H.U.R.T

H.U.R.T
Keputusan



Brugh!!


Brian dilempar ke hadapan Steve tepat di bawah kakinya. Steve melengkungkan alis, menatap sekilas pada Brian sebelum mengangkat kepala untuk melihat siapa orang yang sudah mengantar Brian kepadanya. Darren Willson.


"Riston akan kau dapatkan beberapa hari lagi." Pria itu berbalik setelah mengatakan hal tersebut.


"Ba-bagaimana bisa dia juga tahu kau mengincar Brian Milles?" Beth benar-benar dibuat kagum dengan kinerja orang-orang di sekitarnya.


Beth tahu siapa yang diincar Steve karena mereka berdua pernah berbagi cerita. Tidak sering, tidak sampai menangis bersama. Curahan hati Steve hanya sepintas seperti angin lalu. Bison, Riston, Rudolf dan Brian. Adalah daftar orang yang harus ia tangani secara langsung.


Untuk Neal, Dean dan Vincent, ia tidak terobsesi untuk membunuh mereka. Caranya dan Olivia berbeda dalam membalaskan dendam. Lagi pula ia tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas Dean dan Vincent, selain karena masalah mereka hanya sebatas membully dan merendahkannya sewaktu remaja, bukan masalah besar baginya.


Mungkin jika Olivia tidak bergerak terlalu jauh, ia tidak keberatan untuk membantu wanita itu. Namun, Olivia mempunyai caranya sendiri dan Steve juga mempunyai caranya sendiri mengatasi orang-orang menjijikkan yang membuatnya malu menatap cermin yang akan menampilkan refleksi dirinya.


Setiap Steve melihat wajahnya, ia akan menyaksikan bagaimana mulutnya beraksi di kelamiin menjijikkan milik para bajiingan tersebut. Matanya yang membeliak memerah mengeluarkan air mata diabaikan. Mereka justru menyeringai puas saat memuntahkan kotoran mereka di mulut Steve. Steve tidak akan pernah melupakan itu. Steve tidak akan bisa menganggap dirinya bersih dan layak untuk seorang wanita. Ia melakukan hal murahan hanya demi beberapa hisap narkoba.


Dan dalang di balik traumanya itu adalah Brian yang membuatnya menjadi budak sekks para pria bedebah seperti Bison, Rudolf dab Riston.


"Ck! Ini menyebalkan!"


"Tidak terima jika kau dibantu oleh saudara iparmu?"


"Jangan terlalu banyak bicara, Beth. Bisa-bisa aku merobek mulutmu," ancam pria itu dengan kesal. Beth terlalu lihai menggunakan mulutnya untuk memprovokasi yang membuat posisi Steve sedikit terlihat memalukan.


"Wah, aku takut. Sungguh takut. Patah hati membuat fokusmu hilang kendali. Kau bergerak lamban, Kawan!"


Mengabaikan ucapan Beth, Steve berjongkok, menarik kapala Brian hingga mendongak. Pria itu pingsan, tidak sadar jika dirinya sedang berada di kandang musuh.


"Berikan aku air," pintanya pada Beth.


Alih-alih memberikan air, Beth justru memberikan botol minuman.


"Tidak ada air," ucapnya saat Steve menukik alis melihat botol wine yang isinya masih penuh.


"Ini salah satu koleksi termahalku. Aku masih memiliki hutang sebanyak 499 botol untuk Pax Willson," ia bergumam malas. Sempat-sempatnya ia memikirkan hal itu.


Mendengar hal itu, Beth tergelak, "Perhitungan sekali kau."


Byuurr!!


Menyiram wine tersebut ke wajah Brian. Sontak pria itu itu terbangun, gelagapan..


"Uangku. Uangku. Mana uangku!"


"Tidak ada uang di sini. Adanya penyiksaan. Selamat datang Brian Milles. Siap bermain denganku?"


"Wow! Kau mendapat mangsa baru untuk mengasah keterampilanmu menguliti manusia. Juliet pasti sangat kelaparan."


Roxi melenggang santai, senyuman mengejek yang tergelincir di bibirnya.


"Senyumanmu terlihat menyebalkan!" Steve melangkah lebar, meraup leher Roxi dan menyerang wajah pria itu dengan kepalanya. Tidak puas mematahkan hidung Roxi, Steve melayangkan bogeman berulang kali di wajah penyelamatnya itu.


"Sambutan yang manis," Roxi meludah, mengeluarkan darah dari mulutnya begitu Steve melepaskannya.


