
Steve melepaskan jasnya, Lexi berlari untuk membantu. Kemeja putih kini berubah berwarna merah. Lexi meringis ngilu. Tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Steve masih terlihat santai, tidak menunjukkan raut kesakitan sama sekali.
"Apakah tidak sakit?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Lexi.
"Harusnya aku tidak bermurah hati."
"Maksudmu?" Lexi mengeluarkan sapu tangan yang terselip di kantong jas Steve dan menekankan kain tipis tersebut ke luka Steve agar darahnya tidak terus mengalir.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menutup jalan keluarnya darah. Sakit?"
"Lain kali akan kubiarkan timah panas itu menyentuh kulitmu. Ambilkan penjepit dan alkohol."
"Untuk?"
"Mencabut jarimu."
Lexi bergidik, spontan mundur beberapa langkah. "Duduklah, ayahku adalah seorang dokter. Ia akan merawatmu dengan baik."
"Berapa ayah yang kau miliki?" Steve berbalik, keduanya kini berhadapan.
"Ayah? Lumayan banyak."
Steve melangkah, mengikis jarak diantara mereka. Ingin rasanya Lexi menjauh, tapi kakinya seakan terpaku di lantai. Jantungnya berdegup tidak karuan, wajahnya merah padam, terasa panas. Tatapan pria di hadapannya itu begitu intens, seakan mampu menarik jiwanya dari raga. Aroma maskulin yang begitu memabukkan mulai memanjakan hidungnya, membuat aliran darahnya merangkak cepat.
Lexi memalingkan wajah, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah. Tidak jelas. Kakinya ternyata tidak terpaku begitu ia melihat ke lantai. Ia melihat dengan jelas sepasang kaki indahnya bergerak mengetuk tidak sabar. Lalu kenapa ia tidak mundur, tidak menjauh dari pria itu? Hei, ia juga tidak tahu jawabannya!
"Apa kau takut?"
"Hah?" Refleks ia mendongak. Maniknya membeliak menemukan wajah Steve begitu dekat dengannya. Pertanyaan yang sama kemudian terulang kembali. Kenapa ia tidak mundur?!
"Saat mengetahui seseorang mengincarmu, apa kau takut?"
"A-aku..."
"Takut atau tidak?"
"Jangan mendesakku!"
"Jawab."
"Aku tidak takut." Kepalanya kembali menunduk, menyembunyikan kebohongan yang jelas terpancar di kedua maniknya.
"Kenapa menunduk?"
"Darren akan menghajarmu jika menemukan kita seperti ini."
"Seperti apa?"
"Se-seperti ini."
"Seperti apa?"
"Me-menjauhlah."
"Kenapa bukan kau yang menjauh?" Steve maju selangkah. Lutut mereka saling menyentuh. Lexi berjengkit kaget. Ajaib, ia berhasil melompat mundur. Namun, Steve kembali maju, menahan kedua lengan Lexi tetap di tempat. Posisi keduanya kini semakin intim. Lexi meneguk salivanya hingga menimbulkan bunyi. Sudut bibir Steve terangkat. Matanya memicing nakal.
"A-aku baru saja menjauh. Kenapa kau menahanku? Pin-pintu tidak dikunci, Darren bisa masuk dan melihat kita..."
"Kau ingin aku mengunci pintu?" Steve membasahi bibirnya, menahan senyumannya agar tidak lepas. Wajah Lexi tidak ubahnya tomat segar yang siap panen. Merah merona.
"Bu-bukan seperti itu maksudku. Ke-kenapa kau lancang sekali?" Lexi menggigit bibir bawahnya. Ia merasa gugup. Sangat gugup. Ia tidak ingat kapan ia merasa gugup saat berhadapan dengan seorang pria. Ah! Memang tidak pernah. Satu-satunya pria yang mampu membuatnya gugup salah tingkah adalah Steve.
Hanya karena namanya sama dengan priaku, kenapa jantungku harus bertingkah memalukan seperti ini. Hei, jantung! Malu pada umur!
"Kau terdengar seperti menggodaku. Seperti gadis nakal yang mencoba menghasut pemuda lugu."
"Pernyataanmu jelas berbanding terbalik."
"Pria nakal yang menggoda gadis polos? Kau masih polos?"
"Apa maksudmu?!" Lexi menyilangkan kedua tangannya di dadaa. Yang harusnya ia lakukan adalah marah, mengumpat, memaki dan mendorong. Lagi dan lagi, perintah goib itu tidak mampu ia lakukan, seolah tidak berdaya. Lexi bahkan dengan lugunya menggigil saat Steve mencondongkan wajah sebelum memiringkan kepala hingga mulutnya menyentuh daun telinga Lexi. Napas Steve yang teratur seperti mantra yang menghatarkan sensasi gila yang membuatnya melambung seketika.
