
"Kali ini aku harus mengakui kau salah langkah, Pax. Tindakanmu salah! Sangat salah!"
Alena mondar mandir dengan wajah cemas. Baru beberapa jam sampai di rumah mereka, ia sudah meminta suaminya untuk mengantarnya kembali ke rumah keluarga Percy. Sungguh ia tidak tenang meninggalkan Lexi di sana. Ada ketakutan tersendiri jika sewaktu-waktu Steve tidak tahan untuk mengungkapkan identitasnya kepada Lexi. Sebagai wanita dan seorang ibu, dia tahu bagaimana rasanya di posisi putrinya. Selalu ditempatkan dalam posisi lemah yang harus dilindungi. Tanpa sadar, mereka bukannya melindungi justru menambah luka di atas luka.
"Kenapa kau harus mengirim Steve ke penjara mengerikan itu. Apa yang kau pikirkan? Dan sekarang, pria itu terjebak dalam situasi rumit. Tidak bisa menunjukkan identitasnya di hadapan Lexi. Dan aku memang tidak ingin Steve mengungkapkan siapa dirinya kepada Lexi. Ini akan sangat menyakitkan."
"Yah, aku salah langkah." Pax menarik napas panjang seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Masalah ini benar-benar menguras tenaga juga kewarasan mereka.
Dulu, baik dia atau pun istrinya tidak akan gentar berhadapan dengan segerombolan penjahat dengan senjata penuh. Tanpa ragu, ia dan Alena akan menghadapinya. Tapi, masalah ini berbeda, masalah yang menyangkut kebahagiaan putri mereka.
"Tapi, katakan padaku Alena, apa yang bisa kulakukan saat satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membebaskan Steven Percy dari hukuman penjara selama 20 tahun adalah dengan mengirimnya ke sana. Jika tidak di sana, pemuda itu akan menjalani hukuman sebanyak yang ditetapkan. Dan begitu ia keluar, tidak akan ada yang berubah. Ia akan tetap menjadi pria lemah yang akan selalu ditindas dan sialnya akan selalu dicintai putrimu. Darah Gerald dan Luna mengalir di tubuhnya. Memiliki cinta yang menggila terhadap satu sosok. Itu tidak bisa ditepis begitu saja."
"Kau mengatakan Lexi dibutakan oleh obsesi yang gila?" Alena benar-benar marah. Ingin rasanya ia mencekik suaminya.
"Berani-beraninya kau meremehkan putriku," tukasnya dengan nada sengit.
"Dia juga putriku. Aku tidak sedang meremehkannya. Tidak. Tentu saja tidak. Karena perasaan putri kita tidak bertepuk sebelah tangan. Steven Percy memiliki rasa yang sama. Hanya tidak merasa layak. Tapi pesona putrimu terlalu luar biasa, Steve Percy tidak akan kuat membentengi dirinya. Pada akhirnya, ia akan luluh. Lexi yang begitu memujanya akan menyerahkan apa pun yang ia miliki untuk pria itu. Lexi akan bebas mengunjunginya jika ditempatkan di sini. Lexi akan menunggu selama apa pun itu. Setelah penantian berkepanjangan tersebut, mereka akan bersama. Apakah cerita akan selesai?"
"Tidak Alena. Ceritanya tidak semudah itu. Pemerintah memusuhi kita. Banyak musuh di mana-mana. Mereka akan memanfaatkan kelemahan kita. Aku dan kau akan semakin tua, tidak akan selamanya mampu menjaga keselamatan Lexi. Darren dan Austin akan memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak meragukan kasih sayang mereka kepada Lexi. Tapi fakta bahwa mereka tidak bisa selamanya 24 jam berada di sisi Lexi. Lantas siapa yang harus kuharapkan? Tentu saja suaminya yang kelak bisa ia andalkan. Dan Steven Percy tidak akan mampu melindunginya jika pria itu berada di penjara yang ada di sini. Karena begitu ia keluar, mentalnya sudah lemah, kekuatannya tidak ada. Pada akhirnya, mereka akan terlihat seperti sepasang kekasih yang menyedihkan. Modal cinta mereka yang besar tidak akan mampu melawan kemunafikan para penguasa. Pria yang mendampingi Lexi harus lebih tangguh dari pada Willson."
