H.U.R.T

H.U.R.T
Apa Rencanamu?



"Masih santai belum meledak. Ini membuatku semakin yakin jika kau sedang merencanakan sesuatu."


Steve tidak perlu repot-repot untuk mengangkat kepala hanya demi melihat siapa sosok pengganggu menyebalkan yang masuk ke dalam kamarnya.


"Jangan tertipu dengan penampilan luar, tidakkah kau melihat wajahnya begitu kusut? Pertanda tidak baik yang artinya belum menemukan rencana sama sekali."


Suara yang berbeda kembali terdengar. Ternyata bukan hanya ada satu pengganggu, tapi dua. Ya, benar, Beth dan Roxi tinggal di satu apartemen dan kedua pria itu sedang melintasi ruang kerjanya.


"Apa dia mulai tuli? Dia mengabaikan kita?" Beth menghempaskan tubuhnya ke sofa, disusul oleh Roxi di sebelahnya.


"Dia hanya pura-pura tuli, tidak kuat menerima kenyataan yang akan memperorakporandakan hatinya layaknya tsunami yang menghantam tanpa ampun."


Beth dan Roxi kemudian terbahak. Tidak ada rasa simpati sama sekali melihat rekan yang sedang gundah gelana. Dasar teman kurang asam!


"Dia perlu juga perlu pura-pura buta kalau begitu." Beth masih saja bersikap menyebalkan. Ya, pria itu sepertinya didesain untuk membuat seorang Steve naik darah.


"Apa kau tidak melihat jika dia memang sudah melakoni peran keduanya. Tuli dan buta," Roxi menimpali dan pria itu tidak kalah menyebalkannya dari Beth.


"Kukira aku datang kemari untuk mengucapkan selamat berbahagia dengan penuh haru. Tidak tahunya, dia kalah start. Sangat jauh. Ck! Haruskah aku menatapnya dengan iba, Beth?"


"Sebagai rekan yang baik, kita bisa merasakan apa yang dia rasakan, Rox. Itulah alasan kita kenapa ada di sini. Memberi penghiburan."


"Ya, kau benar." Roxi menepuk-nepuk pundak Beth, setuju dengan apa yang dikatakan pria bermanik biru itu.


"Beth?"


"Hmmm?"


"Apa kau tahu?"


"Tidak. Kau belum memberitahuku."


"Ya, kau benar. Dengarkan aku kalau begitu."


"Ya, aku mendengarkanmu."


"Jika aku yang ada di posisi rekan kita. Jujurly, aku tidak akan sanggup, tidak akan kuat. Mungkin lebih baik aku memilih mati."


Inikah yang dikatakan menghibur? Roxi terdengar seperti sedang memprovokasi agar Steve mengakhiri hidupnya. Teman laknat memang!


"Aku setuju denganmu, Rox. Ini terlalu menyedihkan. Sangat menyakitkan. Jika perlu, aku akan menembak kepalaku sendiri di hadapan mempelai sedetik sebelum ikrar diucapkan. Dengan begitu, semua yang ada di sana akan merasa bersalah, dihantui akhir kisah menyedihkan ini."


"Ouch! Aku merinding membayangkannya. Ini akhir yang tragis. Tapi aku suka dengan ending mengenaskan seperti itu. Bagaimana, Steve? Kau ingin mencoba usul kami?"


"Akan kupikirkan. Apakah kalian sangat senggang?"


Steve masih belum mengalihkan tatapannya sama sekali dari apa yang sedang ia kerjakan. Pria itu melepaskan kontak lensa yang selama ini ia gunakan, berganti dengan kaca mata bertengger di hidungnya, ada sedikit retak di lensa bagian kiri.


Roxi mendesaah iba. Ia tahu cerita kaca mata tersebut. Kaca mata pemberian Lexi saat gadis itu berkunjung ke penjara isolasi. Kaca mata yang dikira gadis itu dibuang. Ya, saat itu Steve terpaksa melakukan hal tersebut untuk melukai hati Lexi. Tapi Roxi menjadi saksi betapa bodohnya pria itu saat memperjuangkan keselamatan kaca mata tersebut di tengah kobaran api juga saat mereka berada di tepi jurang dengan aliran sungai yang begitu sangat deras di bawah mereka.


