
"Bagaimana penampilanku, Darren?"
"Seperti biasa. Sangat memukau."
"Apakah mataku terlihat bersedih?"
"Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dari kami, dari keluargamu."
Lexi menangkap raut kesedihan di wajah Darren. Ia sadar betul jika apa yang dikatakan Darren benar adanya. Tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari keluarganya yang begitu peka dan perhatian. Lexi juga menyadari jika keluarganya ikut terluka saat ia bertingkah pura-pura bahagia seolah semuanya baik-baik saja. Kenyataannya adalah ia tidak baik-baik saja sejak Steve dinyatakan meninggal. Tepatnya, tidak pernah baik-baik saja sejak tragedi kematian Olivia. Kejadian itu senantiasa menghantuinya. Menuntut keadilan yang sesungguhnya juga tidak ia fahami. Kenapa seolah ia sedang dipersalahkan?
"Aku sangat egois."
"Kau kebanggaan kami."
Selalu saja pujian yang terlontar dari mulut keluarganya membuatnya merasa semakin tidak berguna. Apa lagi yang ia butuhkan? Di luar sana banyak orang yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang orang tua dan saudara seutuhnya sehingga membuat pondasi keluarga itu berantakan. Lexi sadar harusnya ia lebih bersyukur dengan karunia yang dilimpahkan kepadanya. Pada akhirnya ia tidak akan mati hanya karena Steven tidak bisa ia jangkau lagi. Sulit sekali punya rasa karena semuanya tidak punya suara. Lexi hanya bisa menduga-duga kapan ia akan bisa melabuhkan hatinya pada sosok pria lain. Ia pun ingin bebas, penasaran kapan hari itu akan tiba. Namun, di balik keinginannya yang kuat itu, gadis cantik itu juga menyadari bahwa begitu memberikan hati dan jiwa kepada seseorang, maka disaat itu juga kerapuhan terjadi. Cinta itu asa juga berbisa. Lexi merasa dirinya laksana pungguk yang merindukan bulan. Mengharapkan seseorang yang sudah tidak mungkin digapai. Kini ia hanya bisa menyerahkannya kepada waktu untuk kehadiran seorang yang bisa melepaskan belenggu dari jerat cinta seorang Steven.
"Ah, Darren, aku sangat mencintaimu."
Pria tampan itu tampang menarik sudut bibirnya. "Aku tahu. Dan sekarang, mari kita turun. Mom, Dad dan Austin sudah menunggu."
Keduanya pun segera turun dari kamar. Di lantai bawah, seperti yang dikatakan Darren, kedua orang tua mereka sudah menunggu begitu pun dengan adik kesayangan mereka. Austin.
"Ck! Tidak sia-sia kau berdandan lama. Kau terlihat sangat mengagumkan, Sexii." Austin merentangkan kedua tangan, melangkah lebar mendekati Lexi. ". A special day for the most special people. Happy birthday."
Lexi menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Austin. Pelukan hangat yang selalu yang mampu membuatnya tenang. Pelukan yang terasa berbeda dengan dua pria penting lainnya dalam hidupnya. Pelukan ayahnya sama dengan pelukan Darren. Memberikan rasa aman.
"Apa yang kudapatkan hari ini?" Lexi mendongak, menatap adiknya penuh harap. Kira-kira hadiah apa yang akan diberikan Austin kali ini. Jika tahun lalu, Austin membuat kehebohan. Memberikan hadiah dalam box kecil yang awalnya Lexi kira berisi sebuah perhiasan yang ternyata sebuah alat test kehamilan dengan dua garis merah. Hal itu sontak saja membuat keluarganya tercengang dan kaget. Hingga hari ini, Lexi maupun keluarganya tidak tahu benda itu milik siapa karena sampai detik ini juga Austin masih dengan lantang menyebutkan dirinya pria original alias perjaka. Hei, adakah yang percaya?
"Kau pantas mendapatkan semua kue, kebahagian dan cinta, my dear." Austin menunduk memberikan satu kecupan manis di pipi Lexi. Pria yang memiliki rambut yang sama dengan Darren tersebut, menepi memberi ruang kepada ayah dan ibu mereka.
"Dad..." Lexi menghampiri ayahnya. Di usia yang sudah menua, Ayahnya masih saja terlihat bugar dan luar biasa. Pantas saja di luar sana masih banyak wanita-wanita genit yang mencoba merayu ayahnya.
