
Steve mondar mandir tidak tenang. Terlihat sangat gelisah juga cemas. Tidak ada sedikit celah yang ditinggalkan Arthur untuk menemukan keberadaan mereka. Yang ia lakukan saat ini hanya mencoba memprovokasi Olivia, berharap jika wanita itu tahu di mana tempat persembunyian Arthur. Tapi hingga detik ini, Olivia belum menunjukkan tanda-tanda bahwa wanita itu memakan umpan yang ia lempar.
Sudah lebih dari 24 jam. Belum ada kabar baik yang ia dapatkan sama sekali. Harry yang juga sudah beraksi mencari keberadaan Lexi juga belum mendapatkan hasil apa-apa.
"Olivia menghubungi seseorang," Austin berseru. Mereka memang berhasil menyadap ponsel wanita itu.
Steve melangkah lebar mendekati Austin. Kedua pria itu memasang telinga lebar-lebar, berharap mereka menemukan petunjuk dengan segera.
Di rumahnya, Olivia terlihat emosi. Sebuah artikel yang baru ia baca tentang profil Gerald Deville juga daftar nama-nama anak asuh yang pria itu didik dan rawat sepenuh hati. Nama Arthur Cony terselip di sana.
Sebelumnya, Olivia sudah pernah mendengar sekilas tentang pria itu. Pria yang dielu-elukan sebagai pahlawan. Memiliki ambisi yang begitu kuat untuk meruntuhkan AS. Pikiran tentang mungkin saja Arthur melanjutkan misi tersebut mulai menari-nari di pikirannya. Olivia juga membaca rules dalam kelompok tersebut mengenai orang yang bisa dijadikan pemimpin.
"Ya, Olivia," sahutan dari seberang telepon membuyarkan renungan Olivia.
"Kau di mana?"
"Rumah."
"Aku mendengar kau membuat kekacauan di mansion kelurga Willson."
"Bukankah itu rencana kita?"
"Ya, untuk mencari keberadaan Brian, bukan untuk menghancurkan pernikahan Lexi dan si pangeran itu. Lantas, kenapa kau menculik Lexi, membawanya bersamamu, Arthur?"
"Lexi akan ditukar dengan Brian. Keadaannya sangat kacau saat itu. Kami tidak menemukan Brian di sana."
Olivia terdiam, hatinya bertanya-tanya, apakah Arthur berbicara jujur atau sedang mengelabuinya. Sejauh hubungan mereka, sikap Arthur terlihat sangat peduli padanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Arthur memiliki ambisi atau pum obsesi yang mencerminkan tentang haus akan kekuasaan. Selama ini, Athur juga sangat penurut di matanya, bersikap sangat manis dan mengayomi.
"Kau tidak sedang mengelabuiku?"
"Astaga, kau meragukanku setelah apa yang kita lewati selama ini. Aku akan membawa Brian kepadamu, secepatnya."
"Baiklah." Olivia menutup panggilannya. Ia kembali membaca artikel yang dikirim kepadanya untuk kesekian kalinya.
"Riston," Olivia berdiri perlahan dari kursinya. Ia mendekati pria bertubuh algojo itu dengan senyuman manis di wajahnya. "Kau tentu tahu di mana markas Arthur yang tidak kuketahui, 'kan?"
Riston menggeleng, "Aku tidak tahu apa-apa, Olive."
"Hmm, benarkah?" Olivia mulai memainkan jemarinya di wajah penuh cambang pria itu. Kemudian ia mencakup kedua pipi Riston, menahannya agar mata mereka beradu. "Bagaimana jika kau tunjukkan jalannya kepadaku. Setelah itu kita akan bersenang-senang."
____
"Wanita ini mulai merepotkan," Arthur mendesis.
"Mungkin sudah saatnya dia dilenyapkan, Arthur. Semakin kita menahannya, semakin dia akan membuat masalah pada kita. Wanita binal penyihir itu akan menggunakan parasnya yang penggoda untuk merayu anggota kita." Donny Volkov, rekan Arthur yang merupakan kaki tangannya. Arthur mempercayakan semuanya kepada pria itu sementara ia berlakon jadi pria kalem yang memindai semua karakter lawannya.
Arthur tertawa, sangat setuju dengan apa yang dikatakan Donny. Ia sudah tidak membutuhkan si tolol Olivia.
"Sesuai perintahmu, Arthur." Donny segera menghubungi seseorang untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Arthur.
"Kita akan meninggalkan negara ini dalam dua jam. Apa yang kau lakukan dengan mayat Sonya?"
"Biarkan dia membusuk begitu saja."
"Kau kejam sekali. Bagaimana dengan Lexi, kudengar dia sangat histeris."
"Dia akan pulih secepatnya. Dia akan menjadi wanita yang tangguh setelah ini. Kami akan hidup bahagia dan Devils akan menguasai semuanya. Masa kejayaan Devils akan kembali." Senyum lebar mengembang indah di wajahnya yang rupawan.
