
"Jadi, Steve yang menyarankan kau mengenakan pagar gigi warna warni ini?" Austin bertanya karena penasaran. Tidak menyangka jika iparnya tersebut memiliki cukup waktu luang untuk memberi saran kepada Isabell. Saran yang menurut Austin sangat membuang-buang waktu. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi Steve waktu memilihkan deretan pagar gigi. Ia meragu jika Steve memilih dengan sepenuh hati.
"Aku memberinya beberapa pilihan dan dia akan memilih salah satunya setelah dia mengatakan bahwa sebaiknya aku tidak usah memakai pagar gigi."
Austin tertawa mendengar Isabell mengikuti caranya menyebut pagar gigi. "Aku setuju dengan iparku, kurasa kau tidak perlu pagar warna warni itu. Bagaimana jika kau melepasnya?"
"Apakah aku terlihat aneh saat mengenakannya?" wajah Isabell terlihat murung.
Austin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik kepada Darren yang terlihat sangat fokus menikmati sarapannya seolah tidak memedulikan keadaan sekeliling. Mungkin jika bukan Isabell yang bertanya pendapatnnya, Austin akan menjawab dengan jujur tanpa peduli apakah jawabannya akan membuat sakit hati atau tidak.
Di matanya, benar bahwa Isabell terlihat aneh dan culun. Ia bingung mau menjawab apa. Isabell bukan gadis yang bisa ia abaikan perasaannya begitu saja. Selain hubungan dekat antara keluarga, Lexi juga sangat menyayangi Isabell. Akan repot urusannya jika Isabell mengadu kepada Lexi.
"Jika kau meminta pendapatku, memang terlihat aneh," pada akhirnya Austin memilih jujur. Prinsipnya, meski kejujuran itu pahit, tetap harus diutarakan. "Aku tidak bisa membayangkan pagar gigimu akan menjepit lidah atau bibirku saat sedang berciuman. Kau sudah pernah berciuman?"
Darren seketika tersedak, roti yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar.
Isabell yang juga tidak menyangka akan mendapat pertanyaan frontal seperti itu dari Austin, terang saja terkejut. Belum pernah ada seseorang yang berbicara blakblakan seperti itu kepadanya. Namun, keterkejutannya itu ia kesampingkan begitu melihat Darren yang sedang terbatuk-batuk. Wajah dan kuping pria itu bahkan sampai merah.
Isabell segera menghampirinya, mengusap punggung pria itu dan meletakkan air di hadapan Darren.
Darren menganggkat sebelah tangan, memberi isyarat pada Isabell agar gadis itu menghentikan usapannya. Pun ia minum beberapa teguk sebelum menoleh kepada Austin yang terkikik geli melihat pemandangan tersebut.
"Kau seperti pria suci yang baru pertama kali mendengar kata ciuman," bukannya prihatin dengan saudaranya, Austin justru meledek pria itu.
"Kau pernah berkencan dengan gadis berpagar gigi?"
"Apakah itu penting bagimu?" Darren menarik tisu dengan kasar lalu membersihkan mulutnya. "Jika itu penting bagimu, sebaiknya kau kembali duduk sementara aku akan membatalkan pertemuanku pagi ini demi bisa berbagi cerita dengan saudaraku, membahas wanita seperti apa yang selama ini sudah kukencani."
Tawa Austin lepas seketika, "Godaan yang sangat menggiurkan. Sayang sekali mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Kita persingkat saja, kau tinggal menjawab pernah atau tidak."
"Kau tidak akan menemukan jawabannya saat kau menolak untuk duduk kembali. Pertemuanku setengah jam lagi. Jika aku tidak ingin terlambat sebaiknya aku pergi sekarang." Darren mendorong kursi ke belakang dan segera berdiri.
"Terima kasih untuk sarapan paginya," ia menoleh sekilas kepada Isabell sebelum beranjak meninggalkan dapur. Ia harus kembali ke kemar untuk mengambil tas kerjanya.
"Aku juga harus ke kamar. Aku mengantuk sekali. Lupakan soal pertanyaanku tadi." Austin tersenyum geli melihat wajah Isabell yang masih saja merona malu. "Sampai jumpa saat makan siang," pamit Austin seraya berbalik.
