
Steve membongkar semua pakaian yang ada di lemari Lexi, mencari gaun yang bisa menutupi seluruh tubuh istrinya sebelum mereka turun ke bawah menemui keluarga mereka. Meski ia tipikal pria yang tidak akan mengambil pusing omongan orang lain, tapi menyangkut Lexi ia tidak akan bisa mengabaikannya begitu saja. Ini kesalahannya yang akan berujung sebagai kekalahannya di hadapan Willson.
Entah itu Pax, Austin atau mungkin Darren, pasti akan melontarkan kalimat ejekan yang menyebalkan jika melihat jejak kebrutalannya di leher Lexi. Bukan hanya leher, tapi hampir seluruh tubuh istrinya itu. Bagian dalam tidak akan terlihat karena dibungkus dengan pakaian. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagian leher.
"Sesungguhnya aku tidak menyukai pakaian dengan model turtleneck," aku Lexi setelah pakaiannya hampir seluruhnya berserakan di lantai.
Mendengar pengakuan Lexi, Steve menarik napas berat. Dalam sejarah hidupnya, untuk pertama kalinya ia akan menanggung beban malu.
Jika Lexi tidak memiliki pakaian dengan kerah model turtle yang bisa menutupi lehernya yang penuh dengan aib keganasan, lantas dengan apa Steve harus menutupi keliaran mereka.
Steve memeras otaknya, mendadak jiwa desainer mereka tidak berfungsi sama sekali. Ejekan dan cemoohan para Willson di bawah sana sudah memenuhi otaknya.
"Kenapa mereka tidak pergi bekerja? Apakah mereka sangat senggang?" Steve keluar dari ruang ganti menuju jendela kamar yang langsung menghadap ke garasi juga halaman rumah.
Mobil Pax dan Darren jelas masih parkir di sana. Kedua pria itu lah yang paling ia khawatirkan akan menghinanya. Jika Austin yang menghinanya ia mungkin masih bisa bersikap sok cool karena hubungan keduanya cukup dekat.
"Bagaimana mungkin mereka akan pergi bekerja sementara mereka ingin mengantar kepergiaan kita," Lexi mengikuti suaminya dan wanita itu masih mengenakan jubah handuk dengan rambut tergerai yang sudah dikeringkan Steve beberapa saat lalu.
"Steven,," panggil Lexi setengah merengek.
Steve langsung menghadap Lexi. "Kau lapar?" tebak pria itu.
Lexi menganggukkan kepala. Wajar saja jika ia merasa lapar. Saat di resepsi, mereka tidak sempat untuk makan siang dan mereka juga melewatkan jam makan malam juga sarapan pagi ini.
"Sebaiknya kita memang segera turun. Maafkan aku," Steve meringis. Dengan tatapan menyesal ia mengusap wajah Lexi. "Akan kuambilkan pakaianmu."
Untuk kesekian kalinya Steve menarik napas berat. Kini tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengurung diri di kamar. Lexi sudah mengenakan pakaiannya pun dengan dirinya. Lexi juga sudah lapar dan sesungguhnya ia juga merasakan hal serupa.
"Kau resah?"
Tentu saja! Steve menjerit dalam hati.
"Tidak, apakah aku terlihat resah?" itulah jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia tidak akan mengakui kegugupannya di hadapan Lexi. Lexi memujanya dan tidak akan ia biarkan kekaguman istrinya tersebut memudar hanya karena ketakutannya terhadap cemoohan para Willson atas aktivitasnya bersama Lexi sepanjang malam.
Astaga! Harusnya mereka jangan kebablasan. Niat hati ingin menciptakan momen manis tapi yang terjadi adalah keliaran yang tidak terkendali yang menyisakan bukti nyata yang jika terlihat akan seperti aib yang memalukan.
"Entahlah, aku menghitung kau menarik napas berat lebih dari sepuluh kali. Mereka tidak akan meledek kita." Lexi mencoba menenangkan Steve yang nyatanya tidak memberi pengaruh bagi Steve. Keresahannya masih saja ada.
"Siapa yang peduli dengan ledekan mereka. Kau adalah istriku. Aku memiliki hak penuh atas dirimu," Ia berdehem. Meski pernyataan itu benar dan mutlak, ternyata tidak cukup ampuh untuk membuatnya keluar dengan berani dari kamar.
