H.U.R.T

H.U.R.T
Siaran Langsung



"Ini sudah keterlaluan, Dad!" Darren baru saja memperlihatkan kepingan vidio Lily yang menyiksa dirinya sendiri. "Mereka sengaja melakukannya. Tapi, kenapa Lexi yang mereka incar?"


"Karena dia kelemahan kita." Pax masih menonton vidio tersebut untuk kedua kalinya. Mencari celah, kira-kira siapa yang melakukannya. Tidak ada suara, selain jeritan histeris Lily. Pax tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Lexi saat menyaksikan temannya seperti itu. Rokok yang diberikan kepada Lily, dibuang ke lantai dan Llily kemudian memungutnya dan membakar wajahnya sendiri. Jelas sekali jika wanita itu sedang di bawah pengaruh ancaman.


"Kau sudah meminta seseorang menuju ke sana?"


"Ya," Darren berdecak kesal. "Tom sedang menuju ke sana. Harusnya kita menghentikannya sebelum perbuatan mereka semakin menjadi."


"Ya. Kau benar. Tapi ini tidak semudah yang kau pikirkan."


"Kita tinggal mengatakan jika Lexi tidak ada hubungannya dengan kematian Olivia!"


"Bagaimana denganmu? Brian dan ayahnya memiliki vidio saat kau bersama gadis itu."


Darren meneguk salivanya. Wajahnya bersemu entah karena malu atau marah.


"Jika yang dihadapi hanya Mr. President, tentunya semuanya akan mudah. Akan selesai 13 tahun yang lalu."


Darren membenarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Semuanya tidak bisa diselesaikan dengan adu kekuatan atau otak. Andai perang adalah solusi. Jelas Darren dan keluarganya kalah. Sepintar apa pun mereka menyusun strategi.


"Steven Ivarez, aku tidak menyukainya."


Pax tergelak, "Kau menemukan lawan yang sebanding."


"Pria itu sangat mencurigakan. Selalu mencari kesempatan untuk menarik perhatian Lexi. Jika dibiarkan, Lexi bisa luluh."


"Lexi tahu apa yang terbaik untuknya." Pax menarik napas panjang. Ucapannya itu hanya untuk menghalau kekhawatirannya. Apakah Lexi cukup kuat menerima kenyataan jika semuanya sudah terbongkar.


Ping!


Darren mengeluarkan ponsel. Dahinya mengerut membaca pesan Tom yang menyatakan dirinya ditahan.


💌 Kau harus melihat televisi, sekarang. Kantor polisi dalam keadaan sangat kacau.


Darren pun segera menyalakan televisi.


"Oh Tuhan," Ia dan Ayahnya kompak berseru kaget.


"Jadi yang kau lakukan ini adalah apa yang sudahkau lakukan kepada Olivia Phillyda?" Tampak Vincent mengintrogasi Lily di dalam sel. Wajah wanita itu babak belur. Belum sempat mendapat perawatan sama sekali. Pandangan Lily terlihat kosong, lalu secara mengejutkan ia mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan Vincent.


"Katakan siapa Olivia Phillyda?"


"Siswi Yale High School. Gadis yang meninggal 13 tahun lalu."


"Jadi kau membully-nya?" Vincent kembali bertanya.


"Ya. Aku dan teman-temanku melakukannya." Bibir wanita itu bergetar ketakutan. "Kami sering melakukannya," maniknya mulai mengeluarkan tangisan. "Ba-bahkan satu jam sebelum kematiannya. Aku, Isla Ginevra dan beberapa temanku masih menyiksanya di dalam toilet. Isla sangat menyukai Mr. Arthur Cony dan Olivia dianggap sebagai perayu karena sering terlihat bersama guru arkeologi tersebut." Tubuh wanita itu kini berguncang hebat. "Yang kulakukan tadi sama persis seperti yang kami lakukan."


"Jika Isla melakukannya karena cemburu, bagaimana dengan dirimu? Apa alasanmu?"


"Olivia merebut Steven dari Lexi. Selain untuk bersenang-senang, aku juga melakukannya demi Lexi."


"Lexi Stevani Willson?"


"Apakah mungkin penyebab Olivia mengakhiri hidupnya karena merasa tertekan dengan apa yang kau dan temanmu lakukan?"


Lily menggeleng kuat. Menolak pernyataan tersebut walau sesunguhnya ia juga mempertanyakan hal yang sama di benaknya. Selama di balik jeruji, Lily seperti dihantui.


"Keluarkan aku dari sini. Aku bisa mati. Aku tidak ingin seperti Isla. Di sini mengerikan. Kumohon Vincent." Lily meraih tangan pria, memohon dengan sangat. Ia tidak peduli dengan pengkuannya yang disiarkan secara langsung. Ia harus hidup. Ia harus selamat. Ia tidak boleh mati dengan cara tragis.


