
Steve mondar mandir tidak sabar di hadapan seluruh keluarga Willson. Harry dan Odelle ataupn yang dikenal Steve dengan nama Zenia juga ada di sana. Isabell juga turut serta ikut bergabung.
Satu jam yang lalu, Darren berhasil menghubungi Lexi dan gadis itu mengatakan jika dirinya sedang menuju pulang. Steve benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu. Perasaannya campur aduk, bahagialah yang mendominasi. Sebentar lagi, tinggal sebentar lagi, kisah mereka akan memiliki ujung.
Kata-kata Nobita kepada Doraemon adalah pesan terselip yang mengatakan bahwa Lexi akan kembali kepadanya. Lexi menemui Harry untuk meminta maaf, meluruskan perasaannya. Namun, sebelum Lexi mengungkapkan hal tersebut, Harry tiba-tiba datang menemui Lexi begitu tugas kenagaraannya selesai. Pria itu meminta maaf, memohon ampun di hadapan semua keluarga Willson. Harry mengumumkan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan Lexi.
Di samping ia sudah menyerah sebelumnya terhadap pernikahannya dengan Lexi, Harry juga menyadari jika yang ia rasakan kepada Lexi hanyalah sebuah kekaguman semata, bukan kegilaan cinta seperti yang ia rasakan kepada Odelle, wanita yang tanpa sengaja ia hamili. Harry jatuh hati pada pandangan pertama dan menemukan perbedaan dalam dirinya setiap berbincang dengan Odelle. Ia lebih bersemangat. Pertemuan yang singkat, tapi cinta datang tanpa memperkirakan waktu, bukan?
Harry bahagia mendengar kabar bahwa Lexi sudah ditemukan, tapi hatinya juga diliputi ketakutan detik itu juga. Saat ia meninggalkan Odelle di kamar hotel, ia menemukan dirinya yang tidak sanggup kehilangan wanita itu. Ada rasa tidak rela.
Itulah mengapa ia butuh waktu untuk berpikir dengan alasan pekerjaan yang memang benar adanya. Ia harus menjauh dari Lexi atau pun Odelle. Nyatanya, begitu urusannya selesai, kakinya justru melangkah pada Odelle dan menemukan wanita itu di toilet dengan sebuah alat tes kehamilan di genggamannya.
"Kenapa lama sekali? Katakan saja di mana posisinya, aku akan mendatanginya." Steve menatap Darren yang bertugas menghubungi Lexi.
"Dia tidak ingin kau yang mendatanginya," Daren menyahut ringkas.
"Sampai kapan aku harus menunggu di sini?"
"Sampai Lexi datang," Darren kembali menimpali.
"Apa masih lama?"
"Sebentar lagi."
"Aku tidak mengetahui defenisi sebentar bagimu. Sejak satu jam yang lalu kau terus saja mengatakan sebentar lagi."
"Itulah yang Lexi katakan. Aku hanya menyampaikan."
"Berikan ponselmu," Steve mengulurkan tangan. Ponselnya sendiri ketinggalan di mobil dan ia tidak ingin repot-repot untuk mengambilnya.
"Untuk?"
"Aku akan berbicara dengan Lexi."
"Astaga, tunggulah..."
"Sebentar lagi?! Itu yang ingin kau katakan?!" Steve melotot ke arah Darren dengan wajah kesal.
Darren hanya bisa geleng-geleng head, memilih untuk tidak menanggapi. Sementara Pax, Austin dan yang lainnya sepertinya sangat menikmati ketidaksabaran Steve.
"Duduklah, minum dulu, atau kau juga bisa mandi," Austin menyarankan dengan nada geli. Siapa yang peduli dengan itu semua. Jika Austin berada di posisi Steve saat ini, ia juga yakin jika sikap dan tingkahnya tidak akan jauh berbeda.
Suara mobil dari luar menyelamatkan Austin dari makian hendak keluar dari mulut Steve karena pria itu langsung bergerak menuju keluar.
Benar saja, Lexi lah yang datang. Begitu melihat wajah gadis itu, Steve mendadak kaku. Ia tidak bisa menggerakkan kaki, yang ia lakukan hanya bergeming, menatap penuh haru, penuh kagum dan penuh cinta.
Lexi pun memandanginya dengan tatapan serupa. Bibir gadis itu menyungging membentuk sebuah senyuman yang begitu indah. Maniknya berembun, tapi semua tahu jika andai kristal bening itu runtuh, itu bukan tangisan kesedihan melainkan kebahagiaan.
Lexi berlari seperti anak kecil dengan merentangkan kedua tangan. Menjatuhkan diri ke dalam pelukan Steve. Mendekap pria itu dengan kuat dan erat.