"Jika kau tidak takut diledek, kenapa membongkar semua pakaianku dan mencari baju yang bisa menutupi leherku?" pertanyaan polos itu terdengar sangat menjengkelkan. Jika yang melontarkan pertanyaan itu adalah orang lain, Steve tidak akan segan-segan melayangkan tatapan sinis atau mungkin akan melayangkan toyoran di kepala. Tapi yang bertanya adalah wanita kesayangannya yang tidak bisa membuatnya berkutik. Alih-alih menoyor sang istri, Steve justru merangkulnya.
"Mari kita temui keluargamu."
"Kenapa keluargamu kompak sekali, Lexiku sayang." Steve melihat lima pasang mata serempak menoleh ke arah mereka yang sudah berada di pertengahan anak tangga.
"Jika tidak bekerja, kami memang sering menghabiskan waktu bersama. Tersenyumlah."
"Bibirku mendadak kaku, tidak bisa tersenyum." Steve melirikkan mata ke leher Lexi yang sudah tertutup dengan syal. Terlihat sangat mencolok memang mengingat saat ini sedang musim panas.
"Selamat pagi..." Steve menyapa dengan kaku.
"Selamat siang," Austin lah yang menyahut dan semuanya kompak menahan tawa.
"Oh, sudah siang rupanya. Jamku sepertinya rusak," Steve memberi alasan konyol.
"Kalian melewatkan sarapan pagi dan karena sudah hampir memasuki jam makan siang, sebaiknya kita makan bersama."
Terima kasih kepada ibu mertuanya yang membuat kecanggungan ini tidak berlangsung lama.
"Bagaimana tidurmu, Steve?"
Pertanyaan Isabell menghancurkan harapan Steve. Pertanyaan itu justru membuat semua mata tertuju padanya.
"Tidurku? Nyaman," sahutnya singkat. "Pendingin di kamar Lexi berfungsi dengan bagus. Sirkulasi udaranya juga bagus. Kasurnya empuk, selimutnya lembut, sepreinya mengkilat menggoda...Oh Tuhan, apa yang kukatakan," wajah Steve merona merah karena merasa malu dan marah pada dirinya sendiri.
"Barang-barang di kamar putriku memang semuanya kualitas terbaik," Pax menimpali dengan positif saat Austin dan Darren sudah menatapnya dengan tatapan horor.
Namun, jawaban positif Pax justru membuatnya tersedak. Lexi langsung membantunya dan memberikannya minum. Steve yang bodoh tentu tidak akan menolak pemberian Lexi yang ia anggap sebagai bentuk perhatian yang tulus. Ia yang masih dalam keadaan terbatuk meneguk air yang diberikan Lexi. Sontak saja air yang ia minum kembali menyembur keluar. Andai Lexi memberikan racun sekalipun, mungkin tanpa pikir panjang ia akan menelannya.
Kebodohannya itu menimbulkan petaka. Air yang menyembur keluar membuat dagu dan mulutnya basah. Lexi spontan menarik syal yang dikenakan untuk membersihkan mulutnya.
Terpampang lah aib mereka di sana. Isabell yang berada di dekat mereka menjadi orang pertama yang menyadari hal itu.
"Tadi aku bertanya-tanya, kenapa kau membalut lehermu dengan syal di cuaca seperti ini. Ternyata kau sedang sakit rupanya, Lexi. Kau mengalami alergi? Banyak bentolan merah di lehermu."
Detik itu juga seluruh penghuni meja makan kecuali Isabell tentunya, mengalami tersedak massal. Steve langsung berdiri dari kursi dan sampai membungkuk karena batuknya lah yang lebih parah.
"Dia ternyata titisan vampir," celetuk Austin. Orang yang pertama kali bisa mengendalikan situasi yang menggelikan ini.
"Kuingin menjadi serigala yang bisa menghajarnya." Darren menimpali.
"Cukup. Nikmati makanan kalian." Alena menyudahi kekacauan ini. Terima kasih lagi kepada sang ibu mertua yang paling waras di antara semuanya.
"Kurasa kau butuh jus buah pereda darah tinggi," sambung Alena kemudian kepada suaminya dan Steve menarik ucapannya kembali tentang pujian yang menyebut Alena manusia paling waras di rumah ini.