
"Pergi!"
Lexi berteriak histeris, tidak ada lagi benda yang bisa ia gapai untuk dilempar ke arah Steve yang memang pantang mundur meski dahinya sudah terluka dan mengeluarkan darah.
"Kau bilang ingin membawaku ke tempat yang tidak ada yang bisa menemukanku. Kau pembohong! Aku benci di sini!!!"
Ya, alasan kemarahan Lexi kepada Steve karena pria itu membawanya ke tempat orang tuanya. Lexi ingin bersembunyi, berlari ke belahan dunia dimana tidak akan ada seorang pun yang mengenalinya. Ia mulai lelah menjalani hidupnya yang terlihat sempurna dan baik-baik saja, nyatanya, tidak seperti yang terlihat.
Kesempurnaan hidup yang ia jalani membuat teman-temannya iri kepadanya. Lexi tidak menginginkan hal itu karena ia menyadari hidupnya bahkan sangat jauh dari kata sempurna.
Seiring berjalannya waktu, tatapan iri dan celetukan bernada sindiran mulai menghilang karena teman-temannya satu persatu memang mulai menghilang. Mati dengan cara mengenaskan.
Terkadang ia merasa kepergian teman-temannya adalah hal yang ia inginkan. Dengan begitu ia tidak perlu berpura-pura baik di hadapan semuanya. Lihatlah! Ia merasa dirinya sangat munafik. Hei, Lexi, kau memang gadis yang baik.
Puncak kelelahan juga kekecewaannya terjadi saat Austin berniat menodainya. Lexi tidak menemukan alasan kenapa Austin tega melakukan hal itu. Apakah karena ternyata Austin juga menyimpan dendam kepadanya karena orang tua biologisnya dulu juga berbuat hal serupa kepada kedua orang tuanya. Entah apa yang merasuki Lexi hingga pikirannya sampai ke sana. Ia bahkan menganggap apa yang ia alami adalah karma buruk dari cerita di masa lalu.
Lalu sisi lemahnya berbisik, jika ia memang layak menerima semua keburukan ini, menanggung kesalahan orang tuanya. Hanya saja, disaat masalah itu menimpanya, dia menemukan dirinya tidak cukup kuat untuk menanggung semuanya hingga berlari dan bersembunyi adalah pilihannya.
"Bukan itu yang kau inginkan."
Steve duduk di tepi ranjang, di hadapan Lexi yang menatapnya dengan nyalang. Pipi gadis itu dibasahi oleh jejak-jejak air mata. Mata indahnya sembab karena terlalu banyak menangis. Rambut aslinya menampakkan wujud sesungguhnya. Mengembang bagai rambut singa karena Lexi tidak mempunyai waktu untuk meluruskannya. Di tengah situasi yang menyesakkan ini, Steve sempat-sempatnya mengagumi rambut gadisnya itu.
"Tahu apa kau tentang apa yang kau inginkan?!"
Steve menarik napas panjang. Ya, apa yang ia ketahui tentang Lexi? Tidak ada sama sekali selain minuman kesukaan gadis itu. Juice buah persik.
Bahkan saat Olivia mengirimkan teror-teror mengerikan, yang ia lakukan hanya mengawasi.
Sekarang, gadis itu sangat terguncang dengan apa yang dialaminya dan Steve berani bertaruh jika Lexi akan semakin hancur, babak belur saat mengetahui kenyataan bahwa dirinya adalah Steven Percy. Sekarang, bagaimana ia akan menyampaikan fakta tersebut disaat Lexi kehilangan kepercayaan pada semuanya.
Lexi marah, kecewa pada Austin. Lexi takut bertemu dengan orang tuanya. Khawatir dengan pandangan mereka. Pikirannya yang parno menduga jika Pax, Alena dan Darren akan menyalahkannya. Sama seperti yang dilakukan orang-orang terhadapnya. Lexi mengalami krisis kepercayaan.
"Mereka akan menuduhku merayu Austin. Mereka juga akan mengatakan jika aku gadis murahan yang tidak tahu diri. Mereka..."
"Tidak akan ada yang mengatakanmu seperti itu."
"Tidak ada katamu, brengseeekk!! Kekasihmu mengatakan jika aku adalah jalaang murahan. Oleshia mengatakan itu di hadapanmu! Apa yang kau lakukan? Hanya memberi peringatan dengan tatapan sinis. Yang kau lakukan tidak akan menyembuhkan bongkahan luka di hatiku. Murahan, jalaangg, perusak semua kata-kata itu menjurus kepada wanita iblis bernama Luna. Wanita yang telah melahirkanku ke dunia yang fana ini. Semua kata-kata biadab itu menegasakan jika darahnya mengalir di darahku. Aku tidak mau dikatakan seperti itu. Tapi kenapa mereka mengatakan seperti itu? Apakah aku memang terlihat sangat murahan?"
"Kau tidak seperti itu."
