
Tidak butuh waktu lama bagi Steve untuk sampai di lantai atas. Ia mendobrak pintu, dahinya sedikit mengerut menyiratkan kekecewaan saat tidak menemukan siapa-siapa di sana selain ruangan kamar yang cukup luas. Ia baru saja hendak meninggalkan ruangan tersebut saat telinganya menangkap gumaman tidak jelas.
Steve melangkah perlahan, melintasi ruangan. Refleks ia menghembuskan napas lega begitu matanya menangkap jemari kaki Lexi. Steve memperhalus langkah mendekati gadis itu. Hatinya seketika mencolos melihat keadaan Lexi yang begitu sangat terguncang dan tertekan.
Gadis itu meracau, melontantarkan kata-kata tidak jelas yang justru membuat kondisinya terlihat semakin menyedihkan.
"S-Ste... Steven...."
Steve tersenyum saat gadis itu menggumamkan namanya. Ia berjongkok di hadapan Lexi. Ingin rasanya langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Tapi ia menahan diri.
"Ya, aku di sini. Jangan takut."
Perlahan kepala gadis itu terangkat, seketika tangis Lexi pecah saat manik mereka beradu.
"Aku di sini," Steve kembali menggumamkan kata itu. Lexi langsung menjatuhkan dirinya ke dalam dekapan pria itu, melaungkan tangisnya dengan histeris. Steve mengulurkan tangan, membalas pelukan gadis itu, mengusap punggung itu dengan lembut.
"Beraninya kau menyentuhnya?!"
Steve dan Lexi terkejut, mereka kompak menoleh. Arthur melayangkan tatapan membunuh pada Steve yang dibalas pria itu dengan sepuluh kali lebih tajam.
"Habisi pria itu!" Arthur memberi perintah dan puluhan pria masuk. Steve meluruskan senjata apinya, meletuskan isinya secara membabi buta sementara satu tangannya mendekap Lexi, menyembunyikan wajah gadis itu ke dalam dadanya. Ia bisa merasakan jika tubuh Lexi gemetar ketakutan.
Sial! Pelurunya habis. Mau tidak mau ia terpaksa melepaskan Lexi. Pria itu mengeluarkan belatinya dan melemparnya ke target paling dekat. Tepat sasaran, belati itu menancap di dadaa membuat si terget tumbang bersama dengan senjatanya. Steve segera merebut senapan pria itu dan kembali menyerang. Beth dan Austin sudah ada di sana, membantunya. Namun, keadaan semakin kacau saat tiba-tiba Riston muncul.
Fokus Steve teralihkan. Jantungnya berdegup tidak menentu. Peluhnya berjatuhan, rasa jijik yang memuakkan menghantam ingatannya saat pria itu menyeringai ke arahnya dan menatapnya penuh arti.
Arthur menyadari trauma yang dialami pria itu. Dengan segera melontarkan kata-kata yang membuat Steve merasa hina seketika.
"Tidakkah kau ingin bernostalgia Steve bersama Riston. Kau dan dia memiliki kisah yang begitu manis selama di penjara, bukan?"
"Bagaimana rasanya Riston? Apakah Steve sangat pintar dan ahli?"
Riston mengangguk, "Sampai sekarang aku bahkan masih bisa merasakan mulutnya di milikku."
Mendengar hal itu, Steve merasakan tubuhnya lemas detik itu juga, ia menggigil dan mual seketika. Steve memuntahkan isi perutnya. Rasa pusing yang luar biasa menyerangnya. Pandangannya mulai mengabur. Teriakan Austin dan Beth tidak bisa ia dengar lagi.
"Steve! Sadarlah!"
Keadaan semakin memburuk saat anak buah Arthur semakin bertambah dan tidak ada habisnya. Untung saja Darren dan Harry datang. Menyerang Arthur dan orang-orangnya melalui udara. Tidak ada yang menyadari jika Olivia menyelinap di tengah kekacauan itu, mengambil alih pikiran Lexi dan membawanya kabur dari sana.
Steve akhirnya bersimpuh, lemas dan hampir pingsan. Arthur meraup kerah bajunya, memaksa pria itu berdiri dan menatapnya.