Olivia tersenyum getir. Ia mendengar semua perbincangan tersebut. Sungguh tidak menyangka jika Arthur memiliki ambisi untuk menjadikan Lexi sebagai miliknya seutuhnya. Lalu, apa arti dirinya bagi seorang Arthur?
Olivia mengepalkan kedua tangannya. Hatinya sakit, hancur berkeping-keping. Ia kira Arthur adalah pria yang paling memahami dirinya. Ia menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada pria itu. Dan ternyata, dia hanya dijadikan budak oleh Arthur. Lagi dan lagi Lexi adalah wanita yang berhasil menarik perhatian Arthur, membuat kemarahan dan kebencian Olivia pada Lexi semakin menjadi. Selalu ada Lexi yang akan menghancurkan kebahagiaannya, itulah yang ia pikirkan.
Olivia memberi perintah kepada Riston untuk mencari Lexi. Ia harus menghabisi wanita itu. Jika dirinya tidak bisa bahagia, maka Lexi pun tidak layak untuk bahagia.
"Selesai," Donny berseru dengan semangat. "Rudal telah diaktifkan dan diarahkan ke tempat-tempat penting, seperti bandara, stasiun, satelit, perkotaan. Negara ini akan rata begitu kita terbang."
"Kerja bagus, Don." Arthur tersenyum puas. Namun, senyum itu hanya bertahan beberapa detik karena terdengar ledakan dari luar.
"Sial!" Arthur dan Donny segera beranjak. Arthur sendiri pergi menuju lantai atas, tempat Lexi dikurung. Ia memberi perintah kepada anak buahnya agar membawa Lexi keluar dari sana apa pun caranya.
Ya, Steve berhasil mengikuti Olivia dan Riston. Ia harus menahan dirinya untuk tidak menghancurkan kepala Riston di tengah kepanikan yang ia alami saat melihat wajah pria itu kembali. Memori menjijikkan itu seolah diputar ulang di hadapannya. Steve merasakan mual yang luar biasa. Steve berusaha keras mengembalikan akal sehatnya. Ia harus fokus.
Pengawal Arthur begitu banyak. Mudah bagi Olivia mengelabui semuanya, tetapi tidak bagi Steve. Ia melemparkan bom kecil yang berhasil menarik perhatian semuanya. Pun ia menerobos masuk, menyelamatkan Lexi adalah tujuan utamanya.
Baku tembak tidak terelakkan. Steve tidak membuang-buang waktu. Ia berlari masuk tanpa menghentikan tembakannya.
Bugh!
Ia menghantamkan kepala pada wajah salah satu teroriiss yang berusaha menghalangi jalannya. Merebut senapan pria itu dan kembali menghajar hidung pria itu dengan ujung senjata lalu menarik pelatuk, menembak tepat di jantung. Seketika teroriiss itu mati terkapar.
Bugh!!
Satu serangan mendarat di punggungnya membuat Steve tersungkur ke lantai. Dengan gesit ia berbalik, menarik senjata dan meletuskan peluru ke wajah orang yang baru memukulnya dengan jarak dekat.
Di ruangan lain, Lexi kembali meraung, menjerit histeris seperti kesurupan. Ledakan dan bunyi tembakan yang saling bersahutan membuatnya takut dan panik. Kengerian yang ia alami atas kematian Sonya belum bisa ia hilangkan, bau anyir dari darah wanita itu seakan masih melekat di ujung hidungnya, dan kini suara-suara itu membuat kondisinya semakin menyedihkan.
Wajahnya pucat banjir air mata, tubuhnya gemetar, ia menggigil kedinginan, merangkak ke sudut ruangan, bersembunyi di balik meja seraya menarik kedua lututnya dan membenamkan wajah di sana.
"Aku tidak takut... Aku tidak takut... Daddy... Mom... Darren.... Aku akan mati... Aku akan mati di sini. Aku layak mati... Austin, Harry... A-aku akan mati, aku akan ke neraka bertemu ibu dan Ayahku. Aku akan mati di sini. Aku akan bertanya kepada mereka, apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan mengadu kepada ayahku bahwa ibu Luna tidak pernah mencintaiku. Aku akan bertanya, apa Ayahku mencintaiku? Ta-tapi bagaimana jika ternyata Ayahku lebih mengerikan daripada Arthur." Ia meracau, menggumamkan kata-kata yang terlintas di benaknya. Lexi menggelengkan kepala. "A-aku tidak mau mati. Aku tidak takut. Aku pasti selamat. S-Ste... Steven...."
"Ya, aku di sini. Jangan takut."
Lexi langsung mengangkat kepalanya, seketika tangisnya kembali pecah menemukan sosok pria yang baru ia sebut namanya.