
Isabell memilih diam di sofa setelah Jossie dan anak-anaknya berpamitan pulang. Ia juga hanya mengantarkan kepergian ibu dan anak itu hanya sampai depan pintu ruangan.
Kini, kembali hanya mereka berdua yang ada ada di dalam ruangan. Daripada harus meladeni sikap Darren yang terkadang kaku, terkadang dingin, terkadang sengit dan kadang-kadang sangat lucu, Isabell lebih memilih untuk cari aman. Ia tidak tahu per berapa menit sikap Darren mampu bertahan. Dan bagi Isabell perubahan sikap Darren yang tiba-tiba cukup mempengaruhi mentalnya.
Sebisa mungkin Isabell juga tidak menatap ke arah ranjang. Ia lebih memilih memainkan ponselnya secara sembarang. Ia tidak memiliki teman untuk diajak bertukar pesan untuk menyibukkan dirinya. Lexi, Steven, Harry, ayahnya dan tetua Willson. Hanya ada kontak tersebut di ponselnya.
Siapa yang harus ia ganggu untuk menemaninya? Isabell benar-benar butuh pengalihan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim sebuah emoticon kepada semua kontak yang ada. Beberapa detik berlalu, tidak ada satu pun yang membalas pesannya. Detik berubah menit dan masih tidak ada yang membalas. Dan sepertinya tidak akan ada balasan.
"Kemana dia?!"
Isabell berjengit kaget mendengar suara Darren yang tiba-tiba terdengar. Ponsel di tangannya juga sampai terjatuh ke lantai.
Isabell menatap ponselnya kemudian mengangkat kepala. Matanya bersirobok dengan Darren. Pria itu juga sedang memegang ponsel.
Darren baru saja mencoba menghubungi Austin dan adiknya itu mengabaikan panggilannya. Apa yang dilakukan Austin di luar sana, kenapa adiknya itu membutuhkan banyak waktu jika hanya ingin membeli makanan.
"Aku mengejutkanmu?" Darren bertanya dan Isabell langsung menganggukkan kepala.
"Maafkan aku."
Nah kan, pria ini benar-benar seperti wanita yang sedang mengandung. Moodnya selalu berubah-ubah. Apakah ini efek tembakan di bahunya? Isabell bermonolog dalam benaknya.
"Bukan salahmu juga," Isabell memungut ponselnya, ia juga sudah mempersiapkan diri untuk perubahan sikap Darren di menit selanjutnya.
"Kau belum sarapan."
"Ya."
"Makanlah sesuatu sebelum Austin datang. Jossie membawa buah dan juga beberapa makanan. Jika kau tidak menyukainya, carilah sesuatu di luar."
Isabell tidak mungkin meninggalkannya. Sebenarnya ia juga belum terlalu lapar, tapi menolak tawaran Darren bukan tindakan yang bagus. Bisa-bisa ia kena semprot dengan nada sengit nan dingin. Isabell tidak siap menerima sikap Darren yang seperti itu.
"Aku akan memotong buah. Kau juga harus memakannya."
Darren menganggukkan kepala. Isabell beringsut dari sofa, melangkah perlahan mendekati Darren. Setelah mengambil buah dan pisau, Isabell duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Jossie. Aroma wanita itu masih tertinggal sana. Sangat wangi dan juga segar.
"Hati-hati,"
Isabell refleks menatap Darren untuk memastikan apakah Darren baru saja memberi peringatan padanya agar berhati-hati.
"Ehmm," Darren memalingkan wajahnya terlebih dahulu. "Pisaunya sangat tajam. Jangan sampai tanganmu teriris." Darren menatap jari Isabell, sudah tidak ada lagi plester di sana.
"Oh, ya, aku pasti berhati-hati. Di sini wangi sekali. Pasti aroma parfum Jossie yang tertinggal. Wanginya sangat enak."
Isabell tersenyum kaku begitu menemukan wajah Darren yang mengernyit kebingungan. Terang saja pria itu bingung dan memandangnya dengan aneh. Mereka sedang membicarakan pisau, tapi secara tiba-tiba ia justru membahas aroma parfum.
"Aku akan mengupas buahnya dan akan berhati-hati," buru-buru Isabell menundukkan kepala memfokuskan diri pada buah dan pisau dalam genggamannya. Hati-hati. Hati-hati, harus hati-hati. Ucapnya dalam hati.
