H.U.R.T

H.U.R.T
Aturan Permainan



"Jadi, kau sedang jatuh cinta?"


Lexi tersipu malu mendengar pertanyaan ibunya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya sambil membawa makanan untuknya.


"Ouh, Mom bisa melihat kedua pipimu bersemu layaknya tomat segar yang siap panen." Ibunya semakin menggodanya. "Ceritakan apa yang terjadi tadi malam?" wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik itu meletakkan nampan di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, bersebelahan dengan putrinya.


"Aku akan menceritakan hal yang berbeda padamu, Mom."


"Seperti biasa, lebih detail dibandingkan yang kau ceritakan kepada Pax Willson?"


Kedua wanita itu tergelak, "Ya, itu karena kita perempuan. Kau pasti mengerti apa yang kurasakan, Mom!" Lexi mengatur posisi duduknya senyaman mungkin. Duduk bersila, berhdapan dengan ibunya. Kemudian ia memegang kedua tangan ibunya, membawanya ke dadaanya. "Kau dengar, Mom?"


"Mom bisa merasakannya." Alena tergkekeh geli melihat kepolosan putrinya itu. "Jantungmu meletup-letup hanya karena kau mengingatnya. Itukah yang ingin kau katakan?"


"Oh, Mom! Kau memang yang paling mengerti diriku. Ini yang ingin kukatakan. Aku merasakan debaran itu lagi, Mom. Aku juga bahkan merasakan seluruh tubuhku panas terbakar jika sedang berdekatan dengannya. Ini kedua kalinya aku merasakan hal seperti ini." Wajahnya berubah murung, helaan napas panjang meluncur dari mulutnya.


"Bukankah itu pertanda bagus, Sayang." Jemari ibunya menyentuh wajahnya. Senyum hangat wanita itu sangat ampuh. Selalu bisa mengubah moodnya yang berubah-ubah.


"Aku merasa seperti sedang berkhianat."


"Pada kekasih hantumu?"


"Mom!" Lexi merengek manja. Sebutan kekasih hantu bermula dari Darren. Kini, semuanya sering menggodanya demikian. Itu karena dirinya yang tidak pernah terlibat dengan pria mana pun setelah Steven dinyatakan mati.


"Sepertinya aku harus mengunjunginya dan meminta izin."


Ibunya tersenyum mendengar ucapan anak gadisnya itu. Ia kira, Pax dan dirinya lah manusia yang paling gila dalam hal cinta. Nyatanya, Lexi lebih dari mereka. Tapi itulah cinta, selalu gila, bukan? Bukan cinta kalau tidak gila.


"Lakukan jika itu membuatmu nyaman. Kurasa ia akan sangat senang jika kau memutuskan untuk membuka hati pada pria lain. Omong-omong, bukankah itu artinya kau akan berkencan dengan pria itu?" selidik ibunya.


"Dia memintaku menjadi kekasihnya, Mom!' Lexi melompat berdiri. Kedua tangannya menyentuh wajahnya yang kembali panas merona.


"Yeah, wow! Tapi aku menghancurkan segalanya." Gadis itu kembali duduk. "Aku panik, aku..." Lexi mendadak gugup. Jemarinya saling bertaut, meremass satu satu sama lain hingga buku kukunya memutih. Alena memperhatikan hal tersebut, kemudian menyentuh tangannya, melepaskan tautannya secara perlahan.


"Tindakanmu sudah benar, Sayang. Kau melakukan sesuatu yang benar." Ucapan lembut ibunya berhasil menarik perhatiannya sepenuhnya. Ia hampir saja tenggelam pada kejadian tadi malam. Ia menggila dan histeris hingga akhirnya jatuh pingsan di dalam pelukan Steve. Pagi harinya, Steve berlakon seolah tidak ada yang terjadi. Pria itu tidak melayangkan pertanyaan sama sekali. Tentu saja ia bersyukur akan hal itu.


"Kau menolaknya?" tebak ibunya.


Lexi mengangguk cepat. "Aku sepertinya menyukainya tapi aku menolaknya."


"Bagus, biarkan dia mencoba merebut hatimu lebih gesit lagi. Biarkan dia meyakinkanmu. Hatimu masih terkurung dengan masa lalu. Steven menolakmu, pemuda yang kau sukai sejak kau mengenal apa itu cinta. Dan disaat kau merasakan hal yang sama, disaat yang bersamaan, kau tidak yakin bahwa pria itu benar-benar menyukaimu."


