H.U.R.T

H.U.R.T
Buaya



BAB INI KHUSUS UNTU SUNNY 🌽BASE!!!


.


.


.


"Aku tahu kau sedang berdrama!" Dengan wajah memberengut kesal, Lexi mengulurkan tangan untuk membantu Steve berdiri. "Berdirilah! Jangan seperti anak kucing yang sedang sekarat."


Steve menyambut uluran tangan Lexi, bukannya berdiri, ia justru menarik kuat hingga Lexi jatuh ke atas pangkuannya.


"Ivarezzz!!!"


"Steve... Steven... Kau bisa memanggilku seperti itu."


"Aku menolak!" Berniat untuk berdiri, tapi Steve memeluk perutnya dengan erat. Memberontak justru akan membuat posisi mereka akan semakin aneh.


"Lexi..."


"Jangan berbisik di telingaku!" menoleh ke belakang, tindakan yang sangat salah karena hidung mereka bersentuhan. Steve menyunggingkan senyum nakal.


"Kau seperti sedang mencari kesempatan. Ingin merasakan ciumanku lagi?"


Lexi yang terpana akan ketampanan pria itu, seketika tersadar mendengar celetukan kurang asam pria itu. Ia mendorong Steve, pria itu menahan kedua tangannya.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Aku baik."


Steve mengangguk, keduanya terdiam untuk sesaat. Yang mereka lakukan hanya saling menatap satu sama lain. Steve lah yang lebih dulu menundukkan kepala. Hanya beberapa detik sebelum ia kembali mengangkat kepala dan menatap Lexi.


"Aku minta maaf."


"Untuk?"


"Semuanya."


"Semuanya? Seingatku, kau tidak memiliki salah."


"Reaksimu tadi membuatku terkejut."


"Bisa kau pura-pura melupakannya. Aku lah yang harus maaf karena telah membuat kekacauan di rumahmu."


"Kau lah yang harus berhenti berpura-pura, Lexi. Terlihat baik-baik saja, terlihat bahagia di hadapan orang lain hanya karena tidak ingin mereka bersedih dan mengkhawatirkanmu. Itu tindakan yang tidak benar. Mereka hanya akan lebih terluka jika tahu bahwa selama ini kau menyembunyikan kesedihanmu." Steve menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Lexi. Jemarinya mengusap pelipis gadis itu secara perlahan dan hati-hati.


"Kupikir kau sangat irit bicara, ternyata aku salah." Perut Lexi berkeroncong, membuyarkan suasana yang tenang nan serius itu. Mereka berdua kompak melihat ke sumber suara. Perut Lexi.


"Cacingku bernyanyi."


"Ya, nyanyian yang sangat merdu." Steve berdiri, kemudian membantu Lexi ikut berdiri. "Apakah ada makanan khusus yang kau inginkan?" Steve menyatukan jemari mereka, ia kira Lexi akan menolak dan memberontak. Tapi sepertinya, perut lapar gadis itu membuat konsentrasinya tidak fokus. Sambil bergandeng tangan mereka berjalan ke luar kamar.


"Jika sedang lapar seperti ini, aku tidak pemilih. Kau pun bisa kumakan."


Steve menghentikan langkah mendengar ucapan Lexi yang terdengar bagaikan rayuan di telinganya. "Aku? Kau ingin melahapku?"


"Ya!" Lexi mengaum, menggerakkan tangannya yang terbebas dari genggaman Steve membentuk cakaran kucing garong. Steve tergelak, gemas melihat tingkah gadis itu.


"Bagian tubuhku yang mana yang membuatmu tertarik?"


Lexi memperhatikan Steve dari atas ke bawah, ia lakukan sebanyak tiga kali. "Tidak ada yang menarik sebenarnya. Kau bukan tipeku, ingat!"


"Ah, ya, aku memang bukan tipemu. Tapi, seingatku, ada yang begitu mengagumi ototku saat terpampang polos."


"Ivarez!!!" Lexi menarik tangannya hingga genggaman mereka terlepas. Steve menarik tangan itu kembali.


"Jangan melepasnya. Saat aku menggenggammu, jangan pernah melepasnya."


Lexi tercenung, pun ia menunduk melihat tangan mereka yang saling bertaut. Terlihat sangat pas. Lexi merasakan darahnya berdesir, ia menyukai apa yang ia lihat.


"Tidak bisakah kau percaya padaku?"


"Jurus andalan pria disaat tidak tahu harus menjawab apa."