Roxi terkekeh, tidak merasa bersalah sama sekali. "Maafkan aku."


"Bajiingan!"


"Pax Willson sangat licik, Kawan. Dia akan membuat malu dengan pemikiranmu sendiri. Tidak ada yang mengerti jalan pemikirannya. Sama seperti dirimu. Ya, Darren yang memberikan Bison dan Rudolf. Ayolah, Steve, aku sedang berbulan madu saat itu. Aku tidak sempat mengurusi dendammu. Tugasku hanya melatihmu. Dan kami menyesal kau harus mengalami hal mengerikan di penjara. Aku bergerak lambat."


____


Lexi sedang membolak balik majalah yang berisi foto gaun pengantin. Ya, ia sedang berdiskusi dengan ibunya, gaun seperti apa yang akan ia gunakan. Undangan sudah selesai, begitu juga dengan lokasi yang ia pilih sebagai tempat diadakannya resepsi. Ia ingin rumah mereka lah yang menjadi tempat ia mengikrarkan sumpah.


"Lexi, Mom sangat senang jika kau akhirnya memutuskan untuk menikah. Mom juga menyukai Harry dan keluarganya. Tapi, Sayang..."


"Mom," Lexi menyela ucapan ibunya. "Jika kau memang senang, bisakah kau hanya mendoakanku saja. Semoga ini yang terbaik. Ini pilihanku. Aku akan bahagia. Percayalah."


Alena mendesaah. Sebelumnya, suaminya sudah berusaha berbicara dengan Lexi. Respon gadis mereka itu juga sama. Doakan aku. Hanya itu.


"Bukankah kau sangat menginginkan cucu. Katakan berapa banyak yang kau inginkan, Mom? Harry sudah menentukan tempat kemana kami akan berbulan madu. Swiss."


"Kau mencintainya?"


"Aku akan belajar. Aku menyayanginya. Sungguh menyayanginya."


"Cintanya saja tidak cukup. Saat ini, mungkin Harry tidak akan keberatan. Esok hari, dia akan menuntut perasaan yang sama. Kau dan dia akan sama-sama terluka."


"Tidak akan ada yang terluka, Mom. Harry, pria yang menakjubkan, baik dan penuh perhatian. Sebelum dia menuntut hal itu, aku sudah jatuh cinta padanya. Aku yakin bukan hal yang sulit baginya memikat hati seorang wanita."


Alena memperhatikan wajah Lexi dengan lekat, dalam dan seksama. Gadis itu begitu sangat bertekad. Tidak terpancar kebohongan di sana. Alena akan tahu jika Lexi-nya sedang berbohong. Tapi kali ini, sepertinya Lexi benar-benar sudah melepaskan Steve dari daftar hidupnya. Lexi bersungguh-sungguh menata hidupnya.


"Kami hanya berharap kau benar-benar menemukan kebahagiaanmu."


"Tentu saja. Kau akan melihat bahwa aku akan hidup dengan baik. Astaga, aku tidak bisa harus membayangkan bagaimana aku harus hidup di dalam istana. Bagaimana dengan aturannya, ini sedikit membuatku gugup, Mom."


"Harry akan membantumu dan kau akan terbiasa."


"Aku mendengar namaku disebut," Suara hangat terdengar dari arah pintu. Lexi menyunggingkan senyum lebar saat melihat calon suaminya melintasi ruangan.


"Harry...." Lexi memekik girang.


"Ya, Princess," Pria itu merungkuk memberikan satu kecupan hangat di pucuk kepala Lexi.


"Apa kabar, Mom?" Harry menyapa Alena seraya memberikan satu kecupan di pipi wanita itu.


"Seperti yang terlihat," Alena tersenyum sembari mengusap lengan Harry.


"Untung saja kau datang. Lihat ini," Lexi menarik Harry agar duduk di sebelahnya, menunjuk beberapa majalah yang ada di atas meja. "Aku dan Mom kesulitan memilih gaun yang akan kukenakan. Bisakah kau membantuku?"


"Kau akan tetap cantik mengenakan apa pun, tapi coba mari kita lihat mana yang lebih sesuai untuk calon istriku."


Alena memperhatikan interaksi keduanya. Harry bisa memanjakan Lexi, menuruti keinginan putrinya, tau cara memperlakukan Lexi dengan sangat manis. Keduanya memang terlihat sangat cocok satu sama lain.


Sepertinya mereka memang harus menghargai keputusan Lexi.