"Aku sudah menyelamatkanmu, tugasmu adalah merawatku." Bisik pria itu.
Sumpah demi apa pun, Lexi tidak fokus pada apa yang dikatakan Steve. Satu-satunya hal yang ia rasakan adalah kecupan di telinganya. Benarkah pria itu mengecupnya?
"Kunci pintunya sebelum mengobatiku." Steve melepaskan bajunya. Memamerkan tubuhnya yang kekar dan penuh bekas luka. Sangat berbanding terbalik dengan wajah Steve yang mulus tak bernoda.
Lexi terkesiap melihat luka-luka di tubuh pria itu. Bagaimana luka sebanyak itu ada di sana? Entah mendapat dorongan dari mana, Lexi melangkah menuju pintu. Sesuai perintah Steve, ia mengunci pintu tersebut. Saat ia berbalik, Steve sudah berbaring di atas ranjang.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Ambil penjepit dan alkohol. Keluarkan pelurunya."
"Hah?"
"Aku bisa kehabisan darah, Lexi."
Jantungnya kembali berulah mendengar cara pria itu menyebut namanya.
"Aku akan mengambil perelatannya." Lexi beranjak, mengambil benda yang ia butuhkan di peti penyimpanan obat. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Darren dan Austin juga sering terluka, hingga benda-benda seperti itu sudah pasti tersedia di rumahnya. Masalahnya, tidak sekalipun ia pernah mengobati para saudaranya. Ia menyaksikan saudaranya terluka saat luka yang Darren dan Austin dapatkan sudah diobati.
"A-aku tidak berani melakukannya."
"Lakukanlah."
"Ba-bagaimana caranya." Lexi berdiri di tepi ranjang.
"Naiklah."
"Na-naik?"
"Ya."
"Ta-tapi.."
"Naiklah, Lexi."
"Oh, ya." Lexi naik ke atas tubuh Steve, pria itu terkejut hingga terbatuk-batuk. "A-apa aku berat?" Lexi melompat turun.
"Tidak. Hanya saja kenapa kau duduk di atas punggungku." Steve bangkit, wajahnya meringis menahan sakit. Untung saja peluru yang ditembakan rekannya bukan peluru mematikan, melainkan peluru karet, tapi meski demikian, tetap saja menimbulkan rasa sakit.
"Kau memintaku naik."
"Ke atas ranjang, bukan ke atas tubuhku." Oh Tuhan, Steve bisa gila jika begini. Butuh tekad yang kuat untuk menahan gejolak di dadaanya.
"Oh..." Lexi menutup wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu. "Maafkan aku."
"Tidak masalah."
Perlahan Lexi menurunkan tangannya. "Sepertinya ayahku sudah datang. Aku akan memanggilnya."
"Aku hanya ingin kau yang mengeluarkan pelurunya."
"Aku tidak akan bisa. Lukamu bisa menganga."
"Lakukanlah."
"Aku tidak pernah melakukannya."
"Hari ini kau akan melakukannya."
"Aku tidak tahu pelurunya di mana."
"Aku percaya padamu."
Lexi terdiam. Tiga kata pria itu seakan menghipnotisnya. Perlahan ia naik ke atas ranjang. Mengambil posisi di balik punggung pria itu. Lexi mengambil cairan alkohol, menyiramkannya ke atas luka tersebut. Steve meringis, Lexi spontan meniup lukanya.
"Jangan meniup, keluarkan pelurunya."
"Aku bisa membuat lukanya semakin lebar."
"Lakukan saja."
Pun Lexi mulai memasukkan alat yang dipilih Steve ke dalam luka tembak pria itu. Tangan Lexi gemetar, ia panik juga takut. Ringisan rasa sakit pria itu menghantarkan rasa nyeri ke hatinya.
"Ba-bagaimana aku menemukannya? A-apa sakit?"
"Sangat."
"A-apa yang harus kulakukan?"
"Teruslah mencarinya."
"Aku tidak menemukannya."
"Jangan panik."
"Bagaimana tidak panik. Darahmu bercucuran!"
"Tenanglah."
"Tidak bisa."
"Bagaimana persiapanmu untuk ajang fashion besok?"
"Kau membuatku dalam kesulitan. Aku tidak bisa mendapatkan model yang sesuai dalam waktu singkat."
"Aku sengaja melakukannya."
"Ah, sepertinya aku menemukannya." Lexi berseru kegirangan.
"Kerja bagus, Lexi. Kau hebat."