
"Aku baru dari kantor polisi, Mom mengatakan jika kau ada di sana. Tapi aku tidak melihatmu ada di sana."
Lexi yang baru memasuki rumah, sontak menghentikan langkah mendengar pernyataan Darren. Pria itu sedang duduk berbincang serius bersama Tom.
"Lily sudah dipindahkan, apa kau tahu dia ada di mana?" Gadis itu mendaratkan bokong di sofa, bergabung dengan saudaranya. Tom segera undur diri.
"Aku tidak tahu."
"Untuk itu kau harus mencari tahu!"
"Biarkan hukum yang bekerja."
"Tapi aku harus tahu Lily ada dimana. Mereka tidak bisa memindahkannya begitu saja."
"Mereka memiliki hak untuk itu, Lexi. Bisa saja ini untuk kebaikan temanmu." Untung saja siaran Lily dan Vincent sudah hilang begitu saja. Dengan begitu mereka tidak perlu khawatir Lexi akan melihat kejadian yang menimpa Lily. Kenapa Lily dipindahkan dan kemana, sesungguhnya Darren juga tidak tahu dan tidak berniat untuk mencari tahu. Lebih baik Lexi memang menjaga jarak dengan wanita itu sebelum masalah baru timbul yang justru membuat Lexi tertekan.
"Kebaikan bagaimana? Aku tidak tahu dia ada di mana? Lily pasti sangat takut."
"Biarkan dia mengatasi masalahnnya sendiri."
"Tapi..."
"Apa yang kau bawa?" Darren menyela, mengganti topik pembicaraan. Dagunya terangkat, mengarah pada kantongan yang diletakkan Lexi di atas meja.
"Bekal untuk Lily. Tapi Lily tidak ada. Jadi..."
"Nasib baik untuk wanita itu."
"Apa maksudmu?" Lexi mendelik kesal. Darren memang orang pertama yang menikmati masakannya dan sekarang menjadi yang paling anti menikmati hasil masakannya. Berkat masakan Lexi yang luar biasa, Darren yang anti sakit harus dirawat di rumah sakit karena menderita diare.
"Apa yang kukatakan apa adanya. Lily perlu menjaga kesehatannya. Menikmati makananmu sama saja bunuh diri. Kau bahkan tidak tahu perbedaan garam dan gula."
"Kali ini masakanku berhasil!" Dengan semangat Lexi membuka kantongan, memamerkan kotak bekal yang sudah kosong. "Kau terlalu meremehkanku hanya karena cerita masa lalu. Lihat, tidak ada yang tersisa. Aku berhasil."
Darren menukik alisnya, antara percaya dan tidak percaya. Lexi bisa saja pintar mendesain baju. Tapi Darren berani bertaruh jika hingga sekarang, Lexi tidak tahu cara menggunakan garam dan gula dengan baik dan benar. Belum lagi bumbu dapur lainnya. Jangan biarkan Lexi masuk ke dalam dapur, itulah pesan ibu mereka.
"Siapa manusia malang yang bodoh itu. Dia hanya menipumu."
"Astaga. Kau membuatku kesal, Darren!"
"Dia membuangnya, percaya padaku."
"Dia menikmatinya, melahapnya hingga tuntas di hadapanku. Semuanya masuk ke dalam perutnya."
"Oh Tuhan. Aku turut berduka untuknya. Siapa dia?"
"Kau keterlaluan!" Lexi mencoleh kotak bekal yang masih menyisakan kuah.
"Ini enak, Darren. Dari aromanya saja sudah meyakinkan." Lexi mengulurkan tangannya ke arah Darren agar pria itu mencicipinya.
Darren menggeleng seraya mendorong tangan adiknya menjauh, "Kau saja yang mencicipi."
Lexi mencibik, "Lihat, aku akan mencicipinya. Ini enak. Dia mengatakan ini masakan luar biasa. Kau terlalu meremehkanku!"
Darren bergeming, tidak membantah ucapan adiknya. Ia hanya menunggu reaksi Lexi begitu lidah gadis itu mencicipi masakannya sendiri. Satu.. Dua... Dan Darren hampir tertawa saat melihat bola mata Lexi hampir melompat keluar.
"Wuuueeekk!!" asin, pedas, dan mengerikan. Rasanya memang seburuk itu!
"Eeuuyy... Menjijikkan." Gadis itu berlari ke dapur, meneguk air sebanyak-banyaknya. Lidahnya seperti terbakar juga mati rasa.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Tentu saja bisa jika kau yang memasaknya." Darren sudah berdiri di sampingnya menyodorkan selembar tissue untuk membersihkan mulut Lexi.
"Ini mengerikan!"
"Ya, aku jelas tahu bagaimana rasanya."
"Tapi kenapa dia..." Lexi meringis membayangkan nasib Steve. Bagaimana keadaan pria itu sekarang? Pria itu tampak baik-baik saja saat pria itu mengantarnya pulang. Mereka memang tidak banyak bicara karena Lexi lebih memilih diam dan pura-pura tidur karena terlanjur malu pada Steve. Tapi Lexi sempat melihat jika berulang kali pria itu menyeka keringatnya.
