
Halo semua. Banyak pertanyaan tentang kenapa Rodriquez dan Willson yang lain tidak muncul. Ini saya sengaja meniadakan mereka agar tidak terlalu banyak nama tokoh yang muncul yang nantinya membuat pembaca yang tidak mengikuti cerita mereka menjadi bingung. Tidak semuanya pembaca di sini membaca cerita tetua mereka. Dan alasan lainnya, yang menjadi Hero di sini adalah Steven Percy. Jika Rodriquez dan Willson muncul, pesonanya akan padam😬🥴. Cerita ini adalah miliknya, Kawan.
Oh iya, bab ini cukup panjang dan yang diambil adalah POV keluarga Phillyda. Meski tidak suka, tolong tetap tinggalkan like dan komen, Genk. Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih pada pembaca yang tetap antusias dengan alur cerita ini dan terima kasih juga bagi teman-teman yang sudah menyisihkan sebagian rezekinya dengan memberikan dukungan berupa koin👏🙏
Selamat membaca🥂
.
.
Brugh!
Olivia mendorong Lexi hingga tersungkur ke lantai. Gadis itu meringis akibat goresan di lututnya. Luka itu lah yang membuat kesadarannya kembali.
"Siapa dia, Olive?" Alea bertanya, gadis itu menatap bingung juga penuh penasaran.
Lexi juga sama bingungnya dengan Alea. Menatap Alea dengan seksama, gadis berkursi roda yang mengalami keterbelakangan mental. Lexi tidak tahu jika Olivia memiliki seorang adik.
"Binal pengacau yang membuat hidupku berantakan!" Olivia berkata dengan emosi. Dadaanya naik turun, napasnya tidak teratur, wajahnya menyorot penuh kebencian kepada Lexi, gadis yang ia anggap sebagai pembawa nasib buruk ke dalam hidupnya.
"Apa yang dia lakukan kepadamu?" Alea masih belum melepaskan tatapannya pada Lexi yang berpenampilan sangat kacau.
Gaun putih cantik yang dikenakannya penuh dengan darah, rambut panjang itu terurai berantakan, jejak-jejak air mata tercetak di wajahnya. Semua kondisi tersebut tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Hal yang membuat Alea enggan memalingkan wajah.
"Banyak. Dia merebut apa yang sudah menjadi milikku."
"Aku tidak merebut apa pun darimu." Lexi akhirnya bersuara. "Aku tidak merebut apa pun dan tidak berniat merebut apa pun!"
"Oh, kau sudah berani menjawab?!" Olivia melangkah lebar, tangannya langsung menarik rambut Lexi hingga kepala gadis itu mendongak.
Lexi merasakan sakit luar biasa. Luka di lehernya akibat ulah Sonya belum sembuh sepenuhnya dan sekarang, Olivia kembali menyakitinya.
"Aku tidak pernah merebut apa pun darimu!" Lexi menantang Olivia tanpa rasa takut. Ia juga sudah lelah, lelah dengan apa yang sudah dia alami selama ini.
Lelah disalahkan, lelah disudutkan dan lelah berlakon seolah semuanya baik-baik saja. Mentalnya sudah tidak kuat, akalnya sudah mulai tidak waras. Sungguh ia sudah tidak sanggup lagi untuk berpura-pura setelah apa yang dia saksikan. Ingin gila rasnya dan mungkin ia memang lebih baik gila.
"Jangan merasa seolah kau adalah manusia paling tersakiti dan terluka di sini. Hanya karena kau merasa hidupmu tidak beruntung, lantas kau menyalahkan orang lain atas jalan hidupmu tersebut. Ini tidak adil, Olive. Kau menyalahkanku atas apa yang tidak kuperbuat. Apa yang kurebut darimu? Steven? Aku bahkan sudah menikah dengan Harry? Lalu, jika yang kau maksud adalah Arthur, percayalah Olive, pria itu sangat mengerikan. Pria itu iblis yang bisa melakukan apa pun tanpa merasa bersalah. Kau tidak berhak menyalahkanku atas apa pun."
