
“Saya, Harry Geonandes, mengambil Lexi Stevani Willson sebagai istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat. Aku akan mencintaimu dan menghormatimu seumur hidupku,” ucap Harry dengan lantang dan lugas.
"Mungkin ada pasang surut. Namun, kita akan berpegangan tangan dan bersama-sama kita akan melalui semua itu. Ini adalah sumpah yang saya berikan kepada istri saya yang luar biasa,” lanjutnya pria itu seraya menatap mata Lexi dengan tatapan haru juga memuja.
Sorak tepuk tangan terdengar. Pax dan Alena kompak mengusap kristal bening di sudut mata mereka. Kini Lexi sudah sah menjadi istri dari seorang Harry Geonandes.
"Mr. Harry Geonandes, Lexi Stevani Geonandes, kini kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Kau boleh mencium istrimu, Mr. Geonandes," seru pria yang menikahkan Harry dan Lexi.
Steve, Darren dan Beth sama-sama terkejut. Mereka melewatkan janji suci yang diucapkan.
Harry membuka veil yang menutupi wajah Lexi, pria itu tersenyum lebar, menandakan betapa bahagia dan leganya dirinya bahwa kini Lexi sudah menjadi miliknya. Kedua tangan kekar Harry merangkum wajah Lexi yang juga dihiasi senyuman manis. Pun Harry mengikis jarak wajah mereka. Pria itu mendaratkan bibirnya di kening Lexi begitu lama dan dalam.
Steve tersenyum kecut sembari memalingkan wajah, "Kita melewatkan acara klimaksnya dan ini karena ulahmu, Darren." Steve menundukkan kepala untuk kesekian kalinya, sebulir air mata menetes di punggung tangannya yang saling bertaut. "Selamat datang neraka, Steven Percy," lirihnya dengan nada getir yang sangat memilukan.
Darren dan Beth serentak menarik napas panjang. Semuanya sudah terjadi, tidak ada hambatan sama sekali. Lexi resmi menyandang nama Geonandes di belakang namanya.
Darren menepuk pundak Steve sebelum pergi bergabung dengan keluarganya.
"Selesai. Jika sudah begini, saatnya kau melakoninya sampai tuntas. Ucapkan selamat dan sematkan doa kepada pengantin baru kita," ucapan Beth masih mengandung sindiran pedas yang menjengkelkan.
Steve bergeming, yang ia lakukan hanya memandangi Lexi yang sedang dikerumuni para tamu undangan.
"Steve!"
Tepukan di bahunya membuatnya menoleh. Seorang gadis tersenyum lebar, menampilkan kawat giginya yang bermotif bunga. Kaca mata tebal menggantung di hidungnya yang mancung. Setiap melihat gadis itu, Steve selalu teringat pada telenovela lawas Betty La Fea.
"Isabel," sambutnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh, Tuhan, aku merindukanmu!" Isabel menarik Steve agar berdiri dan langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan Steve. "Kukira aku akan mati kebosanan di sini. Thanks, God, kau ada di sini untuk menyelamatkanku."
"Aku lah yang perlu diselamatkan," gumam pria itu.
"Kau mengatakan sesuatu, Steve?"
"Tidak, ayo kita berikan selamat kepada mempelai." Steve menarik tangan Isabel agar melingkar di lengannya.
"Tanganmu dingin, kau gugup?" Steve memperhatikan Isabel yang menoleh ke sana ke mari dan merasa was-was.
"Kegugupanmu sia-sia, adik kecil. Austin tidak ada di sini. Dia tidak hadir."
Isabel menoleh cepat ke arahnya. Semburat merah tercetak jelas di pipinya. Malu karena Steve mengetahui apa yang sedang ia pikirkan dan khawatirkan.
"Ke-kemana dia? Ini hari bahagia saudarinya."
Steve mengidikkan bahu, "Entahlah. Mungkin dia sedang melakukan pekerjaan yang sangat mendesak. Kau mengganti kawat gigimu? Terakhir kau mengenakan motif bunga berwarna pink."
"Kau memang selalu perhatian."
"Kalau begitu menikahlah denganku, Isabel. Tolong terima lamaranku."
