H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Tersesat



Tepat jam 19.00, Steve berdiri di depan kamar hotel. Steve mengetuk dua kali, tidak butuh waktu lama, seseorang membuka pintu tersebut. Seorang wanita cantik dengan perut membuncit, berdiri di hadapannya dengan mimik terkejut.


"Steven Ivarez!! Apa yang kau lakukan di sini?!" Helli Vasquez, wanita yang berprofesi sebagai model tersebut, melompat ke dalam pelukan pria itu. "Kau mengunjungiku? Astaga! Aku harus mengabadikan momen ini." Cerecos wanita hamil itu. Terlihat jika Helli sangat tidak menyangka kedatangan Steven ke kamar hotel mereka. Wajah sumringah Helli sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Steven yang flat. "Sayang, honey, kekasihku, suamiku!!!" Suara Helli melengking kuat memanggil sang suami.


Terdengar derap langkah kaki yang berlari terburu-buru. "Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Di mana yang terluka?"


"Mesum." Celetukan dingin itu membuat si pria menoleh.


"Kau?!" Hardik pria yang merupakan suami Helli, Gavin Vasquez. "Kenapa kau ada di sini." Menarik istrinya menjauh dari Steven. Menatap penuh curiga seakan Steve akan merebut Helli darinya.


"Astaga! Bersihkan tubuhmu dan kenakan pakaianmu!" Ya, Gavin berlari keluar dari kamar mandi. Bayangkan sendiri bagaimana penampakannya. "Dimana ponselku? Tolong kau abadikan kedatangannya kemari. Ini momen langka!"


"Aku cemburu, Helli."


"Hais, tidak ada gunanya kau cemburu. Andai aku mau, Steve juga tidak akan menoleh kepadaku." Helli memandangi Steve dengan tatapan kagum yang dilayangkan secara terang-terangan. Steven, pebisnis yang merangkap sebagai desainer juga agency yang sekarang menaungi Helli. Tepatnya, Helli bekerja untuknya.


"Aku semakin cemburu."


Steven berdecak, malas menyaksikan drama rumah tangga yang selalu diperlihatkan kedua insan tersebut. Sesungguhnya, ia tidak berteman dengan sepasang suami istri Vasquez. Ia hanya tidak memiliki cara untuk datang berkunjung ke rumah Willson, tepat satu jam sebelum ia menghubungi Gavin, salah satu anak buahnya memberitakan jika Willson sedang membuat acara dan Vasquez terdaftar sebagai salah satu tamu undangan.


"Di mana kartu undangannya. Aku bisa pergi sendiri."


"Maksudmu?!" Sepasang suami istri itu serempak bertanya.


Dengan langkah besar, Steve melintasi ruangan menuju kamar. Gavin dan Helli berlari mengikuti.


"Ini kamar kami jika kau lupa, Ivarez!"


"Berikan undangannya dan kamar ini kembali menjadi milikmu." Enteng dan lempeng, membuat si pemilik kamar mendengus kesal. Siapa pemilik kamar dan siapa yang berkuasa?!


Gavin menarik kasar tangan Steve yang hendak masuk ke ruang ranah pribadi mereka. Ini sudah tidak benar. "Berhenti bersikap lancang atau kau tidak mendapatkan undangannya sama sekali." Mengancam balik dan sepertinya ancaman Gavin tepat sasaran. Steven berbenti. Undangan itu sangat penting untuknya. Akses yang akan membawanya bisa masuk ke kediaman Willson yang super ketat.


Gavin mendorong kasar tubuh pria itu lalu masuk ke dalam kamar. Tidak berapa lama, ia muncul kembali membawa kartu yang diinginkan Steve. "Jika kau tidak mendapat undangan dari Willson, artinya pengalamanmu dalam dunia bisnis masih cetek. Kau belum diakui, Dude!" Gavin menyeringai sombong.


Tanpa berkomentar, Steve merampas kartu tersebut dan berlalu pergi.