Olivia menyeringai, "Apa kau ingin mati? Simpan saja kata-kata bijakmu itu untuk dirimu, tuan putri. Aku sudah muak denganmu. Andai kau tidak ada di dunia ini, teman-temanmu tidak akan menoleh ke arahku untuk dijadikan boneka hiburan bagi mereka. Andai kau tidak ada, tidak akan ada perbandingan antara si cantik yang polos dengan si miskin yang menyedihkan. Tidak akan ada perbandingan antara gadis pujaan dengan gadis yang layak dihina karena status sosial. Andai kau tidak ada, Steve tidak akan menderita. Andai kau tidak ada, tidak akan ada kematian massal. Andai kau tidak ada, Willson tidak akan dimusuhi oleh pemerintah dan selalu dicurigai. Kau adalah nasib buruk yang ditinggalkan ayah dan ibu biologismu. Kudengar, ibumu bahkan enggan menyentuhmu. Tidakkah ini cukup membuktikan bahwa kau memang sebuah petaka, tuan putri. Kau tidak layak hidup di dunia ini. Hadirmu hanya membawa musibah bagi orang lain. Selamanya kau akan membawa karma buruk orang tuamu. Hanya ada penderitaan yang bisa kau tawarkan kepada orang-orang sekitarmu. Kau adalah beban sesungguhnya, Lexi. Tidak ada yang lebih layak kau terima selain kematian."
Olivia melepaskan jambakannya dengan kasar membuat Lexi tersentak. Terperanjat bukan karena dorongan yang ia terima, tapi karena ucapan yang dilemparkan wanita itu tepat sasaran. Itulah yang memang yang sedang ia rasakan. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berkecamuk di benaknya.
Tok. Tok.
"Olivia." Suara ayahnya terdengar dari luar.
Olivia mendesis, tidak menyukai gangguan yang datang. Ia harus melenyapkan Lexi, hanya kematian gadis itu yang bisa membuatnya puas. Kebencian pada gadis itu sudah mendarah daging, sulit untuk menyadarkannya.
Olivia membuka pintu, menemukan wajah ayahnya yang menatapnya dengan marah. Ayahnya melirik ke dalam kamar, Olivia menghalangi, tetap berdiri di ambang pintu.
"Kau menculik seseorang?"
"Ada apa?"
"Aku bertanya kepadamu, Olive? Apa kau menculik seseorang?" Ayahnya mulai tidak sabar. Sikap dan tingkah Olivia benar-benar membuatnya frustasi. Dia ayah yang gagal. Tidak bisa bertindak untuk menghentikan kegilaan putrinya itu. Dia pria yang benar-benar tidak berguna, tidak bisa menjaga keluarganya.
"Sejak kapan kau mengurusi urusanku, Ayah? Pergilah, lakukan pekerjaanmu!"
"Suami dari wanita yang sedang kau culik itu ada di bawah sana. Kapan kau menghentikan kegilaan ini, Olive? Mau sampai kapan kau jadi manusia yang tidak memiliki perasaan?"
Olive memutar bola matanya. Ucapan ayahnya terdengar seperti angin lalu.
"Tidak usah mencampuri urusanku dan jangan memancing amarahku. Moodku sedang tidak baik. Pergilah memancing bersama teman-temanmu jika kau tidak ingin bergabung dengan istrimu. Atau kau lebih suka bergabung dengan istrimu? Aku tidak keberatan mengirimmu ke sana."
Ancaman Olivia membuat hanya menghembuskan napas panjang. Bukannya dia takut dengan apa yang dikatakan Olivia, ia memilih bertahan di sini, hanya demi melindungi anak-anaknya, Olivia dan Alea. Mr. Phiilyda masih berharap jika dirinya bisa membujuk Olivia untuk sadar. Tapi nyatanya hal itu terlihat sangat tidak mungkin. Selain Olivia yang sudah menjaga jarak dengannya, putrinya itu sudah diselimuti kabut hitam yang penuh dengan kedengkian.
"Jangan membiarkan siapa pun masuk tanpa seizinku." Olivia menutup pintu, pun ia berbalik mendekati Alea.
"Alea, lihat aku," Pintanya dengan lembut.
Gadis itu menurut, menatap mata kakaknya.
"Kau menyayangiku?"
Alea menganggukkan kepala.