"Pria menjijikkan sepertimu tidak pantas untuk Lexi. Tidak usah besar kepala, Steven Percy. Kau tidak lebih dari seorang pria hina yang sangat kotor dan menjijikkan. Riston menginginkanmu lagi. Sepertinya kau memang sangat ahli memainkan mulutmu." Arthur menyeringai puas melihat wajah Steve yang semakin memucat dan berkeringat.
Bugh!
Austin memukul punggung Arthur dengan ujung senjatanya kemudian mengambil alih Steve yang sudah tersungkur lemas di lantai.
Sementara Austin sibuk dengan Steve, Arthur memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Waktu mereka kurang dari dua jam sebelum negara itu rata dengan tanah. Ia juga harus mencari Lexi. Gadis itu harus ikut dengannya. Apa pun caranya.
Austin menarik paksa Steve, kemudian melayangkan tinju ke wajah pria itu.
Steve akhirnya sadar, "Pukulan yang bagus," komentarnya ringan saat ia merasakan darah di dalam mulutnya. Ia menoleh ke tempat di mana ia meninggalkan Lexi.
"Di mana Lexi?"
"Aku tidak tahu."
Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing. Kedua pria itu kompak mencari asal suara tersebut. Suara yang terdengar seperti bunyi alarm.
"BOOMM!!" Keduanya serempak berseru dan masing-masing melompat untuk berlindung.
Duuaarr!!!
Ledakan terdengar. Steve dan Austin terlempar ke arah yang berbeda dan ditimpa reruntuhan bangunan. Arthur ternyata ingin bermain cepat.
Steve segera bangkit, berlari menuju jendela dan melihat Arthur sedang berusaha melarikan diri, menunggu sebuah heli menjemputnya.
Steve baru saja hendak melompat ke luar saat sebuah peluru melewati kepalanya. Ia berbalik, menemukan beberapa teroriss kembali masuk untuk menyerang.
"Aku menyelamatkan kepalamu, Dude." Austin berseru.
"Thanks," sahutnya seraya mengarahkan senjatanya dan menembaki semua para penyerang.
Door! Door!
Steve dan Austin cukup kewalahan menghadapi para teroriss yang seakan tidak ada habisnya.
"Aku kehabisan amunisi," Austin yang berlindung di balik meja berseru yang justru menunjukkan kelemahan mereka. Para teroriss itu menyeringai penuh kemenangan.
Steve memeriksa senjatanya, ia juga hanya memiliki dua peluru yang tersisa. Ia melempar senjata itu pada Austin.
Saat para teroriss itu menyerangnya, Steve tiarap, berlindung dari bidikan membabi buta itu. Ia berguling mengambil belati yang tergeletak lalu kembali melemparnya pada musuh. Pria itu jatuh, dengan gerakan cepat, Steve naik ke atas tubuh pria itu lalu mengarahkan senjata pria itu ke arah rekannya.
Tiga berhasil ia tumbangkan, dan peluru kembali habis. Steve meraih kepala pria yang ia duduki, dan memutar kepalanya hingga menimbulkan bunyi. Tek! Pria itu mati dengan leher yang patah.
Musuh masih saja terus bermunculan. Austin melontarkan makian dan kata-kata kotor. Ia berdiri, menghajar salah satu dari mereka. Menendangnya hingga tersungkur kemudian menembak yang lainnya yang hendak menyerangnya dari belakang. Pria itu tewas dengan peluru menembus wajahnya.
Pria yang tadi ditendang oleh Austin, merangkak untuk mengambil senjata. Austin menginjak tangannya lalu menendang senjata itu menjauh. Kemudia tanpa ampun, ia menggeret pria itu dengan pisau milik Steve. Pria itu menjerit kesakitan dan tewas dengan leher yang hampir terputus.
"Aku akan mengejar Arthur," ucapnya pada Austin, melirik sekilas pada kinerja mantan adik ipar tidak jadinya itu.
"Kau kejam sekali," Steve kembali melayangkan komentar dengan ringan.
"Aku terpaksa," Austin mengidikkan bahu tidak acuh.
"Sial!!" Steve mengumpat saat melihat Arthur berhasil naik ke dalam sebuah helikopter. Pria itu melayangkan senyum penuh kemenangan sembari menjatuhkan sebuah boom kecil sebesar bola billiard.
"Berlindung!!" Ia berteriak memberi perintah pada Austin. Keduanya terjebak dalam runtuhan bangunan tersebut.