H.U.R.T

H.U.R.T
BERAKHIR!!!



"Lexi."


Lexi tersenyum seraya mempercepat langkahnya begitu melihat sosok yang juga tengah melangkah lebar menghampirinya. Harry Geonandes. Pria itu merentangkan kedua tangan dan Lexi pun melompat ke dalam pelukan pria itu. Harry memutar-mutar tubuh mereka. Tawa bahagia terdengar dan terlihat dari kedua sosok tersebut.


Sementara seseorang yang juga ada di sana hanya bisa menatap dengan nanar. Steven Percy. Siapa yang harus ia salahkan jika sudah begini. Tidak ada. Seperti yang dikatakan Lexi, ini sudah takdir. Ini ingin wanita itu. Seperti Lexi yang menerima semua kebohongan, menelan rasa kecewa juga sakit hati, Steve harus melakukan hal yang sama. Belajar berbesar hati. Karena sekuat apa pun ia meyakinkan Lexi, ia hanya akan membuat gadis itu semakin menjauh. Lexi sedang mengalami krisis kepercayaan. Wanita yang sedang trauma butuh waktu untuk melewati semuanya.


Jika pada akhirnya, Lexi menikah dan bahagia dengan Harry, yang harus ia lakukan adalah bersyukur. Bukankah kebahagiaan Lexi di atas segalanya. Ia hanya bisa berdoa dan berharap bahwa Lexi tidak salah dalam mengambil keputusan. Ia mengenal Harry, pria itu memang sangat baik. Tidak ada catatan buruk tentang wanita sama sekali.


Cemen! Apakah ia pria lemah yang menyerah sebelum berjuang? Steve bisa saja berlutut, memohon, mengiba, andai ia merasa layak. Bukankah dari awal ia sudah merasa tidak layak. Yang ia butuhkan adalah pengakuan kelayakan dari Lexi. Dan inilah jawabannya. Di mata Lexi ia tidak cukup layak. Ya, bagaimana mungkin ia layak untuk seorang Lexi, menatap dirinya di cermin saja ia tidak berani.


"Lexi, katakan jika aku tidak sedang bermimpi?"


Pertanyaan Harry menyadarkan Steve dari renungannya. Ia berdiri mendekati keduanya. Sudah saatnyakah ia memberikan ucapan selamat dan salam perpisahan dengan benar?


"Aku sedang ada di dalam gendonganmu, apakah ini terlihat seperti mimpi?" Lexi melingkarkan tangannya di balik leher Harry. Mata keduanya saling beradu dengan kedua sudut bibir yang saling mengembang.


"Ini terlalu indah. Izinkan aku bertanya dan mendengar jawabannya langsung dari mulutmu, Princess. Kau sungguh menerimaku? Membalas perasaanku?"


Lexi mengangguk cepat. "Secara perlahan aku akan membalas perasaanmu. Apa kau keberatan jika mungkin akan butuh waktu bagiku untuk menganggapmu sebagai pria. Kau sahabatku, seperti saudara bagiku. Aku menyayangimu, tentu saja. Tapi tetap saja, kau ingin perasaanmu berbalas, bukan? Aku akan berusaha. Kau mau membantuku?"


"Oh, Lexi. Jika ini mimpi aku tidak ingin bangun. Terima kasih. Rasa sayangmu sudah cukup bagiku. Aku tidak keberatan sungguh." Harry kembali memutar-mutar tubuh mereka. Perasaannya selama hitungan tahun tersampaikan juga. Apa lagi yang lebih membahagiakan daripada ini?


"Tapi kenapa sangat tiba-tiba?"


"Aku memikirkannya semalaman. Kau tidak suka? Hm, turunkan aku, kepalaku mulai pusing."


"Oh, maaf," Harry terkekeh sembari mengacak gemas rambut gadis pujaan hatinya tersebut.


Jangan tanyakan apa yang terjadi pada pria yang memperhatikan mereka sejak tadi. Steve sedang bergumul dengan hati dan logikanya, sementara kaki dan tangannya sudah merasa gatal hendak menerjang Harry. Tapi pada akhirnya hati dan logikanya sepemahaman, siapalah dirinya? Cemburunya tidak berarti apa-apa. Ia hanya akan mempermalukan dirinya di hadapan Harry dan ia akan berakhir dengan kekonyolan.


"Ehm,"


Steve sengaja berdehem untuk menarik perhatian keduanya. Berhasil. Lexi dan Harry kompak menoleh ke arahnya.


"Oh, Steven Ivarez. Kau di sini?"


"Steven Percy," ia meralat yang membuat Harry melengkungkan alis tidak mengerti.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Harry terlalu bahagia sehingga memilih untuk mengabaikan hal yang membuatnya bingung.


"Dia mengantar sampanye untuk Daddy. 1000 sampanye." Manik Lexi membeliak girang. Ekspresi yang selalu mampu membuat pria menatap kagum. Jika sedang berbicara, semua yang ada pada diri Lexi ikut berbicara. Entah itu gestur tubuh, lirikan mata, dan kedua sudut bibirnya. Gadis yang sangat ekspresif.


"Wow!"


"Dia menyicil. Baru 501 botol. Sisanya akan segera dilunasi, bukan begitu, Steven?"