"Dan ternyata cara yang kau gunakan juga berantakan, Pax! Steven Percy tidak akan pernah bisa membersihkan namanya jika ia harus menyembunyikan identitasnya. Ayah dan Ibunya tentu tidak akan terima ini. Mereka menginginkan kebebasan putra mereka."
"Dia akan mendapatkan kebebasannya. Dia akan melakukannya."
"Karena sekarang dia tangguh? Memiliki kekuasaan?"
"Tentu saja. Roxy mendidiknya dengan benar. DragonBlack ada dalam kekuasaannya."
Ya, semua yang dilakukan Roxi adalah atas perintah Pax. Satu bulan adalah waktu yang diberikan Pax untuk membebaskan Steven dari penjara. Tapi ternyata tidak semudah itu. Roxi membutuhkan waktu yang lebih banyak agar semuanya berjalan mulus dan sempurna.
Pax benar, andai Steve tidak dipindahkan ke penjara isolasi, pemuda itu akan tetap diawasi dengan ketat. Hukuman harus berjalan sesuai yang ditetapkan hakim. Steven akan menjadi manusia lembek yang tidak bisa memberontak. Selamanya akan menerima ketidakadilan.
Pax dan pemerintah Amerika bermusuhan. Tidak akur. Dulu, ia dan keluarga besarnya pernah ingin dideportasi atas tuduhan membahayakan negara. (Yang membaca Cinta Yang Mendebarkan, pasti tahu ya? Faktanya, ia dan keluarganya yang menyelamatkan negara ini dari kekejaman Gerald yang hendak meluluhlantahkan negara dengan rudal ciptaan pria itu. Apa yang menyelamatkan mereka saat itu? Kecintaan mereka pada Alena. Gerald yang lalai menggunakan sandi dengan angka yang merupakan tanggal lahir Alena. Pax berhasil menghentikannya di detik terakhir.
"Kelompok mafiamu itu masih hidup. Kupikir kita sepakat untuk tidak berhubungan lagi dengan dunia gelap."
"DragonBlack bukan mafia menjijikkan, Alena. Kau tahu itu. Mereka bekerja sama dengan FBI, memberantas kecurangan, kenakalan dan kakacauan yang ditimbulkan para penguasa."
Pax mengembuskan napas panjang. Inilah yang tidak ia pikirkan dulu. Ia terlalu fokus membentuk Steven Percy menjadi Steven Dixton Ivarez dan ia juga tidak menduga jika musuh mereka kali ini bukan hanya pemerintah yang tamak ingin menguasai dunia, tetapi juga wanita yang ahli mengendalikan pikiran.
Lexi yang dari tadi mendengar apa yang orang tuanya perdebatkan kembali terkejut. Bukan hanya Daphne dan Givano yang tahu akan hal ini. Tapi juga orang tuanya.
Lexi ingin meraung, tapi air matanya terlalu kering untuk keluar. Suaranya juga tersekat ditenggorokan. Lantas apa yang harus ia lakukan untuk merayakan kebodohannya ini? Menari? Tertawa? Atau menerima alibi semuanya dengan alasan ini demi kebahagiaannya?
"Selamat malam."
Pax dan Alena kompak menoleh. Wajah keduanya jelas menyiratkan kelegaan juga kepanikan. Lega karena Lexi pulang. Panik karena kemunculan Lexi yang tiba-tiba. Apakah Lexi mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Lexi, kau pulang, Sayang."
Alena melangkah lebar, merentangkan kedua tangan untuk memeluk putrinya.
"Ya, Mom. Maaf, sudah membuatmu khawatir," Lexi menerbitkan senyum bersahaja sembari membalas pelukan ibunya.
"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau ingin pulang, Daddy bisa menjemputmu." Pax mendekat seraya mengusap kepala Lexi.
Lexi melepaskan pelukannya dari ibunya. Pun ia membenamkan wajah di dadaa ayahnya.
"Maafkan aku, Dad."
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Aku membuatmu khawatir."
Pax tidak menjawab. Ia merasakan sesuatu yang salah. Putrinya sedang menahan tangisannya. Pax bisa merasakan emosi terpendam dalam nada suara Lexi. Alih-alih bertanya, Pax hanya mendaratkan satu kecupan dalam di pucuk kepala Lexi.
"Dad..."
"Hmm?"
"Aku menerima lamaran Harry."