"Minumlah," Vincent menyodorkan segelas alkohol. Penampakan minuman yang terlihat aneh di tengah situasi mereka.


"Minuman bukan yang kuinginkan saat ini." Bibirnya bergetar hebat. Maniknya melirik ke balik punggung Vincent. Pria itu pun ikut menoleh, kemudian menganggukkan kepala.


"Bukan hanya kau dan temanmu yang menyiksa Olivia," ucap pria itu dengan tatapan melayang, menggali ingatan tentang apa yang sudah ia lakukan. "Aku juga melakukannya. Kami melakukannya. Bahkan lebih keji dari apa yang sudah kau lakukan, Lily. Kau ingin tahu apa yang kulakukan?"


"Apa yang kau lakukan?"


Vincent beranjak dari kursi, berdiri di belakang Lily. "Malam itu, di acara prom night, bukankah Olivia terlihat sangat manis dengan gaun putihnya." Vincent tiba-tiba tersenyum nakal. "Dia adalah orang yang sering kujadikan sebagai objek fantasi liarku. Dia sangat manis di balik kaca mata berbingkainya. Malam itu, aku sangat mabuk. Sama seperti sekarang." Tiba-tiba tanganya membelai wajah Lily yang penuh luka, membuat gadis itu tersentak kaget.


"Vincent..."


"Sstt.... Inilah yang kulakukan padanya. Aku menjamahnya sebelum memanggil yang lain."


Lily melompat berdiri. "Ka-kau memperkosanya?"


"Kami memperkosanya, termasuk Neal, kekasihmu. Neal sangat liar bukan?" Ucap pria itu dengan nada kurang ajar. Srek!


"A-apa yang kau lakukan?!" Lily menghindar, melompat menjauh.


"Ya, tepat seperti ini. Olivia juga bereaksi serupa. Dia histeris." Vincent mendekati Lily, mengawasi pergerakan wanita itu seperti pemangsa. Ya, malam itu, Vincent lah yang melakukan serangan kepada Olivia sebelum yang lainnya menyusul. "Dia juga sangat nikmat." Vincent mencekal pergelangan tangan Lily. Tidak membiarkan wanita itu beranjak. "Bukankah kau ingin tahu seperti apa aku melakukannya?"


Lily menggeleng ketakutan, menjerit histeris. Menolak sentuhan Vincent. Tapi apa daya, tubuhnya sudah lemah tidak bertenaga. Vincent pun melakukan aksi bejatnya yang disiarkan secera langsung.


"TIDAK!!!" laungan suara Lily. Sayang, tidak ada satu pun yang mendengar.


"Inilah yang kami lakukan. Kami memperkosanya! Tidak ... Tidak... Kami tidak membunuhnya. Setidaknya aku tidak membunuhnya. Aku tidak tahu dengan yang lain. Sebanyak dua kali. Kami memperkosanya sebanyak dua kali." Vincent menyelesaikan aksi brutalnya. Mengabaikan tangisan Lily, tidak menggubris caci maki yang dilayangkan wanita itu padanya.


Vincent tiba-tiba berlutut, "Jangan membunuhku. Kumohon."


Siaran pun berakhir. Darren termangu di tempat. Jiwanya seakan hilang dari raganya melihat aksi tersebut.


"Dude..."


Darren menggeleng, "Aku akan menghabisi si biadab itu. Jangan menghalangiku, Dad!" Darren beranjak, keluar dari ruang kerja ayahnya. Pun ia mengemudikan mobil, melaju kencang menuju kantor polisi.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Darren melompat dari dalam mobil tanpa mematikan mesin mobil. Suasana benar-benar ramai dan kacau. Mobil ambulance ada di mana-mana. Memasuki gedung, ia dibuat terkejut. Para petugas yang sedang berjaga terkapar tidak sadarkan diri alias metong dalam keadaan mulut berbuih. Apa yang terjadi? Darren melanjutkan langkah, tujuannya adalah Vincent.


Langkahnya kembali terhenti saat melihat seseorang keluar dari ruang penyidik. Steven melenggang santai. Apa lagi yang dilakukan pria itu di sini? Apakah Steve dalang yang membuat kehebohan ini?


Pandangannya dialihkan oleh kehadiran Tom yang muncul dari balik punggung Steven, disusul Sam, anak buah Steven.


"Terancam atau tertampar? Di mana dari kedua kata tersebut yang membuatmu datang kemari, Willson?" Wajah pria itu bengis dan dingin. Tersirat emosi yang tidak terbendung.