"Aku datang, aku datang padamu, pria bodoh. Dan aku mencintaimu. Peluk aku."
Ya, Steve masih terlalu terkejut menerima limpahan kebahagiaan ini hingga yang ia lakukan hanya berdiam diri sekalipun hatinya bersorak memberi perintah 'Sambut wanitamu!'
Apa hendak dikata, ia terlalu bahagia hingga mendadak cosplay menjadi patung.
"Steven..." Lexi mengurai pelukannya, kedua tangannya kini merangkum pipi pria kesayangannya itu.
"Lexii..." akhirnya kesadarannya kembali. Steve menarik Lexi ke dalam pelukannya. "Oh Tuhan, ini bukan mimpi."
"Ini kenyataan. Kenyataan aku datang kepadamu, Steven Percy dan aku mencintaimu lebih banyak, lebih gila dari cinta yang kau miliki untukku!"
"Akhirnya," hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ia menundukkan kepala, mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lexi.
Untuk sesaat, untuk waktu yang tidak mereka hitung, keduanya larut dalam pelukan hangat yang menenangkan jiwa keduanya. Meluapkan rasa yang terpendam pada pelukan yang semakin erat. Terlalu banyak yang ingin mereka ungkapkan, namun semuanya mendadak hilang.
Biarkan mereka menikmati momen ini, itulah yang dilakukan Pax dan keluarganya begitu pun Harry, Odelle dan Isabell. Mereka hanya menonton dalam dian dan akhirnya beranjak dari sana tanpa suara.
Steve dan Lexi sudah terlalu lama menunggu. Sudah saatnya mereka bahagia.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu menunggu sangat lama."
"Jika endingnya seperti ini, aku tidak keberatan."
"Satu bulan membuatku sesak napas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau bisa melewatinya selama ini."
"Tidak usah dibayangkan. Kita sudah bersama." Steve sudah melupakan penderitaan, kerinduan, kesepian dan trauma yang ia alami selama ini. Kembalinya ia bersama Lexi adalah obat yang mujarab. Ia tidak ingin merusak momen ini dengan membahas yang sudah terjadi. Sudah saatnya mereka menata masa depan, menciptakan kebahagiaan yang mereka impikan. Sungguh Steve sudah tidak sabar untuk itu.
Tapi sepertinya keinginannya itu tidak sejalan dengan Lexi yang masih ingin meluruskan semuanya. Ya, wanita memang selau detail menyangkut segalanya.
"Aku sudah mengatakan kembali kepadamu. Kenapa kau malah menghilang!"
"Kau tidak mengatakan seperti itu dan aku tidak menghilang. Aku di sini."
"Ya, kenapa kau di sini! Harusnya di St. Nelda's Island. Bukankah sudah kukatakan aku setuju dengan Doraemon!"
"Aku tidak peduli dengan Doraemon. Aku hampir gila di sana."
"Tidak kuat melihat ranjang yang menjadi bukti keamoralan kita."
"Kau tahu itu, tapi kenapa menyatakannya dengan begitu jelas." Steve menoleh ke belakang, bersyukur tidak ada Pax di sana atau siapa pun yang mungkin mendengar percakapan ini.
"Aku merasakan hal yang sama. Aku mengusap seprei dan menemukan jariku hampir terbakar."
"Kau berbohong dan berlebihan, aku tidak menemukan luka di jarimu," Steve mengangkat kedua tangan Lexi, memberi kecupan kepada jari gadis itu satu persatu.
"Aku mengatakan hampir. Kau ingin jariku terbakar?"
"Tentu saja tidak!"
"Aku juga membaca ulang semua pesan yang kau kirim dan kaca mata itu, astaga! Kenapa kau mengenakannya. Itu sudah tidak cocok untukmu."
"Itu benda kesayanganku. Mau sampai kapan kita berdiri di sini."
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi." Steve menyatukan tangan mereka, melangkah beriringan menuju mobilnya.
"Kukira kita akan masuk ke dalam rumahku."
"Aku ingin berduaan. Astaga, aku masih tidak menyangka bahwa akhirnya kita bisa bersama setelah kau menikah dengan Harry."
Lexi tiba-tiba menghentikan langkahnya, menarik tangannya dari genggaman Steve dan menatap pria itu dengan tatapan horor.
Steve mengernyit bingung, "Ada yang salah dengan ucapanku?"
"Kau menghina statusku yang sudah janda, Steven Percy?"
"A-aku tidak menghinanya."
"Kau menghinanya! Kau bahkan sudah tidak perjaka! Meski aku janda tapi aku masih perawan!"