"Arrgghh," spontan Isabell menjerit saat pisau itu mengiris jarinya tanpa sengaja. "Aku, aku, aku ternyata kurang hati-hati," Isabell menunjukkan jarinya yang mengeluarkan darah.
"Kau memang tidak pernah mendengarkanku. Kemarikan jarimu," Darren mengulurkan tangan. Isabell dengan patuh mendekat seraya mengulurkan tangannya.
Dan hal mengejutkan pun terjadi. Setidaknya pada Isabell. Matanya membeliak lebar, darahnya berdesir, merangkak dengan cepat. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik begitu ia merasakan kehangatan di jari telunjuknya.
Ya, jari telunjuknya kini berada di dalam mulut Darren. Pria itu mengisap darahnya. Mendadak Isabell merasa dirinya adalah Bella Swan dan pria yang mengisap darahnya adalah Edward Cullen.
Darren menghentikan isapannya di jari Isabell saat telinganya menangkap dengan jelas apa yang dikatakan Isabell. Namun, saat ia menatap Isabell, gadis itu ternyata sedang tercenung, sepertinya tidak menyadari apa yang baru saja dia katakan.
"Aku tidak memiliki stok plester, mintalah pada perawat."
"Hah?" Isabell menarik tangannya.
"Aku tidak memiliki plester."
"Plester? Apakah kau juga yang meletakkan plester di meja kamarku?"
"Ya," sahut Darren dengan singkat.
"Oh," Isabell hanya bisa bergumam. Sebelumnya, ia mengira jika Austin adalah orang yang meletakkan benda tersebut di kamarnya. Tidak terpikir bahwa Darren lah yang punya andil di sana. Wajar saja ia menduga plester itu milik Austin. Karena saat tangannya teriris di dapur, pria itu lah yang ada di sana. Sementara Darren turun setelah kejadian itu berlalu.
Pintu ruangan terbuka, mereka serempak menoleh. Dan akhirnya yang mereka harapkan muncul.
"Kemana saja kau?" Darren langsung menodong Austin dengan pertanyaan.
"Membeli sarapan."
"Aku tidak melihat kau membawa apa-apa."
"Itu dia, aku lupa membelinya. Aku bertemu dengan Mr. Scoot. Kau sudah sarapan?" Austin merangkul pundak Isabell, mengusapnya dengan lembut.
Darren tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak menatap pada tangan adiknya yang menempel di pundak Isabell layaknya cicak. Austin benar-benar semakin ramah. Ramah tangan. Ya, memang tidak ada yang meragukan keramahan dan kelihaian tangan Austin pada wanita. Tapi, Austin tidak akan menggunakan kelihaiannya itu pada gadis tertentu.
Apakah hubungan mereka sudah berkembang sepesat itu? Darren lagi dan lagi bertanya-tanya.
Astaga! Apa peduliku? Aku benar-benar mulai tidak beres. Tidak ada yang salah dengan sentuhan seorang kekasih.
"Bagaimana perkembangannya?" Darren mengalihkan fokusnya.
"Belum ada perkembangan. Penembak itu benar-benar tidak meninggalkan jejak sama sekali selain peluru tersebut."
"Bagaimana bisa? Jejak ban mobil, jejak sepatu, CCTV?"
"CCTV hotel sudah diperiksa. Hari itu lumayan banyak pengunjung, berdasarkan foto masa muda Bartoli, tidak satu pun yang terlihat mirip atau menyerupainya. Mungkin saja bukan Bartoli yang turun langsung. Pria itu sudah cukup tua berdasarkan cerita ipar kita. Bisa saja ia menyuruh anak buahnya yang melakukannya."
"Dan tidak ada yang tahu siapa anak buahnya."
"Ya. Itu dia. Apa Isabell sudah makan?"
"Dia baru saja hendak makan buah. Tapi tangannya teriris. Kau lanjutkan saja mengupas buah itu dan berikan dia makan."
Pembahasan tentang Bartoli mereka hentikan.
"Astaga, kenapa kau tidak berhati-hati." Austin mengangkat tangan Isabell. Meniup luka yang ada di jari Isabell. "Luka yang satu belum sembuh, sudah muncul luka lainnya. Apa kau bermusuhan dengan pisau?"
"Biasanya aku ahli menggunakannya. Entahlah, akhir-akhir ini pisau memang tidak bersahabat denganku."
"Kalau begitu, izinkan aku memotong buah untukmu. Ayo, kita duduk di sofa. Kuharap kau tidak marah padaku karena melupakan sarapanmu."