Saat pelatuk ditarik, Steve memeluk benda itu di perutnya dengan kuat. Memastikan kaca mata itu tetap bersamanya. Jika hari itu ia mati, ia sudah pasrah. Dan Steve ingin mati bersama dengan sesuatu yang berhubungan dengan Lexi.


Selera humor Roxi yang buruk menguap setelah mengingat hal itu.


"Apa yang sedang kau kerjakan?"


"Aku penasaran siapa yang sudah membunuh sang presiden. Mungkin dengan mengetahui hal itu kita bisa menemukan dalang di balik semua ini. Kematian Mr. President, bukan berarti pihak musuh akan berhenti untuk menghancurkan negara ini. Justru kematian pria itu akan menghantarnya selangkah lebih dekat dengan tujuannya."


"Hei, Dude, tinggal sepuluh hari lagi menjelang pernikahan Lexi. Kau sungguh yakin akan menjadi pria bijak yang berbesar hati melepaskannya begitu saja dengan judul asal dia bahagia?"


"Pernikahan itu akan tetap terjadi." Steve berdiri, ia meregangkan otot lehernya. Lalu melepaskan kaca mata, mengusap kedua sudut matanya yang mengerikan. Lingkaran hitam semakin jelas tercetak di sana. Steve belum tidur selama berhari-hari. Ralat, ia memang tidak pernah tidur selama ini. Dan ia memang tidak ingin tidur. Dalam dua puluh empat jam, dua jam adalah waktu yang bisa ia berikan kepada dirinya untuk istirahat. Selain cermin, tidur adalah musuhnya.


"Kau serius, Kawan?" Kali ini Roxi benar-benar menatapnya dengan prihatin.


"Ya." Sahutnya singkat sembari duduk di seberang Roxi. "Bagaimana kabar Julia? Dia pasti menyesal menikah denganmu."


Roxi tergelak, ia tahu jika Steve sedang berusaha mengalihkan topik.


"Dia menyesal kenapa kami baru dipertemukan oleh semesta. Ayolah, Dude, kau bisa melihat betapa istriku sangat tergila-gila kepadaku."


Steve tersenyum miring sebagai respon.


"Kau sudah tidur?"


"Apa sudah ada petunjuk di mana Olivia menyandra tawanannya?"


"Belum. Kau sudah tidur?"


"Olivia harus diawasi dengan seksama. Aku tidak ingin dia mengacaukan pernikahan Lexi."


Dua kali dia mengabaikan pertanyaan Roxi.


"Aku sudah meminta seseorang mengawasinya hingga wanita itu pulang ke rumahnya. Tidak ada hal yang mencurigakan selain dia yang sesekali bertemu dengan Arthur Cony. Ck! Aku kasihan pada istri pria bedebah itu. Mereka memiliki seorang putri yang sangat manis. Apa kau sudah tidur?"


"Jika kau kasihan, kau bisa mengajukan diri untuk menjadi wali mereka. Aku akan bangga padamu atas tindakan muliamu itu."


Tiga kali. Steve sudah mengabaikan pertanyaan Roxi sebanyak tiga kali dan pria itu mulai jengkel.


"Ciih! Apa kau memang berniat mengakhiri semuanya dengan cara yang begitu tragis?"


Steve melengkungkan alisnya, "Apa maksudmu?"


"Kau memang berniat membunuh dirimu dengan cara menyiksa dirimu seperti ini?"


"Apa aku terlihat sedepresi itu?" Steve terlihat sedikit tersinggung.


"Kau pernah menonton zombie?"


"Horor bukan kesukaanku. Aku benci saat mereka muncul secara tiba-tiba."


"Kau terlihat seperti salah satu zombie tersebut, Kawan."


Steve terdiam, pun ia menghembuskan napasnya dengan panjang. Hening, keduanya hanya diam dan saling menatap. Sementara Beth, sudah fokus pada pekerjaan yang tadi ditangani oleh Steve.


"Haruskah aku beranjak dan merebahkan diri di atas ranjang?" Akhirnya Steve lah yang pertama kali berbicara di tengah keheningan sesaat itu.


"Urungkan niatmu itu untuk sementara, Dude." Beth bersuara.


Steve dan Roxi menoleh ke arahnya. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Lexi ada di halaman."