Astaga! Austin benar-benar bisa membuatnya pingsan berdiri. Jujur, apa adanya, liar, nakal, brandalan dan menawan. Kombinasi sempurna yang membuat wanita enggan memalingkan wajah. Wanita lugu memang cenderung menyukai pria brandalan yang mengagumkan. Itulah yang dirasakan Isabell kepada Austin. Setiap melihat Austin, ia merasa tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru dalam hidupnya, memberi warna di hidupnya yang hanya memiliki dua warna, hitam dan putih, baik dan jahat. Dan ia cenderung berada di zona nyaman, zona yang mengikuti semua aturan agar dianggap baik, agar diterima di kalangan tertentu, dan pada akhirnya bersikap baik bukan berarti bisa diterima baik. Bukan hanya permaisuri yang memperlakukannya buruk di Istana, tetapi para sepupunya. Hanya Harry yang mau meluangkan waktu dengannya.
Apakah Isabell sedang bersikap munafik? Berpura-pura baik? Tentu saja tidak, Isabell menyukai kebaikan dan percaya jika semua orang memang menyukai kebaikan. Hanya saja, terkadang ia jenuh dengan kehidupan yang monoton dan terkadang juga tidak dihargai. Ia tidak membutuhkan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya, tapi ia ingin sesekali ia layak mendapat perlakuan manis.
"Aku pergi,"
Suara Darren membuyarkan lamunannya.
"Kua pasti menyimpan nomor telepon Mom, tapi seperti yang kau ketahui, Mom dan Dad sedang pergi mengunjungi orang tuamu. Kau juga pasti menyimpan nomor ponsel Lexi dan Steven, tapi saat ini mereka sedang berada di St. Nelda's Island. Jika kau membutuhkan sesuatu, Austin ada di kamarnya. Kau tinggal membangunkannya. Jika dia mendadak bangun dan pergi, kau bisa menghubunginya juga aku. Nomor ponselnya sudah kuletakkan di bawah telepon rumah."
Isabel tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar keluar dari mulut seorang Darren yang biasanya sangat irit berbicara. Tapi mimik pria itu masih sama dan selalu seperti itu sejauh dalam ingatan Isabell, tenang dan flat.
"Mungkin nanti siang, aku akan pergi berbelanja. Ada beberapa hal yang kubutuhkan."
"Aku pergi," alih-alih merespon ucapan Isabell, Darren justru berpamitan. Isabell jadi merasa malu sendiri dan hanya bisa menyengir.
"O-Oh, ya. Ber-berhati-hatilah saat mengemudi."
"Ya." Singkat dan padat. Pun Darren segera berlalu.
"Jika kau sudah selesai, kami akan membersihkan mejanya, Ms. Geonandes."
Isabell menoleh dan menemukan dua pelayan.
"Aku sudah memulainya sejak tadi, biarkan aku menyelesaikan dan membersihkannya. Kalian bisa beristirahat atau melakukan pekerjaan yang lain." Ucap Isabell sambil mengangkat gelas dan piring kotor milik dua bersaudara Willson. Ada satu lembar roti yang belum disentuh, pun Isabell memasukkannya ke dalam mulut lalu mengangkat piring-piring kotor tersebut, membawanya ke wastafel.
Jika permaisuri melihatnya seperti itu, dia akan mempunyai alasan untuk meluapkan amarah kepada Isabell. Berjalan sambil makan dan tanpa memotongnya terlebih dahulu dengan potongan-potongan kecil. Mulutnya sampai penuh dan mengembung. Pelanggaran pertama yang ia lakukan.
Selesai membersihkan dapur, Isabell memutuskan kembali ke dalam kamar. Sampai di kamar, ia langsung merebahkan diri. Sebelah tangannya meraba nakas, mengambil ponsel untuk mencari tahu tempat-tempat menarik di sekitar kota. Alih-alih menemukan ponsel, tangannya justru meraih sebuah pelester. Isabell langsung duduk, keningnya mengernyit bingung mendapati benda tersebut di kamarnya. Ia tentu ingat bahwa sebelumnya ia tidak meletakkan plester di sana.
Seseorang pasti sengaja meletakkannya di sana, Isabell tersenyum simpul dan dengan segera membalut luka di jarinya dengan plaster tersebut.