Alea kembali menganggukkan kepala.
"Aku hanya sebentar."
Olivia melirik ke arah Lexi yang terlihat seperti gadis yang kehilangan jiwa. Yang dilakukan Lexi hanya meremass tangannya sambil menggumamkan kata-kata yang tidak bisa didengar oleh Olivia. Lagi pula ia tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan gadis itu. Ia akan melenyapkan Lexi, balasan telak untuk Arthur dan Steve.
Olivia menuruni tangga menuju lantai dasar. Harry benar-benar pria terhormat, pikir Olivia. Terbukti dengan cara pria itu yang tidak memilih untuk menerobos masuk.
Sampai di dasar tangga, dahinya mengerut mendengar teriakan dari luar. Ayahnya juga terlihat mengintip dari balik tirai jendela.
Apakah Harry membawa pasukan?
Olivia memperlebar langkahnya, berdiri di samping ayahnya. Maniknya membeliak melihat ratusan warga ada di sana. Keluarga Dean Jacob, orang tua Vincent Trey, keluarga besar Fread Brown. Semuanya ada di sana. Meneriakinya dan memakinya dengan kata-kata hina juga kutukan. Bukan hanya mereka, beberapa mobil polisi juga ada di sana. Bersiaga dengan senjata yang siap diletuskan. Olivia juga melihat Harry di sana, berbicara dengan beberapa polisi.
Wajah pria itu tampak cemas, marah, dan kacau. Berulang kali Harry menyugar rambutnya dengan kasar. Sepertinya perbincangannya dengan para polisi tersebut tidak berjalan lancar.
"Apa yang mereka lakukan di sana?"
Mr. Phiilyda menoleh, menatap putrinya dengan dalam dan penuh penyesalan. Gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya. Tangannya yang mulai keriput terulur dengan gemetar. Menyentuh lengan Olivia, lengan putri kesayangannya itu.
"Semuanya sudah berakhir, Olive. Menyerahlah, Nak, sebelum semuanya terlambat dan semakin memburuk."
Olivia benci melihat kerapuhan yang ditunjukkan ayahnya secara terang-terangan. Dan ia lebih membenci dengan apa yang dikatakan ayahnya. Menyerah? Setelah dendamnya terbalas baru ia bisa tenang. Brian belum berhasil ia dapatkan dan Lexi hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk menyingkirkan gadis itu.
Olivia menepis tangan ayahnya dengan kasar, "Apa yang kau katakan, Ayah? Tidak bisakah kau mendukungku. Aku lah yang terluka di sini. Kita lah yang telah dihina dan ditindas di sini. Hingga detik ini tidak ada kata maaf yang terlontar dari mereka dan memang itu lebih baik. Kata maaf tidak akan membuat Oleshia hidup kembali. Kata maaf tidak akan membuatku suci kembali. Mereka layak mendapat hukuman, balasan atas apa yang sudah mereka perbuat. Kekejian mereka tidak ubahnya binatang. Lalu, kau ingin aku memanusiakan mereka."
"PENYIHIR! WANITA IBLIS, KELUAR KAU DARI TEMPAT PERSEMBUNYIANMU SEBELUM KAMI MENYERETMU KELUAR!"
Olivia menggeram, ia menarik tirai, melihat siapa yang sudah melontarkan kalimat busuk itu. Ibu dari Dean Jacob, salah satu anggota pemuja sekte.
Olivia berdecis, "Wanita itu cari mati. Aku akan memberi pelajaran padanya."
Mr. Phillyda mendesaah lirih, "Maafkan Ayahmu ini, Nak. Tolong kembalilah kepada Olivia kami yang dulu. Maafkan kami, orang tuamu yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu. Kami lah yang harus kau salahkan, Olive." Tangis ayahnya seraya meluruh ke lantai dengan tangan yang menggenggam tangan Olivia.
Olivia mendengus, memalingkan wajah. Ia mendongak, menghalau air mata yang sudah mengembun di pelupuk matanya. Hatinya perih mendengar permohonan ayahnya yang mengiba.
"Jangan kotori dirimu dengan dendam yang kelak akan kau sesali, Nak. Tidak bisakah kita serahkan semuanya kepada Tuhan?"