🐇


Melewati serangkaian pemeriksaan, Steve akhirnya bisa masuk. Tidak banyak undangan di sana. Hanya kisaran, 100 hingga 200 tamu undanga. Ia harus hati-hati jika ingin bertindak. Meski tidak melihat ada CCTV pengintai, tapi ia yakin jika setiap langkah dan gerak gerik para undangan selalu dipantau.



Steve mengawasi setiap sudut, merekam di otaknya denah dari rumah tersebut. Sesekali ia juga menghitung jumlah para tamu undangan, mengingat wajah dan profil mereka.


"Toilet ada di lorong."


Steve refleks menghentikan langkah mendengar suara datar yang terdengar dari balik punggungnya. Pun ia berbalik, menemukan salah satu wajah yang tidak mungkin ia lupakan. Darren Stevan Willson.


Waktu seakan berhenti. Keduanya saling mengunci tatapan masing-masing dengan mimik tidak terbaca.


"Kau terlihat bingung," Darren tidak mengalihkan matanya sama sekali dari manik Steve. Keduanya terlihat saling mengintimidasi, layaknya dua predator yang saling siaga.


"Ya, yang kubutuhkan memang toilet." Steve beranjak meninggalkan Darren yang masih mengawasinya dari jauh. Begitu Stev sampai di ujung lorong, ia berbalik, tidak menemukan Darren lagi ada di sana. Yang terlihat adalah Pax dan Alena Willson yang sedang beramah tamah dengan para relasinya. Kedua wajah itu tidak berubah sama sekali. Belasan tahun lalu, ia gagal melenyapkan Pax dengan menggunakan racun racikannya sendiri. Apakah malam ini ia akan berhasil?


Ah, aku hanya melakukan pemanasan. Ia membatin, mengingat tujuan awalnya. Segala sesuatu yang dilakukan secara tergesa-gesa, tidak akan mendapatkan hasil yang baik dan sempurna. Steve menghabiskan banyak waktu untuk menyusun rencana dan siasat, ia tidak ingin tindakan gegabahnya yang konyol bisa merusak segalanya.


Steve meninggalkan toilet. Menaiki anak tangga yang melingkar. Di lantai dua, terdapat tiga kamar. Steve berjalan santai sambil mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar yang setengah terbuka. Steve mendorong pintu, menebak jika kamar itu adalah milik si tuan putri Lexi. Kamar dengan nuansa putih. Dulu, ia mengira jika gadis itu menyukai segala pernak pernik bernuansa pink.



"Lily, bantu aku menarik kancing bajuku. Oh, God! Kenapa ini sulit sekali. Sepertinya berat badanku bertambah dalam beberapa hari ini. Lily... Kau mendengarku? Ck! Kemana wanita itu? Astaga, dia sedang pergi untuk mengambil sepatuku. Mom... Oh Tuhan, Mommy pasti sudah ad di bawah." Lexi menghentikan ocehannya, meninggalkan ruang gantinya untuk mengambil ponsel.


Lexi tidak menyadari kehadiran Steve yang ada di dalam kamarnya.


"Astaga, kekacauan macam apa ini? Aku juga tidak menemukan ponselku ada dimana." Lexi mengembuskan napas jengah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha sendiri untuk menarik zipper gaun mewahnya. Lima menit berlalu dan ia belum berhasil sama sekali. Terdengar erangan kesal dari mulutnya.


Steve melangkah mendekat dengan ketukan sepatu yang tidak terdengar sama sekali. Pria itu berhenti di belakang Lexi. Menahan tangan gadis itu. Lexi tersentak, berbalik refleks merasakan sentuhan lain di tangannya. Maniknya membulat sempurna melihat sosok asing yang tidak benar-benar asing ada di dalam kamarnya.


"Siapa... Ka-kau... Kena..." Kalimat Lexi menggantung di udara karena Steve tiba-tiba merepatkan tubuh mereka. Seperti sedang memeluk gadis itu. Tapi yang ia lakukan adalah menarik resleting gaun Lexi.


Steve mundur selangkah setelah selesai membantu kesulitan Lexi "Aku tersesat," ucap Steve dengan menatap lekat manik indah milik gadis itu.


"Hah?"


"Aku tersesat."