"Yah, Mom." Lexi mengangguk cepat. "Aku tahu saat aku jatuh cinta dan mencintai. Tapi aku tidak tahu, apakah aku dicintai atau tidak. Apakah aku mendapatkan rasa yang sama dengan rasa yang kuberikan."


"Terkadang kita harus lebih berani mengambil resiko, Lexi. Penolakanmu adalah hal yang benar, guna melindungi diri dan perasaanmu. Tapi, bagaimana kau tahu dan yakin bahwa kau benar-benar diinginkan jika kau tidak menjalaninya. Hanya saja, saat menjanani hubungan, jangan serahkan hatimu sepenuhnya. Sisakan sebagian untuk memberimu kekuatan disaat di bagian hatimu yang lain ditorehkan luka dan kekecewaan. Tapi, apa pun hasil yang kau dapatkan saat menjalani hubungan tersebut, bersiaplah untuk kemungkinan terburuknya. Singkirkan ketakutanmu yang selalu saja menghantui dan menggerogotimu. Bukankah Mom, Dad, Darren dan Austin selalu ada di sisimu, Sayang. Kami mencintaimu. Dan kami ingin melihat kau bahagia. Benar-benar bahagia. Bukan berpura-pura bahagia."


Lexi tersentak, "Aku tidak berpura-pura, Mom. Aku bahagia. Sungguh."


"Ya, kau berpura-pura bahagia hanya karena tidak ingin beruurusan dengan dokter lagi."


"Oh, Mom." Ia ketahuan. "Konsultasi, terapi, semuanya membuatku tertekan. Aku ingin melupakan semuanya. Pertanyaan dokter tersebut seakan menghipnotis, memaksaku kembali ke masa lalu. Aku melihat segala sesuatu yang buruk dan mengerikan. Aku terbebani karena merasa buruk. Aku..."


"Sssttt... Tenanglah, Sayang. Maafkan kami. Kau tidak akan bertemu dokter lagi. Tidak akan." Tanpa sengaja, Alena mendengar apa yang dikatakan Steve kepada Pax dan Darren. Ia terkejut jika Lexi mereka sebegitu tertekannya.


Ia juga terkecoh, mengira jika Lexi benar-benar sudah sembuh. Gadis itu berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua. Baik di dalam keluarga, lingkungan dan pertemanannya. Hingga Lexi lupa, apa sebenarnya yang ia inginkan. Yang Lexi lakukan hanya menjadi gadis baik, penurut dan baik hati di hadapan semuanya. Setelah hitungan tahun, kini putrinya kembali merasakan jatuh cinta, pada pria yang sama, yang sialnya tidak diketahui putrinya. Entah apa yang akan terjadi jika Lexi mengetahui semuanya. Yang dilakukan suami dan anaknya adalah melindungi Lexi dan yang ia lakukan adalah mendorong gadis itu untuk lebih terbuka dengan perasaannya. Jika Steve mempunyai maksud terselubung dengan cara mendekati Lexi, biarkan Lexi sendiri yang tahu. Ia yakin Lexi akan lebih berani, lebih kuat dan mungkin akan terbebas dari belenggu masa lalu setelah mengetahui semuanya secara langsung.


"Maafkan aku, Mom."


Alena membawa putrinya ke dalam pelukannya. Jika Pax menganggap Lexi akan dibutakan oleh cinta yang berbalut obsesi, untuk kali ini pandangan mereka berbeda. Selama ini, Alena selalu mendukung apa pun keputusan Pax, tapi tidak untuk kali ini karena yang Alena lihat, Lexi memiliki ketulusan seputih kapas. Gadis yang ia besarkan pasti tahu apa itu cinta dan obsesi. Sudah waktunya Lexi memberi warna di hidupnya. Luka, tawa, tangis, kekecewaan, dan air mata, bukankah semua komponen itu yang membuat kita lebih hidup, membentuk kita menjadi lebih bijak, kuat dan tegar. Dan semua hal itu lah yang juga mengajarkan manusia untuk lebih menghargai orang-orang tersayang. Dan yang terpenting, lika liku kehidupan tersebut lah yang membuat Pax dan Alena sampai pada titik ini. Titik yang dikatakan dengan kehidupan yang sempurna. Kebahagiaan tidak terbendung. Dan Alena ingin, Lexi juga merasakan hal yang sama. Kebahagiaan yang tidak bisa diucapakan dengan kata-kata, namun bisa dirasakan.


"Lebih jujur dan berani lah dengan perasaanmu, Sayang. Jika pada akhirnya, ini adalah sebuah game, yang kau lakukan adalah mengikuti aturan permainannya dan mempelajari triknya."