Prang!
Jendela mereka dilempar dengan batu disusul dengan lemparan selanjutnya yang hampir mengenai ayahnya jika Olivia tidak menarik ayahnya untuk berlindung.
"KELUAR KAU WANITA IBLIS!!" para pendemo itu kembali meneriaki namanya. Olivia yakin jika warga sudah berhasil dihasut oleh keluarga dari korban yang ia bantai.
Keadaan semakin tidak terkendali. Polisi bahkan tidak bisa mengamankan para pendemo itu.
"Pergilah, selamatkan dirimu. Ayah akan menghadapinya. Lari lah sejauh mungkin." Ayahnya sudah memiliki firasat jika hal buruk seperti ini akan terjadi. Andai Olivia menyerah dan memohon maaf, itu tidak akan berarti apa-apa. Kemarahan yang terjadi di luar sudah tidak bisa dikendalikan. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
"Pergilah, Nak. Lari dan sembunyilah."
Olivia menggeleng. "Aku tidak salah. Mereka lah yang bersalah, Ayah!" Masih saja Olivia bersikap keras kepala.
"Ya, mereka yang bersalah," tidak ada gunanya menentang Olivia. Ia harus membujuk putrinya demi keselamatan Olivia. "Mereka layak mendapat hukuman seperti yang kau katakan. Tapi sekarang, sebaiknya kau pergi untuk sementara. Nanti Ayah akan membantumu membalas mereka semua," Ayahnya berbohong.
Bujukan yang sia-sia. Pintu mereka tiba-tiba dibacok dengan sebuah kapak. Engsel pintu rusak dan hanya dengan beberapa tendangan, pintu itu ambruk dan beberapa orang menyerbu masuk, menyeret Olivia dan Ayahnya ke luar.
"Lepaskan putriku," Mr. Phillyda menggenggam erat tangan putrinya. Di benaknya, ia harus melakukan sesuatu walau hanya sekecil apa pun demi melindungi putrinya. Begitulah sejatinya orang tua, sesalah apa pun anak-anak, mereka tetap memberikan pembelaan.
Meski Olivia tidak menyiratkan ketakutan sama sekali, tapi Mr. Phillyda tahu jika jauh di dalam lubuk hati putrinya itu merasa takut.
Seorang pria menarik paksa Mr. Phillyda agar genggaman tangannya terlepas. Lalu seorang wanita yang diduga ibu dari Dean Jacob menarik kasar rambut Olivia dan menyeretnya tidak ubahnya pendosa yang tidak layak mendapat ampunan.
"Lepaskan putriku!!" Mr. Phillyda memberontak dari cekalan tangan pria yang menahannya lalu ia menerjang Mrs. Jacob, mendorong wanita itu agar melepaskan Olivia.
Mr. Phillyda ingin membuktikan bahwa ia masih layak untuk disebut sebagai ayah. Andai dulu, ia melakukan pembelaan sedikit pun, mungkin putrinya tidak akan tersesat sejauh ini. Kini, ia akan membela putrinya, apa pun yang terjadi.
Mr. Jacob yang tidak terima dengan istirinya yang diperlakukan kasar segera memberi perintah kepada orang suruhannya untuk menahan Mr. Phillyda. Kedua bahu pria itu dipegang sebelum kepalanya ditekuk paksa hingga mencium tanah dengan kedua tangan yang dicekal ke belakang.
"Jangan sentuh, Ayahku, Sialan!!" Olivia berteriak, kemudian seseorang tiba-tiba mencengkram rahangnya dengan begitu kuat hingga mulutnya tidak bisa terbuka walau hanya sekedar untuk meringis menyuarakan kesakitannya.
Harry benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia kasihan dengan apa yang terjadi terhadap Olivia dan ayahnya, tapi ia harus menyelamatkan Lexi. Pun ia meninggalkan kericuhan itu dan masuk ke dalam rumah.
Di tempat lain, terjadi ledakan di stasius kereta api. Nuklir-nuklir yang suda diaktifkan Arthur mulai bekerja. Darren, Pax dan Alena berusaha menghentikan agar tidak terjadi ledakan yang lebih dahsyat.