"Kau terlihat seperti pria putus asa. Akan kuberitahu jawabanku setelah kita memberikan ucapan selamat kepada Harry dan Lexi. Oh, Tuhan, aku selalu mengagumi kecantikan yang ada pada Lexi. Dia terlihat sangat cantik. Harry pria beruntung! Lexi...." Isabel memekik begitu mereka saling berahadapan.
"Isabel! Kukira kau tidak datang."
"Harry bisa menggantungku jika aku melewatkan hari bahagia ini. Oh, Lexi, aku senang kau menjadi bagian Geonandes dan aku kesal kenapa kau begitu mudah menyerah terhadap Harry."
Harry melotot ke arahnya, "Kau tidak kasihan kepadaku?"
"Kau terlalu beruntung!" Isabel menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan saudaranya. "Selamat untukmu, Harry. Kau mendapatkan gadis yang kau impikan. Aku turut bahagia untukmu."
"Hai." Steve menyapa Lexi sesantai mungkin. Butuh usaha keras untuk menampilkan senyum bahagia di wajahnya.
Ya, ada kalanya kebahagiaan diungkapkan dengan air mata. Tapi saat ini yang dilakukan Steve justru sebaliknya. Air matanya harus ia sembunyikan di balik senyumannya.
"Hai," Lexi tersenyum kikuk. Pembatas itu terasa nyata. Jarak membentang begitu luas meski mereka saling berhadapan. Status Lexi yang sudah menjadi nyonya Geonandes menjadi tembok yang begitu kokoh dan tinggi.
"Kau terlihat sangat luar biasa."
"Terima kasih. Aku sangat berusaha untuk terlihat sempurna," akunya dengan jujur.
"Usahamu tidak sia-sia. Aku melewatkan saat kau mengucap janji suci pernikahan. Saudaramu mengajakku berbincang."
Lexi hanya tersenyum, tidak harus menanggapi seperti apa.
"Aku tidak membawa apa-apa untukmu. Tidak juga membawa sisa sampanye yang kujanjikan."
"Tidak masalah. Dan masalah sampanye sebaiknya kau berdiskusi dengan ayahku. Mungkin dia akan mengikhlaskan utang sampanye-mu yang berjumlah 499."
"Aku dan ayahmu bermusuhan. Jika aku melakukannya sama saja dengan menjatuhkan harga diriku. Aku akan membayarnya, nanti."
"Membayar apa, Mr. Ivarez?" Harry sudah bergabung dengan mereka. Pria itu memeluk pinggang istrinya dengan posesif. Steve segera memalingkan wajah, tidak tahan melihat kemesraan pengantin baru ini.
Astaga! Ia mendadak ingin menjadi Hulk dan memporakporandakan tempat ini.
"Sampanye. Omong-omong selamat atas pernikahanmu, Harry. Jangan biarkan Lexi hilang dari pantauanmu, karena begitu kau lalai, kau akan kehilangannya, Kawan. Dan aku akan membuatmu lalai." Kalimat terakhir itu sengaja ia bisikan di telinga Harry agar Lexi tidak mendengarnya.
Steve langsung berlalu begitu mengucapkan kalimat ambigu tersebut, meninggalkan kernyitan bingung di dahi Harry sementara Lexi menatap punggungnya yang menjauh.
____
Di pintu gerbang, sebuah truk besar pengantar makanan berhenti. Menunjukkan kartu akses kepada penjaga.
"Kami akan memeriksa isinya," seru seorang penjaga. "Silakan pintunya dibuka."
"Ini makanan harus segera diantar ke dalam. Para tamu undangan sudah menunggu, apa kau meragukanku? Aku sudah sering mengantar makanan kemari untuk keluarga Willson.
Para penjaga saling beradu tatap, mereka memang mengenal si supir truk tersebut. Tetapi tetap saja mereka tidak boleh gegabah.
"Mr. Willson akan marah jika makanan ini diantar terlambat," desak si supir truk tersebut dengan mimik cemas dan tidak sabar.
"Aku akan menghubungi Mr. Willson terlebih dahulu," putus penjaga itu. Ia tidak ingin mengambil resiko apa pun. Dan saat ia sudah mengeluarkan handy talkie, suara tembakan terdengar. Si sopir di lempar keluar dalam keadaan kepala tertembak.
Dari belakang truk puluhan orang melompat keluar lengkap dengan senjata mereka. Teroriss yang merupakan komplotan dari Arthur Cony mulai beraksi.