
Byuurr!!!
Steve ikut terjun ke sungai. Seketika ia merasakan tulangnya hancur lebur akibat dinginya air sungai. Luka di tubuhnya juga semakin memperparah kondisinya, ia merasakan tubuhnya seolah membeku seketika. Kantuk yang menyerang sejak di rumah Olivia semakin tidak bisa di ajak kompromi.
Sakit. Steve tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Tapi sakit fisik itu seolah tidak ada apa-apanya dengan ketakutannya saat melihat mobil Lexi terjun bebas ke dasar sungai.
"Tuhan, kumohon.... Kumohon... Kumohon..." Hanya rintihan itu yang bisa ia ucapkan di sisa-sisa kesadarannya.
Namun, begitu melihat mobil Lexi, ia kembali menemukan kekuatannya. Steve berenang, mendekat ke arah mobil, terluka saat berusaha membuka pintu. Darah segar mengucur deras. Posisi Lexi sangat tidak menguntungkan. Gadis itu terjepit, sudah tidak sadarkan diri.
Tidak ada cara selain memecahkan kaca mobil. Sangat penuh perjuangan mengingat Steve juga hampir kehilangan tenaga. Kegigihannya menuai hasil. Kembali ia mendapat luka sayatan di lengan saat berusaha mengeluarkan Lexi dari mobil.
Begitu berhasil, pegangannya di tubuh gadis itu tidak terlalu kuat. Lexi terlepas, terbawa arus.
Steve tidak menyerah, meski ia sudah sulit bernapas. Entah Lexi masih hidup atau tidak, ia harus bersama gadis itu.
Dinginnya air menusuk hingga ke tulang sumsum. Terbersit di pikirannya, jika ia sendirinya rasanya ingin menyerah, mungkinkah ia akan mati.
Jika aku harus mati seperti ini, setidaknya izinkan dia hidup, Tuhan. Biarkan dia bahagia bersama orang-orang yang mencintainya tanpa rasa takut. Hilangkan semua rasa takut yang membebaninya.
Steve terus berdoa mati-matian hanya untuk keselamatan Lexi. Betapa baiknya Tuhan, gadis itu tersangkut, Steve berhasil menemukannya kembali. Air bercampur dengan darah, sepertinya Lexi mendapat benturan hingga terluka.
Kali ini Steve memeluknya dengan erat, arus air juga sudah tidak terlalu deras. Entah sudah berapa lama mereka ada di dalam air, Steve tidak ingin tahu dan tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu. Keselamatan Lexi.
Tuhan kembali menunjukkan kekuasaan dan juga kemurahan hatiNya. Mereka berhasil menepi. Steve langsung memeriksa denyut jantung Lexi. Ia tidak tahu harus bernapas lega atau bagaimana. Jantung gadis itu memang masih berdenyut tapi sangat lemah.
"Kumohon.... Kumohon.... Kumohon Lexi." ia menggosok-gosok tangan Lexi, berusaha menghangatkannya walau tindakannya itu sangat sia-sia mengingat dirinya juga sudah sedingin es.
Steve memendarkan pandangan, senja mulai pergi, kehidupan dunia terlihat sangat sunyi. Sejauh mata memandang, ia tidak menemukan apa-apa. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Steve melepaskan bajunya untuk menekan luka di kepala Lexi yang terus mengeluarkan darah, lukanya cukup besar.
Beberapa kali Steve hampir tertidur karena rasa kantuk yang luar biasa.
"Maafkan aku, Lexi. Maafkan aku... Bertahanlah, bertahanlah." Ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh gadis itu, membawa Lexi ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat dengan harapan suhu tubuhnya masih bisa memberikan kehangatan pada gadis itu.
"Aku mulai sangat mengantuk, sebelumnya tidak pernah mengantuk," suaranya terbata-bata, gemetar karena kedinginan.
"Tapi aku akan tetap menjagamu," ia mengecup kening gadis itu. "Ta-tapi, tuan putri, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk menjagamu. Aku merasakan sakit yang luar biasa." Steve menangis, kristal bening itu mengalir tanpa permisi.
"Apa kau akan marah jika ternyata aku tidak bisa melindungimu? Apa kau akan marah jika pada akhirnya kita harus mati dengan cara seperti ini."
"Tidak... Tidak... Kau tidak boleh mati. Kau harus hidup seratus bahkan seribu tahun lagi. Oh, Tuhan, aku mengantuk sekali."
"Lexi, apa kau tahu jika sesungguhnya aku sudah jatuh hati padamu saat pertama kali melihatmu. Kau gadis tercantik yang pernah kutemui... Bulan mulai muncul, Lexi. Artinya para makhluk hidup akan tidur beristirahat. Di mana suami keparatmu? Kenapa mereka lama sekali untuk menemukanmu."
Menemukanmu, bukan menemukan kita. Selalu hanya Lexi yang ia pikirkan.
"Astaga, maafkan aku sudah memaki suamimu, dia pria yang baik. Jika pada akhirnya kau sungguh jatuh cinta padanya, tidak masalah asal kau tetap hidup."
Air mata itu terus mengalir, bukan hanya karena sakit yang luar biasa, tapi karena ketakutan jika Lexi akan mengakhiri hidup dengan cara yang menurut Steve sangat menyedihkan. Jika Lexi harus mati, biarkan gadis itu percaya bahwa dia sangat dicintai, sangat layak hidup bahagia. Entah itu bersama Harry atau siapa pun.
"Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Aku tidak akan pernah minder dengan status sosial kita. Aku ingin tetap menjadi Steven Percy yang culun yang bisa membuatmu jatuh hati kepadaku. Tapi, dulu aku terlalu lemah dan juga sangat pecundang. Kau gadis baik berhati lembut. Kelak, jika kau hidup kembali. Tetaplah seperti ini. Aku akan berdoa, di kehidupanmu selanjutnya, tidak akan ada lagi ketakutan yang membuatmu berpikir bahwa kau tidak layak bahagia."
"Apa kau bosan mendengar ceritaku? Ini ngantuk sekali dan sangat dingin," Steve membersit hidungnya.
"Maafkan aku untuk luka yang kau dapatkan di pengadilan. Punggungmu pasti sangat sakit sekali. Kukira Pax akan membunuh ibunya Olivia yang sudah membanting kursi ke tubuhmu yang kecil. Astaga, betapa tidak bergunanya aku saat itu. Setelah kegilaan dan pengorbanan yang kau lakukan, apa menurutmu aku masih bisa menyerahkan hatiku kepada wanita lain? Kau mencuri seluruh hatiku, Lexi."
"Kebodohanmu bukan hanya itu, kau datang dengan beraninya ke penjara sialan itu. Kau mendapatkan banyak luka di kaki dan lenganmu. Aku merasa semakin tidak layak. Ayahmu benar, kau akan dengan suka rela mengorbankan nyawamu untukku. Terima kasih gadis baik." Steve kembali mendaratkan satu kecupan.
"Darahmu terus saja keluar. Tuhan, kirimkan seseorang. Aku tahu jika umur seseorang ada di tanganMu. Jika aku harus mati hari ini, tidak masalah, Tuhan. Pintaku berikan kebahagiaan untuk gadis ini. Dan jika takdir ingin Lexi menyudahi hidupnya, bolehkah aku yang hina dan menyedihkan ini, memberikan sisa usiaku ke padanya, Tuhan?"
"Lexi, tuan putriku, gadisku yang baik hati, aku sengaja membuang kaca mata pemberianmu agar kau terluka, saat melakukan itu, aku juga sangat terluka. Tapi apa kau tahu, aku harus bertengkar dengan sipir untuk mengambil kaca mata itu kembali. Akhirnya aku bisa mendapatkannya kembali. Aku memeluknya sepanjang malam. Membayangkan jika itu adalah dirimu. Demi Tuhan, aku mengantuk sekali. Tubuhku juga sudah menggigil dan mati rasa.
"Apakah ini cara yang harus kita lalui untuk mengucapkan selamat tinggal? Maafkan aku, aku sudah tidak kuat, Le..Lexi..." Perlahan mata itu mulai tertutup.
Samar-samar ia mendengar suara, ia kembali membuka matanya, tapi tidak sepenuhnya karena ia benar-benar sudah tidak mampu.
Steve tersenyum melihat seberkas cahaya. Bukan cahaya bulan atau bintang. Steve menebak itu cahaya lampu senter.
Steve membuka jam tangannya, melempar ke arah munculnya suara derap kaki. Ia berharap tebakannya tepat.
Derap kaki itu semakin cepat. "Oh, Tuhan," Steve mendengar pekikan dengan dua suara berbeda.
"Selamatkan, sembunyikan, kumohon."
Dan akhirnya, Steve tidak sadarkan diri.
Dua hari kemudian, Steve sadar. Menemukan dirinya di kamar yang begitu asing.
"Di mana Lexi?" suaranya parau, berat, dan lemah.
Orang asing itu mengucap syukur begitu melihat Steve sadar.
"Di mana Lexi? Apakah dia masih hidup?"
"Gadis itu di bawa ke rumah sakit terdekat. Kondisi kepalanya cukup parah. Dia mengalami koma."
Steve melepaskan infus di tangannya, ia bangkit dan langsung ambruk. Ia belum pulih sepenuhnya.
"Kondisimu juga tidak cukup baik. Kau mengatakan harus disembunyikan, untuk itulah kami tidak membawamu ke rumah sakit."
Steve tidak bisa menyalahkan penyelamatnya itu. Dia tidak mengatakan bahwa Lexi lah yang harus disembunyikan.
"Kau memiliki ponsel?"
Pria itu langsung memberi perintah kepada istrinya agar mengambil ponsel dan memberikannya kepada Steve.
Steve langsung menghubungi nomor asistennya. Leon Nolan. Pria yang selalu ia tugaskan menjaga Lexi saat dia masih ada di Spain. Dan sekarang, pria itu lah yang menghandle semua pekerjaannya juga mengurus kekayaannya. (Nama Leon di sebut di acara ulang tahun ke 25 Lexi jika ada yang lupa).
"Ini aku, Steve. Datanglah kemari. Segera. Bawa dokter terbaik dan katakan pada keluarga Amor untuk pindah sementara ke St. Nedal's Island. Bawa Lexi ke sana." Dan Steve kembali pingsan tidak sadarkan diri. Pax menemukannya di rumah salah satu warga. Sementara warga yang menyelamatkan Steve dan Lexi, Leon mengatur perjalanan panjang untuk keluarga itu dan memberikan hadiah yang cukup besar.