Steve terkekeh, "Sepertinya kau sangat mengenal baik tipe pria seperti itu." Steve melanjutkan langkah. Keduanya menuruni anak tangga dengan tangan yang kembali saling bertaut.


"Ya, aku memiliki dua saudara laki-laki yang begitu digilai para wanita. Mereka selalu menggunakan jurus tersebut untuk menyelamatkan diri."


"Aku tidak pernah menggunakan jurus tersebut."


"Kau baru saja menggunakannya. Sepertinya aku korban pertamamu."


Lagi dan lagi Steve tergelak mendengar tuduhan Lexi. "Perut laparmu sepertinya membawa masalah. Duduklah, aku akan membuatkan sesuatu untukmu."


"Dimana pelayanmu?"


"Istirahat. Apa kau menginginkan sesuatu?" Steve menggulung lengan bajunya hingga siku. Lexi menemukan dirinya memandangi setiap gerakan pria itu. Begitu indah dan menggoda. Steve terlihat menawan berada di dalam dapur. Lexi tidak tahu jika kadar ketampanan pria bisa meningkat 1000 persen saat beraksi di dapur. Lexi penasaran, apakah ketampanan pria itu semakin tidak ada obat saat memainkan pisau memotong sayuran. Apakah ada celemek? Ah, akan menggemaskan jika ada apron berwarna pink.


"Celemek,"


"Celemek?" Steve membeo.


"Ya, kenakan celemek. Kau pasti terlihat lebih mempesona."


Steve tersedak, mendadak ia salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kedua telinganya bahkan sudah memerah.


"Setelah semua pujian yang kau berikan. Kenapa kau menolakku? Jadilah kekasihku."


Lexi memutar bola matanya dengan jengah. Steve tidak tahu jika Lexi bisa melakukan hal seperti itu. "Layla juga sangat jantan, gagah dan menawan..."


"Stop. Aku bukan seekor binatang, Lexi."


"Buaya juga binatang, Ivarez."


Tawa Steve meledak seketika hingga gigi grahamnya terlihat. Celetukan gadis itu selalu di luar dugaannya. Tawanya semakin kencang tatkala melihat mimik polos Lexi yang tidak tertular sama sekali dengan tawanya. Gadis itu hanya memandanginya.


"Aku tersinggung Lexi."


"Memang itulah tujuannya agar kau berhenti merayuku. Dalam waktu dekat, aku tidak berniat membuka peternakan buaya."


"Sesungguhnya, buaya adalah binatang paling setia, Ms.Willson."


"Aku sudah lapar, apakah kau pandai memasak?" Lexi mengganti topik. Berbicara tentang perasaan dengan Steve, lama-lama ia bisa luluh. Ia tidak bisa memungkiri bahwa pesona pria di hadapannya tidak bisa dipandang sebelah mata.


"Ya. Katakan saja apa yang kau inginkan. Sembari kau memikirkan apa yang kau inginkan. Aku akan membuat roti Focaccia. Kau sangat menyukainya, bukan?"


"Bagaimana kau tahu? Astaga, apakah kau cenayang? Penguntit? Aku merasa kau sangat mengenalku?"


"Itu karena aku mengagumi."


"Aku lapar sekali. Sebaiknya kau fokus memasak. Ocehanmu tidak membuatku kenyang, Ivarez." Nada protes Lexi terdengar sangat manja. Steve suka mendengar rengekan gadis itu.


"Baiklah, ucapanmu adalah perintah, Nona." Steve mulai beraksi. Sepanjang memasak, Steve benar-benar fokus. Tidak berbicara jika Lexi tidak bertanya.


"Aromanya sangat wangi, apakah kau seorang koki?"


"Aku bisa menjadi apa pun yang kau inginkan."


"Oh, aromanya tidak asing, sama seperti masakan ibuku."


Steve yang baru saja mengangkat roti dari panggangan, sontak menghentikan gerakannya. Jelas saja aromanya sama, ini memang resep ibunya. Roti yang selalu ibunya masak setiap Lex datang berkunjung ke rumahnya. Meski Lexi melarang ibunya mengatakan prihal kedatangannya ke rumah mereka, tapi Steve selalu tahu saat Lexi mengunjungi ibunya. Aroma Lexi yang semerbak selalu tertinggal di sofa usang mereka atau bantal yang sering ia kenakan.


"Masakan ibumu? Masakannya pasti sangat enak."


"Sangat enak. Kau harus mencobanya."


"Harus. Aku juga merindukannya."