"Siapa manusia bodoh itu."
"Oh Darren, apakah dia akan baik-baik saja?"
Lexi menggeplak lengan Darren dengan kesal. Tapi apa yang dikatakan Darren dibenarkan oleh Lexi. Darren tidak baik-baik saja saat itu.
"Aku bersyukur kau mencicipinya waktu itu, bagaimana jika kau tidak mencobanya. Steve-ku pasti yang akan terbaring lemah di rumah sakit." Ya, saat itu Darren dijadikan sebagai kelinci percobaan. Hari itu, ulang tahun Steve. Pemuda itu tidak akan menerima hadiah apa pun yang diberikan Lexi. Satu-satunya yang tidak pernah ditolak pria itu adalah bekal makan siang dan Lexi ingin memberikan yang spesial hari itu yang justru menjadi petaka bagi Darren.
"Dan sekarang, aku yakin siapa pun yang sudah menghabiskan makananmu tersebut, ia pasti sekarat, nyaris mati."
"Darren!" Lexi menghentakkan kaki, kemudian berlari meninggalkan dapur. Ia harus memeriksa langsung keadaan korbannya.
___
"Kau seperti habis keracunan, Kawan." Beth tergelak, tidak menunjukkan rasa prihatin sama sekali. Wajah pria itu pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung membanjiri dahinya. Perutnya mules tidak tertahan. "Kau berniat untuk bunuh diri."
Steve menggeleng, ia baru saja hendak berbaring, tapi panggilan alam memaksanya berlari kencang ke dalam toilet.
"Kau harus dirawat di rumah sakit. Kau bia dehidrasi jika begini. Apa yang kau makan sehingga kondisimu memburuk seperti ini?" Beth bertanya begitu Steve keluar dari dalam toilet.
"Sesuatu yang sangat luar biasa."
"Ciihhh! Minum ini," Beth memberikan oralit yang langsung diteguk pria itu hingga tandas. "Jika malam ini kondisimu memburuk, mau tidak mau, aku harus membawamu ke rumah sakit."
"Hmm."
"Kudengar kau memindahkan seorang napi perempuan."
"Ya."
"Wanita itu mencari masalah denganmu?"
"Dulu, mungkin."
"Dan sekarang, kau sedang balas dendam."
"Anggap saja seperti itu."
"Ini sudah dua bulan berlalu. Waktumu hanya tersisa dua bulan lagi dan kau bahkan belum menemukan apa yang sedang kau cari. Kau sudah bertemu orang tuamu? Jangan biarkan mereka menjiarahimu setiap kali mereka merasa merindukanmu."
"Aku akan segera menemui mereka. Secepatnya. Sial!" Ia kembali berlari ke dalam toilet.
"Kau baik-baik saja?" Beth berteriak.
"Tidak, brengsek! Aku mengotori celanaku. Shiiitt!!! Oh Tuhan, ini menjijikkan."
"Sepertinya kita harus ke rumah sakit, tidak perlu menunggu besok."
Pintu kamar terbuka, Beth menoleh, alisnya bertaut melihat sosok wanita yang berdiri di ambang pintu membawa oralit dalam jumlah besar.
"Kau mencari Steve?" Beth berjalan mendekati Lexi. Membuka pintu lebih lebar untuk mempersilakan gadis itu masuk.
"Di-dimana dia? Aku tidak melihatnya?"
"Dia ada di dalam toilet. Mengatasi masalahnya."
"Ouh..." Lexi meringis dengan ekpresi penuh sesal. Ia langsung mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Beth.
"Beth Ramirez." Pria itu mengulurkan tangan yang langsung disambut Lexi meski agak sedikit canggung.
"Lexi Willson...."
"Ouh, Willson..." Beth mengulumm senyumnya penuh arti.
"Masuklah, Steve akan segera keluar. Steve... Apakah masalahmu karena memakan masakan seseorang?" Teriak pria itu kembali. Lexi menundukkan kepala karena malu juga merasa bersalah.
"Ya, dan aku bersumpah tidak akan pernah menyentuh masakan wanita itu lagi. Ambilkan handuk, pakaianku penuh dengan kotoran menjijikkan."
"Beth.... Ambilkan handuk, kau mendengarku?"
"Beth..." Steve membuka pintu toilet. Suasana mendadak hening. Bumi seakan berhenti berputar. Lexi menurunkan tatapannya dengan lirikan cepat ke sosok telanjangg di hadapannya. Ia nyaris pingsan. Dengan tangan gemetar, Lexi mengulurkan handuk, kakinya hampir kehilangan kekuatannya.
"Oh Sial... Kenapa... Ouh... Maaf... Beth, sialan!" Steve merampas handuk dari tangan Lexi dan menutup pintu toilet dengan segera.