Steve menoleh ke arah Lexi, menatap lekat manik gadis itu. Senyum di wajah Lexi memudar perlahan, berubah menjadi cengiran kering yang canggung. Kemudian Steve menarik sudut bibirnya. Tersenyum.


"Tentu saja. Hutang memang harus dibayar. Disaat aku melunasi hutang tersebut, kuharap kau sudah benar-benar memaafkanku."


Lagi dan lagi Harry bisa mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ucapan yang dikatakan Steven.


"Harry,"


Suara Pax mengurungkan niat Harry yang ingin bertanya tentang kesalahan apa yang sudah diperbuat kepada Lexi.


"Ya, Uncle." Pria itu berbalik, berlari kecil menghampiri calon mertuanya tersebut.


"Sepertinya mulai sekarang aku harus mengganti caraku memanggilmu, Uncle. Lexi menyambut perasaanku."


"Selamat," Ucap Pax singkat sembari menuntut Harry pergi dari sana, meninggalkan Steve dan Lexi.


Lexi dan Steve masih mematung di sana. Sama-sama diam di tempat. Detik selanjutnya, keduanya kompak menarik napas.


"Keputusanmu sudah bulat?" Steve harus memastikan sekali lagi agar ia pun yakin, langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Melepaskan dan merelakan.


"Ya. Bukankah Olivia juga sedang mengandung. Berilah perhatian lebih. Bagaimana jika kelak, kita menjodohkan anakmu dan juga anakku."


Steve tertawa hambar, "Ini sama saja membunuhku."


Lexi pun ikut tertawa.


"Lexi,"


"Hmm?"


"Apa kau masih ingat dengan apa yang kukatakan beberapa saat lalu. Tentang aku yang akan tetap mencintaimu disaat kau mencintai orang lain. Aku serius dengan ucapanku. Aku berharap, kau memang bisa mencintai Harry." Steve tersenyum tipis.


Hatinya teriris saat mengatakan hal ini. Bukan hal yang mudah untuk berbesar hati. Bukan hal yang mudah melepas dan merelakan disaat hati masih mencinta.


"Aku tidak akan pernah melupakanmu, aku menerima keputusanmu dan mencoba berbesar hati menerima keputusanmu. Seperti inginmu, aku akan tahu batasanku dan aku akan berusaha melanjutkan hidup tanpamu. Penting bagiku mengatakan bahwa bukan berarti aku kehilangan perasaanku terhadapmu. Sebelum kau jatuh hati kepadaku, aku sudah mengagumi jauh sebelum itu. Perasaanku terhadapmu bukan hal yang mudah untuk kuatasi. Namun, saat ini yang bisa kulakukan adalah menepi dan aku harus lebih tahu diri."


"Aku terlihat seperti pecundang bukan? Tidak berjuang, disaat kau dulu mati-matian menjaga perasaanmu hingga terbelenggu. Aku bukannya menyerah, aku hanya menuruti inginmu, berhenti melakukannya seperti kau memilih berhenti untuk melakukannya."


"Kini aku hanya melakukan yang terbaik untukmu yaitu merelakanmu, ini keinginanmu, bukan?"


Lexi menganggukkan kepala.


Hancur sudah hati Steve melihat anggukan kepala Lexi yang menyiratkan bahwa Lexi sudah bulat dengan keputusannya.


"Sungguh berat rasanya melepaskanmu dengan membiarkanmu pergi begitu saja. Tapi apa yang bisa yang kulakukan karena aku tidak punya kekuatan untuk menahanmu. Bukan akhir seperti ini yang kuinginkan sebenarnya. Tidak ada cara yang baik dalam perpisahan. Semua akan terasa menyakitkan."


"Steven..."


"Sstt.... Biarkan aku menyelesaikan ucapanku. Hanya sebentar saja."


Lexi kembali menganggukkan kepala.


"Kau juga sudah menderita selama ini. Kau mempertahankan rasamu selama ini. Itu bukan hal yang mudah. Dan saat sosok yang kau pertahankan ada di hadapanmu, kau menemukan dirimu tidak segila dulu. Tidak ada yang salah dengan itu. Faktanya, kehadiranku tidak bisa membuatmu bertahan."


"Mau tidak mau, bisa tidak bisa. Akhirnya kita memang harus saling melepas. Tapi perlu kau ingat, melepasmu bukan berarti aku tidak mencintaimu, bukan berarti aku tidak menderita karena merindukanmu, bukan berarti aku tidak ingin bersamamu. Tapi apalah arti inginku, jika inginmu dan inginku sudah tidak sejalan. Seperti yang kau katakan, bulan dan matahari tidak akan bisa bersama, tidak akan bisa bersisian. Sekalipun gerhana muncul, keduanya hanya saling menyapa dalam hitungan menit. Bahkan terlalu berbahaya bagi alam semesta jika gerhana itu datang dalam waktu yang cukup lama. Ya, Lexi, mari saling melepas. Kita tidak butuh acara apa pun untuk saling melepas dan mengakhiri."


Steve mengulurkan tangan sembari tersenyum. Pun Lexi melakukan hal serupa. Menyambut uluran tangan Steve seraya menerbitkan senyumnya.


"Gapailah kebahagianmu meski tanpa ada aku di dalam hidupmu. Selamat tinggal, Lexi Stevani Willson."


"Selamat tinggal, Steven Percy."


.


.


.


.


END