"Gadisku," Suara ayahnya tercekat parau. Terlihat begitu terharu. Manik mata ayahnya menyimpan sejuta harapan dan keinginan dengan satu judul yang merangkap semuanya. Kebahagiaannya. Melihat harapan di mata ayahnya, manik Lexi berkaca-kaca. Pax Willson, pria yang mengasuh, menjaga, merawatnya sejak ia lahir ke dunia ini. Tidak ada yang lebih mengenal dirinya sebaik ayahnya mengenal dirinya. Lalu, masih pantaskah ia membuat pria itu bersedih? Karena jika dirinya bersedih, pria setengah baya itu lah yang paling terluka.
"Dad..." Sebulir air mata pun jatuh dari maniknya yang indah. Ayahnya menggeleng, tangan hangat itu terulur, mengusap air matanya.
"Smile! It’s your birthday! Celebrate your special day and know that you are loved."
"Oh, Dad."
Ya, perayaan ulang tahunnya kali ini bersamaan dengan pembukaan butiknya secara resmi.
🐀
Perayaan kali ini dibuka untuk umum, sehingga tidak heran jika jalanan menuju butik miliknya begitu sangat padat dan macet. Karena dibuka untuk umum, sudah pasti banyak wartawan juga yang meliput.
"Apakah Brian dan komplotannya hadir?"
Lexi yang memang satu mobil dengan Darren menoleh dengan kernyitan bingung. Sejak mereka masih remaja, putra bungsu sang presiden itu sudah tergila-gila kepada Lexi. Jadi, meski tidak diundang atau tidak ada acara, Brian akan menyempatkan diri mendatangi Lexi, memberikan ucapan selamat juga kado istimewa.
"Apakah itu perlu kau pertanyakan?"
"Jangan bergaul dengannya."
"Aku tidak bisa menghentikannya." Masih tanda tanya besar bagi Lexi kenapa Darren begitu membatasi hubungan antara Lexi dan Brian. Seingatnya, dulu Darren bahkan tidak memberi larangan pada Brian jika pria itu ingin berkencan dengannya. Perubahan sikap Darren itu terjadi sejak kasus yang mereka alami. Omong-omong, setelah delapan tahun berlalu, apakah Darren dan yang lainnya masih mengingat hal itu atau hanya dirinya yang terjebak dalam ketakutan yang selalu mengusiknya dalam mimpi. Lexi bahkan harus berhenti bersekolah dari Yale High School karena tidak bisa melupakan kejadian yang menimpa Olivia.
"Kita sudah sampai." Darren mematikan mesin mobil. Beberapa orang berseragam serba hitam segera mendekati mobil mereka. Pintu mobil dibuka dan mereka dikawal dengan ketat hingga masuk ke dalam bangunan berlantai lima dengan tulisan besar di puncak bangunan. WILLSON ARMOUR.
"Akhirnya sang primadona datang juga," Lily, sahabatnya, orang pertama yang menyambut dan menghampirinya. Wanita berambut gelap itu melirik penuh minat kepada Darren. Sejak dulu, sahabatnya itu memang tergila-gila kepada Darren.
"Di mana Isla?" Lexi menarik lengan Lily sebelum Darren melemparkan kalimat pedas yang menohok.
"Isla? Oh, dia ke toilet, sedang memperbaiki dandanannya."
"Itu kadoku?" Lexi melirik bingkisan yang ada di dalam genggaman Lily, pun wanita itu ikut menunduk melihat kado bersampul merah menyala itu.
"Bukan. Seseorang memberikannya kepadaku dan berpesan agar diberikan langsung kepadamu. Katanya ini kado spesial." Lily menyodorkan kado tersebut kepada Lexi. Sebelum Lexi menerima bingkisan tersebut, Darren merebutnya, mencari nama si pengirim. Tidak ada nama sama sekali. Pria itu pun membuka kasar sampul kado tersebut.
"Itu milik Lexi." Lily mengingatkan. Darren tidak mengindahkan ucapan wanita itu, terus membuka sampulnya hingga menyisakan kotak berwarna putih. Ia membuka kotak tersebut. Lexi dan Lily sontak menjerit histeris. Sepuluh bangkai tikus dengan kepala terpisah dari tubuhnya terpampang nyata. Aku akan kembali.
BRUGH!!
"Akkkhhhhh...." Jeritan histeris para tamu undangan karena sebuah mayat tiba-tiba jatuh ke tengah kerumunan. Isla Ginevra, sahabat Lexi. Wanita itu mati dengan mata menyalak lebar. PNLZNGX. Tujuh huruf itu tercetak jelas di dahinya. Diukir sedemikian indah.
Hari bahagianya berubah menjadi sebuah tragedi. Senyuman yang diharapkan keluarganya berubah menjadi tangisan. Ini kejutan yang sangat mengerikan.