
Byuurrr!!!
Austin terbangun, tepatnya dipaksa untuk bangun. Siraman air dingin tersebut berhasil mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
Ia mengumpat kasar dalam bahasa Yunani dan selanjutnya dalam bahasa yang dimengerti oleh Oleshia.
"Cukup bersenang-senangnya, bangkit dan pergilah!" Wanita cantik itu berkacak pinggang, mimik wajahnya dipasang seangkuh mungkin. Pemandangan yang tidak biasa bagi Austin yang terbangun di tempat asing. Biasanya, ia akan dibangunkan dengan suara manja yang menggelikan. Akan ada ciuman selamat pagi dan hal tak bermoral lainnya. Tapi, pagi ini berbeda, ia justru dibangunkan dengan cara yang biasa dilakukan saudari cantiknya, Lexi.
"Manis sekali caramu membangunkanku setelah apa yang kita lakukan tadi malam?" Austin menaik turunkan tatapannya dengan satu lirikan cepat. Tidak ada lagi gaun tidur sutra, kini Oleshia mengenakan pakaian sportwear berwarna hitam yang memamerkan sedikit perut ratanya. Sebuah handuk kecil menggantung di leher jenjangnya, rambutnya yang panjang diikat secara asal. "Habis nge-gym?" satu lirikan nakal kembali Austin berikan. "Kurasa aku cukup membuatmu terbakar tadi malam," ia berdiri dari sofa. Memamerkan tubuhnya yang hanya mengenakan boxer. Pun ia memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Mengenakannya di hadapan Oleshia tanpa merasa canggung sama sekali.
"Penuturanmu itu terlalu ambigu, Austin." Oleshia menimpali dengan santai. Wanita itu tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali pada otot-otot Austin yang begitu kekar, terpampang nyata di hadapannya. Austin tipikal pria yang sering menghabiskan waktu untuk berolah raga, ototnya sempurna dan mengagumkan.
Austin memiringkan kapala, menoleh ke samping, sementara tangannya sibuk mengancing kemejanya satu persatu. Pria itu terkekeh nakal, "Memangnya apa kau pikirkan saat aku mengatakan sudah membuatmu terbakar dan berkeringat?"
"Tidak ada. Yang kukatakan kalimatmu terlalu ambigu."
"Bohong." Austin berbalik, pakaiannya sudah terpasang sempurna. "Apakah kau memikirkan bahwa kita berdua menghabiskan malam panjang penuh keringat? Bercinta?"
Oleshia mendengus. Yang mereka lakukan tadi malam adalah hal paling konyol yang pernah dilakukan Oleshia. Satu botol alkohol berubah menjadi berbotol-botol. Sepanjang malam mereka minum hingga mabuk. Bermain kartu dan melakukan taruhan gila. Yang kalah, harus minum atau menanggalkan satu persatu pakaian yang mereka kenakan. Entah setan apa yang merasuki Oleshia mau menerima permainan yang menguntungkan Austin tersebut. Sialnya, Austin adalah pemain kartu yang sangat handal, Oleshia kira ia bisa mengalahkan pria itu. Nyatanya, ia salah perhitungan. Tapi, Oleshia tidak bodoh, ia lebih memilih mabuk daripada harus menanggalkan pakaian di hadapan Austin. Sementara pria itu dengan suka rela menanggalkan pakaian di depan Oleshia hingga yang tersisa adalah boxer.
"Kau tahu jalan keluarnya, bukan?" usir wanita itu dengan sengit.
"Tidak ada sarapan?"
"Rumahku bukan panti sosial yang bertujuan mengumpulkan amal. Kurasa, sofa yang empuk untuk kau tidur semalaman sudah cukup sebagai rasa kesopananku menjamu tamuku. Pergilah." Oleshia mengarahkan dagunya ke pintu. Ia berniat pergi dan berbalik, namun Austin menarik tangannya hingga ia kembali berhadapan dengan Austin. Tarikan Austin yang cukup kuat membuat tubuh Oleshia menempel pada Austin. Kedua tangannya ada di dadaa berotot pria itu. Telapak tangannya bisa merasakan betapa kuat guratan otot di balik kemeja yang dikenakan pria menyebalkan yang di hadapannya itu.