"Hiburanmu tidak guna! Kau bahkan salah satu orang yang membuatku berada pada posisi tersebut. Mulut kotor kekasihmu menambah luka di sini," Lexi memegang dadanya.
"Menambah daftar orang-orang yang melukaiku. Tidak ada satu pun yang menyukaiku."
"Maafkan aku."
Ketenangan Steve justru semakin membuat amarah Lexi berkobar. Memancing hasratnya untuk meluapkan semua kemarahan yang ia pendam selama ini.
"Simpan kata maafmu itu. Aku tidak butuh itu." Suaranya melemah.
Sejenak Lexi terdiam, tatapannya yang pilu menyayat hati siapa pun yang melihatnya. Ingin rasanya Steve menarik gadis itu ke dalam pelukannya, tapi ia tahu tindakannya itu justru akan memperkeruh suasana. Lexi tidak menyukai sentuhan saat ini.
"Kenapa aku katakan seperti itu, karena Daddy Pax juga meragukanku." Bahunya berguncang dengan bibir gemetar. Amarahnya masih meluap-luap tapi Lexi berusaha mengendalikannya.
"Jika dia tidak meragukanku, dia tidak mungkin mengirim Steve ke tempat yang sangat jauh. Daddy melihat bayangan Luna di dalam diriku. Obsesi mengerikan yang kelak bisa menghancurkan semuanya. Jika pria yang merawatku sejak lahir meragukanku, lantas kenapa aku harus menyalahkan orang lain?"
Sejenak ia mengamuk, sejenak ia menyalahkan dirinya, dan sejenak kemudian ia akan menggila. Lexi seperti gadis yang menderita alter ego, nyatanya tidak. Gadis itu hanya tertekan, terlalu memendam semuanya selama ini.
"Lalu, aku menemukan apa dikhawatirkan Daddy benar adanya. Aku gadis paling buruk. Steve meninggal dan yang kulakukan di hadapan orang tuanya adalah berlakon menjadi anak baik hati. Mereka tidak tahu saja jika kematian putra mereka disebabkan olehku. Oleh perasaanku yang menggebu-gebu. Aku munafik, bukan?"
Steve menggelengkan kepala. Sebanyak itukah beban yang dipikul oleh gadis di hadapannya ini.
"Aku harus apa jika sudah begini?" Steve benar-benar kehilang kata-kata.
"Harus apa? Kau sungguh mau melakukannya untukku?"
"Katakan jika itu bisa membuatmu tenang."
"Kau mencintaiku?"
"Tentu saja."
"Kau tidak berbohong?"
"Apa kau melihat hidungku memanjang?"
Mengabaikan jawaban konyol pria itu, Lexi kembali bertanya, "Kau milikku?"
"Sepenuhnya," sahut Steve tegas dan lugas.
"Bagaimana jika kau merobek mulut orang-orang yang mengatakanku jalaang dan murahan. Kau harus melenyapkan mereka semua. Kau mengatakan jika kau menyukaiku, tapi aku tidak suka jika ada wanita lain yang berusaha merebutmu. Oleshia bisa saja merebutmu kembali. Aku ingin kau membunuhnya, bagaimana? Aku janji akan menjadi gadis yang manis untukmu. Jika kau tidak membunuhnya hubungan kita tidak akan berhasil. Kita akan pergi dari sini setelah kau melenyapkannya."
Steve memandangi wajah Lexi dengan lekat. Benarkah itu yang diinginkan gadis itu?
"Kau ingin aku melakukannya?"
Lexi mengangguk dengan cepat, "Aku akan percaya padamu sepenuhnya. Hanya kau yang kumiliki saat ini. Aku tidak ingin orang lain merebutmu. Dia memiliki keahlian merebut seperti yang dilakukan saudarinya, Olivia. Darren pengkhianat, kukira dia sangat menyayangiku, ternyata dia menjalin hubungan dengan Olivia di belakangku. Jika mereka berhubungan, kenapa dia masih menginginkan Steve-ku? Steve-ku yang bodoh!"
Steve meneguk ludahnya. Entah ia harus senang atau kesal saat ini. Lexi memakinya tapi juga menyatakan kepemilikan atas dirinya.
"Darren menjalin hubungan dengan Olivia?"
"Mereka berpelukan juga berciuman. Aku melihat albumnya."
"Kau melanggar privasi orang lain, Sayang."
"Aku tidak sengaja melakukannya. Aku bingung kenapa dia menangisi makam Olivia seperti aku menangisi makam Steven. Lalu aku menemukan jawabannya di kamarnya."
Steve tersenyum, Lexi mulai tenang dengan sendirinya. Pun ia memberanikan diri mengulurkan tangan untuk membelai rambut gadis itu. Namun, gerakan tangannya terhenti saat mendengar ucapan Lexi selanjutnya.
"Kau akan melenyapkannya 'kan? Aku bermimpi jika dia akan melenyapkanku karena merebutmu. Aku tidak terlalu menyukaimu, tapi saat ini cuma kau yang bisa kupercaya. Hanya kau yang kumiliki."