ketakutan juga kepedihan. Austin seperti serigala lapar yang tidak tahu malu. Dengan biadabnya pria itu meloloskan bawahan Lexi. Kini kondisi Lexi dalam keadaan setengah polos.
Gedoran di pintu diabaikan oleh Austin. Pria itu justru mendorong meja untuk menghalangi siapapun yang akan masuk ke dalam kamar.
"Austin, apa yang terjadi?!" seruan Pax terdengar panik juga marah.
"DAD..... DA...."
Austin kembali menyumpal mulut Lexi dengan menggunakan mulutnya. Meredam semua suara yang hendak dikeluarkan oleh Lexi.
"Aus... " Suaranya melemah. "Austin, aku Lexi, saudarimu..."
Hanya seringaian sinis yang tergelincir dari mulut seorang Austin. Pria itu menarik kedua tangan Lexi dan mengikatnya di kepala ranjang, kemudian ia pun melepaskan pakaiannya.
Austin naik ke atas tubuh Lexi, menarik kasar kedua kaki Lexi agar terlentang. Lexi menendang-nendang ke sembarang arah, dan pada akhirnya Lexi hanya membuat tenaganya terkuras habis.
Steve meringis, mengumpat pelan menemukan kaki kirinya yang terjebak. Mengabaikan rasa sakit di kakinya, ia membuka jendela. Rahangnya seolah jatuh melihat apa yang terjadi. Matanya menyorot marah. Auranya gelap terlihat mengerikan.
"Bajiiingan!!"
Steve mengayunkan tubuhnya ke atas, memberi tendangan di tubuh Austin. Austin tidak menyadari kehadiran Steve dan tidak menduga jika jendela akan terbuka dengan mudah. Pria itu jatuh ke lantai dan sebelum Austin sempat berdiri, Steve melompat ke atas tubuh pria itu.
BUGH.... BUGH....
Ia menghajar wajah Austin secara membabi buta.
"Apa yang kau lakukan, Keparat!!"
Kemarahan yang menguasai Steve membuat pria itu sedikit lengah. Gerakan kaki Austin yang menendang punggungnya berhasil membuatnya menyingkir dari atas tubuh Austin.
Austin berdiri, meraup kerah Steve dan melayangkan tinju yang berhasil ditangkis oleh Steve dengan mudah. Keadaan yang kacau dan mabuk membuat Austin kehilangan fokus.
Steve menarik tangan Austin dan memelintirnya tanpa ampun.
Austin tidak mau kalah, ia sundulkan kepalanya dengan cukup kuat membuat Steve mendapat serangan di hidung hingga berdarah.
"Dasar kepala batu!" Steve menendang punggung Austin, pria itu tersungkur ke lantai bertepatan dengan pintu yang berhasil didobrak.
Mengabaikan keterkejutan di wajah orang-orang di belakang punggungnya, Steve masih fokus menghajar Austin. Keduanya berguling-guling di lantai, saling melayangkan pukulan. Austin yang sudah babak belur, mulai kehilangan kesadarannya. Pukulan pria itu mulai kehilangan tenaga.
"S-Steven..."
Napas pria itu memburu. Kepalanya menunduk, berusaha menetralisir amarahnya yang berkecamuk. Ia pun berdiri dari atas tubuh Austin, melayangkan satu tendangan lagi di wajah Austin. Ia berbalik, menatap nanar gadis yang meringkuk dengan kedua tangan terikat. Wajah Lexi penuh dengan air mata juga ketakutan.
Perlahan, ia melangkah sambil melepaskan jasnya. Menutupi tubuh gadis itu lalu melepaskan dasi yang mengikat kedua tangan Lexi. Giginya bergemeretak saat melihat memar di kedua pergelangan tangan Lexi.
"Sakit?" Steve mengusap lembut memar yang ada di sana.
Lexi mengangguk dengan cucuran air mata sembari manarik tangannya dari genggaman pria itu.
"A-Aus..." Suara Lexi tercekat di tenggorokan. Lidahnya seolah tidak mampu menyebut nama Austin lagi. "Di-dia hanya sedang mabuk."
Ingin rasanya Steve menarik kepala Austin dan membenturkannya ke dinding. Pria itu layak mati! Lexi masih saja memikirkan kondisi si keparat itu!
"Yah." Steve menganggukkan kepala. "Dia hanya sedang mabuk," Steve mengulurkan tangan hendak membawa Lexi ke dalam pelukannya, tapi reaksi Lexi menghentikan gerakan tangannya di udara.
Bahu gadis itu gemetar, pupilnya juga bergetar ketakutan. Gelengan lemah terlihat tidak berdaya. Gestur tubuh itu seakan menyuarakan tangisan terdalamnya. Jangan menyentuhku!!
Steve merasakan dadaanya sesak luar biasa. Kenapa hal buruk mengerikan ini harus menimpa Lexi.
"Lexi, lihat aku. Aku Steven... Aku priamu. Tolong jangan takut kepadaku."
Ia memohon dengan sangat. Permohonan tersebut bukan semata-mata untuk dirinya, tapi untuk Lexi, agar gadis itu tidak merasa terluka, terhina.
Lexi hanya bergeming. Memandangnya dengan takut.
"Tatap mataku, apakah aku terlihat seperti pria yang akan tega melukaimu? Menyakitimu? Semuanya sudah baik-baik saja. Kemarilah, peluk aku."
"A-apakah dia akan baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja karena kau menghentikanku tepat waktu. Aku bisa saja membunuhnya."
Lexi pun menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Steven.
Kelegaan menyelubunginya. Steve mendekap gadis itu dengan sangat erat seolah-olah ia sedang menyerap semua ketakutan yang dirasakan gadis itu. Ia biarkan Lexi mengeluarkan tangisannya.
Sementara Pax sudah kehilangan jiwanya. Wajahnya pucat dan pandangannya kosong. Ia terluka. Hancur melihat apa yang baru saja dilakukan putranya yang merupakan darah dagingnya terhadap putrinya. Ayah mana yang tidak hancur melihat peristiwa memalukan seperti ini. Tamparan besar untuknya atas kegagalannya menjaga keluarganya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Membunuh putranya dan memohon ampun pada putrinya? Pax benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Ia merasa jika dirinya adalah orang tua paling buruk di dunia.
Pria itu meluruh, menatap kosong pada Austin yang sudah tidak sadarkan diri.
Tidak berbeda jauh dari kondisi ayahnya, Darren juga hanya bisa mematung. Hanya saja tatapannya tertuju pada adiknya.
Ia menyeret kakinya mendekat ke arah Lexi. Tangannya terulur mengusap kepala Lexi yang terbenam di dalam dekapan Steve.
Merasakan sapuan di kepalanya, Lexi mendongak dan refleks memalingkan wajah dari saudaranya seraya mempererat pelukannya pada Steven.
"Aku tidak mau disentuh oleh mereka."
Darren termangu. Dengan perasaan hancur ia menarik tangannya kembali. Mereka. Lexi menggunakan kata mereka seolah mereka memang orang asing bagi Lexi.
"Ba-bawa aku pergi," cicitnya dengan suara takut.
"A-aku ingin pergi."
"Ya. Kita akan pergi." Steve segera menggendong Lexi dan membawanya keluar.