"Terima kasih untuk tadi malam," Suara berat nan seksiih itu biasanya cukup membuat para wanita terpukau. Austin sedang menguji peruntungannya. Matanya yang nakal dan jahil kini menatap teduh. Jemarinya menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi Oleshia yang penuh dengan keringat. "Tadi malam, cukup berkesan. Tidak biasanya aku menghabiskan malam tanpa melakukan hal yang menyenangkan." Ia menurunkan tatapannya pada manik Oleshia. Untuk sesaat keduanya beradu pandang. Austin kembali mengeluarkan jurusnya, tersenyum tipis, layaknya pria berkelas. "Jika pagi ini tidak ada sarapan, biarkan aku mengundangmu untuk makan malam." Cup, satu kecupan di pipi Oleshia yang hampir mengenai sudut bibir wanita itu. "Semoga harimu menyenangkan, Oleshia." Ia mendorong Oleshia secara perlahan, lalu beranjak pergi, meninggalkan Oleshia yang masih mematung di tempat.
____
"Ini namanya trik." Sahut Steve dengan enteng. Tangan kanannya yang terbebas dari luka sibuk memainkan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari salah satu orangnya. Pesan vidio. Steve segera membuka pesan tersebut, bibirnya menyungging sinis melihat Austin yang baru saja keluar dari kediaman Oleshia.
"Bukankah itu Austin? Pria itu sangat mahir dalam bermain kartu. Dia mengambil uangku cukup banyak dua hari yang lalu. Kau memiliki masalah dengannya?"
"Austin?" Steve melengkungkan sebelah alisnya. "Kau mengenalnya?"
"Yupz. Si penjudi handal. Dia mengambil uangku cukup banyak. Astaga, aku melupakan sesuatu. Pria ini, beberapa orang menyebutnya merupakan salah satu Darkness."
"Darkness?" Steve semakin menukik alisnya. Antara percaya dan tidak. "Apa lagi yang kau ketahui tentangnya?"
"Penakluk wanita."
Steve tergelak, "Apakah salah satu wanita incaranmu berhasil tidur di atas ranjangnya?" kelakar Steve dengan nada mencemooh.
Beth menekan luka pria itu dengan kuat, sengaja ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya kepada Steve atas pernyataan yang sayangnya sangat benar sekali.
"Dia adalah seorang Willson," pernyatan Steve cukup membuat Beth terkejut.
"Willson?"
"Ya. Dia memang tidak pernah mengakuinya, tepatnya selalu menyembunyikannya."
"Dia terlihat seperti anak jalanan yang tidak memiliki keluarga. Sepanjang hari dihabiskan untuk bermain judi, balap liar dan hal tidak bermoral lainnya." Beth menjelaskan. Ia memang cukup sering bertemu dengan Austin di klub-klub mahal. Entah itu di dalam negeri juga di luar negeri. Banyak yang tidak mengetahui asal usul pria itu, termasuk dia. Karena di lapangan, mereka tidak pernah berbasa basi untuk menanyakan silsilah keluarga. Tidak peduli apakah mereka keturunan raja, darah biru, konglomerat, atau pengusaha handal. Karena saat terjun di dunia gemerlap. Mereka hanya merupakan sekumpulan pria tidak terhormat yang bersaing untuk mencuri apa yang ditaruhkan.
"Tunggu dulu," Beth memicingkan mata, melihat lebih jelas dari mana Austin keluar. "Oh Tuhan, bukankah itu rumah kekasihmu?" Beth tiba-tiba tertawa. "Kau sibuk memainkan trik untuk menarik perhatian gadis Willson dan pria lain pun bersiap menyalipmu dari depan untuk merebut wanitamu. Wow, ini tontonan yang sangat menarik, Steve. Austin sangat handal memainkan peran pria brengseek yang mengagumkan. Aku menyaksikannya, Dude. Dan aku iri dengan kemampuan pria itu."
"Benarkah?" Steve tampak murung mendengar pernyataan tersebut.